
Sudah empat hari sejak menginjakkan kaki di Indonesia. Nayla sangat merindukan teman-temannya. Teman saat bekerja di restaurant. Kemarin, Sari mengirim pesan kepada Nayla, perempuan tersebut mengajak berkumpul bersama. Bukan hanya Nayla, tapi juga ada Nita di sana.
Nayla mendudukkan tubuhnya di samping sang suami yang tengah sibuk dengan laptop. Ia mengutarakan keinginannya—meminta izin untuk bertemu dengan teman-temannya.
“Nggak boleh.” Belum selesai bicara, Fahad sudah lebih dulu memotong ucapan sang istri.
Andi menajamkan indera pendengarannya. Matanya tetap fokus pada komputer lipat.. Sepertinya seru, nih.
Nayla meminta penjelasan lebih lanjut, sebab apa yang membuat suaminya itu tidak memberinya izin bertemu dengan teman-temannya.
“Di sana pasti ada Ryan.”
Nayla menunduk. Kenapa nama Ryan disebut? Padahal, lelaki itu tidak ada dalam daftar bertemu dengan teman-temannya. Bahkan, kini Nayla sudah tidak pernah mendengar kabar tentang lelaki itu. “Fahad, Ryan nggak ada. Mungkin cuma ada Doni. Jadi—”
“Di sana pasti ada Ryan.” Fahad menyela. “Kalau ada Doni, pasti juga ada Ryan.”
Nayla menghela napas dengan lelah. Kenapa suaminya itu masih saja menaruh rasa cemburu kepada Ryan. Tidak ada hubungan apapun diantara dirinya dan juga Ryan. Ya, Nayla masih menyimpan nomor ponsel lelaki itu, namun mereka benar-benar tidak saling berhubungan. Nayla berkata jujur. Tetapi, tidak akan ada yang berubah. Suaminya sudah memutuskan, dan ia harus menerimanya.
Nayla mengangkat tubuh Shazia, mengajaknya masuk ke kamar untuk tidur siang. Tidak ada izin dari Fahad. Tidak ada temu kangen dengan teman-temannya. Baiklah. Nayla akan duduk di rumah, memeriksa usahanya lewat laporan orang-orang yang membantunya. Satu bulan lagi akan mulai launching—setelah satu tahun ia mengurus semua yang diperlukan untuk usaha clothingnya. Mulai dari merk yang akan ia pakai, kain, desainer, style busana muslim kekinian dan warna yang sesuai seleranya. Serta mencari tempat yang sekiranya cocok Nayla gunakan untuk berbisnis.
Nayla kesal. Ia tidak memungkiri itu. Kenapa nama Ryan selalu disebut saat mereka berada di Indonesia. Setelah menikah, nama Ryan benar-benar sudah tidak pernah ada dibenaknya lagi. Nayla tidak peduli dengan Ryan, yang ia pedulikan hanyalah rumah tangganya. Toh, dari awal memang tidak ada perasaan khusus terhadap Ryan. Jika tidak bertemu dengan teman-temannya adalah yang terbaik, maka ia akan menuruti semua ucapan sang suami.
Malam itu, suasana meja makan terasa sangat dingin. Andi nbin keluar, menikmati suasana malam minggu. Tetapi, entah kenapa ia sangat penasaran dengan kelanjutan pembahasan siang tadi antara kakak dan juga kakak iparnya. Ryan. Nama lelaki itu tak pernah lepas dari perdebatan ketika berada di Indonesia.
“Kamu nggak makan?” Fahad bertanya.
“Aku masih suapin Zia, nanti aku juga makan. Kamu duluan saja.” Nayla menjawab tanpa menatap Fahad. Bukan tidak menghormati suaminya, Nayla hanya tidak ingin bertemu dengan kedua mata seseorang yang pasti akan membuat air matanya menetes tanpa permisi. Ia tak bisa jika harus berdebat dengan Fahad perihal keinginannya untuk bertemu dengan teman-temannya. Dan, juga ... membahas tentang Ryan.
“Ya, sudah. Aku nggak mau makan kalau kamu nggak makan.” Fahad meletakkan sendok. Menatap Nayla dengan tatapan penuh selidik. Ia menebak-nebak, apa yang sedang dipikirkan istrinya tersebut.
Andi meletakkan sendok dengan keras, menimbulkan suara nyaring akibat berbenturan dengan piring. Fahad dan Nayla kompak menatap Andi dengan heran. “Buang saja makanannya!" Andi berseru kesal. “Ini di meja makan, tempat makan, waktu untuk keluarga. Bukan tempat diam-diaman atau bertengkar. Bisa, nggak? Diamnya dilanjut nanti?”
Nayla berdehem, mencoba mencairkan suasana. Tangannya hendak mengambil centong sayur, namun Fahad sudah lebih dulu mengambilnya. Lelaki itu menuangkan sayur ke piring Nayla. Membuat Andi tersenyum melihatnya. Pun dengan Shazia, seolah mengerti ... ia bertepuk tangan sembari tersenyum memandang tiga orang yang berada dihadapannya.
Nayla tidur lebih awal setelah Shazia sudah lebih dulu tidur. Ia menghindari Fahad. Tidak ingin ada pembahasan apapun lagi. Walaupun sebenarnya ia tidak tahan dengan sikap diam suaminya. Nayla ingin duduk bersama, berbicara dari hati ke hati, dengan kepala yang dingin. Namun, sepertinya ia sudah lelah. Lebih baik juga diam. Saat ini, itulah yang terbaik.
***
Pagi itu sangat cerah, matahari bersinar menghangatkan seluruh isi bumi. Tapi, berbeda dengan suasana rumah. Masih dingin. Tak ada kehangatan canda tawa yang mengisi rumah seperti hari-hari sebelumnya.
Sembari memasak sarapan, Nayla juga disibukkan dengan cucian bajunya. Mesin cuci berhenti berputar—berbunyi, menandakan baju sudah siap dijemur.
“Sayang?” Fahad menghampiri Nayla yang tengah menjemur baju.
__ADS_1
“Iya?” Nayla menoleh sesaat, lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.
“Bisa minta tolong carikan kunci mobil?” tanyanya.
Kunci mobil? Nayla mengingat-ingat, mungkin ia melihatnya. Tetapi, Fahad dan Andi sangat jarang menggunakan mobil. Suaminya itu lebih banyak menggunakan motor matic milik Andi, sebab Shazia sangat suka menaiki sepeda motor. Andi juga lebih sering menggunakan motor sport milik Fahad.
“Aku mau panasin mobil, bisa tolong carikan?” Fahad kembali bertanya.
“Iya.” Nayla berjalan ke kamar, mencoba mencari kunci mobil di laci nakas atau meja riasnya. Nihil. Kunci itu tidak ada di dalam kamar, di setiap sudut. Nayla menghampiri Andi yang berada di kamar, bermain bersama Shazia. “Andi, kamu lihat kunci mobil, nggak? Fahad mau panasin mobil.”
“Hah? Kunci mobil? Kan, tadi Andi sudah kasih ke Fahad. Itu mobil juga sudah dipanasin.”
Mendengar jawaban Andi, Nayla menggerutu kesal. Rupanya, suaminya itu sedang mengerjainya. Menyusul Fahad yang masih ada di dapur, ia melayangkan protes, marah.
“Nah, akhirnya kamu lihat aku juga.” Fahad tersenyum. Meraih tangan sang istri, menuntunnya agar tubuh mereka semakin dekat. “Dari kemarin kamu nggak mau lihat aku. Kamu marah?” tanyanya sembari merapikan anak rambut Nayla ke belakang telinga.
Nayla menggeleng, lalu kemudian mengangguk dengan cepat. “Sedikit. Tapi, kan kamu yang marah.”
Gemasnya ... Fahad ingin sekali menggigit pipi istrinya tersebut. “Aku nggak marah,” ucap Fahad.
“Nggak marah apanya? Jelas-jelas marah, tapi—”
“Sayang, aku sudah mengerti Bahasa Indonesia, ya,” tukas Fahad. “Mau ngedumel apapun aku juga ngerti.”
Nayla tersenyum kaku. Ia hendak melanjutkan menjemur pakaian, namun Fahad menahan tubuhnya hingga tak ada jarak diantara mereka. “Nanti aku antar, jam berapa?” Fahad bertanya.
Sudah pasti Nayla akan membawanya, mana tega ia meninggalkan putrinya bersama seorang pria—sekalipun itu papanya sendiri. Nayla akan mengajak Shazia kemanapun ia pergi. Oh, tunggu. Dikira masih gadis? “Fahad, kamu pikir aku mau menutupi statusku yang sudah menikah?! Pagal!”
Fahad tertawa, ia mendekatkan wajahnya ... ingin mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir sang istri. Namun, Andi dan Shazia sudah lebih dulu masuk ke dapur. “Ya, jangan di sini juga!” seru Andi. Membuat Fahad tertawa, lalu sebuah cubitan di perut ia dapatkan dari Nayla. “Mataku hampir hilang keperjakaannya, nih!” imbuhnya.
Nayla memicing, menyorot Andi. “Keperjakaan? Mata kamu masih perjaka? Mbak nggak yakin.”
Andi menghela napas lelah, ia kalah lagi dari kakaknya. “Kan, jadi Andi yang kena batunya.”
***
Nayla mendorong stroller, masuk ke area mall. Fahad hanya mengantar sampai di depan mall, pria itu harus melanjutkan pekerjaannya. Nayla membalas lambaikan tangan Sari, segera ia menghampiri temannya tersebut. Saling bertukar pelukan, menanyakan kabar. Sari juga menyapa Shazia yang selalu tersenyum kepadanya. “Matanya mirip kamu, Nay, cantik dia.” Sari memuji. “Kalian nggak kelihatan kayak ibu dan anak, tapi lebih ke adik dan kakak.” Sari tertawa.
Sari mendapat cubitan di lengannya dari Nayla. “Jangan bikin malu, kita dilihat banyak orang.” Nayla mengedarkan pandangannya. Menyapu seisi cafe.
Jus alpukat pesanan Nayla sudah datang, juga dengan jus stroberi kesukaan Sari. Nita terlihat datang, ia menyapa kedua temannya lalu beralih mengendong Shazia. Putri temannya itu tidak takut bertemu dengan orang baru, membuat Nita sangat senang memangku balita berpipi gembul tersebut.
“Hai, perempuan yang sudah bersuami dan yang sebentar lagi mempunyai suami.” Doni datang. Membuat tiga wanita yang tengah asik berbincang itu kompak menoleh dengan wajah terkejut.
__ADS_1
“Oh, Doni juga ikut?” tanya Nayla.
“Dia pasti ada kalau Sari juga ada.” Nita menjawab.
Doni menanyakan kabar Nayla, sudah lama ia tidak mendengar kabar terbaru dari teman bekerjanya di restaurant dulu. Shazia. Sekali melihat saja, Doni sudah tau jika balita cantik itu putri dari Nayla. Raut wajah Kashmiri sangat terlihat di wajah Shazia.
Dikesempatan kali ini, Doni dan Sari juga mengatakan tentang pernikahan mereka yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Mereka berharap Nayla dan Nita bersedia untuk datang.
Dari arah belakang Nayla, ada seorang lelaki yang berjalan mendekat. Ryan. Ia melihat Doni dan Sari lalu memutuskan untuk menghampiri temannya tersebut. “Doni.”
“Ryan?”
Mendengar nama Ryan, Nayla yang tengah minum itupun tersedak dan batuk-batuk. “Nay, pelan-pelan.” Nita menepuk punggung Nayla perlahan.
Shit! Ryan tidak tau jika ada Nayla di sana. Entahlah, ia tidak bisa mengenali Nayla dari belakang. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu. Ya, sejak Nayla menikah. Mereka tidak pernah bertemu lagi.
Doni mempersilakan Ryan untuk duduk. Dan sialnya lagi, hanya tersisa satu kursi di meja tersebut. Kursi di samping Nayla. Terpaksa, Ryan harus duduk berdekatan dengan wanita yang pernah ia cintai, dulu. Ryan dapat melihat Nayla tidak nyaman saat Doni menggoda wanita itu. “Don, sudahlah. Jangan bahas itu lagi, jangan buat Nayla nggak nyaman. Dari dulu aku sama Nayla cuma teman, nggak lebih.” Doni tersenyum, ia meminta maaf. “Santai saja, Nay. Kamu tau sendiri, kan? Kalau Doni memang seperti itu.” Ryan mencoba membuat Nayla nyaman dengan kehadirannya, walaupun sebenarnya ia juga merasa tidak nyaman. Bukan karena ada Nayla. Namun, karena Doni yang tak henti menggoda mereka dengan kisah masa lalu yang sebenarnya kisah itu belum sempat dimulai.
“Om.” Shazia menyentuh lengah Ryan. Tersenyum sumringah.
“Zia, jangan ganggu om.” Nayla mencoba mengalihkan perhatian Shazia dengan memberinya susu botol. “Zia, jangan.” Shazia menarik lengan kemeja yang dipakai Ryan.
“Om.”
Ryan mengambil alih Shazia dari pangkuan Nayla setelah sebelumnya meminta izin kepada mama dari balita pipi gembul tersebut. “Cantik.” Mata itu, mata Nayla. Ada sesuatu yang merasuk ke hatinya, wajah Nayla mengisi mata dan juga hatinya. Sial! Sudah lama Ryan berusaha melupakan Nayla, namun entah mengapa ... wajah Nayla selalu saja mengisi matanya. “Namanya siapa, Nay?” Ryan bertanya.
“Hah?” Nayla menoleh. Ia mendengar pertanyaan Ryan, hanya saja ia sedang memikirkan suaminya. Bagaimana jika Fahad melihat Ryan? Suaminya memberi izin jika tidak ada Ryan, tapi sekarang lelaki itu ada bersama mereka, terlebih ... tempat duduk lelaki itu berada di sampingnya. “Namanya Shazia.”
“Shazia, kalau besar nanti mau nikah sama om, nggak?” Ryan bertanya. Membuat teman-temannya tertawa geli.
“Nggak dapat mamanya, dapat anaknya juga nggak apa ya, Yan?” celetuk Doni yang seketika mendapat tatapan tajam dari Ryan. “Sorry-sorry, keceplosan.” Doni menambahkan.
Waktu berlalu, Shazia masih saja berada dipangkuan Ryan. Berkali-kali Nayla mencoba mengambil putrinya, namun Shazia menolak. Putrinya itu merajuk dan memeluk Ryan, seakan tidak ingin berpisah. “Omnya, Zia!” seru putri mungilnya dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.
Nita berpamitan lebih dulu, sebab suaminya sudah menunggu di depan mall. Tak lama, Doni dan Sari juga berpamitan. Doni mendapat telepon dari wedding organizer untuk datang ke kantor mereka, guna memastikan persiapan pernikahan. “Nay, hati-hati sama Ryan, nanti kamu diculik.”
“Doni!” seru Ryan dengan suara yang tertahan. Ingin sekali ia memaki Doni, namun ada Shazia di sana. Terpaksa, Ryan hanya bisa memaki Doni dalam hati.
Selepas kepergian Doni dan Sari, suasana canggung lebih terasa antara Ryan dan Nayla. Ryan memperhatikan Nayla yang sedari tadi terus menunduk, ia tau ... Nayla tidak nyaman. Ryan beranjak berdiri, ia berpamitan dan hendak menaruh Shazia di strollernya. “Zia ikut, Om!" Shazia menangis. Ia mengeratkan cengkeraman tangannya pada kemeja Ryan.
“Zia, jangan gitu. Om Ryan mau pergi, sini sama mama.” Nayla mengulurkan tangannya yang justeru ditepis oleh putrinya.
“Nggak apa, Nay, daripada dia nangis.” Ryan kembali duduk dan memeluk Shazia, menepuk punggungnya dengan lembut. Dalam sekejap, suara tangis itu sudah berhenti. “Nay, aku tau kamu nggak nyaman. Maaf. Kalau tau kamu ada di sini, aku pasti nggak nyamperin Doni.”
__ADS_1
Nayla tersenyum, ia menggeleng. “Aku nggak apa, Yan. Aku bukan nggak nyaman karena ada kamu, cuma ...” Nayla tidak mungkin mengatakan jika ia takut kepada suaminya, takut jika Fahad salah paham saat melihat Ryan. “Cuma, candaan Doni aja yang buat aku nggak nyaman, selebihnya nggak ada masalah.”
***