Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 66


__ADS_3

“Yasmin ....” Fahad mendengarnya. Meraup kasar wajahnya dengan satu tangan. “Dia selalu bikin emosi,” sambungnya sembari melihat tubuh Yasmin yang hilang dari balik pintu kamar


“Eh!” heran Nayla.


“Apa?” menoleh menatap Nayla yang berada di sampingnya. “Eh, apa?” tanyanya.


“Yasmin nggak bikin emosi, kamu aja yang emosi sendiri.” Nayla berujar. “Dia nggak salah apa-apa, nggak perlu marah kayak gitu. Waktu masih banyak, nggak cuma sore ini.”


“Iya, tau.” Menarik pinggang Nayla agar semakin dekat dengan tubuhnya. “Tapi tadi, tuh—”


Mendorong tubuh Fahad dengan kedua tangannya, Nayla melangkah mundur. “Kamu keluar beli makan, atau aku sama Yasmin yang keluar?” ancamnya.


“Iya-iya, aku keluar.” Mencium kening istrinya, Fahad kembali masuk ke kamar mengambil kunci mobil. “Bilang sama Yasmin, suruh tunggu sebentar. Aku beliin makanan kesukaan dia,” kata Fahad.


Nayla mengangguk, “iya.”


***


Pukul tujuh malam Fahad baru sampai di rumah setelah membeli makanan. Ia membawa dua kantung makanan. Satu kantung berisi ayam goreng kentaki, burger, dan kentang goreng kesukaan Yasmin. Tak lupa, Fahad juga membeli minuman soda.


Nayla menganggil Yasmin untuk makan malam. Awalnya ia menolak dan mengatakan akan makan di kamar, namun Nayla terus membujuknya hingga adik iparnya itu berkata iya dan keluar kamar untuk makan malam bersama.


Yasmin duduk dan mulai memakan makanannya, ia menunduk ... tidak ingin menatap wajah kakaknya. Hatinya masih kesal, baru sehari di New Delhi, ia sudah dimarahi tanpa sebab yang jelas—bagi Yasmin.


Fahad sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya kepada Yasmin. Ia tersenyum melihat adiknya yang tengah merajuk. “Yasmin,” panggilnya setelah menghabiskan satu burger.


Yasmin tidak menggubrisnya, ia tetap sibuk memakan ayam goreng miliknya. Nayla melihat keduanya secara bergantian dengan mulut yang tak henti mengunyah ayam dan kentang goreng.


“Yasmin,” panggil Fahad lagi.


“Aku sedang makan.” Yasmin menjawab sekedarnya, ia tetap tidak ingin melihat wajah kakaknya.


Fahad tidak lagi mengajak bicara Yasmin. Namun ia tidak melepas pandangan darinya. Nayla tersenyum simpul melihat keduanya. Mereka lucu, batinnya.


Yasmin selesai makan lebih dulu, ia beranjak masuk ke kamar lagi. Fahad memanggilnya berkali-kali, namun Yasmin tetap tak bergeming. Ia tak peduli lagi dengan teriakan demi teriakan sang kakak yang memecah telinga.


“Udah, biarin aja. Kamu suka banget nyari ribut.” Nayla membereskan sisa piring kotor lalu mencucinya.

__ADS_1


“Kok, aku? Kan, dia yang—”


Melihat sorot mata tajam istrinya, Fahad pun menutup bibirnya rapat-rapat. U**dahlah, aduargumen sama istri pasti nggak bakal menang. Fahad mengakuinya.


Masuk ke kamar, Fahad memilih sibuk dengan ponselnya. Menelpon Ammi dan Yumna. Sudah pasti, seorang ibu akan bertanya ... kapankah putranya akan pulang. “Aku belum tau, Ammi. InsyaAllah secepatnya. Nayla juga udah ngajak ke sana, tapi pekerjaanku masih banyak.” Fahad memberi pengertian.


Entah Ammi mengerti atau tidak, Fahad sudah berusaha. Bukan ia mengenyampingkan orang tua, namun pekerjaannya benar-benar tidak bisa ditinggal. Kalau saja Ammi mau diajak ke New Delhi, Fahad sudah mengajaknya dari dulu. Tetapi, Ammi tetap tidak mau. Ammi tetap ingin berada tanah kelahirannya, tetap berada di dekat Abba bersama semua kenangan indahnya.


Cukup lama Fahad saling bertukar suara dengan Ammi dan Yumna, ia mengakhiri panggilan sebab waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nayla tak kunjung masuk ke kamar, ia pun keluar untuk melihat ... di mana dan sedang apa istrinya itu.


Nayla sedang duduk di kursi meja makan. Ia sibuk dengan ponsel, saling membalas chat dengan Andi. Fahad mengintipnya dari belakang, lalu ia kejutkan Nayla dengan mencium pipinya dengan tiba-tiba.


“Fahad!” terkejut Nayla hingga ponselnya terlempar ke meja. “Kalau aku mati gimana? Bikin orang jantungan aja.” Nayla menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat.


Fahad tersenyum, “aku duluan yang mati, bukan kamu.” Mengacak-acak rambut Nayla dengan gemas.


“Ngaco, ah. Jangan ngomong gitu, aku nggak suka.” Nayla memberengut kesal.


“Kalau ini, suka nggak?” Fahad hendak mencium bibir Nayla, namun istrinya itu menghindar dengan cepat. Dengan berdalih bahwa ada Yasmin dan akan sangat memalukan jika mereka ketahuan sedang berbuat yang aneh-aneh. Nayla pun beranjak berdiri dan masuk ke kamar mendahului Fahad.


Aktifitas mereka sore tadi yang tertunda, kini Fahad dan Nayla melanjutkannya. Rasa rindu mereka sudah bertemu, saling memberi dan menuntut tanpa memberi jeda seditikpun. Berada di puncak nirwana cukup lama, kini Fahad berbaring sembari mendekap tubuh Nayla dengan erat, mencium setiap inci wajah istrinya penyakit cinta.


“Hemm?” sahut Fahad yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari Nayla. Merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya, agar ia bisa matanya lebih leluasa menikmati wajah wanita yang selalu membuat hatinya tenang.


“Fahad,” panggil Nayla lagi.


“Sayang, tangan kamu jangan gini!” protes Fahad. “Geli. Aku bisa—”


“Ssttt!” Nayla menutup bibir suaminya dengan satu telapak tangan. “Aku mau ngomong.”


Fahad menurunkan tangan Nayla, “ngomong apa?”


“Aku boleh, nggak? Besok—”


“Nggak boleh!” tukas Fahad. “Kamu boleh keluar cuma sama aku atau Yasmin. Aku nggak mau kasih ijin lagi kalau kamu mau keluar sendiri lagi. Ngerti?!”


Mendengus kesal, Nayla hendak melepas pelukannya namun Fahad lebih dulu menahannya. “Bibirnya jangan manyun gitu, bikin gemes aja.”

__ADS_1


Lagi. Mereka meraih puncak nirwana untuk kedua kalinya. Fahad tidak memberi kesempatan tubuh Nayla menjauh darinya. Ia mendekapnya sepanjang malam, membiarkan lengannya sebagai bantal istrinya.


***


Dengan rambut basah yang tergulung handuk, Nayla membangunkan Fahad. Ia naik ke tempat tidur, menyentuh wajah suaminya dengan lembut sembari memanggil-manggil namanya.


Dengan gerakan cepat, Fahad berhasil membuat tubuh Nayla ambruk ke dadanya. “Masih terlalu pagi, tidur aja lagi.” Fahad berucap tanpa membuka mata.


Berusaha melepaskan pelukan suaminya, namun Nayla tetap saja tidak berhasil bangun dengan mudah. Barulah setelah ia menggigit lengan Fahad, pelukan suaminya itu merenggang dan ia berhasil bangun.


“Sayang, belum pemanasan kamu udah main gigit aja, sih!” keluh Fahad yang sudah duduk dengan sempurna. Ia meringis kesakitan, melihat bekas gigitan istrinya yang cukup dalam.


“Kamu, sih! Sini, aku lihat.” Nayla kembali duduk, ia melihat bekas gigitannya yang memang cukup dalam. Nayla meminta maaf, ia mencium bekas gigitannya sendiri lalu mencium pipi Fahad lama. “Udah sembuh, sekarang kamu mandi sana, aku siapin baju kamu.”


Memandang tubuh istrinya yang keluar kamar setelah menyiapkan keperluan kerjanya. Fahad tersenyum gemas sendiri—melihat tingkah Nayla yang selalu berhasil meredam kekesalannya.


Keluar kamar dengan pakaian kerja yang sudah rapi, Fahad mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Sudah ada Yasmin di sana, adiknya itu sedang menikmati sarapan buatan kakak iparnya.


“Pagi, Yasmin.” Fahad menyapa.


“Hemm.” Yasmin menyahut. Ia menikmati sop daging tanpa memedulikan keberadaan kakaknya.


Nayla menyuguhkan kopi hitam untuk Fahad, ia juga mengambilkan sop daging ke dalam mangkuk sarapan suaminya. “Sarapan aja dulu, nanti lanjut lagi berantemnya.”


Fahad tertawa kecil mendengar ucapan istrinya. Menyentuh lembut pipi Nayla, lalu ia beralih menyentuh puncak kepala Yasmin.


“Yasmin, nanti siang ada meeting, kamu bantu kakak. Sahil hari ini harus ke pabrik.”


Yasmin merespon ucapan kakaknya dengan anggukan kepala. Tidak ada percakapan lagi diantara mereka bertiga. Menikmati masakan Indonesia memang sangat baru bagi Yasmin, tetapi ia sama sekali tidak menolaknya ataupun menunjukkan ekspresi tidak suka.


“Makasih sarapannya, Kakak ipar, aku menyukainya.” Yasmin mencium pipi Nayla lalu berlalu pergi untuk berangkat bekerja.


Melihat Yasmin yang pergi begitu saja, Fahad oh segera menghabiskan sarapan dan kopinya lalu mencium puncak kepala Nayla. “Aku berangkat kerja, Sayang.”


“Hati-hati, jangan berantem di jalan.” Nayla berpesan.


“Iya, Sayang.” Fahad sedikit berteriak, ia berjalan cepat untuk menyusul Yasmin.

__ADS_1


***


__ADS_2