
Dengan hati yang masih berat, Nayla melangkahkan kakinya masuk ke pesawat yang akan membawanya memulai hidup yang baru. Hidup bersama pria yang kini menjadi suaminya. Berharap kehidupan rumah tangganya akan selalu baik-baik saja dan selalu di penuhi cinta dan kasih sayang.
Mereka berdua kini sudah duduk di kursi pesawat. Nayla mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Perlahan pesawat naik, terlihat jelas kota indah yang menjadi saksi kehidupannya semakin jauh dari pandangan Nayla.
Nayla masih melamun melihat ke arah luar jendela, ia tak peduli meski sinar terang awan menyinari kedua matanya seolah tak peduli akan silaunya.
Fahad menutup jendela, membuyarkan lamunan Nayla. “Sayang,” panggil Fahad.
Nayla pun menoleh, ia tersenyum, berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya yang harus berpisah dengan keluarga untuk waktu yang cukup lama. Menyentuh lembut puncak kepala sang istri, Fahad mengerti ... menang berat bagi seorang wanita harus berpisah dari keluarganya.
“Jangan sedih. Kamu nggak sendiri di India. Ada aku, Ammi, Yasmin dan Yumna.” Fahad berucap.
“Aku nggak bermaksud gitu, Fahad, aku cuma—”
“Aku tau, Sayang,” tukas Fahad. “Semua orang pasti merasakan apa yang kamu rasakan, berpisah dari keluarga itu sulit. Kamu harus beradaptasi dengan segala sesuatu yang baru. Yang penting, satu hal yang harus kamu tahu, aku nggak bakal biarin kamu ngerasa sendiri.”
“Kamu nggak tersinggung?” tanya Nayla yang dijawab gelengan kepala oleh suaminya.
“Enggaklah. Tapi aku bakal tersinggung kalau kamu nangis nggak berhenti-henti, pakai acara teriak-teriak, make up luntur, dan lain-lain.”
Ucapan Fahad membuat Nayla tertawa, “aku, kan, cuma pergi ikut suami, bukan pergi mati.”
Kata orang memang seperti itu, Sayang. Mereka, wanita yang menikah dan ikut suami ke rumah mertua ... mereka seakan masuk ke pintu neraka. Tapi, Ammi bukan mertua yang akan membuat menantunya seperti pembantu. Menantu sama saja seperti anak. Kamu nggak perlu khawatir soal itu.
***
New Delhi
Nayla dan Fahad bersyukur sudah sampai di New Delhi dengan tepat waktu. Pesawat tidak mengalami delay yang mengharuskan mereka menunggu berjam-jam di bandara.
Nayla melangkah keluar pesawat dengan mengucap bismillah berkali-kali dalam hatinya. Setelah mengambil dua koper mereka, Fahad dan Nayla segera keluar mencari taksi untuk mengantar mereka menuju apartemen.
Belum bisa melanjutkan perjalanan ke Kashmir sebab banyaknya pekerjaan Fahad banyak yang tertunda. Ia harus mengurusi semua hal, pabrik dan kantor. Meskipun ada Sahil, tentu Fahad juga tetap harus bertanggung jawab. Ia bukan orang yang akan berpangku tangan dan membebankan semuanya kepada Sahil.
Sebelumnya, Fahad sudah mengabari Ammi. Mungkin ia dan Nayla akan stay di New Delhi untuk dua, atau tiga minggu ke depan. Dua hari lalu Yasmin sudah kembali ke Kashmir. Adiknya itu harus mengurusi kebun dan penjualan saffron. Yasmin akan kembali ke New Delhi setelah semua pekerjaannya selesai.
__ADS_1
“Kok, ke sini? Perasaan dulu bukan ini flatnya?” tanya Nayla.
“Aku jual flat yang kemarin. Itu terlalu kecil, jadi aku beli yang ini. Lebih dekat juga sama kantor.”
Nayla mengangguk, tanda ia mengerti. Lebih tepatnya, ia tidak ingin bertanya lebih jauh. Mereka terhitung masih baru dalam mengarungi bahtera pernikahan. Nayla pikir, tidak etis jika ia bertanya lebih jauh lagi. Biarlah Fahad yang menjelaskannya sendiri.
“Aku beli bukan karena apa-apa, Sayang,” seakan bisa membaca isi pikiran Nayla, Fahad menjelaskan sebab apa yang membuat ia membeli apartemen yang lebih besar dari sebelumnya. “Ya, karena aku mau beli yang lebih besar sedikit. Sedikit, kok.” Fahad menyatukan jari telunjuk dan jempolnya sembari tersenyum kepada Nayla.
“Kalau kamu beli yang lebih besar lagi, nanti aku suruh kamu yang bersih-bersih.” Nayla berujar.
Meletakkan koper di kamar utama, Nayla mulai mengelilingi tiap sudut apartemen. Terutama dapur, tempat favoritnya. Ia membuka kulkas, terlihat luas, karena di dalamnya hanya terdapat telur dan kentang.
“Sayang, aku keluar sebentar. Kamu mandi aja dulu.” Fahad berpamitan.
Satu jam berlalu, Nayla sudah selesai membersihkan diri. Sembari menunggu Fahad, Nayla menelpon Andi. Mengabari bahwa ia sudah sampai dengan selamat di New Delhi. Andi bersorak memanggil nama Nayla. Ia memang sedang menunggu telpon dari kakaknya tersebut.
Menyandarkan ponselnya pada botol besar minuman soda, Andi memanggil saudaranya yang lain. Ya, mereka semua masih berkumpul di rumah. Tidak mungkin meninggalkan Andi seorang diri untuk saat ini. Sudah pasti Andi akan merasakan kesepian.
Nayla tak menyadari, bahwa Fahad sudah datang dan sedang berdiri di tengah pintu. Memperhatikannya. Setelah cukup lama memperhatikan istrinya, Fahad pun melangkah mendekati Nayla. Ia berdiri di belakang sang istri lalu menyapa keluarga barunya.
***
“Kenapa kamu senyum?” tanya Fahad.
Nayla menggeleng samar dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya. “Enggak, lucu aja kalau ingat Andi. Bukan setiap hari, sih, dia protes sama sarapan yang aku buat.”
Fahad mengangguk, “iya, dia juga sering protes kalau kamu pesan makanan India. Tapi anehnya, dia pasti makan sampai habis.”
Keduanya pun tertawa mengingat momen tersebut. Tidak berlebihan, Andi hanya akan sedikit mengomel jika makanan yang dihidangkan tidak sesuai dengan seleranya. Tapi setelah satu suap Andi masukkan ke mulut, adiknya itu sudah diam dan melanjutkan makannya hingga habis.
Nayla kembali melanjutkan menata pakaiannya di lemari. Fahad duduk di sofa yang terdapat di kamar mereka, ia sibuk dengan komputer lipatnya. Besok, ia akan masuk ke kantor.
“Sayang, kamu mau beli sayur apa saja? Aku mau pesan.” Fahad bertanya.
“Sayur mentah? Kenapa pesan? Nggak beli sendiri aja, ke pasar atau ke minimarket gitu?” cerca Nayla tanpa melihat ke arah Fahad. Ia tetap sibuk di depan lemari.
__ADS_1
“Nggak usah, kita pesan saja. Nanti biar diantar ke sini sama orangnya. Yang jual juga di sekitar sini, besok-besok kamu bisa beli sendiri.”
“Tapi, kan—”
“Kamu mau keluar?” tukas Fahad.
Nayla menoleh, ia mengangguk sembari menepiskan senyumnya. “Ini, kan, belum terlalu malam. Sekalian aku mau lihat-lihat suasana malam di sini.”
Fahad mengiyani permintaan Nayla, keduanya bersiap lalu menuju ke sebuah toko sayur yang tidak jauh dari apartemen mereka. Nayla melayangkan protes, ia lelah karena ternyata jaraknya lumayan jauh.
“Tau gitu, kan, tadi bisa naik taksi,” ujar Nayla.
Fahad tersenyum, ia sentuh puncak kepala istrinya. “Tadi katanya mau lihat suasana malam New Delhi. Kalau jalan kaki, kan, bisa lebih dapat feel-nya.”
Sudahlah. Nayla tak ingin menanggapi ucapan Fahad. Sesampainya di toko sayur, Nayla segera memilih sayuran yang ia inginkan.
“Di sini nggak terlalu lengkap, Sayang, nanti weekend aku ajak ke pasar, mau? Kamu bisa milih lebih banyak sayur dan buah.” Fahad berucap.
“Iya, sekarang belanja buat sarapan besok saja.”
Pulang dengan membawa dua kantong belanjaan, ternyata Nayla membeli cukup banyak sayur dan bumbu lainnya. Tidak sesuai rencana memang, tapi setidaknya, di kulkas akan ada sayur yang sewaktu-waktu bisa ia masak.
***
Pagi kembali menyapa. Matahari menepati janjinya untuk bersinar. Bangun lebih awal seperti biasanya, Nayla menyiapkan baju kerja untuk suaminya terlebih dahulu baru kemudian memasak sarapan.
Sedikit bingung, karena ia tidak punya ayam kesukaan suaminya. Ia pun memutuskan membuat sandwich lengkap dengan telur. Tak lupa, ia menyeduh teh India yang biasa Fahad minum. Karena belum bisa meracik teh seperti halnya yang dilakukan wanita India, Nayla hanya menyeduh teh instan yang juga mereka beli semalam.
“Selamat pagi, Sayang,” sapa Fahad yang baru datang.
“Selamat pagi,” balas Nayla sembari menyuguhkan teh di depan Fahad. “Kita semalam belum beli ayam, jadi aku cuma bikin sandwich ini. Tapi, di dalamnya ada telur, kok, lengkap.” Nayla menaruh sandwich yang sudah ia potong menjadi dua bagian.
Menyeruput teh, Fahad menarik pergelangan tangan Nayla untuk ikut duduk di sampingnya.
***
__ADS_1