Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 89


__ADS_3

Matahari mulai turun keperaduannya, bulan bersiap menggantikan sinarnya. Seharian ini, Nayla tetap berada di kamarnya. Panggilan video dari Andi tidak ia terima, Nayla membalasnya dengan sebuah pesan—bahwa ia sedang sibuk dengan ibu mertuanya. Pun dengan panggilan video dari Fahad, Nayla mengatakan alasan yang sama.


Menjelang makan malam, Nayla pun turun, ia membantu Hannah dan Ibu Fatimah seperti biasanya. Pertanyaan dmei pertanyaan yang dilontarkan keduanya dijawab santai oleh Nayla. Ia tersenyum, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.


Yumna berteriak memanggil namanya, ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa begitu panggilannya mendapat sahutan. “Kakak ipar, dari pagi nggak buka pintu kamar, aku panggil nggak nyahut. Kakak ipar, nggak kenapa-kenapa, kan?” Yumna memastikan.


Nayla mengangguk, “tadi kakak cuma lagi pusing aja, ini juga udah sembuh, udah turun.” Menyentuh lembut lengan adik iparnya. Nayla melanjutkan membantu Hannah. Sekarang, ia cukup mahir dalam memasak makanan India. Terutama ayam, ya ... ayam adalah makanan kesukaan suaminya. Maka dari itu, Hannah lebih banyak mengajarinya tentang masakan ayam.


***


Di kantor, Fahad duduk dengan tangan yang sibuk mengirim pesan kepada istrinya. Ia merasa ada yang aneh. Sejak pagi, istrinya tidak menerima panggilan videonya, bahkan untuk membalas pesan saja Nayla melakukannya cukup lama, sekitar 10 atau 30 menit kemudian.


Ia hendak menelpon rumah, karena percuma saja jika ia menelpon Yumna. Fahad tau, adiknya itu pasti menurut apa saja yang dikatakan oleh Nayla. Ada panggilan masuk dari Andi. Sama seperti dirinya, Andi juga merasa ada yang aneh dari Nayla.


Kalau cuma panggilan video nggak diangkat, ya, okelah. Tapi ini panggilan suara juga nggak diterima sama Mbak Nayla. Aku khawatir.


“Iya, Andi, teleponku juga nggak diangkat sama dia. Aku coba telpon rumah dulu, nanti aku kabarin kamu. Dan, besok aku pergi ke Kashmir. Jangan khawatir.” Fahad tidak memungkiri, ia saja yang masih satu negara merasa khawatir, apalagi Andi ... adik dari istrinya itu yang berada jauh di negara lain.


Fahad menelpon rumah, ia berharap bukan Ammi, Yumna, ataupun Nayla yang mengangkatnya. Dan, beruntung ... Hannah yang menerima panggilannya. Pertanyaan ia lontarkan tentang bagaimana keadaan Nayla. Fahad dapat mendengar dari suara Hannah, asisten rumah tangganya itu merasa ragu untuk mengatakan sesuatu. “Apa Bibi Farida mengatakan sesuatu?” tanya Fahad. Ia tau Bibi Farida ada di rumahnya dari Yumna, di hari pertama Nayla datang ... adiknya itu sudah mengabarinya tentang keberadaan bibinya.


“Ini, Tuan, dari pagi Nona Nayla tidak keluar kamar. Pagi tadi pas saya antar teh ke kamarnya, matanya sembab seperti habis menangis, wajahnya juga pucat.” Hannah tidak bisa menyembunyikan keadaan Nayla dan suaminya. Ia akan merasa bersalah jika tidak memberitahu Fahad. “Kalau soal Bibi Farida. Lebih baik, Tuan, tanya sendiri sama Nona Nayla,” ia menambahkan.


Sebelum mengakhiri panggilannya, Fahad berpesan kepada Hannah agar tidak mengatakan kepada siapapun bahwa ia sudah menelpon. “Besok aku ke Kashmir, Hannah, jangan bilang sama orang rumah.”


Hannah mengiyani, ia merasa lega tuan mudanya itu akan segera ke Srinagar, Kashmir. Rasanya, ia tidak tahan lagi mendengar hinaan Bibi Farida kepada Nayla. Semua yang dilakukan Nayla selalu saja menjadi bahan hinaan. Hannah memandang nona mudanya itu dengan tatapan nanar, tersenyum ... tertawa, menghibur yang lainnya, padahal di rumah itu yang paling hancur adalah Nayla sendiri.


Fahad segera memesan tiket untuk penerbangannya esok hari, ia harus segera menemui istrinya. Sebelumnya, Fahad sudah mengabari Andi bahwa besok ia akan berangkat ke Kashmir.


***

__ADS_1


Saat makan malam, Bibi Farida kembali melayangkan hinaannya kepada Nayla. Ammi sudah mencoba menengahi, namun adiknya itu tetap saja tidak berhenti bicara, selalu saja menyudutkan Nayla dengan sebutan wanita asing—yang tidak akan tau adat istiadat keluarga dan negara mereka.


Nayla memilih tidak makan, ia berlalu pergi ke luar rumah. Udaranya memang dingin, tapi lebih baik dari pada mendengar hinaan Bibi Farida. Tak lama, Yumna menyusulnya. “Kakak ipar, pakai mantel ini. Kalau cuma pakai sweater itu nanti, Kakak ipar, bisa sakit karena kedinginan.”


Nayla menerima mantel tersebut, ia memakainya lalu mengatakan terima kasih kepada adik iparnya. “Kakak ipar, boleh akibatnya sesuatu?” Yumna kembali membuka suara. “Kita duduk di situ?” ia menunjuk sebuah saung yang terdapat di taman samping rumah tersebut. Yumna menggandeng tangan Nayla, mengajaknya untuk berjalan bersama menuju saung.


“Kakak ipar, itu paling cantik kalau pakai hijab.” Yumna memuji. “Oh, iya, di rumah, Kakak ipar, pakai hijab terus. Di Indonesia juga gitu?” tanyanya.


Nayla menggeleng, “di Indonesia aku cuma tinggal sama Andi, jadi nggak pakai hijab. Kecuali kalau ada tamu atau kurir paket, kakak pakai hijab dulu sebelum keluar.”


Yumna mengangguk paham. “Kakak ipar, aku mau tanya ke hal yang lebih serius lagi.”


Sebelum Yumna melontarkan pertanyaannya, Hannah datang menghampiri mereka dengan dua cangkir teh serta camilan diatas nampan. Yumna yang meminta dibawakan teh, ia menagih janji kakak iparnya yang akan meminum teh bersamanya. “Maaf, Yumna, kemarin kakak lupa,” ucap Nayla.


Setelah Hannah pergi dari sana, Yumna kembali melanjutkan pertanyaannya. Ia sangat ingin tau kebiasaan kakaknya—Fahad—setelah menikah, apakah kakaknya itu masih suka marah-marah akan hal kecil atau tidak.


“Namanya sifat pasti nggak bisa dirubah, Yumna, kalau dikurangin mungkin bisa. Dan, Fahad sekarang jauh lebih bisa menahan marah. Itu kata Yasmin, sih.” Nayla menjawab. “Sejauh yang kakak tau, Fahad nggak pernah marah tanpa alasan. Misal, kemarin dia sempat marah sama Yasmin karena pulang kantor dia mampir ke tempat lain dan nggak pamit sama kakakmu.” Nayla menjelaskan.


“Kamu juga, kan?” celetuk Nayla.


Yumna tertawa, ia memeluk tubuh kakak iparnya dari samping. Merasa beruntung, sekarang ia mempunyai saudara perempuan yang bisa diajak bicara, lebih tepatnya ... berkompromi. Berbeda dengan Yasmin, kakaknya yang satu itu sangat suka mengajaknya bertengkar. Tidak setiap hari memang, hanya saat mereka ketahuan oleh Fahad kalau sudah berbohong.


“Kakak ipar, terima kasih udah jadi kakak iparku. Aku mohon, jangan tinggalin Kak Fahad, aku nggak mau dia kembali seperti dulu. Aku dan yang lain udah cukup bahagia sama Kak Fahad yang sekarang.” Yumna memohon dengan tulus, terlihat dari sorot matanya.


Aku nggak pernah ninggalin Fahad, Yumna, tapi sepertinya ... Fahad yang bakal pergi ninggalin aku.


Nayla tersenyum getir, ia tidak membalas ucapan adik iparnya. Ia hanya menggenggam tangan Yumna dengar erat.


“Kakak ipar, malam ini aku tidur di kamarmu, boleh?”

__ADS_1


Nayla mengangguk, “tentu boleh, Yumna. Kamu suka drama Korea nggak? Nanti kita nonton bareng.”


“Suka, Kak, tapi nanti pakai subtitle Inggris, ya?” tanya Yumna.


Nayla beranjak berdiri, “kakak capek tiap hari ngomong bahasa Inggris terus, Yumna. Ini nonton drama, masa mau subtitle Inggris lagi. Pakai subtitle Indonesia aja.” Membawa nampan di tangannya, Nayla berjalan masuk ke rumah dan disusul Yumna yang melayangkan protes kepadanya.


“Kakak ipar, subtitle Inggris! Pokoknya Inggris!”


***


Hatinya berbunga-bunga, rindu yang selama satu minggu ini ia tahan ... akan segera ia luapkan ketika sang istri sudah didepan mata. Dengan tas punggung, mantel hangat, serta satu bucket bunga di tangannya, Fahad melangkah dengan pasti memasuki rumah yang penuh kenangan masa kecilnya itu.


Ammi dan Bibi Farida terlihat duduk bersama, mereka berdua dibuat terkejut saat Fahad mengucapkan salam. “Fahad, anakku.” Ammi beranjak berdiri, ia berhamburan memeluk putra yang sangat ia rindukan.


“Apa kabar, Ammi? Fahad kangen sama Ammi.” Fahad juga membalas pelukan sang ibu, ia cium kening wanita yang selalu memberikan semua rasa cinta dan sayang kepadanya.


“Baik, Nak, Ammi baik.”


Fahad beralih menyalami Bibi Farida, ia juga mendaratkan pelukannya. “Bibi sudah lama di sini. Kapan, Bibi, pulang?”


Ammi memepuk punggung putranya, mengingatkannya agar berbicara lebih sopan kepada orang yang lebih tua.


“Aku cuma bercanda, Ammi, bercanda. Maaf, Bi.” Fahad kembali memeluk Bibi Farida sebagai permintaan maafnya.


Fahad mengedarkan pandangannya, ia mencari sosok wanita penghuni hati dan pikirannya. Ia sudah sangat merindukannya, Fahad ingin segera bertemu. “Ammi, istriku di mana?” tanyanya.


“Dia ada di kamar, Nak.” Ammi menjawab. Fahad permisi, ia menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Ammi dan Bibi Farida memandang tubuh Fahad yang semakin jauh. “Lihatlah, Kak, putramu sudah melupakanmu. Dia baru datang, bukannya menghabiskan waktu sama Amminya, tapi dia malah sibuk mencari istrinya.” Bibi Farida berujar penuh penekanan.

__ADS_1


Sudut hati Ammi merasa sakit, ya ... memang benar, ia ingin menghabiskan waktu yang lebih banyak bersama putranya. Sekian lama ia tidak bercengkerama seperti dulu bersama putra satu-satunya yang ia miliki.


***


__ADS_2