
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Nayla membuka matanya perlahan, ia merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutnya. Sudah pasti suaminyalah yang memeluknya, Fahad.
Ia mengangkat tangan Fahad dengan hati-hati, agar tidur suaminya tidak terganggu. Tubuhnya serasa remuk, namun tak ada keluhan yang keluar dari bibir manisnya. Nayla mencoba untuk turun, namun rasa sakit di pangkal pahanya membuat ia meringis kesakitan lalu berhenti bergerak.
Tangan Nayla meraih baju tidurnya yang berserakan di atas ranjang lalu memakainya. Perlahan ia beranjak berdiri lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Masih dengan baju handuk yang membalut tubuh mungilnya, Nayla membangunkan Fahad agar segera membersihkan diri lalu menunaikan salat subuh berjamaah.
Mata Fahad mengerjap, menyesuaikan akan bias cahaya yang menyambutnya. “Ada apa? Masih kurang?” tanya Fahad dengan suara serak khas bangun tidur.
Decakan kesal terlontar dari Nayla, “iya, masih kurang. Kurang dicubit, kan?!” Nayla bersiap mencubit perut Fahad, namun suaminya itu lebih dulu mendudukkan tubuhnya dengan cepat.
“Iya, ini bangun,” ucapnya dengan memelas. “Kok, nggak kayak di film-film, ya? Pasangan pengantin baru kalau bangun tidur itu pasti mesra-mesraan dulu.”
Nayla tertawa geli mendengarnya, ia mendaratkan tubuhnya di samping Fahad. “Jadi aku harus peluk-peluk kayak gini dulu?” kedua tangan Nayla melingkar di tubuh suaminya.
Fahad tersenyum simpul, ia membalas pelukan Nayla, “bukan cuma peluk, tapi juga cium,” kata Fahad lalu mencium ujung kepala istrinya tersebut.
Nayla pun mencium pipi Fahad dengan cepat, “udah, sekarang mandi sana. Habis itu kita salat berjamaah.”
***
Nayla mengemas baju serta barang Fahad yang lain sembari menunggu sarapan mereka datang. Kedua mata Fahad tak pernah berpaling dari istrinya, ya ... sejak selesai menunaikan ibadah salat subuh bersama, Nayla tak lagi memakai hijabnya.
Rambut sebahu itu digerai, menampakkan keindahannya yang membuat wajah Nayla terlihat semakin cantik. Dengan baju overall jeans rok berwarna navy serta kaos putih bergaris lengan panjang sebagai dalaman tersebut terlihat sangat cocok di tubuh Nayla.
Fahad menepiskan senyumnya, ia meletakkan komputer lipat yang semula berada di pangkuannya itu ke meja. Lalu ia berjalan menghampiri Nayla, meraih pergelangan tangannya lalu menuntunnya untuk duduk di tepi sofa.
“Kamu udah lapar?” tanya Nayla yang dijawab gelengan kepala oleh Fahad.
Tangan Fahad mengarah untuk merapikan anak rambut Nayla, ia menyelipkannya ke belakang telinga. “Aku kira, habis salat tadi kamu masih pakai hijab terus. Ternyata dilepas,” ujarnya.
Nayla berdecak kesal, “kamu mau ngerayu? Sorry, aku nggak bisa kemakan sama rayuan!”
“Ya Allah, istriku ini.” Fahad mencubit kedua pipi Nayla, menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri. “Setiap apa yang aku ucapin kamu pasti nyangka kalau itu rayuan. Kenapa, sih?” tanya Fahad.
Nayla mengembuskan napasnya dengan kasar, “ya, karena udah keseringan dirayu sama—”
“Sama cowok India?” tukas Fahad.
Nayla terkekeh, ia mengangguk ... Fahad mencium pipi sang istri dengan gemasnya. “Berapa orang India yang rayu kamu, hah? Siapa aja namanya? Biar aku samperin.”
“Ya, mana aku tahu rumahnya, masa mau nanya.”
“Kan, di bio dia ada,” kata Fahad.
“Eh! Kamu kira aku stalker apa? Ngaco, ah!”
__ADS_1
Disela-sela obrolan, terdengar suara bel pintu. Sarapan mereka datang. Fahad berjalan untuk membuka pintu, dan Nayla mengambil pashmina lalu segera memakainya—agar tak ada pria lain yang melihat rambutnya.
Mereka lekas menyelesaikan sarapannya lalu check out untuk pulang ke rumah. Ah, Fahad merasa sudah tak ingin melakukan apapun. Ia hanya ingin bersama istrinya, menghabiskan waktu bersama tanpa ada gangguan dari pekerjaannya.
Akan tetapi, ia cukup sadar diri ... menjadi seorang suami tentu gak bisa dengan mudahnya meluapakan tanggung jawabnya, itu juga bukan sifatnya menjadi seorang pria pemalas. Ia sudah terbiasa dengan rutinitas pekerjaan yang padat. Terlebih sejak perceraiannya, ia menjadi pria yang gila kerja.
Dan sekarang ia harus bisa membagi serta mengatur waktu antara istri dan pekerjaannya. Ia tak ingin kegilaan kerjanya membuat Nayla merasa diabaikan. Ia akan berusaha sebisa mungkin.
***
“MasyaAllah, wangi pengantin baru,” ledek Andi pada Nayla yang baru saja datang.
“MasyaAllah, jomblo nggak ada wangi-wanginya!” balas Nayla menohok.
Sontak Andi mencium aroma tubuhnya, “eh! Andi udah mandi, Mbak. Ngaco!” sungutnya.
Kembali, Nayla dan Andi saling melempar candaan serta olokan yang semakin mengeratkan kasih sayang diantara mereka. Bagi seorang kakak, adik tetap menjadi anak kecil meskipun ia sudah beranjak dewasa—dan begitulah Andi bagi seorang Nayla, tetap menjadi adik kecilnya yang nakal dan manja.
Fahad bisa menyesuaikan diri berada di tengah keluarga Nayla. Ia sangat antusias belajar Bahasa Indonesia dari keponakan dan juga saudara Nayla yang lain. Ia ingin bisa segera berbicara Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Selain agar ia bisa berkomunikasi dengan keluarga Nayla, Fahad juga ingin mengerti ketika istrinya itu sedang marah. Ya, Nayla selalu menggerutu dengan Bahasa Indonesia ketika ia sedang merasa kesal, marah kepada Fahad.
Fahad hanya mengerti satu, atau dua kata saja, jika sudah dirangkai menjadi kalimat ... tentu ia belum mengerti sepenuhnya. Begitupun dengan Nayla, ia belum terlalu bisa berbahasa Hindi, apalagi Bahasa Kashmiri.
“Kamu masuk kerja kapan, Nay?” tanya Mas Arif.
***
Hari semakin malam, semua keluarga Nayla satu persatu berpamitan pulang. Kini Nayla tengah membereskan piring serta gelas lalu mencucinya. Andi duduk bersama Fahad di ruang tv menikmati kesibukan mereka dengan komputer lipat masing-masing.
Sebuah notifikasi pesan terdengar dari ponsel Nayla yang tergeletak di meja—di samping laptop Fahad. Tertera nama si pengirim pesan, Doni. Ya, Doni mengirim pesan.
Menoleh sebentar ke arah dapur, Nayla belum terlihat keluar ... Fahad mengambil ponsel milik sang istri lalu membaca isi pesan dari Doni.
“Nay, kenapa nggak masuk kerja? Sakit?”
Fahad mengernyitkan keningnya setelah membaca isi pesan Doni. Ia mengambil ponselnya sendiri untuk membuka Google translate, mencoba mengartikan isi pesan tersebut.
“Fahad?” Nayla datang, membuat Fahad terkejut.
“Iya?” sahutnya dengan raut wajah panik.
Nayla melihat ponselnya berada di tangan Fahad lalu beralih kembali menatap wajah suaminya tersebut. “Wajah kamu kenapa? Gugup gitu.”
Belum menjawab, Fahad justru menyunggingkan senyumnya. Ia menuntun Nayla untuk duduk di sampingnya. “Nggak kenapa-kenapa, kamu udah selesai cuci piringnya?” tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Fahad takut, dia udah buka hape, Mbak Nayla. Tadi ada yang kirim pesan,” celetuk Andi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
__ADS_1
Ya ampun, Andi!
“Siapa yang kirim pesan?” Nayla menatap Andi dan Fahad bergantian. “Coba sini aku lihat.” Nayla menengadahkan tangannya di hadapan Fahad.
“Tapi jangan dibalas!” Fahad memperingatkan sembari menjauhkan ponsel itu dari istrinya.
“Kenapa? Emang siapa yang kirim pesan? Isinya apa?” cerca Nayla.
“Doni yang kirim pesan,” ketus Fahad.
Nayla tersenyum simpul, “oh, Doni. Coba sini aku lihat.” Ia kembali menengadahkan tangannya.
“Tapi jangan dibalas!” kembali memperingatkan.
“Eh!”
Andi terkekeh mendengarnya, ya ... ia juga sudah tahu bahwa Fahad ialah sosok yang sangat pencemburu, tapi apa yang ia lihat serta dengar ini ... sungguh ia tak bisa menahan diri untuk tidak menertawakan pasangan pengantin baru itu. Hanya sebuah pesan, tapi Fahad sudah memberi peringatan keras kepada istrinya.
“Baru sehari semalam, udah mau perang dunia, nih!” Andi berujar.
“Andi!” seru Nayla. Andi menutup mulut rapat-rapat, menahan tawanya.
Nayla menghela napas kasar, ia sedikit merasa kesal terhadap Fahad. Baiklah, ia bisa memahami kecemburuan dari suaminya. Tapi ia belum tahu apa isi pesan dari Doni ... jika hanya hal biasa, tidak sepatutnya Fahad cemburu.
“Mbak, masuk kamar sana!” usir Andi. “Aku nggak bisa lihat kemesraan yang dibalut kecemburuan kayak gini.”
Nayla yang masih merasa kesal itu dibuat tertawa oleh keluhan Andi. Memang seharusnya mereka berdua masuk ke kamar, membicarakan perselisihan yang terjadi.
Duduk berdua di atas tempat tidur, saling berhadapan dengan ponsel Nayla yang masih berada di tangan Fahad.
“Doni kirim pesan apa?” tanya Nayla.
“Aku nggak tahu, yang aku tahu cuma kata kerja doang. Selebihnya aku nggak tahu maksud dia apa.”
“Ya, udah, sini hapeku. Aku baca dulu isi pesan dia, nanti kamu bisa putusin buat marah, cemburu atau apapun sesuka kamu.”
Fahad menyerahkan benda pipih itu dengan wajah kesal, Nayla dapat melihat itu.
“Oh ....”
Nayla tersenyum setelah membaca isi pesan tersebut, tidak ada yang patut dicemburui suaminya. Ia pun mengatakan apa maksud dari isi pesan Doni yang hanya menanyakan kenapa ia tidak masuk bekerja. Nayla membalas pesan Doni, ia tidak masuk bekerja dengan alasan tidak enak badan.
Nayla meletakkan ponsel ke sampingnya, ia meraih tangan Fahad. “Teman aku nggak banyak, dan kamu udah tahu semuanya. Teman aku itu cuma Sari, Ryan, Nita dan Doni. Mereka teman terbaik yang aku punya, dan nggak ada alasan yang bisa bikin kamu cemburu sama mereka,” tutur Nayla.
“Tapi dia cowok, Sayang!” Fahad membela diri, ia masih tak terima jika istrinya mengobrol dan terlalu dekat dengan pria lain. “Harusnya kamu tahu batasan pertemanan antara cowok sama cewek, kamu udah nikah.”
***
__ADS_1