
Nayla tidak menyiapkan sesuatu yang khusus untuk pemotretan nanti, sejak pulang dari mengantar belanjaan Fahad, ia melakukan pekerjaan rumahnya seperti biasa. Hanya pemotretan untuk koleksi pribadi, serta gaun yang ia butuhkan sudah siap di studio foto.
Sembari menunggu suaminya pulang, Nayla yang duduk di sofa kamarnya itu tengah mencoba menghubungi adiknya, Andi. Sekali ... dua kali ... tiga kali ... panggilannya sama sekali tidak diterima oleh Andi. Ia mendesah kesal, kemana sebenarnya adiknya itu.
Nayla menaruh ponselnya di meja, ia hendak menunaikan ibadah salat dhuhur. Namun, terdengar dering ponsel yang seketika menghentikan langkahnya dan kembali ke arah meja sofa. “Andi?” Nayla berseru bahagia. Ia bisa melihat wajah adiknya dengan jelas. “Kemana aja kamu?!”
Tadi di jalan, Mbak, ini baru sampai rumah. Andi menjelaskan.
Nayla mengeluh, sudah beberapa hari ini ia selalu sulit menghubungi adiknya. Ia juga sedikit memarahi Andi karena sudah membuatnya khawatir.
Maaf, Mbak, aku lupa belum ngasih tau. Aku sekarang lagi ngelamar kerjaan di salah satu studio foto. Ya, sekalian belajar juga.
“Ngelamar kerja?” tanya Nayla.
Andi mengatakan bahwa ia merasa jenuh jika hanya belajar, mengikuti kegiatan kampus, dan berdiam diri di rumah seorang diri. Mencari pengalaman, bekerja, menghibur diri, juga ... mencari uang tentunya.
“Mbak udah kasih kepercayaan sama kamu, mbak harap ... kamu bisa jaga itu sebaik mungkin, Andi.”
Terlihat dari layar sentuh ponsel Nayla, adiknya itu mengangguk paham serta meyakinkan kakaknya bahwa ia bisa menjaga kepercayaan yang sudah diberikan kepadanya. Andi tau, kakaknya sudah pasti dan akan selalu mengkhawatirkannya yang tinggal seorang diri.
“Jangan sampai kamu apa-apain anak orang, loh!” ancam Nayla.
Anak siapa, sih, Mbak? Lagian, aku juga mau ngapain anak orang?
“Mbak takut kalau kamu kebablasan, mentang-mentang kamu tinggal sendiri.”
Astaghfirullah, Mbak, bisa mikir gitu, ya, tentang adiknya? Apa aku ini ada tampang ngerusak masa depan anak orang, gitu?!
Gelak tawa terdengar dari Nayla begitu ia melihat ekspresi dari Andi. Nayla kembali menegaskan bahwa Andi harus tetap berhati-hati ketika memilih teman dekat. Jangan terlalu mengumbar hal pribadi, karena pertemanan suatu saat bisa saja terputus karena perselisihan. Dan, juga, Nayla berpesan agar lebih mengenal gadis yang mencuri hatinya.
“Kenali dia dulu, gimana kepribadian dan pemikirannya, gimana keluarganya, mereka bisa nerima kamu apa enggak. Karena yang penting itu bukan cuma cinta, Andi, rasa saling menghormati adalah yang terpenting.”
Mbak, Andi belum kepikiran ke arah sana. Kuliah aja belum selesai. Andi mau kerja dulu, biar bisa nyusul, Mbak, ke sana. Soal jodoh, aku pasrah sama Allah. Entah kapan dikasihnya, aku nyantai, Mbak.
Tak terasa sudah satu jam Nayla dan Andi menghabiskan waktu bersama. Puas, rasa rindu keduanya sudah terobati. Nayla beranjak berisi, ia hendak menunaikan ibadah salat dhuhur.
Tepat saat Nayla hendak melepas mukenanya, suara bel pintu terdengar. Ia mengurungkan melepas mukena lalu keluar kamar untuk membukakan pintu. Suaminya sudah pulang, senyuman hangat ia sematkan untuk menyambut kedatangan Fahad.
__ADS_1
“MasyaAllah, istriku cantik banget, sih.” Fahad menangkap kedua sisi wajah Nayla lalu mendaratkan ciuman di kening istrinya tersebut.
“MasyaAllah, suamiku udah pulang.” Nayla membalas. Ia membantu Fahad melepas jas yang melekat di tubuh suaminya. “Udah makan?” tanyanya yang dijawab gelengan kepala oleh Fahad.
“Nanti kita makan diluar aja, habis itu baru berangkat ke studio.”
Nayla mengiyani ucapan Fahad. Sementara suaminya sedang membersihkan diri, Nayla yang sudah melepas mukenanya itu sedang menyiapkan baju ganti untuk Fahad. Ia mengambilkan kemeja berwarna putih dan celana jeans berwarna mocca.
***
Pemotretan akan segera dimulai. Sesuai keinginan Nayla, ia tidak ingin make up yang berlebihan. Wajahnya tetap terlihat cantik dengan polesan make up natural. Tubuhnya terlihat sangat cocok dengan lehenga berwarna merah yang dipadukan hijab segiempat berwarna emas dan selendang yang berwarna merah.
Fahad juga terlihat tampan dengan kurta berwarna senada dengan Nayla. Keduanya terlihat serasi bar raja dan ratu. Nayla merada canggung harus berfoto dengan tubuh yang sangat dekat dengan Fahad. Bagaimana tidak? Bukan hanya satu pasang mata yang menyaksikan mereka, namun ada beberapa crew studio yang ikut menyaksikan proses pemotretan mereka.
Fahad ... ia mampu membuat istrinya tenang dengan sentuhan lembut di puncak kepalanya. “Jangan gugup, Sayang, ini cuma buat koleksi pribadi kita. Bukan buat dijual di majalah. Mau seintim apapun pose kita, itu nggak masalah.”
“Intim? Maksud kamu?” terkejut Nayla.
“Tenang, Sayang.” Fahad kembali menyentuh puncak kepala istrinya, namun kali ini ia juga memberi sentuhan lembut di pipi Nayla. “Maksud aku intim itu sedikit mesra. Kayak pose kita itu deket banget, gitu.”
“Nggak ada foto ciuman, kan?” Nayla memastikan.
“Fahad!” sebuah cubitan Nayla daratan tepat di perut suaminya. “Jangan aneh-aneh kamu!”
Fahad yang meringis kesakitan itupun meminta maaf, ia hanya bergurau. Tapi, tetap saja ... jika istrinya itu menginginkan foto seperti itu, ia siap melakukannya
Pemotretan dengan busana pertama sudah selesai, kini giliran gaun berwarna pink yang akan Nayla kenakan untuk pemotretan selanjutnya. Tetap dengan gaya khas India, Nayla berjalan menghampiri Fahad dengan dibantu Simran, desainer yang membuatkan gaun untuknya.
Fahad sudah menunggu, pria tersebut kini mengenakan setelan jas yang juga berwarna pink yang dipadukan dengan kemeja hitam.
“MasyaAllah, suamiku lucu banget pakai jas pink kayak gini.” Nayla menggoda dengan tangannya yang merapikan jas pink yang dikenakan oleh Fahad.
“Demi kamu, aku pakai jas pink.” Fahad mendesah kesal. Namun, tak lama ... senyuman ia sematkan ketika melihat istrinya yang juga melemparkan senyum kepadanya.
“Kan, satu sama. Aku udah ngalah juga, loh, tadi. Aku pakai gaun warna merah terang pilihan kamu.”
“Iya, iya.”
__ADS_1
***
Pukul tujuh malam, Nayla dan Fahad sudah dalam perjalanan pulang ke apartemen. Sebelumnya, mereka mampir ke restaurant untuk membeli biryani sebagai menu makan malam mereka.
“Oh, iya, Sayang. Kamu udah antar belanjaan pria di lantai enam itu?” Fahad bertanya, tatapannya tetap fokus ke depan.
Nayla menoleh, ia menerka-nerka. Apakah suaminya ini masih marah, atau ....
“Sayang?” Fahad menoleh karena ia tak kunjung mendapat jawaban apapun. Tak lama ia kembali fokus akan kemudinya. “Aku nanya, kok, nggak dijawab?”
Nayla meremas pergelangan tangan kirinya dimana Anand sudah menyentuhnya tadi. Ada rasa bersalah yang menggelayuti hatinya. Ia ingin berkata jujur, namun situasi saat ini tidaklah mendukung. Mereka masih di jalan, sudah pasti akan sangat berbahaya jika Fahad terpancing emosi mendengar penuturannya.
“Udah, kok.” Nayla menjawab tanpa menatap wajah suaminya. Tatapannya lurus ke depan dengan tangan yang tetap meremas pergelangannya.
“Kamu tau namanya?" Fahad kembali bertanya.
“Namanya Anand.”
Fahad terlihat berpikir, apa yang dimaksud adalah Anand karyawanku? Fahad menghilangkan pikiran tersebut, mungkin yang dimaksud Nayla adalah Anand yang lain.
Sesampainya di apartemen, Nayla segera menyiapkan piring untuk makan malam dengan dibantu Yasmin. Ketiganya makan malam dengan Nayla yang terlihat tidak bersemangat menyantap makanannya. Semua itu luput dari pandangan Yasmin dan suaminya. Ya, Nayla berusaha menutupi rasa takutnya. Ia takut, darimana ia memulai menjelaskannya kepada Fahad.
Makan malam telah usai, Nayla masih sibuk di dapur. Ia membersihkan piring bekas makan malam sembari menyalakan mesin cuci agar esok pagi ia tinggal menjemurnya.
Begitu semua pekerjaan selesai, Nayla mematikan lampu utama lalu masuk ke kamar. Sejak tadi, ia berharap semoga suaminya sudah tidur, tapi nyatanya tidak. Suaminya masih duduk di atas tempat tidur dengan laptop yang berada di pangkuannya.
Nayla mengganti bajunya dengan pijama lalu menyusul Fahad naik ke atas tempat tidur. “Fahad, aku tidur duluan, ya?”
“Iya, Sayang.” Fahad mencium kening Nayla lalu kembali sibuk dengan komputer lipat miliknya.
Nayla berusaha menejamkan matanya, namun rasa bersalahnya membuat ia sulit untuk tidur. Dengan hati pasrah, ia siap menerima kemarahan suaminya jika ia mengatakan tenang kejadian pagi tadi saat mengantar barang belanjaan milik Anand.
“Fahad?” Nayla menyingkap selimut lalu mendudukkan tubuhnya tepat menghadap Fahad.
“Kenapa belum tidur?” tanya Fahad.
Nayla terlihat ragu, namun ia tetap harus mengatakannya kepada Fahad. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu soal tadi pagi.”
__ADS_1
***