
“Fahad?” Nayla menyingkap selimut lalu mendudukkan tubuhnya tepat menghadap Fahad.
“Kenapa belum tidur?” tanya Fahad.
Nayla terlihat ragu, namun ia tetap harus mengatakannya kepada Fahad. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu soal tadi pagi.”
Nayla terlihat sangat serius, Fahad pun mematikan laptopnya. Menaruh komputer lipat tersebut di sisi lain tempat tidur. “Soal apa?” tanyanya.
Nayla menjelaskan, bahwa Anand sudah menyentuh pergelangan tangannya. Tidak ada yang ia tambahkan ataupun kurangi dalam penjelasannya. Nayla tidak berharap Fahad membuat perhitungan terhadap Anand, Nayla hanya ingin berkata jujur.
“Aku minta maaf, aku baru cerita sekarang sama kamu.”
Tak bisa ditutupi, sorot mata Nayla terlihat ketakutan saat berbicara kepada suaminya. Pun, dengan nada suaranya yang terdengar bergetar.
“Dia cuma pegang pergelangan tangan kamu, kan? Nggak pegang yang lain?” Fahad memastikan.
Nayla mengangguk cepat, ia kembali meyakinkan suaminya bahwa tidak ada hal serius lagi yang terjadi antara dirinya dan Anand. “Aku nggak ada apa-apa sama dia, Fahad, aku cuma sekedar ketemu di lift terus beberapa kali ketemu di depan apartemen. Udah, itu aja.”
Fahad tidak munafik, ia merasa marah istrinya sudah disentuh pria lain, walaupun hanya sekedar pergelangan tangan. “Iya, yang penting kamu nggak kenapa-kenapa. Lain kali kamu harus tetap hati-hati, Sayang, jangan terlalu banyak ngomong sama orang asing.” Fahad menyentuh lembut pipi istrinya.
“Kamu nggak marah sama aku?” Nayla bertanya.
“Marah, sih.” Fahad merapatkan duduknya dengan Nayla, “kamu juga susah dikasih tau, aku udah bilang berkali-kali jangan pergi sendiri, tunggu aku pulang. Eh, tetap aja kamu ngotot pergi sendiri.”
Mendengar penuturan suaminya, Nayla merasa semakin bersalah karena tidak bisa menurut kepada suaminya. “Maaf, aku—”
Nayla tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya karena bibirnya sudah lebih dulu ditutup oleh Fahad—dengan bibir juga tentunya. Setelah beberapa saat, Fahad mengakhiri ciumannya lalu menatap kedua mata istrinya dalam. “Sayang, aku percaya sama kamu. Tapi, ini bukan Indonesia, kamu belum mengenal kota dan negara ini dengan baik. Lain kali, kamu tetap harus hati-hati. Nggak masalah kalau kamu maki-maki orang yang kurangajar sama kamu. Kalau kamu diam aja, mereka bakal lebih nggak sopan sama kamu.”
Nayla mengangguk paham, kedua tangannya berada di dada bidang Fahad. “Maaf.”
“Iya, udah jangan minta maaf terus,” tangan Fahad menyelipkan sebagian rambut terurai Nayla kebelakang telinga. Fahad mengajak istrinya untuk segera tidur. Karena besok Sahil dan Sanju akan berkunjung ke apartemen mereka. Ya, beberapa saat lalu, Sahil sudah mengabari Fahad melalui sambungan telpon.
__ADS_1
***
Udara dingin menyambut pagi di kota New Delhi. Nayla ingin membuat bubur ayam untuk menu sarapan, namun suaminya itu tidak terlalu menyukai bubur. Merasa bingung, Nayla pun kembali masuk ke kamar untuk menanyakan sarapan apa yang diinginkan suaminya.
“Apa aja, Sayang, masakan Indonesia juga nggak apa.” Fahad menjawab. “Tunggu, Yasmin masih di kamar?”
Nayla mengedikkan bahunya. Fahad mengurungkan niatnya untuk mandi, ia pergi keluar untuk memanggil Yasmin agar mau membantu kakak iparnya membuat sarapan.
“Selamat pagi, Kak.” Yasmin menyapa dengan tangan yang sedang menguleni tepung.
“Udah bangun kamu?” Fahad menghampiri. “Nah, gitu, dong. Bangun pagi bantuin kakak ipar kamu.”
Yasmin mengajari Nayla cara membuat roti paratha. Sebisanya saja, soal rasa ... mungkin tidak selezat roti paratha pada umumnya, namun Yasmin cukup mengerti bahan dasar dan cara membuatnya. Juga, Yasmin dan Nayla memasak menu pendamping lainnya untuk dimakan bersama roti paratha.
Di sela-sela kesibukan Nayla menyiapkan sarapan bersama Yasmin, Fahad berteriak memanggil-manggil sang istri agar ke kamar. Nayla berjalan dengan cepat, ia mendapati Fahad yang sedang memakai baju kemejanya. “Sayang, bisa bantuin?” Fahad menunjukkan kemeja yang belum ia kancingkan. Ia meminta Nayla membantunya bersiap.
Nayla mengancingkan kemeja Fahad, ia juga memasanhkan jam tangan serta sepatu suaminya. Selesai, mereka berdua beranjak ke meja makan untuk menikmati sarapan dengan menu makanan India.
***
Malam terasa semakin dingin, meski begitu ... Sahil dan Sanju tetap datang ke apartemen Fahad. Mereka datang dengan membawa bunga untuk Nayla. Melihat istrinya yang menerima bunga tersebut, Fahad seketika merebutnya dan menyuruh Yasmin untuk menaruhnya ke sembarang arah.
“Aku aja belum pernah ngasih Nayla bunga, kamu seenaknya ngasih!” Fahad berujar.
Sanju tertawa, ia mengerti bahwa Fahad hanya sedang bergurau. Fahad dan Nayla mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk.
“Suami kamu memang begitu, Nayla, dia sudah tua ... mana mungkin dia kepikiran buat ngasih kamu bunga.”
Sahil mendapat lemparan bantal sofa dari Fahad. “Jangan merendahkan ku di depan Nayla. Aku belum tua, Nayla aja yang masih kecil.”
Nayla dan Yasmin keluar dari dapur dengan membawa minuman dan beberapa camilan diatas nampan. Mendengar penuturan Fahad, seketika Nayla berkata, “kalau masih kecil kenapa kamu nikahin?!” ucap Nayla penuh penekanan.
__ADS_1
“Nggak gitu, Sayang.” Fahad menarik pergelangan Nayla agar duduk di sampingnya. “Kamu itu imut, bukan kecil.” Fahad merayu.
Sahil dan Sanju menertawakan Fahad begitu melihat wajah pria itu ketakutan, pun dengan Yasmin. Mereka bertiga menggoda Fahad dan juga Nayla.
Nayla memang sedikit pendiam jika masih baru mengenal, tapi ia akan mudah akrab jika teman barunya juga menyambutnya dengan hangat. Canda tawa mereka memenuhi ruang tamu apartemen, hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Sahil dan Sanju pun berpamitan untuk pulang.
“Ingat, Fahad, jangan melakukan apapun pada anak kecil yang kamu nikahi ini.” Sahil masih saja bergurau.
“Pagal! pergi sana!” usir Fahad.
***
Hari Sabtu tiba. Di undangan reuni, pukul tujuh malam pesta baru akan dimulai. Sejak beberapa hari yang lalu Fahad sudah mencoba mengajak istrinya untuk ikut ke acara tersebut, tapi Nayla menolaknya dengan halus.
Masih sama, Nayla belum siap untuk bertemu dengan teman-teman suaminya dari kalangan yang cukup berada. Nayla merasa kecil—ia tidak pantas diajak ke tempat seperti itu.
Membujuk, dan terus membujuk, memberi pengertian bahwa tidak ada hal yang perlu istrinya itu takutkan. Hanya acara reuni biasa, tidak ada yang istimewa. Tidak perlu menunggu sampai acara selesai, jika Nayla mengajak pulang, ia akan menurutinya dan pulang.
Akhirnya, Nayla memutuskan untuk ikut. Ia memakai dress berwarna pink yang ia kenakan untuk sesi pemotretan beberapa hari yang lalu. Dress India model Anarkali tersebut memang tidak terlalu ramai, oleh sebab itu Nayla sangat menyukainya. Kali ini Fahad tidak memakai setelan jas merah muda, namun ia memakai setelan jas berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja berwarna senada dengan dress Anarkali yang dipakai istrinya.
“MasyaAllah, Kakak ipar, ini memang cantik kalau pakai dress anarkali,” puji Yasmin. “Kayak anak kuliahan, Kak.” Yasmin berbisik di telinga Nayla.
“Kakak masih bisa dengar, Yasmin!” Fahad yang baru keluar dari kamar itupun mendekati Nayla dan juga adiknya. “Bilang aja kalau kakakmu ini udah tua terus nikahin anak dibawah umur, gitu!” imbuhnya.
Yasmin dan Nayla tertawa mendengarnya. Belakangan ini Yasmin memang suka menggoda Fahad dengan sebutan orang tua yang menikahi anak dibawah umur. Meskipun sebenarnya kakaknya itu belum terlalu tua, hanya saja ... ketika ia melihat kakak iparnya, memang seperti masih anak kuliahan, atau bahkan terkadang terlihat seperti anak yang masih berada di bangku sekolah SMA. Awet muda, begitulah kata Yasmin.
“Yasmin, jangan pergi kemana-mana, kunci pintunya. Mungkin nanti kakak pulang malam, jadi kamu tidur duluan aja. Kakak bawa kunci sendiri.” Fahad berpesan.
“Iya, Kak, hati-hati.”
***
__ADS_1