Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 24 S2


__ADS_3

Sedikit gerimis. Suasana malam itu terasa hangat saat tiga orang dewasa serta satu balita saling bercengkerama di ruang keluarga. Di ruang tersebut, semua hal yang dilakukan seharian ini akan dibagikan satu sama lain dan penuh dengan canda tawa. Fahad mengatakan kepada Nayla bahwa beberapa hari lagi mereka harus segera kembali ke India untuk mengurus perjodohan Yasmin.


“Kok, mendadak?” Nayla bertanya.


“Enggak mendadak, Sayang. Rencana perjodohan Yasmin sudah dari jauh, bahkan saat Yasmin masih kuliah. Tapi waktu itu aku masih bisa mempengaruhi ammi supaya diundur,” jawab Fahad.


Fahad juga mengatakan, bahwa sebenarnya dia merasa kurang setuju dengan perjodohan tersebut. Dia ingin Yasmin memilih sendiri siapa teman hidupnya nanti. Pun sama halnya dengan Yumna. Fahad tidak ingin mencampuri urusan hati dari adik-adiknya. Siapapun yang dipilih oleh Yasmin dan Yumna, Fahad akan mengiyani jika pria tersebut memiliki rasa tanggungjawab yang besar, serta benar-benar mengerti apa arti dari sebuah cinta dan rumahtangga. Kenangan buruk rumahtangga pertamanya membuat Fahad benar-benar tidak ingin jika adik-adiknya mengalami hal yang sama seperti dirinya.


“Nggak semua pernikahan karena arrange marriage itu nggak bahagia, Fahad. Kamu nggak boleh menyamaratakan,” tutur Nayla.


“Tapi, bisa saja seperti itu, kan? Mungkin saja mereka sudah punya pacar, tapi harus rela berpisah hanya karena arrange marriage.”


Nayla berdecak kesal. Iya, baiklah. Rumahtangga terdahulu milik Fahad memang menjadi contoh sebuah perjodohan yang gagal. Mungkin diluar sana juga banyak perjodohan yang berakhir dengan sebuah perceraian. Tapi, tidak sedikit pula yang berhasil menjalani pernikahan tersebut dengan bahagia.


“Ya, tapi tetap saja. Kamu nggak boleh men-judge bahwa arrange marriage itu sesuatu yang buruk. Tanya Yasmin dulu, dia punya pacar apa enggak. Calon suaminya juga ditanya, suruh dia jujur. Kalau sama-sama punya, perjodohan nggak boleh dilanjutkan. Kalau nggak punya, digas saja.”


Fahad mengangguk paham. Lebih baik menanyakan pendapat Yasmin terlebih dahulu. Soal iya atau tidak, semua tetap ada pada keputusan Yasmin.


“Buktinya, Sahil dan Sanju. Mereka baik-baik saja, kan? Mereka juga menikah karena perjodohan, loh. Dan, itu si Shahid Kapoor sama Mira Rajpoot juga menikah karena perjodohan. Mereka artis, Fahad, tapi mereka nggak menentang perjodohan,” imbuh Nayla.


“Iya, Sayang, iya. Aku tanya pendapat Yasmin dulu. Dan nggak semua perjodohan itu buruk.” Fahad mencubit kedua pipi Nayla dengan gemas. “Andi, kamu mau dijodohin nggak?” Fahad bertanya.


“Boleh. Tapi, harus dari Kashmir juga.” Andi menjawab asal. Jangankan menikah, untuk sekarang Andi masih memilih sibuk untuk mengobati luka hatinya.


“Oke, nanti aku kasih foto dan profilnya ke kamu.” Fahad mengacungkan jempolnya kepada Andi.


“Sudah selesai? Apa masih mau adu argumen soal aatage marriage?” Nayla bertanya.


Fahad tersenyum. “Enggak, sudah selesai. Terima kasih, kamu sudah mengatakan kalau pemikiran aku ini salah.” Belaian lembut dia berikan di puncak kepala sang istri.


Andi memandang kakak dan kakak iparnya yang sedang membicarakan tentang arrange marriage dan love marriage. Memang benar yang diucapkan Nayla, tidak semua pernikahan perjodohan itu berakhir buruk. Semua tergantung bagaimana dua insan itu saling memahami dan menghormati. Lalu cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


“Mbak?” panggil Andi.


“Heemm?”


“Aku baru dengar kalau keluarga Fahad ada yang jadi artis. Itu siapa tadi? Shahid, ya?” tanya Andi.


“Kata siapa dia keluarganya Fahad? Dia artis.”


Andi melongo begitu mendengar jawaban dari Nayla. Dia sudah mendengarkan dengan seksama, tapi ternyata ada masalah dengan pemahamannya. “Jadi, ini ngomongin artis, Fahad, Yasmin, apa aku, sih?”


“Nggak tau.” Nayla mengangkat bahunya sembari tertawa.


Obrolan artis memang tidak ada habisnya. Andi dibuat heran dengan kakaknya ini yang sangat tau siapa saja nama artis India yang lama maupun yang baru. Bukan hanya artis north India, namun Nayla juga cukup paham artis dari south India. “Mentang-mentang suaminya orang India, semua nama artis jadi hapal,” celetuknya.


“Nayla ini kalau sudah ngomongin artis, mana bisa diam dia. Yang inilah, yang itulah.” Sama seperti Andi. Fahad juga merasa heran dengan pengetahuan sang istri. Bahkan, dia saja yang seorang warga India tidak terlalu paham dengan kehidupan entertainment yang ada di negaranya. “Mantan pacar Salman Khan saja dia tau,” sambungnya.


“Mbak, paham banget . Memangnya siapa mantan si Salman Khan?” tanya Andi


“Itu, Katrina Kaif, yang pernah main film sama SRK yang judulnya, Jab Tak Hai Jaan.”


“Tuh, kan.” Fahad mencubut hidung mungil Nayla yang duduk di bawah bersama Arishfa. “Yang ditanya cuma siapa mantan pacar Salman Khan, tapi segala film apa dan siapa lawan mainnya disebut juga. Memang benar-benar, ya, Nyonya Fahad Malik Khan ini.”


Nayla memukul tangah Fahad. “Sakit, Fahad. Hidungku lama-lama beneran mancung ini kalau kamu tarik terus.” Nayla mengeluh, membuat Andi dan Fahad kompak menertawakannya.

__ADS_1


***


Semua sudah masuk ke dalam kamar, Shazia pun juga sudah tidur. Sementara Fahad, dia juga sudah memejamkan matanya. Namun, tangannya masih kesana kemari, mengganggu Nayla yang hendak tidur.


“Fahad ...,” protes Nayla.


“Jangan tidur dulu, Sayang. Aku masih mau—”


“Sudah malam, besok saja, ya?” Nayla sedikit menjauhkan tubuhnya dari Fahad.


“Kok, besok?” Fahad membuka matanya. “Sayang, Andi benar mau dijodohin? Kalau iya, nanti aku sama ammi yang carikan calon istri.”


“Nggak tau. Biarkan saja, nggak usah dianggap serius omongan dia. Hatinya belum sembuh. Kan, dia baru saja putus.”


“Putus?” tanya Fahad.


Nayla mengangguk, “hemmm.” Dia menceritakan semua kisah cinta adiknya perihal mas kawin yang diminta oleh pihak orangtua Dewi.


“Berani banget mereka minta mas kawin mobil? Coba kalau yang minta mas kawin mobil itu istriku, pasti langsung aku kasih,” ucap Fahad yang langsung mendapat cubitan di perutnya dari Nayla.


“Aku nggak minta, ya!” Nayla memrotes.


Tersenyum, “iya, aku tau kamu nggak bakal minta hal yang seperti itu.” Fahad menghujani sang istri dengan ciuman di setiap inci wajahnya. Makna itulun berakhir dengan pelukan hangat yang dari keduanya.


***


 


Nayla sudah selesai dengan semua pekerjaan rumahnya, Andi pun juga sudah berangkat bekerja. Nayla tengah duduk di kursi meja makan sembari sibuk mengutak-utik benda pipih miliknya. Dia sedang mengirim pesan pada pemilik restoran biryani tempat biasa ia memesan makanan untuk hari Jumat. Ia juga mengirim pesan pada Anand agar ia tidak lupa kegiatan rutinnya di hari jum'at.


“Iya?” Nayla menjawab tanpa menoleh sedikitpun kepada suaminya.


“Pacaran, yuk?”


Seketika Nayla mengangkat wajahnya menatap sang suami yang tersenyum padanya. “Maksudnya?”


“Iya.” Fahad menyelipkan anak rambut Nayla ke belakang telinga. “Kita sudah lama nggak pacaran.”


“Perasaan setiap hari kita pacaran. Masih kurang?” Nayla kembali sibuk dengan ponselnya.


“Itu, kan, bertiga sama Zia. Sekarang berdua saja. Kita titipkan Shazia ke Mbak Indah atau Mbak Mita, gitu.”


“Pacaran kemana, Anand?” ucap Nayla tanpa sadar.


“Kok, Anand?” Fahad menautkan kedua alisnya.


Nayla meminta maaf karena salah menyebut nama suaminya. Bukan disengaja, dia sedang berbalas pesan dengan Anand. Konsentrasinya sedikit terbagi. Nayla menyetujui ajakan suaminya. Dia bergegas menyusul Shazia yang bermain sendiri di ruang tv.


Nayla memakai baju dengan celana jeans dan atasan tunik bermotif bunga kecil-kecil serta pasmina berwarna cokelat. Sementara Fahad, dia memakai kaos santai berwarna hitam dan celana jeans panjang.


“Sayang, kenapa kamu nggak pernah pakai celana jeans kalo lagi di Kashmir?” Fahad bertanya kepada Nayla yang sedang memasangkan bando Shazia.


“Aku pernah pakai celana jeans, kalau musim dingin aku juga pakai celana, kan? Masa mau pake rok tipis.” Ingatan Nayla kembali di mana Bibi Farida pernah sedikit mengomentari perihal celana jeans yang dia kenakan. Kata wanita paruh baya itu, tidak pantas seorang wanita memakai celana seperti itu. Meskipun Nayla selalu memakai tunik panjang untuk dipadukan dengan celana, dia memilih tidak memakainya lagi ketika ada Bibi Farida.


“Tapi kamu kelihatan kayak anak SMA kalau lagi pakai celana jeans gitu. Makanya sering dikira belum punya suami dan anak,” cetus Fahad yang berdiri serta menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar.

__ADS_1


Nayla berdiri, menggandeng tangan Shazia lalu berjalan keluar kamar. “Kan, cuma dikira saja. Nggak seperti kamu.”


“Aku kenapa?” heran Fahad, dia mengekor di belakang Nayla.


Nayla membuka pintu mobil, lalu mendudukkan Shazia di kursi khusus anak balita. “Itu, medsos kamu. Full komentar dan like dari cewek-cewek. Pesan juga banyak.”


Fahad yang sudah duduk di kursi balik kemudi itupun menatap sang istri masih dengan tatapan heran. “Yang mana?”


Nayla menyusul duduk di kursi depan, memasang sabuk pengaman sekaligus menjelaskan media sosial yang dia maksud. Di mana Fahad tidak mengganti statusnya menjadi menikah, di bio Instagram pun juga tidak. Meskipun hanya sebuah tulisan, Nayla tetap merasa tidak nyaman.


Fahad mulai menyalakan mobil, melaju dengan kecepatan sedang. “Kamu marah?” tanyanya yang tetap fokus pada kemudi.


“Enggak marah. Cuma, batasin dikit dong soal upload foto di medsos. Aku saja nggak pernah upload foto. IG juga aku kunci, FB apalagi, udah nggak ada semua fotoku. On juga jarang,” tutur Nayla panjang lebar.


“Memang kenapa kamu nggak upload foto? Kan, aku nggak ngelarang.” Fahad bertanya. Sebenarnya dia juga akan melarang istrinya itu mengunggah foto di media sosial. Dia tidak suka wanitanya menjadi konsumsi publik.


“Ya, buat privasi saja, Fahad. Kamu mau aku upload foto terus dikomentari sama cowok-cowok, terus di DM kayak kamu gitu?” wajah Nayla sangat terlihat jika dia sedang cemburu.


“Darimana kamu tau ada yang DM aku?”


“Ya, dari ponsel kamulah. Banyak banget yang ngasih nomer ponsel mereka dan nanya ini itu,” wajah Nayla semakin masam


“Oh, kamu ngecek isi ponselku? Nggak percaya sama aku?” Fahad menyudutkan Nayla.


“Bukan gitu, tapi...,”


“Ah, sydahlah. Aku minta maaf sudah lancang buka-buka ponsel kamu.” Nayla membuang wajahnya, menatap pinggiran jalan.


Selama perjalanan mereka hanya membicarakan masalah sosial media dan foto. Hingga mobil berhenti di depan rumah Mas Reno dan Mbak Mita. Nayla tersenyum bahagia mengetahui bahwa Fahad membawanya ke rumah kakaknya.


 


***


Hai, Sayang-sayangku....


Sudah lama aku nggak nyapa kalian, hehe. Apa kabar? Hati kalian juga apa kabar? Sudah memutuskan untuk bahagia atau merana?


Eh, loh!


Btw, saya sudah pernah kasih satu bab yang isinya tentang informasi negara India yang mulai dari sifat kebanyakan pria India, adat tentang perjodohan, dan juga ada informasi tentang kasta yang masih berlaku di India. Sekali lagi, cerita cinta Fahad dan Nayla ini cuma fiktif saja. Tidak merujuk pada sebenar-benarnya rumah tangga pernikahan campuran antara India dan Indonesia.


Tapi, di dalamnya saya juga kasih poin-poin yang memang benar menunjukkan sifat dan kepribadian pria India yang memang sangat menghormati dan sangat patuh pada ucapan seorang ibu. Meskipun begitu, semua itu tidak mengurangi rasa cinta dan saling menghormati antara suami dan istri. Dan, ada juga yang lebih mengutamakan statusnya sebagai anak dan melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


Jangan salah menafsirkan tentang pernikahan campuran ini, ya. Banyak pernikahan campuran yang bahagia. Tapi nggak sedikit juga, pernikahan campuran yang berakhir tidak bahagia dan itu memang ada di dunia nyata.


 


Terima kasih buat yang sudah like, comment, dan vote juga.


Ditunggu jejak cinta kalian untuk Fahad dan Nayla.


Terima kasih ❤️


***

__ADS_1


__ADS_2