Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 6 S2


__ADS_3

Seusai salat jumat, Fahad segera kembali ke mobil di mana ada istri dan putrinya disana. Fahad mengatakan kepada istrinya untuk menunaikan salat dhuhur di masjid, akan memakan waktu lebih lama jika pulang dan salat di rumah. Dan juga, Fahad berencana pergi ke tempat lain sebelum pulang.


“Ke mana?” Nayla bertanya.


Fahad berdecak kesal, ia mencubit hidung mungil Nayla dengan gemas. “Banyak nanya. Udah sana ke masjid, mumpung di Indonesia loh kamu. Nggak pengin apa salat di masjid?” tanya Fahad.


Ya. Di India, wanita tidak diperbolehkan menunaikan salat di masjid. Juga, tidak diperbolehkan memasuki area pemakaman. Nayla menghormati itu, tidak mungkin ia menerobos peraturan yang sudah ada hanya untuk kepentingannya sendiri.


“Iya, deh, aku salat di sini saja. Untungnya tadi aku bawa bedak sama lipstick.” Nayla mengambil tas selempangnya.


“Dasar perempuan!” ledek Fahad.


Nayla terkekeh. Ia memutar tubuhnya untuk berjalan masuk ke masjid.


“Jangan genit!”


Nayla kembali memutar tubuhnya, kembali menghampiri Fahad yang belum masuk ke mobil. “Tuh, kan! Ya, udah pulang aja. salat di rumah.” Lesu Nayla.


Fahad tersenyum, tangannya mengusap pipi sang istri denah lembut. “Bercanda, Sayang, sana masuk.” Perintah Fahad.


Nayla langsung menuju tempat wudhu wanita disana. Ryan yang hendak keluar itu melihat Nayla. Ia tidak bertemu Fahad di dalam, maka dari itu Ryan memutuskan untuk menunggu Nayla, ada sesuatu yang harus ia sampaikan secara langsung.


“Nayla?” panggil Ryan.


Nayla berhenti, memutar tubuhnya dan melihat Ryan berjam-jam menghampiri dirinya. “Iya?”


“Hari rabu nanti ada syukuran kecil-kecilan di cafe. Kamu bisa datang? Ajak suami sana anak kamu juga. Aku juga ngundang Sari sama yang lain juga.”


Nayla diam sejenak, ia berpikir ... apakah Fahad akan mengizinkan ia untuk datang? Sementara suaminya itu akan kembali ke India dua hari lagi.


“Nay?” suara Ryan membuyarkan lamunan Nayla.


“Insya Allah, ya. Dua hari lagi Fahad balik ke India. Nanti aku kabarin bisa dateng apa enggaknya. Alamatnya yang sudah kamu share ke aku itu, kan?” Nayla memastikan.


Ryan mengangguk dengan senyumnya. “Usahain, ya. Aku duluan, Nay.”


***


 


Shazia sudah tidur, Nayla ingin mengajak Fahad bicara soal undangan syukuran Ryan. Meskipun ujungnya nanti ia tidak mendapatkan izin, itu tidak masalah bagi Nayla. Setidaknya ia sudah jujur dan meminta izin sebelum melakukan sesuatu.


“Fahad ...” Nayla duduk di tepi tempat tidur.


Fahad menaruh ponselnya ke nakas. “Mau minta apa?” tanyanya terus teras.


Nayla tertawa kecil, suaminya memang tau kalau ada sesuatu yang ia inginkan hanya dari nada memanggilnya saja. “Suamiku ini tau banget, sih.”


Menarik gemas hidung mungil Nayla. “Kamu mau minta apa?”


Mata keduanya saling terkunci, Nayla bingung harus memulainya dari mana. Tapi, akan sangat tidak baik jika ia tidak mengatakan perihal undangan Ryan. “Fahad, itu ... tadi Ryan ngundang kita ke acara syukuran cafenya. Hari rabu nanti. Kamu, kan, lusa balik ke India, aku nggak pergi ke ke acara itu, kok. Tenang saja.” Nayla menggeleng keras. “Aku nggak datang.” Imbuhnya.


“Aku serius, Fahad, aku nggak datang ke syukurannya itu. Nanti aku bilang sama Sari, kalau aku nggak bisa datang.” Nayla kembali bersuara begitu tak ada respon apapun dari suaminya.


Fahad ingin melarang. Ia tidak rela istrinya berada di sebuah tempat bersama Ryan. Memang, ada teman yang lain di acara tersebut. Tapi, tetap saja, rasa cemburunya tidak sepenuhnya pudar. Ada hal yang lebih penting lagi. Fahad tidak ingin Nayla merasa kecewa karena terlalu dibatasi dalam hal pertemanan. Istrinya memang berharga, harta yang tak ternilai harganya. Tetapi, ia juga harus menghormati sang istri yang entah sudah berapa banyak air mata yang menetes karena sikap egoisnya.


“Datang saja, tapi harus diantar sama Andi.” Fahad menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya.


“Hah? Aku salah dengar, kan?”


“Enggak, Sayang, aku serius. Aku nggak mau cemburu sama Ryan lagi, kalian sudah berteman jauh sebelum aku datang di hidup kamu. Sampai saat ini, kamu dan Ryan tetap pada batas pertemanan. Aku nggak akan biarin cemburu dan egois menghancurkan cinta dan rumah tangga kita.” Tutur Fahad.


“Kalau kamu masih nggak nyaman, aku nggak masalah ... aku bisa kabarin Sari kau nggak bisa datang.”


Fahad mengendurkan pelukannya, matanya menjangkau wajah sang istri. “Maaf, aku terlalu egois. Aku nggak pernah mikir perasaan kamu. Maaf.”


Nayla tersenyum, tangannya meraih tangan Fahad. “Sudah, jangan minta maaf. Aku mengerti, kenapa kamu cemburu dan egois. Satu pesan aku, jangan sampai hati kamu tertutupi sama rasa cemburu yang berlebih. Aku bahagia kalau kamu cemburu, karena suami istri memang harus ada rasa cemburu satu sama lain. Tapi, jangan sampai lupa diri. Kita ini ada yang punya, jadi jangan terlalu merasa paling berhak mempunyai. Allah cemburu, loh.”


Fahad kembali mendekap tubuh Nayla. Ia hirup wangi rambut sang istri, sangat menenangkan. Ucapan dari istrinya memang benar. Allah itu pencemburu. Ketika hamba-NYA lebih banyak mencintai sesama manusia ... ketika hamba-NYA lebih menomor-satukan manusia, ketika hamba-NYA selalu menyebut dan meminta nama seseorang disetiap sujudnya. Maka Allah akan sangat cemburu. Bagaimana manusia bisa lupa berterima kasih dan menyebut nama Allah disetiap hembusan napas. Padahal DIA adalah yang paling berhak atas segalanya.

__ADS_1


“Terima kasih, Ya Allah, wanita ini selalu mengingatkan dalam hal baik. Wanita ini bisa membuatku mengingat nama-MU setiap hari.” Fahad mencium puncak kepala Nayla. Mendekapnya lebih erat.


Nayla mendongakkan wajahnya, “jadi, aku boleh datang?” tanyanya.


Fahad mengangguk. “Boleh, tapi harus diantar sama Andi.”


“Nggak boleh bawa mobil sendiri?”


Tangan Fahad mengapit kedua sisi wajah Nayla. "Emang bisa? Kalau bisa ya bawa aja.” Ledek Fahad.


Nayla mencebik. “Aku mau belajar nggak boleh.” Protes Nayla.


Berbaring, membuat lengannya sebagai bantal untuk Nayla. “Kakau kamu bisa nyetir, nanti kamu bisa jalan-jalan sendiri tanpa harus butuh aku, dong.”


“Ngomong apa, sih, kamu? Mau gimanapun juga aku tetap butuh kamu di samping aku. Jangan ngaco, deh!” seru Nayla. Ia bukan wanita seperti itu, yang jika bisa melakukan segala sesuatunya sendiri ... Ia akan melupakan suami yang harus dihormati.


“Bercanda, Sayang, serius banget. Kamu kenapa sih sensitif banget akhir-akhir ini, kamu hamil?”selidik Fahad.


“Enggaklah.” Kilah Nayla. “Zia masih kecil, Fahad, aku belum siap.”


Wajah kesal Nayla sangat menggemaskan di mata Fahad. Tanpa aba-aba, ia benamkan ciuman singkat di bibir istrinya.


“Mau tidur apa main dulu?” tanya Fahad.


“Main. Ya, udah ayo.” Bukan Nayla yang menjawab, tapi Fahad sendiri yang menjawab.


***


Biasanya, Shazia akan bangun tak lama setelah Nayla bangun. Tapi, sampai pukul delapan dan Nayla selesai dengan pekerjaan rumahnya, putri kecilnya itu tak kunjung bangun juga. Nayla yang masuk ke kamar hendak membangunkan putrinya itu dibuat terkejut oleh tubuhnya yang panas.


“Jaanu, kamu panas banget.” Nayla membangunkan Shazia, membawanya ke dalam pangkuan. “Bangun, Zia.” Suara isakan kecil dari Shazia terdengar.


Fahad masuk ke kamar, duduk di samping Nayla yang tengah menyusui Shazia. “Zia mau gendong papa?” Fahad mengulurkan kedua tangannya namun ditolak oleh sang putri.


“Badannya panas, Fahad.”


Fahad menyentuh kening putrinya, panas. Niatnya kembali ke India pun mulai goyah. Mana mungkin ia bisa pergi sementara putrinya masih dalam keadaan sakit. “Aku batalin saja tiketnya. Zia sakit, aku nggak bisa pergi.”


Keluar bersama menuju meja makan, sudah ada Andi di sana.


“Gembul sakit, nggak bisa main dong kita.” Andi menyapa Shazia. Menyentuh lembut pipi chubby keponakannya tersebut.


Shazia menoleh pada Andi seraya menepiskan senyumnya. “Anak mama senyum, cantiknya ...,” ucap Nayla sembari mencium puncak kepala sang putri.


Nayla berencana membawa Shazia pergi ke dokter sore nanti. Biasanya, saat putrinya menderita demam, Nayla tidak akan memberikan susu formula. Nayla hanya akan memberinya air putih dan juga menyusuinya. Tidak ada yang special, Nayla hanya percaya ... air putih sudah pasti memberikan oksigen didalam darah Shazia.


Suara dering ponsel Fahad terdengar nyaring, ia beranjak lalu berjalan ke depan untuk menerima panggilan dari Sahil.


“Mbak?” panggil Andi.


Nayla menoleh. “Iya?”


“Manggil doang.”


“Kamu, ya. Seneng banget gangguin orang tua!” seru Nayla.


Andi terkekeh. “Tua? Kalau tua kenapa si Reza kemarin minta dikenalin ke, Mbak Nayla? Masa dia bilang kalau, Mbak, itu masih kayak anak SMA.” Tawa Andi pecah mengingat Reza.


“Gila itu temen kamu. Godain istri orang.”


“Dia nggak percaya, Mbak. Pas Fahad pulang sama Zia kemarin, dia langsung ciut.” Andi semakin tertawa. Wajah Reza yang semula sangat bersemangat itu seketika berubah setelah melihat Fahad.


“Sudah diam, Fahad dengar bisa marah dia.”


Andi menutup bibirnya rapat-rapat, suara tawa yang menggema itu seketika tak terdengar lagi.


“Aku sudah dengar!” Fahad duduk di kursi meja makan. Mengambil segelas air putih dihadapannya, meminum isinya hingga tandas. “Makanya aku cemburuan. Kamu pasti dikira belum nikah. Semua teman dan rekan bisnis aku nggak percaya kalau kamu itu istriku. Katanya, aku ini nikahin anak dibawah umur.”


“Anak dibawah umur?” Andi tidak bisa menahan tawanya lagi.

__ADS_1


“Makanya, kan. Teman kamu saja minta dikenalin, coba nggak jalan sama aku dan Zia ... pasti dikira belum nikah.” Fahad masih kesal.


Nayla mengembuskan napasnya dengan kasar. Lagi-lagi harus ada perdebatan mengenai statusnya di mata orang-orang. “Yang penting aku mengaku kalau sudah punya suami, kan? Sudah. Nggak perlu pusing sama pemikiran orang.”


“Ya, nggak bisa gitu, dong! Masa mereka suka sama istri orang.”


Andi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kakak iparnya cemburu lagi. Sulit memang, mengatasi rasa cemburu. “Iya-iya, paham.” Lirih Andi.


“Paham apa kamu?” dengus Nayla.


“Paham kalau kalian lagi ribut! Mending pergi aja aku, dari pada lihat orang berantem. Ayo, Zia.” Andi mengajak keponakannya itu ke kamar.


“Apa?!” seru Nayla pada Fahad.


“Enggak.” Fahad menggeleng cepat, mencari aman.


Nayla masih melanjutkan kekesalannya. Ia mengatakan semua yang ada di dalam hatinya, yang selama menjadi istri dari seorang Fahad Malik khan, Nayla harus mengesampingkan rasa cemburu saat suaminya harus berada di sebuah pesta atas undangan rekan bisnisnya. Dunia kerja Fahad mengharuskan lelaki itu bertemu dengan banyak wanita. Entah itu rekan bisnis, atau karyawan yang sudah pasti bukan hanya ada lelaki.


“Kamu seharian ada diluar rumah, kadang juga pulang malam. Nah, aku ... aku seharian di rumah, keluar juga pasti sama kamu atau Yasmin. Apa yang harus dicemburui, Fahad?!” geram Nayla. Tangannya mengepal, seakan ingin menuju lelkai yang ada di hadapannya ini.


Fahad tidak diam saja. Ia sudah mengajak Nayla untuk datang ke pesta tersebut, atau jika istrinya itu mau ... Fahad ingin mengajak Nayla di dalam semua kesempatan yang menyangkut pekerjaannya. Lagi, dan lagi, istrinya itu mengatakan hal yang memuakkan. Aku takut kamu malu, aku nggak pantas datang ke tempat seperti itu.


Ah, Fahad merasa bingung sendiri dengan sikap Nayla. Cemburu, tapi jika diajak ke pesta rekan bisnisnya, istrinya itu selalu menolak. “Nanti kalau sudah balik ke India, kamu harus ikut aku kalau ada undangan pesta di tempat rekan bisnisku. Aku nggak mau dengar alasan apapun. Soal Shazia, Yasmin bisa jaga dia. Toh, Zia sekarang juga sudah jarang minum asi. Ada susu botol. Aman, kan?”


“Tapi, aku—”


“Apalagi?” tukas Fahad. “Masih mau bilang kalau kamu cemburu karena di dunia kerjaku banyak perempuannya?” Mendekat, Fahad mencubit kedua pipi Nayla, menggoyangkannya ke mana dan ke kiri. “Sekali lagi kamu protes, aku makan kamu!”


“Fahad ...”


Menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya. Satu-satunya cara agar istrinya luluh dan tenang adalah pelukan. Semua akan baik-baik saja jika istrinya sudah berada di dalam pelukannya. Fahad tau, pelukannya adalah kekuatan bagi Nayla. Rasa lelah, beban berat yang ada di pundak, hati yang gelisah ... semua akan sirna bersama pelukan yang semakin erat ia berikan untuk Nayla.


***


 


Fahad tengah besiap pergi ke bandara, Andi yang akan mengantarnya. Panas Shazia sudah sedikit turun, ia tersenyum pada papanya yang tengah memakai sepatu ketsnya. “Papa?” tangan mungil itu menyentuh lengan papanya. “Papanya Zia!” serunya dengan riang. Suhu tubuh Shazia memang belum benar-benar pulih, namun semangat balita itu tidak pernah hilang sedikitpun.


Fahad mengangkat tubuh Shazia, mendudukkannya di pangkuan. Tangannya menyentuh lembut pipi gembul sang putri. “Zia, anak pintar. Papa balik ke India dulu, ya. Zia di rumah sama mama dan Om Andi.” Sebuah ciuman ia daratkan di kedua pipi putrinya.


Shazia meminta diturunkan, ia berjalan ke luar kamar. Mencari omnya.


“Di jalan, jangan genit sama cewek. Jangan suka tebar pesona,” pesan Nayla pada suaminya.


Fahad berdiri, tangannya mengapit kedua sisi wajah sang istri. “Harusnya aku yang bilang gitu ke kamu. Jangan pergi tanpa Shazia dan Andi. Kalau kamu pergi sendiri, pasti dikira belum nikah.”


“Dikira doang, kan nggak masalah.”


Fahad tertawa. Ia sepenuhnya percaya pada Nayla. Meski begitu, tetap saja ia menaruh rasa tidak percaya pada Ryan. Oh, shit! Nama pria itu tiba-tiba terlintas di pikirannya. Memandang wajah Nayla lamat-lamat, ia rapikan sebagian anak rambut Nayla ke belakang telinga.


“Kamu istriku, selamanya tetap istriku.”


Senyuman Nayla berikan untuk suaminya. “Iya. Kamu suamiku. Nggak mau peluk aku dulu?” tanyanya.


Tanpa memberikan jawaban, Fahad dengan cepat memasukkan tubuh Nayla ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepala sang istri. Mereka memang sudah terbiasa berpisah untuk sementara waktu. Saat Nayla ke Indonesia, atau saat anak dan istrinya itu pulang ke Kashmir. Dan, Fahad harus tetap berada di New Delhi. Meskipun sudah terbiasa, Fahad tetap merasa berat hati pergi jauh dari anak dan juga istrinya.


“Jangan tidur malam-malam, ya, jaga kesehatan juga. Jangan sering-sering marahin Yasmin, kalau dia nikah dia pergi ... kamu baru ngerasa ada yang kurang dan hilang.” Nayla masih mendekap tubuh Fahad, menghirup aroma tubuh suaminya yang menenangkan.


“Yasmin sendiri yang minta dimarahin, dia sudah dewasa tapi tetap seperti anak kecil.”


Mengendurkan pelukannya, Nayla menatap wajah Fahad dengan lembut. “Semua perempuan seperti itu, Fahad, dia akan jadi anak kecil jika bersama lelaki yang dia cintai dan sayangi. Se-dewasa apapun perempuan, mereka tetap suka diperhatikan dan dimanja.”


Fahad mengangguk, memahami ucapan Nayla. “Aku marah sama Yasmin juga karena aku sayang, aku tau ... dia mencari perhatianku lewat semua tingkahnya. Apalagi Yumna, dia manja banget kalau sudah sama kamu.”


Fahad membenamkan bibirnya ke bibir Nayla. Ciuman keduanya cukup lama, hingga suara Shazia yang tertawa bersama Andi memaksa keduanya untuk menyudahi ciuman tersebut.


Keluar kamar, Fahad menggendong putrinya sesaat sebelum berangkat. “Papa berangkat, Jaanu.” Mencium kedua pipi putrinya.


“Bye, Papa!” Tangan mungil Shazia melambai tatkala mobil yang dikendarai Andi meninggalkan rumah dan semakin menjauh. “Bye, Papa, Om!” teriak Shazia dengan nyaring.

__ADS_1


Membelah jalanan ibukota menuju bandara, Fahad tak lupa berpesan pada adik iparnya untuk menjaga anak dan juga istrinya. Fahad tau, tanpa ia berpesan pun Andi sudah pasti menjaga Nayla dan juga Shazia. Sebagai suami, sudah sepantasnya Fahad berpesan kepada Andi.


***


__ADS_2