Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 53


__ADS_3

Fahad, awas aja kamu!


Fahad menunduk, menahan tawa yang sejak tadi ia tahan. Ia masih saja diam, membiarkan Nayla, Vera, dan juga manager restaurant tersebut—tak ada yang ingin mengalah—setiap kali Vera bertanya siapakah wanita yang datang dan menggangu mereka kepada Fahad, pria itu tetap saja menjawab bahwa Nayla bukanlah kekasihnya.


Ya, ya, itu benar. Nayla tak menyangkal hal itu. Tapi ... aku ini istrimu, Fahad! Istrimu! Kenapa nggak ngomong daritadi?!


Batin Nayla berteriak, ia sangat kesal akan sikap suaminya. Bukankah Fahad sudah mendapat jawabannya? Bahwa Nayla juga mempunyai rasa cemburu terhadapnya.


“Pak, bawa Mbak ini keluar!” perintah manager restaurant kepada security.


Lengan Nayla dipegang oleh security—pria tersebut bersiap menyeretnya keluar. Namun Nayla menghempaskannya dengan paksa, menatap tajam kepada pria itu. “Aku bisa keluar sendiri!” ucapnya dengan tegas.


Melirik sekilas ke arah Fahad, mendekat lalu menginjak kaki suaminya itu dengan sangat keras. “Puas?!” melangkah keluar, meninggalkan Fahad yang meringis kesakitan.


“Sayang, tunggu!” panggil Fahad namun Nayla tidak memperdulikannya. “Maaf, dia istri saya,” ucapnya kepada Vera dan juga manager restaurant.


“Sekali lagi saya minta maaf, Vera.” Fahad berucap.


“Hah?” melongo terkejut. Tentu saja mereka terkejut, bisa-bisanya seorang pria diam saja melihat istrinya sedang beradu argumen dengan wanita lain. Juga tidak mengatakan bahwa wanita itu adalah istrinya.


“Oh, shit!” geram manager restaurant. Menghela napasnya dengan kesal, ia berlalu meninggalkan Vera yang masih mematung—sebab terkejut dan juga ... malu.


Vera mulai mendengar pengunjung lain yang tengah tertawa setelah menyaksikan dirinya dipermalukan. Berlalu pergi dengan langkah cepat, rasanya ia sudah tak sanggup mengangkat wajahnya di sana karena terlanjur malu. Sudah berteriak, memaki wanita yang ternyata adalah istri dari pria yang mengajaknya berkenalan.


Vera tak sepenuhnya bersalah. Ia hanya menjadi korban dari keisengan Fahad saja. Tapi tetap, wanita tidak boleh terlalu mudah untuk diajak berkenalan dengan pria. Terlebih jika itu adalah pria dari negara lain.


Sebuah senyum tipis terselip dibibir Vera, “tapi tadi aku udah simpan nomorku di hapenya. Suatu saat dia pasti menghubungiku.” Ia masih berharap.


***

__ADS_1


Fahad berhasil menghentikan langkah kaki Nayla. Istrinya itu tidak bisa berlari ataupun berjalan dengan cepat, lebih tepatnya ... menjaga diri karena memang terkadang perut istrinya itu masih terasa nyeri.


Meraih pergelangan tangan Nayla, “Shona, jangan marah,” ucapnya dengan lembut.


“Aku mau pulang.” Nayla berucap tanpa menatap suaminya.


Fahad mengiyani, ia hendak menggandeng tangan Nayla. Namun gandengan tangannya ditolak, dan Nayla memilih berjalan mendahului Fahad.


Marah dia.


Sudah pasti. Istri mana yang tidak akan marah jika melihat suaminya berbincang bersama wanita lain dan tidak mengatakan bahwa ia sudah mempunyai seorang istri. Nayla rasanya ingin sekali memaki suaminya. Tidak bisa. Nayla tidak bisa melakukan itu. Ia menghormati Fahad, semarah apapun ... ia tidak mungkin berkata kasar. Nayla bukan wanita seperti itu.


“Aku minta maaf, Shona, maaf,” ucap Fahad.


Sesampainya di rumah, Nayla bergegas masuk kedalam. Tidak ada motor Andi, yang menandakan itu berarti adiknya belum pulang.


Menghela napasnya dengan berat, Fahad mendekati Nayla yang sedang berada di atas ranjang—berbaring dengan posisi tubuh miring, membelakanginya. Membelai lembut ujung kepala sang istri, masih dengan ucapan maaf yang tak henti ia ucapkan.


“Aku minta maaf, aku nggak serius mau kenalan sama dia. Aku nggak—”


“Aku tahu kamu sengaja,” tukas Nayla sembari mendudukkan tubuhnya—menghadap Fahad. “Tapi kamu tetap diam aja lihat aku sama dia berantem. Kamu menikmati banget tontonan itu tadi, aku nggak suka. Entah itu kamu bercanda atau serius, aku nggak suka lihat kamu deketin cewek lain. Aku nggak suka!” seru Nayla dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Menarik tubuh Nayla masuk kedalam pelukannya, Fahad mencium puncak kepala sang istri lama. “Maaf,aku janji nggak gitu lagi. Aku tadi cuma pengin lihat kamu cemburu, maaf.”


Nayla menarik tubuhnya kebelakang, menatap mata Fahad lalu berkata, “kalau kamu jatuh cinta sama cewek lain ... bilang aja, aku bakal lepasin kamu. Jangan kayak gini.”


“Nayla!” Fahad berseru. “Kenapa jadi kemana-mana, sih?! Aku nggak jatuh cinta sama siapapun dan nggak bakal jatuh cinta lagi. Aku cuma cinta sama kamu. Apa kurang jelas? Hah?!”


Kedua manik mata mereka saling terkunci untuk beberapa saat, sampai Fahad memutusnya terlebih dahulu dengan menunduk. Sungguh, ia tidak tahu bahwa Nayla akan berpikir sejauh itu. Tidak. Ia tidak ingin dan tidak akan jatuh cinta lagi selain kepada istrinya.

__ADS_1


“Shona,” suara Fahad terdengar sudah melunak. “Apa kamu merasa aku ini nggak cinta sama kamu? Cuma karena apa yang tadi di mall aku lakuin.” Menatap Nayla dengan lembut, ia hapus air mata sang istri dengan ibu jarinya. “Maaf, aku minta maaf.”


“Jangan gitu lagi, aku nggak suka.” Nayla berucap. Fahad mengangguk lalu kembali mendekap tubuh sang istri. “Kamu masih simpan nomornya?” tanya Nayla tiba-tiba.


“Enggak, kan, tadi kamu udah lihat sendiri ... aku hapus nomor dia.”


Merenggangkan pelukan Fahad, “ya, kali aja kamu simpan pakai nama orang lain. Nama cowok misalnya.”


Meraup wajahnya dengan kasar, “nggak ada! Nih, lihat,” menyodorkan ponselnya pada Nayla. “Lihat aja sendiri, kalau perlu telpon satu-satu, nomor siapa aja yang aku simpan.”


Nayla terkekeh, mengembalikan ponsel kepada Fahad. “Nggak, ah. Bikin malu aja.”


Sebuah senyuman terukir dengan sendirinya dari bibir Fahad. Melihat Nayla yang sudah kembali tersenyum, membuat hatinya ikut lega.


***


Hari demi hari sudah terlewati, Fahad pun harus segera kembali ke India. Ia masih belum berani berbicara kepada Nayla—yang sejujurnya, ia ingin mengajak istrinya tersebut untuk ikut ke India. Setelah kecelakaan yang menyebabkan istrinya itu keguguran, Fahad ingin menjaga Nayla dari dekat.


Bukan ia tidak percaya pada Andi, tapi sebagai suami ... itu sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga Nayla. Tidak tega rasanya, kembali jauh dari istrinya.


Duduk di sofa ruang tamu, Fahad terlihat tengah sibuk berbincang dengan seseorang di seberang sana. Nada bicaranya terdengar serius, pun dengan raut wajahnya. Fahad memanggil Nayla setelah beberapa saat yang lalu ia menutup sambungan teleponnya.


“Gimana tubuh kamu? Perut kamu masih sakit?” tanya Fahad sembari menyelipkan anak rambut Nayla kebelakang telinga.


Nayla menggeleng, senyuman terukir di wajahnya yang teduh. “Udah baik, perut aku juga nggak kenapa-kenapa lagi.”


“Shona, aku harus balik ke India dalam waktu dekat. Udah hampir sebulan aku di sini.” Fahad memberanikan diri, toh, ia memang harus tetap mengatakannya. Cepat atau lambat. “Aku nggak bisa, harus jauh lagi sama kamu. Aku khawatir, aku—” Fahad menghentikan ucapannya begitu melihat sorot mata Nayla yang menyiratkan kekecewaan.


“Nanti aku coba bujuk Andi, biar dia lanjut kuliah di India. Ya?” tanya Fahad. Ya, ia tahu. Nayla masih berat meninggalkan Andi seorang diri. Ia mengerti, istrinya itu pasti sangat mengkhawatirkan Andi yang selama ini selalu berada disampingnya.

__ADS_1


***


__ADS_2