Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 94


__ADS_3

Mempersilakan menantunya untuk masuk, Ammi menepuk tepi ranjang agar Nayla duduk di sampingnya. Ia tersenyum simpul melihat menantunya yang juga menepiskan senyuman kepadanya. “Nak, Ammi mau bicara sama kamu.”


Nayla mengangguk. Ekor matanya melirik ke arah Bibi Farida yang duduk di sofa single yang terdapat di sebelah ranjang Ammi—tepat dihadapannya.


“Nayla, Ammi yakin kamu sudah tau untuk apa Ammi memanggilnmu ke sini.”


Nayla diam, ia merasa ragu untuk menjawab. Entah hanya mengangguk atau menggeleng. Nada bicara Ammi terdengar sangat lembut, sehingga ia merasa kesulitan menangkap kemana arah pembicaraan ibu mertua tersebut.


“Kamu tau, kan? Fahad akan menikah lagi dengan Benazir? Jadi, apa kamu setuju untuk hal itu?” tanya Ammi tanpa basa-basi lagi. Secara terang-terangan ia menghujam jantung dan hati Nayla.


Diam sesaat, kedua matanya terkunci oleh kedua manik mata milik Ammi. Nayla kebingungan, jawaban apa yang akan ia berikan. Hatinya memanggil-manggil nama suaminya, seolah ia tengah meminta bantuan agar dikeluarkan dari dalam sumur kekecewaan. Nayla menunduk sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan ibu mertuanya. “Ammi, tidak perlu izin dari istri pertama untuk seorang suami menikah lagi, kan?” Nayla memberi jeda. “Nayla rasa, izin dari Nayla itu nggak penting. Yang pasti Fahad tetap menikah lagi, kan?”


“Baguslah, kamu sadar dimana posisimu di rumah dan bahkan negara ini.” Bibi Farida bersuara. Sejak tadi ia sudah menahan bibirnya untuk tidak mengucapkan sepatah katapun, namun ia tidak tahan jika tidak mengatakan sesuatu untuk Nayla. “Kamu nggak bisa mengurus rumah dan keluarga ini. Kamu mana tau adat dan budaya di Kashmir? Pasti nggak tau.”


“Farida, diamlah. Aku sedang berbicara dengan menantuku.” Ammi menegur. Ia kembali menatap wajah menantunya, “Ammi ingin mendengar jawabanmu tentang pernikahan ini, Nak, kamu mengizinkan?”


Air mata yang Nayla bendung sedari tadi hampir tumpah mendengar pertanyaan serta ucapan Bibi Farida. Sangat sakit sekali. Ia dapat melihat sebuah harapan dari sorot mata Ammi, harapan agar ia memberikan izin kepada Fahad. “Ammi, Fahad akan menikah lagi dengan wanita pilihan, Ammi.” Nayla mengambil napas dalam-dalam, ia merasa hancur setelah mengucapkan kalimat tersebut. “Nayla nanti secepatnya pulang ke Indonesia dan mengurus perceraian.” Imbuhnya.


Ammi terkejut mendengarnya, ia meminta Nayla untuk tidak bercerai dari Fahad. Bagaimanapun, ia tau bahwa putranya sangat mencintai Nayla. Dan, tidak mungkin untuk keduanya berpisah.

__ADS_1


Nayla menggeleng perlahan, ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum. “Itu keputusan Nayla, Ammi. Baiklah ...,” Nayla berdiri, “sekarang semuanya sudah jelas, Ammi. Nayla permisi kembali ke kamar.” Menutup pintu kamar, Nayla memaksa kakinya yang terasa lemas itu untuk menapaki setiap anak tangga ke lantai dua rumah tersebut.


Air mata itu tidak sanggup lagi ia bendung, semua ia tumpahkan begitu pintu kamar sudah ia tutup dari dalam. Nayla terduduk lemas di lantai, tangannya menyentuh dadanya yang terasa sangat sesak. “Aku wanita biasa, Ammi, aku punya rasa cemburu. Aku nggak bisa berbagai suami. Aku nggak bisa!” tangisan itu semakin pecah. Keegoisan Ammi semakin membuat Nayla hancur. Mertuanya ingin ia tetap berada di samping Fahad meskipun suaminya itu nanti menikah lagi. “Aku mundur, Ammi, aku mundur.”


Nayla berdiri dengan susah payah, ia mengambil koper ... ia letakkan benda itu di atas ranjang lalu membukanya—isakan tangisnya memenuhi seisi kamar, ia sungguh tidak sanggup lagi. Daripada berjuang dan hanya rasa sakit yang ia terima, lebih baik mundur dan bahagia meskipun nanti diawal ia akan kesusahan membangun hidupnya lagi. Tak apa, Nayla siap untuk itu. Ia melempar semua bajunya ke dalam koper, semuanya ... ia tidak meninggalkan satupun barangnya di kamar tersebut, termasuk foto yang terbingkai indah di meja nakas. Ia merobek gambar dirinya bersama Fahad, memasukkan potongan gambar dirinya sendiri kedalam koper.


“Sayang?” Fahad membuka pintu, matanya bertemu dengan mata Nayla yang masih saja mengeluarkan air mata. Ia mendekati Nayla dengan panik, melihat istrinya menangis ... dengan baju-baju yang dimasukan ke koper, ia jauh lebih panik dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. “Ada apa ini? Kamu mau kemana?” tanyanya seraya mengeluarkan baju-baju tersebut. Matanya membulat penuh melihat foto yang sudah disobek. “Sayang, jawab aku!” suaranya meninggi, ia menarik lengan Nayla agar memberinya jawaban atas semua pertanyaannya.


“Aku mau pulang ke Indonesia, Fahad, aku mau pulang!” Nayla semakin menangis. Ia ambruk di lantai, memeluk kedua lututnya dengan luka hati yang semakin dalam.


Menyentuh puncak kepala Nayla, “maksud kamu apa? Ngomong yang jelas, Sayang. Ammi ngomong sesuatu sama kamu? Apa bibi yang ngomong aneh-aneh lagi?”


“Kalau gitu jelasin semuanya ke aku!” paksa Fahad, tangannya menyeka air mata Nayla yang terus saja mengalir tanpa henti.


Nayla mengambil napasnya dalam-dalam, ia menatap kedua manik mata suaminya. “Fahad, aku mencoba belajar dari para istri Rosulullah, bagaimana mereka ikhlas menjalani kehidupan dengan bersuamikan orang yang sama—mereka berbagi suami. Mereka wanita pilihan Allah. Tapi, aku ... aku wanita akhir jaman yang sulit sekali meneladani mereka. Sekuat apapun aku berusaha, hati kecilku tetap menolak, Fahad.”


Kini Fahad tau kemana arah pembicaraan istrinya, ia dekap tubuh wanita yang bergetar hebat akan rasa kecewa itu dengan erat. Matanya terpejam, Fahad mengingat bagaimana ia sudah menyakiti Nayla. Dan, kini ... rasa sakit istrinya itu lebih sakit dari apapun. “Jangan, jangan lanjutin ucapan kamu. Aku mohon.”


Nayla menggeleng, ia sungguh tidak sanggup lagi. “Aku nggak bisa, Fahad, aku nggak bisa. Aku memilih mundur.”

__ADS_1


“Enggak! Aku nggak kasih ijin kamu menyerah dan mundur.” Fahad berseru. Ia muak mendengar keinginan Nayla untuk mengakhiri rumahtangga mereka. “Jangan pergi, tetap di sampingku. Aku pasti bisa meyakinkan Ammi untuk ngebatalin rencananya.”


“Meyakinan gimana, Fahad?! Udah satu bulan kamu di sini, tapi Ammi tetap pada pendiriannya. Cukup, Fahad, cukup! Keputusan Ammi udah final, keputusanku juga udah bulat. Aku pulang ke Indonesia dan ngurus semua—”


“Nayla!” Fahad berdiri, ia meraup wajahnya dengan kasar. “Sampai kapanpun aku nggak mau cerai dari kamu. Ammi suka atau nggak suka, kamu tetap istriku!”


***


Langit malam kali ini tidak memenuhi janjinya untuk membawa bintang bersamanya. Cahaya bulan pun tidak menampakkan keindahannya. Seolah langit ikut merasakan kesedihan dan kekecewaan Nayla. Mata sendunya menatap langit, desir angin ia biarkan menerpa wajahnya. Pasrah. Nayla pasrah. Semua sudah diatur oleh sang pencipta ... ada yang bisa diubah dengan doa, dan ada pula yang tidak bisa. Semua sudah tertulis di lauhul mahfuz. Nayla menguatkan hatinya, meskipun harapan itu terasa sia-sia ketika ucapan Ammi dan Bibi Farida kembali terngiang di telinga.


Ada sedikit harapan ketika suaminya mengatakan hanya dirinyalah, wanita yang akan selalu menjadi istrinya. Tak peduli berapa banyak orang yang menentang, ia akan tetap menjadi istri dari seorang Fahad Malik Khan. Akan tetapi, mengingat Fahad adalah putra yang selalu berkata “iya” ketika Ammi sudah memerintahkan sesuatu ... pupus sudah harapan di sudut hati kecil Nayla.


Nayla tidak pernah sekalipun menyalahkan sikap suaminya yang menuruti semua ucapan Ammi, itu memang kewajiban seorang putra untuk mengurus ibu yang telah bertaruh nyawa demi sang buah hati. Tetapi, untuk satu hal ini, rasanya sangat tidak masuk akal. Seorang ibu meminta putranya untuk menikah lagi, serta tidak ingin ada kata cerai antara Fahad dan istri pertamanya, Nayla. Keegoisan macam apa ini? Jika Ammi saja bisa egois, Nayla pun juga bisa egois. Bukan egois untuk mempertahankan, namun egois ingin mundur dan mengalah.


Sudah cukup waktunya menikmati udara malam yang dingin dari teras balkon, Nayla melangkah kembali masuk ke kamar. Ia tutup pintu itu dengan perlahan, suaminya belum kembali. Kamar itu kosong, Fahad pergi sejak siang, atau sore tadi. Entahlah, Nayla tidak tau kemana sebenarnya Fahad pergi. Siang tadi, setelah ia menangis dan meminta untuk pulang ke Indonesia untuk mengurus surat perceraian ... Nayla yang kelelahan sebab menangis itupun tertidur di pelukan hangat suaminya. Saat matanya terbuka, ia tidak mendapati sosok Fahad di sampingnya. Namun, ada secarik kertas di bawah segelas susu yang bertuliskan,


Sayang, aku pergi ke tempat produksi sebentar. Aku udah bikinin kamu susu, diminum, ya? Harus sampai habis. Aku cinta kamu.


***

__ADS_1


__ADS_2