Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 18 S2


__ADS_3

Menatap punggung wanita yang dia cintai. Walaupun sudah mendengar semuanya dari Nayla, Ryan tetap tidak bisa menghentikan rasa cinta itu. Kali ini hatinya terasa lebih sakit daripada dulu ... saat pertama kali ia menyatakan perasaannya.


Salah?


Untuk sesaat, Ryan tidak peduli akan hal itu. Yang dia tau hanyalah cinta. Dia mencintai Nayla. Entah sampai kapan perasaan itu bersemayam di hatinya. Mengunci semua hal tentang Nayla. Jika bukan sekarang, mungkin nanti. Ryan memutuskan untuk tetap menunggu. Dia yakin, perasannya akan terbalaskan.


***


Nayla menyusul Andi dan Shazia yang tengah duduk di sebelah Nita. “Mbak, dari mana? Kenapa keringatan—”


“Ayo, pulang.” Nayla menukas. Ia mengambil Shazia dari pangkuan Andi. “Nita, aku pulang duluan, ya? Sampaikan salamku untuk Sari dan Doni.” Belum sampai Nita menjawab, Nayla segera beranjak pergi. Dengan langkah kaki yang cepat, dia meninggalkan Andi yang masih terpaku di tempat duduknya.


“Mbak Nayla kenapa, sih?” Andi bertanya pada dirinya sendiri.


“Andi, kenapa masih duduk? Nayla sudah nggak kelihatan.” Nita menimpali. Meskipun dia sendiri juga bingung akan sikap Nayla, namun Nita berusaha tidak ikut campur lebih jauh. Ini bukan sosok Nayla, Nita tau betul. Mungkin sakit, Nita mencoba berpikir positif.


Sabuk pengaman sudah terpasang dengan sempurna. Andi menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ekor matanya melirik ke arah Nayla. Kakaknya itu masih setia dengan kebisuannya. Kedua matanya menatap lurus ke jalanan. Hanya suara Shazia yang memecah keheningan.


Mobil sudah berhenti tepat di depan rumah. Namun, Nayla masih tetap tak bergeming. Hingga sentuhan Andi di pundak membuatnya tersadar. “Sudah sampai?” tanyanya.


“Hemm.” Andi turun lebih dulu. Dia membawa Shazia masuk ke kamar, menidurkan keponakannya itu dengan perlahan. “Mbak, sakit?” Andi bertanya setelah keluar kamar. Ia mendaratkan tubuhnya di samping Nayla—di sofa ruang tamu.


Nayla menggeleng. “Besok kamu bisa antar mbak ke butik?”


“Bisa. Tapi—”


“Selesai sarapan antar mbak ke butik.” Nayla beranjak. Ia masuk ke kamar, meninggalkan Andi dengan seribu pertanyaan di benak adiknya tersebut. Melepas hijab, Nayla duduk di kursi, menatap wajah damai sang putri. Lelah. Apa yang terjadi tadi sungguh menguras emosinya. Bagaimana mungkin Ryan bisa berpikir seperti itu? Menikahi Fahad karena dia kaya? Sungguh pemikiran yang picik!


Jika saat itu ada rasa cinta di hatinya untuk Ryan, tentu Nayla akan menerima lelaki itu sebagai suaminya. Namun, nyatanya tidak. Nayla tetap tidak bisa mencintai Ryan. Dulu, sekarang, ataupun nanti. Hanya Fahad, lelaki itu berhasil menguasai hatinya. Rasanya, Nayla ingin pergi ke India sekarang juga. Akan lebih baik jika pergi jauh dari Ryan. Semuanya akan semakin rumit jika tetap berada di Indonesia.


Merogoh ponselnya yang masih di dalam tas, Nayla mencoba menghubungi suaminya. Dia ingin mendengar suara Fahad. “Kamu tidur?” tanyanya setelah mendengar suara berat dari sang suami.

__ADS_1


“Sudah pulang?”


“Hemm.” Nayla mengangguk. “Kamu bisa jemput aku?”


Ucapan sang istri membuat Fahad membuka matanya lebih lebar lagi. Mendudukkan tubuhnya dengan sempurna. “Ada apa, Sayang?” Fahad dapat merasakan, ada sesuatu yang menggangu istrinya. Tidak mungkin Nayla meminta untuk dijemput. Sementara kesibukan di butik tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Istrinya tidak akan pergi meninggalkan tanggungjawabnya begitu saja.


Bulir bening itu meluncur tanpa permisi, membasahi pipi Nayla. “Aku kangen sama kamu, aku pengin ke India.”


“Boleh aku ganti ke panggilan video?” Fahad bertanya.


“Jangan,” jawab Nayla dengan cepat. Jika melihat Fahad, sudah pasti dia akan lebih menangis lagi.


Fahad menghela napas dalam-dalam. “Sebentar lagi aku ke Indonesia, Sayang. Tenang, ya, jangan menangis. Aku pasti segera datang.”


Nayla mengiyani. Dia berharap suaminya benar-benar segera datang. Nayla ingin berhambur ke pelukan Fahad, menangis dan mencurahkan semua isi hatinya. Mengatakan apa yang sedang mengganggu hatinya, mengatakan bahwa dia benar-benar mencintainya.


“Aku yakin, kamu bukan cuma kangen sama aku. Pasti ada hal lain lagi, kan?” selidik Fahad.


“Zia juga kangen sama kamu. Tolong datang secepatnya, atau aku yang ke India sendiri.”


“Sayang.” Fahad semakin gusar. Ini tidak seperti biasanya. Setiap ke Indonesia, Nayla tidak pernah meminta untuk segera dijemput, justru istrinya itu pasti akan meminta ijin untuk menghabiskan waktu lebih lama lagi di Indonesia. “Iya, aku pasti jemput kamu sama Zia. Tapi, untuk sekarang aku belum bisa. Masih banyak pekerjaan penting yang harus secepatnya aku selesaikan. Jangan ke sini sendiri, aku nggak kasih ijin kamu. Duduk cantik di sana dulu, aku pasti jemput kamu secepatnya.” Fahad mencoba memberi pengertian. Walaupun sebenarnya hati dan pikirannya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan akan sikap sang istri yang sangat berbeda.


“Iya, aku tunggu kamu.” Nayla mengangguk paham. Memang lebih baik menunggu Fahad datang untuk menjemputnya. Dia akan kerepotan jika kembali ke India bersama Shazia seorang diri.


“Sayang, kamu tau nggak?”


“Enggaklah, kamu aja belum kasih tau.”


Oh, tidak! Menggemaskan! Fahad ingin sekali menggigit pipi istrinya ini, menenggelamkan tubuh Nayla ke dalam dekapannya. “Stop it! Jangan buat aku kehilangan kendali, ya. Aku bisa nekat sewa pesawat untuk pergi ke Indonesia, nih.” Fahad memberi peringatan.


Nayla tersenyum, air matanya berhenti mengalir. “Untuk nekat yang kali ini, aku bisa kasih maaf. Yuk, buruan, nekatnya dilaksanakan.”

__ADS_1


Benar, bukan? Fahad semakin gemas. Rasa kantuknya sudah benar-benar hilang oleh sang istri. “Tunggu saja, aku pasti kasih hukuman berat buat kamu.”


Obrolan itu membuat Nayla merasa nyaman. Hatinya kembali menghangat. Dia lupa Ryan. Lelaki yang kini terlihat menakutkan di matanya. Lelaki yang berhasil membuatnya benar-benar akan memutus semua hal yang menyangkut nama Ryan.


“Sayang?”


“Iya?”


“Sayang?”


“Iya, Fahad?”


“Istriku?"


“Iya. Apa?”


“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”


Kedua sudut bibir Nayla terangkat dengan sendirinya. Meskipun tanpa sebuah ungkapan, Nayla sudah tau bahwa Fahad benar-benar mencintainya. Akan tetapi, sebuah ungkapan cinta itu juga sangat penting di dalam sebuah hubungan. Tak peduli berapapun usia pernikahan, saling mengatakan aku mencintaimu adalah hal yang memang patut untuk diungkapkan. Bukan hanya kepada pasangan, namun juga kepada buah hati—agar mereka tau, bahwa ayah dan ibu mereka benar-benar mencintai dan menyayangi kalian sebagai anaknya.


“Kok, nggak dibalas?" Fahad bertanya setelah beberapa saat keheningan menyita waktu mereka.


“Aku masih berpikir, Fahad, apa aku perlu membalas ucapan cinta kamu itu atau enggak.


“Sayang, kamu berani—”


“Aku cinta kamu, Suamiku.”


Lega sekali rasanya. Mendengar ungkapan cinta dari sang istri. Oke, untuk sekarang ... tugasnya adalah menyelesaikan semua pekerjaan, agar bisa lebih cepat pergi ke Indonesia untuk bertemu dan menjemput Nayla dan juga Shazia.


***

__ADS_1


__ADS_2