
Mata Nayla menelusuri tubuh Fahad, “kamu kenapa ganti baju?”
“Ini udah jam empat, Sayang, pekerjaan di kantor juga udah selesai. Ya, aku nggak balik. Nanti kalau aku balik, bisa pulang malam. Biar Sahil yang urus kantor.”
Nayla mengangguk, ia tak lagi bertanya—padahal sebenarnya ia ingin bertanya tentang siapa sosok Sahil yang Fahad katakan.
Nayla membuatkan Indian chai untuk Fahad. Karena ia yang tidak bisa meracik teh India —lebih tepatnya belum tahu—ia pun hanya bisa membuat teh instans yang sudah Fahad beli tadi, saat pria itu membeli pembalut.
Duduk berdua di kursi yang tersedia di balkon, menikmati teh panas sembari melihat pemandangan sore hari di Kota New Delhi.
“Fahad?” panggil Nayla.
“Hemm?” sahut Fahad sebelum menyeruput tehnya.
“Kamu nggak malu? Beli pembalut.”
Fahad menyunggingkan senyumnya. Kembali menaruh cangkir teh di meja, sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Nayla lebih leluasa. “Aku bukan anak SMP, Sayang, cuma pembalut itu doang. Kamu nyuruh beli popok bayi aja aku juga nggak malu,” jawab Fahad.
“Oh, iya lupa. Kamu dulu pasti juga sering beliin pembalut buat istri pertama kamu, kan?”
Pletak!
“Aww! Sakit, Fahad!” seru Nayla sembari menyentuh keningnya yang mendapat sentilan cukup keras dari Fahad. “Sakit ....” Suara Nayla memelas.
“Makanya, jangan bahas wanita itu lagi. Aku nggak suka!” Fahad berujar. “Sini, deketan, aku lihat kening kamu,” perintah Fahad.
“Nggak mau! Mau kamu sentil lagi, kan?” Nayla memundurkan duduknya.
Fahad tertawa kecil, ia beranjak duduk di hadapan Nayla dengan berjongkok. “Nggak aku sentil lagi, kok. Sini aku lihat, aku sembuhin.” Fahad menurunkan tangan Nayla yang masih berada di kening gadis itu. Terlihat jelas kulitnya yang memerah akibat sentilan yang ia daratkan di sana. “Sini, aku tiup.” Mengelus lembut kening Nayla, meniupnya dengan perlahan.
“Maaf, Sayang, aku nggak suka ada yang bahas dia lagi, apalagi kalau kamu yang bahas,” kedua tangan Fahad mengapit wajah Nayla, memandangnya penuh kelembutan. “Besok-besok jangan bahas dia lagi, ya?”
Nayla mengangguk, “tapi jangan di sentil lagi.”
“Enggak, aku nggak sentil lagi. Paling cuma aku cium doang,” kata Fahad.
Nayla tertawa akan gurauan Fahad. Sentilan itu tidak berarti apa-apa bagi Nayla, bukan juga sebuah tindakan kekerasan. Ia mengerti, Fahad hanya tidak ingin lagi mendengar tentang mantan istrinya. Dan Nayla mencoba memahami itu.
***
Pesawat sudah mendarat sempurna di Soekarno Hatta Internasional Airport. Andi menyambut kedatangan Fahad dan Nayla, sebuah pelukan hangat ia berikan kepada kakaknya yang sudah seminggu berada jauh dari dirinya.
__ADS_1
“Aku kangen sama, Mbak," kata Andi.
“Mbak juga kangen, kangen banget malah.” Nayla membalas pelukan Andi, kerinduan mereka terbayarkan. Dengan melihat senyuman serta kembali bisa memeluk satu sama lain, sungguh membuat hati keduanya menghangat
Taksi membawa mereka pulang, menuju rumah Nayla. Semua kakak dan kakak ipar sudah berkumpul untuk menyambut adik mereka. Bendungan kerinduan yang awalnya kering itu kini sudah teraliri lagi dengan air kemesraan, menyentuh dengan segarnya di lubuk hati bagi mereka yang menyimpan kerinduan yang amat sangat.
Hari sudah semakin sore, Fahad pun berpamitan untuk pergi ke hotel.Untuk saat ini, ia hanya akan berada di Indonesia selama dua hari. Banyak pekerjaan yang menunggunya, dan ia harus segera berisitirahat.
***
“Mbak Nayla, punya hutang sama Andi.”
Nayla yang baru selesai membersihkan diri itu dibuat terkejut oleh ucapan Andi. Ia duduk di lantai yang beralaskan karpet itu bersama semua keluarga.
“Hutang apa? Sejak kapan Mbak punya hutang sama kamu?” tanya Nayla.
“Hutang penjelasan soal anaknya Fahad,” ucapan Andi mengejutkan semua keluarga, namun dengan cepat Nayla menyahut agar tak ada yang salah sangka terhadap Fahad.
“Tenang dulu wahai kakak dan kakak iparku tercinta, aku bakal ceritain semuanya. Jadi gini ....”
Semua Nayla ceritakan. Tentang Aadil, alasan apa yang membuat Fahad bercerai, juga sebab apa yang menyebabkan pria itu harus kehilangan putra satu-satunya yang ia miliki. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari semua keluarga, dan tak ada satupun dari mereka yang menganggap Fahad seorang pembohong besar.
Bukan hanya seorang pebisnis saffron, namun Fahad juga seorang pemilik serta direktur utama Fahad Industries. Nayla mengatakan alasan apa yang membuat Fahad merahasiakan semua itu dari dirinya dan semua keluarga.
Nayla juga mengatakan, hati dan logikanya tak bisa bekerja sama. Logikanya mengatakan untuk mundur, sudah pasti perbedaan itu sangat sulit menyatukan cintanya, pikir Nayla.
Sementara hatinya mengatakan untuk tetap mencintai, tetap berada disisi Fahad. Karena di setiap sudut ruang dihatinya sudah berhasil ditempati oleh Fahad. Tak mungkin untuk dirinya menolak itu semua, yang pada kenyataannya ia memang mencintai pria itu tanpa peduli akan siapa sosok pria itu. Kaya ataupun tidak, Nayla tak peduli. Yang ia tahu bahwa Fahad sangat menghormati dan juga menghargainya sebagai seorang wanita.
“Nayla, kamu udah dewasa, kamu udah bisa nentuin apa yang baik dan apa yang buruk untuk hidup kamu sendiri. Kita dukung apapun keputusan yang kamu ambil.” Mas Arif menasihati.
“Tapi dihati aku masih ada rasa takut, Mas.” Nayla berujar.
“Takut apa, Nay?” Mbak Indah bertanya. Tak dan jawaban dari bibir Nayla, ia menatap Mbak Indah dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kamu itu selalu kasih nasihat sama Andi, kalau semua orang itu sama. Nggak ada yang beda dimata Allah. Tapi kenapa sekarang kamu yang mempermasalahkan perbedaan, Nay?” Mas Irfan ikut menimpali.
Satu persatu dari mereka semua ikut memberi nasihat, tak terkecuali Andi ... ia mendukung apapun keputusan yang akan di ambil oleh Nayla. Baik, buruk, semua sudah ditetapkan. Tak ada yang bisa menolak ataupun mencegah.
“Iya, perasaan takut itu masih ada. Tapi aku udah mutusin untuk tetap sama Fahad, aku mau nyoba buat berjuang sama dia. Beribadah bersama, itu kata dia yang membuat aku percaya dan sedikit memberanikan diri untuk melangkah lebih jauh.” Ujar Nayla.
“Nah, itu baru Nayla. Yang nggak menyerah dan selalu berusaha dengan hati yang tulus.” mas Arif membelai lembut pipi Nayla. “Kita semua dukung kamu, Nay, apapun yang terbaik buat kamu.”
__ADS_1
***
Hari sudah semakin malam, semua kakak dan kakak ipar Nayla sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Kini sama seperti biasa, hanya ada Andi dan Nayla di rumah.
Duduk lesehan di ruang tv, menikmati makan malam yang hampir tengah malam. Obrolan ringan mereka sematkan, saling melempar candaan yang mengiringi tawa diantara mereka berdua.
“Mbak, kapan nikah?” tanya Andi.
Nayla mengedikkan bahunya, “belum tahu, tapi sepulang dari sini Fahad mau ngurus surat dan syarat-syarat katanya. Lebih cepat lebih baik.”
“Buru-buru banget, takut ketinggalan angkot, ya?” goda Andi.
Nayla tertawa, “takut nggak dapat bangku katanya.”
Selesai mencuci piring bekas makan malam, Nayla yang berjalan keluar dari arah dapur itu melihat Andi tengah menyiapkan dua kasur lipat di ruang tv, lengkap dengan bantal, guling, serta selimut.
“Kamu ngapain?” tanya Nayla seraya berjalan mendekat.
“Mbak, aku mau nonton film horor. Temenin, ya?”
Bukan alasan yang tepat. Nayla sangat tahu betul bahwa Andi bukanlah sosok pria penakut. Adiknya itu memang gemar menonton film bergenre horor, yang tak mungkin jika memintanya untuk menemani.
Bilang aja pengen tidur bareng.
Nayla menggelengkan kepalanya, tersenyum simpul melihat Andi yang masih sibuk menata kasur.
“Nah, udah siap. Yuk, Mbak!” ajak Andi.
Nayla pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Andi. “Selama Mbak di India, kamu beneran tidur di kamar Mbak?” tanya Nayla, sontak Andi menoleh sejenak lalu kembali fokus pada layar televisi.
“Iya, nggak sering, Andi lebih sering tidur di depan tv kayak gini.”
Nayla memiringkan posisi tidurnya, matanya berlama-lama menatap Andi. Ada rasa berat untuk pergi meninnggalkan adiknya tersebut jika nanti ia sudah menikah. Sudah dipastikan bahwa ia akan ikut bersama Fahad ke India sebagai seorang istri.
Akan tetapi, meninggalkan Andi sendirian membuat hati Nayla sangat berat. Setelah kepergian kedua orang tuanya, hanya ia yang selalu ada untuk Andi. Suka duka mereka lalui bersama. Andi memang sudah dewasa, adiknya itu bisa mengurus dirinya sendiri dengan baik. Tapi tetap, Nayla sangat berat jika harus meninggalkan Andi seorang diri.
“Andi, kalau Mbak nikah, kamu ikut ke India aja, ya? Kuliah di sana. Nanti Mbak coba ngomong sama Fahad, dia pasti ngerti, kok.”
Tak ada sahutan dari Andi, Nayla sedikit mendongakkan kepalanya, “cepat banget tidurnya, percuma dong aku ngomong. Dasar, Andi!” gerutu Nayla. Ia juga memejamkan mata, dengan satu tangan yang menggenggam erat jari jemari Andi. “Mbak sayang kamu, Andi.”
***
__ADS_1