
Nayla sudah tenang. Hatinya lega, semua keluh kesah dan rasa takutnya sirna seiring pelukan dan senyuman yang dia dapatkan dari Fahad.
Meninggalkan Fahad dan Shazia yang sedang asik bermain. Nayla beranjak pergi ke dapur untuk memasak ayam goreng kesukaan suaminya. Aroma sedap menguar saat ayam sudah dimasukkan ke wajan yang berisi minyak panas tersebut. Suaminya sudah mempunyai rencana. Sore nanti, mereka bertiga akan pergi ke taman lalu ke butik. Selain Fahad yang memang ingin melihatnya secara langsung, Nayla juga sudah terlalu lama tidak pergi ke butik karena rasa takut yang belakangan ini menyiksanya.
“Kamu nggak capek? Kita bisa pergi besok, Fahad.” Nayla menaruh sepiring ayam goreng di meja makan.
Fahad menggeleng, “enggak. Aku sudah nggak capek setelah lihat kalian berdua.”
Nayla mengambilkan sedikit nasi dan juga ayam goreng, lengkap dengan sayur mentah sebagai lalapan. Untuk sambal, Nayla membuatkan tidak terlalu pedas. Bukan karena Fahad tidak suka pedas, suaminya itu justru sangat suka makanan pedas. Namun, Nayla sendiri yang tidak kuat makan pedas. Bibirnya menerima, tapi perutnya yang akan tersiksa.
***
Fahad mengayunkan tubuh gembul sang putri ke udara. Alih-alih menangis karena takut, Shazia justru tertawa keras saat tubuhnya melambung ke udara.
“Papa, Papa!” teriak Shazia, dia menunjuk ... mengajak papanya untuk menghampiri sang mama yang duduk di kursi taman—yang terbuat dari besi itu.
“Zia, suka main sama papa?” tanya Nayla sembari mengangkat Shazia lalu memangkunya.
Si pipi gembul itu mengangguk. Senyuman dari bibirnya sangat mendukung jawaban dari pertanyaan Nayla. “Tapi, Zia kangen sama Om Iyan, Ma,” celetuknya.
“Zia!” suara Nayla sedikit meninggi. “Kamu nggak boleh sebut—”
“Sayang ...,” tukas Fahad. Tangannya menyentuh pipi sang istri dengan lembut. “Zia cuma ngomong, kok. Nggak ada yang salah. Aku juga nggak masalah dengan itu.”
“Tapi—”
__ADS_1
Fahad mengangguk, “sudah, ya, jangan dibawa serius. Zia seperti ini bukan sama dia saja, kan? Kalau Zia sudah suka, pasti namanya selalu disebut-sebut. Aku nggak marah, Sayang.”
Nayla menghela napas. Memang benar, Shazia pasti akan menyebut nama orang yang dia suka. Entahlah ... rasa takut dan kecewa terhadap lelaki itu masih terus saja berkeliaran di benaknya. Hingga membuatnya tidak ingin mendengar nama lelaki itu lagi.
Waktu sudah hampir petang. Fahad dan Nayla bergegas untuk pergi ke butik. Sebelumnya, Nayla menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko kue. Dua kotak kue red velvet menjadi pilihan Nayla yang akan dia berikan untuk karyawannya.
Tia sangat antusias saat melihat Nayla membuka pintu butik dan menyapanya. Dan juga ... mata semua orang tengah tertuju kepada Fahad. Lelaki yang memakai kemeja biru dengan lengan yang digulung hingga ke siku itu terlihat tampan. Apalagi, ada Shazia yang berada didalam gendongannya. Menambah kesan tampan bagi siapapun yang melihat.
Nayla menaruh kotak kue di meja kasir, mengatakan kepada Fina untuk membaginya dengan yang lain. Setelah itu, Nayla mengantar Fahad dan juga putrinya untuk masuk ke ruang istirahat pribadinya.
“Aku ke depan dulu, ya. Nanti aku ke sini lagi.” Nayla beranjak keluar setelah Fahad mengiyani. Hal pertama yang dia lakukan di butik adalah memeriksa ketersediaan barang dan juga hasil penjualan dalam seminggu ini. Cukup baik. Penjualan online dan offline berjalan dengan lancar.
“Oh, iya. Andi sudah kasih tau kamu, kan?” Nayla bertanya pada Tia. “Kalau lusa ada pemotretan untuk baju baru.”
Tia mengangguk. “Semua sudah siap, Mbak. Baju couple yang, Mbak, desain juga sudah jadi semuanya. Tapi, ada kendala soal modelnya.”
“Begini, Mbak.” Tia menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Nayla. “Awalnya aku mau, Mbak. Tapi, setelah lihat suami, Mbak—”
“Hah?” tukas Nayla.
“Bukan-bukan!” panik Tia, kedua tangannya melambai tepat didepan wajahnya. “Maksudnya begini, daripada Andi susah-susah cari model cowok, daripada bayar model juga. Kan, lebih baik, Mbak Nayla, sama suami yang jadi modelnya. Pasti bagus banget, Mbak,” ucapnya meyakinkan.
Nayla berdecak. Matanya kembali menatap layar komputer lipat yang menunjukkan beberapa pesanan online. “Kamu saja, Tia. Lagipula, suamiku mana mau jadi model baju muslim seperti itu.”
“Coba ditanya dulu saja, Mbak. Mungkin saja, mau. Pasti laris banget kalau modelnya juga mendukung. Secara wajah, postur tubuh, dan semuanya itu cocok banget buat jadi model. Daripada keluar uang buat cari model, lebih baik suami sendiri, Mbak.” Tia tidak menyerah. Bibirnya tetep saja berbicara, merayu Nayla agar mengiyakan saran darinya. Tak peduli berapa kali wanita di hadapannya ini menolak, Tia tetap akan membuat Nayla dan suaminya menjadi model dari brand baju milik wanita itu sendiri.
__ADS_1
“Oke, aku mau jadi modelnya.” Fahad datang, menyela obrolan Nayla dan juga Tia.
“Kamu?” pandangan mata Nayla dan Tia kompak menatap Fahad yang mendudukkan tubuhnya di kursi, samping Nayla.
“I do. I want to be your model,” ucap Fahad, yakin.
“Mbak, ayolah ... kalian saja yang jadi modelnya. Kapan lagi, kan? Punya model internasional, tapi gratisan.” Tia tersenyum simpul.
“Nah!” Fahad menepuk pundak Nayla, membuat istrinya terkejut. “Benar kata dia.” Tangannya menunjuk Tia yang memasang wajah terkejutnya. “Aku bisa bahasa Indonesia, sedikit.” Fahad menjelaskan. “Oke, Sayang. Kita sepakat, jadi model buat baju muslim couple besok lusa.” Fahad beranjak pergi tanpa mendengarkan jawaban Nayla terlebih dahulu.
Nayla menunduk. Satu tangannya menggaruk pelipis yang sebenarnya tidak gatal itu. “Tia ... Tia, ide kamu ini terlalu kreatif, ya.”
Tia tertawa kecil. “Suami, Mbak Nayla, bisa bahasa Indonesia?” tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla. “Wahh, hebat!” tiga tepukan Tia berikan untuk suami bosnya ini. “Mbak, juga hebat, bisa dapat suami orang luar negeri. Eh, tapi, kok nggak sama seperti di film-film India, ya, Mbak?”
Nayla menoleh, matanya mendapati wajah Tia yang sedang kebingungan. “Nggak sama bagaimana?”
Di dalam bayangan Tia. Suami Nayla adalah sosok pria dengan tubuh tinggi besar dan berkumis tebal. Namun, kenyataannya sungguh berbeda. Iya, postur tubuh Fahad memang tinggi, tapi tidak setinggi dan sebesar yang dia lihat di film-film Bollywood. Ya, Tia juga sangat menyukai film dan lagu-lagu Hindi.
“Sama seperti Indonesia yang berbeda suku dan bahasa. Suamiku dari Kashmir, etnis Kashmir ... mayoritas penduduknya itu muslim. Untuk postur tubuh, di semua negara juga pasti ada perbedaan, kan? Fiksi dan kenyataan itu sudah jelas berbeda, Tia.”
Tia mengangguk. Penjelasan dari Nayla memang benar. India sudah pasti luas. Dengan berbagai budaya yang sudah pasti berbeda di setiap negara bagian. “Semoga suatu saat aku bisa menjelajahi India, mengenal budayanya lebih dekat.”
“Aamiin ... nggak sekalian cari jodoh orang India?” Nayla menggoda.
“Enggak, Mbak, aku nggak bisa bahasa Inggris. Menikah sama yang masih satu negara saja butuh menyesuaikan sedemikian rupa, apalagi yang berbeda negara seperti, Mbak Nayla, ini. Pasti lebih sulit dan perlu pengorbanan yang besar.”
__ADS_1
Nayla mengangguk. Menikah adalah seni mengalah. Dalam setiap langkah, ada yang harus dikorbankan. Rasa cinta saja tidak cukup menjadi bekal dalam berumah tangga. Meskipun baru sebentar membina rumah tangga, namun Nayla sudah mengerti apa arti dari sebuah pernikahan. Rasa nyaman, rasa tanggungjawab, rasa hormat, pengertian, komunikasi yang baik ... semua itu harus ada dalam sebuah pernikahan. Rasa cinta dan rasa ingin memiliki hanyalah sebuah pelengkap yang harus lebih diasah dan harus benar-benar dimengerti, agar mampu menjadi pegangan yang tepat di setiap kaki melangkah.
***