Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 19 S2


__ADS_3

“Fahad, aku ganti baju sebentar, ya. Aku mau ganti baju terus salat. Nanti aku telpon lagi.” Nayla berpesan.


Pikiran usil muncul. “Nggak usah, Sayang, aku ganti ke panggilan video, ya?”


Nayla berdecak kesal. “Jangan mulai nakal, Fahad! Pokoknya kamu nggak boleh tidur dulu. Nanti aku telpon.”


Panggilan itu berakhir. Nayla mengganti dress-nya dengan piyama berwarna merah maroon. Sesaat sebelum melangkah keluar kamar, benda pipih diatas nakas membuat Nayla menghampirinya. Sebuah panggilan dari ... Ryan.


Lelaki itu menghubunginya. Nayla mengalihkan ponselnya ke mode senyap. Menatap layar sentuh itu dengan pikiran yang tak tentu. Ada rasa kesal dan juga ... takut. Bukankah semuanya sudah jelas? Nayla merasa sudah mengatakan yang sejujurnya kepada Ryan. Bahwa cintanya memang untuk Fahad. Jika saja Fahad tidak datang ke dalam hidupnya, belum tentu juga dia akan jatuh cinta kepada Ryan. Tidak ada yang bisa tau, sesalkan apa hati dan rasa cinta seseorang. Dan kini, hati Nayla sudah ditutup oleh Fahad. Dan tidak akan ada yang bisa membukanya lagi, karena Nayla tidak mengijinkan siapapun lagi untuk masuk.


Nayla, aku mau bicara sesuatu sama kamu. Tolong angkat teleponku, Nay.


Nayla memblokir nomor Ryan dan semua sosial media milik lelaki itu. Bukan bermaksud memutus hubungan pertemanan yang sudah sejak lama mereka jalin ... Nayla merasa, ini memang yang terbaik untuk dirinya dan juga Ryan. Jangan sampai ada kesalahpahaman yang lebih jauh lagi.


Menaruh kembali ponselnya ke tempat semula. Nayla berjalan keluar kamar, mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah. Sebelum masuk ke kamar lagi, Nayla menyempatkan diri mengambilkan selimut untuk Andi yang sudah tertidur di sofa ruang tv. Adiknya itu tampak sangat lelah. Kesibukannya sebagai fotografer, menjaga dirinya—Nayla dan juga Shazia, juga ... luka hatinya sendiri yang belum sembuh.


“Bisa-bisanya, lagi nangis terus ketawa-tawa.” Andi membatin dengan mata yang tetap terpejam. Ya, Andi mendengar suara isak tangis dan juga tawa dari Nayla. Sudah pasti dia merasa khawatir. Kakaknya itu mengajak pulang dengan tiba-tiba, diam saja ketika di perjalanan. Namun, setelah mendengar bahwa Nayla tengah menelpon suaminya, ada rasa lega di dalam hati Andi. Setidaknya, untuk malam ini. Besok dia akan bertanya lebih lanjut.


Nayla menepati ucapannya. Dia menelpon Fahad lagi. Senyuman sang suami menyambutnya tatkala panggilan video darinya sudah tersambung. Nayla meminta Fahad untuk menemaninya hingga rasa kantuk memaksa untuk mengakhiri panggilan.


“Jangan lama-lama, ya, cepat datang,” kata Nayla.


“Iya, Sayang.” Fahad masih setia menemani sang istri. Dipandangnya wajah wanita yang sangat dia cintai. Terlihat guratan lelah dari matanya. Mengurus Shazia, mengurus butik, sudah pasti banyak menyita waktu istirahat Nayla. Namun, Fahad tau istrinya pasti bertanggungjawab atas apa yang sudah dilakukan. Selain karena Andi yang memaksa, Fahad juga ingin istrinya mengutamakan dirinya sendiri. Selama ini, hanya orang lain yang selalu didahulukan oleh Nayla. Seakan kebahagiaannya tidak lebih penting daripada kebahagiaan orang-orang di sekitarnya.


Air mata dari Nayla masih jelas terlihat di mata Fahad. Kesalahan yang dulu hampir ia lakukan ... hampir saja membuatnya kehilangan sosok wanita yang sangat-sangat mengerti dan juga menghormatinya. Apa yang ia berikan, selalu dikembalikan oleh Nayla lebih dari yang apa yang dia butuhkan. Lagi-lagi, ucapan syukur tak pernah luput Fahad panjatkan kepada sang pencipta. Namun, ada satu hal yang Fahad sisipkan di dalam doanya.


Aku bersyukur, Ya Allah, Kau memberiku istri yang benar-benar mencintaiku dan keluargaku. Dia sangat mengerti semua yang terbaik untuk suami dan juga keluarganya. Tapi, Ya Allah. Jangan Kau tambah istri lagi. Cukup tambahkan nikmat di dalam rumah tanggaku ini ... dunia dan akhirat.


Fahad tau, jika rasa bersyukur ... pasti akan ditambah. Namun, dia tidak ingin rasa syukurnya itu ditambah dengan hadirnya wanita lain lagi. Cukup, cukup Nayla saja. Tidak akan dan tidak ingin ada yang lain lagi.


Sepasang mata yang teduh itu perlahan terpejam dengan sendirinya. Fahad masih menatap Nayla dalam diam. Sebuah senyuman terbit dari bibirnya tatkala sang istri sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


"Aku mencintaimu.” Fahad mematikan sambungan panggilan video setelah puas memandangi wajah Nayla.


***

__ADS_1


 


Pagi itu, Nayla tengah memakaikan baju pada Shazia. Putri mungilnya menurut saat dipakaikan setelan baju tanpa lengan dengan celana pendek berwarna hijau itu. Tak lupa, Nayla juga menguncir rambut Shazia di dua sisi.


“Masya Allah, cantik banget anak mama.” Nayla mencium kedua pipi sang putri dengan gemasnya. Membuat pemilik pipi gembul itu sedikit kesal.


“Hai, gembul!” seru Andi seraya duduk di kursi samping keponakannya.


Nayla menyuguhkan segelas kopi untuk sang adik. “Andi, kamu sudah baik?” tanyanya.


Kedua alis milik Andi saling menyatu. “Maksudnya?”


Nayla tersenyum, tangannya mengambil lauk ayam goreng lalu menaruhnya di piring Andi. “Hati kamu sudah baikan?”


Andi dengan santainya menyantap makanan yang sudah disuguhkan Nayla. “Mau bilang baik, nyatanya kurang baik ... aku lagi berusaha baik, Mbak. Memang nggak mudah, tapi aku yakin pasti bisa.” Andi mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Andi menanyakan perihal apa yang terjadi di pesta pernikahan Sari. Tidak biasanya kakaknya akan pulang terburu-buru seperti itu. “Ada masalah sama Ryan?” tanyanya lagi karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Nayla.


Manik mata Nayla menatap sang adik. “Ryan?”


Andi mengangguk, “pas kita pulang, aku sempat lihat mata Ryan. Matanya berkaca-kaca. Berantem sama, Mbak?”


“Terus, Mbak, semalam nangis juga. Habis itu ketawa-ketawa. Mbak, mulai gila apa gimana?”


Nayla berdecak kesal. “Kok, nguping, sih!” serunya.


“Siapa yang nguping? Mbak, saja yang nangisnya kenceng banget.”


Nayla diam, ia bukan hanya menangis karena merindukan suaminya ... namun, ia juga merasa kecewa pada Ryan. Pria itu memaksa untuk menerima cintanya. Sedangkan ia tidak mencintainya, dia hanya mencintai Nayla. Suami yang selalu ada disampingnya, menggenggam tangannya dan selalu mendekapnya saat hatinya rapuh. Masih jelas teringat di memori Nayla, bagaimana Ammi menyuruh Fahad untuk menikah lagi ... saat itu, hampir ia menyerah pada keadaan. Namun, kini ia mendapat buah dari kesabarannya saat itu. Nayla mendapat cinta dari sang suami serta ibu mertuanya. Dia sudah tidak mengharapkan apapun lagi.


“Mbak?” lamunan Nayla buyar akan suara Andi.


 


“Hemm?” menoleh.

__ADS_1


“Nggak jadi,” kata Andi. Dia berpamitan, karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Dia harus segera pergi ke studio karena ada pemotretan pukul sepuluh nanti.


Selepas Andi berangkat bekerja, Nayla membersihkan rumah dengan ditemani Shazia. Gadis mungilnya itu sedang bermain dengan boneka Barbie miliknya di ruang tv. Suara ketukan pintu membuat Nayla segera mengambil hijabnya. Sebelum membuka pintu rumahnya, Nayla terlebih dulu mengintip dari balik tirai jendela.


“Ryan?” gumamnya.


Ya, Ryan yang datang. Nayla segera menggendong Shazia lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu kamar, ia mendudukkan tubuh sang putri dibatas tempat tidur. Entah mengapa, Nayla merasa takut melihat kedatangan Ryan.


Mengambil ponsel, ia memblokir nomor Ryan lalu menghapusnya.


“Andi, kamu bisa pulang sekarang?” pesan terkirim kepada Andi.


Tanpa pikir panjang, Andi segera menghubungi sang kakak lewat panggilan suara. Terdengar jelas suara Nayla yang ketakutan. Memang, ada banyak pertanyaan di benaknya. Namun, untuk sekarang ... lebih baik pulang dan melihat keadaan Nayla.


Ryan berkali-kali mengetuk pintu rumah Nayla, namun ia tak mendapat jawaban apapun dari sang pemilik rumah. Ryan dapat mendengar celotehan Shazia, ia yakin bahwa Nayla ada di dalam. Tetap mengetuk pintu dan menunggu, karena itulah yang bisa dilakukan.


Nayla dapat mendengar suara motor Andi. Ia menyibakkan sedikit tirai jendelanya. Adiknya itu tengah turun dari motor lalu melepas helm yang melekat di kepalanya.


Terlihat Andi yang menghampiri Ryan. Bertanya secara halus perihal keperluan lelaki itu. “Sudah telpon Mbak Nayla?” tanyanya.


“Nomorku diblokir, Andi, kalau enggak ... aku juga nggak akan menunggu dia seperti ini.”


Dari situ, Andi mulai mengerti. Ada yang salah diantara kakaknya dan juga Ryan. “Kamu pulang saja. Mbak Nayla lagi nggak mau nemuin siapapun,” usirnya dengan halus.


“Tapi—”


“Yan,” tukas Andi.


Ryan mengangguk perlahan, dia tidak punya pilihan. Sepertinya, Nayla benar-benar membencinya. Saat itu ... andaikan aku nggak gegabah dalam mengungkapkan perasaan, Nayla pasti nggak akan membenciku seperti ini. Pikir Ryan.


Setelah melihat mobil Ryan semakin menjauh, Andi segera masuk ke dalam rumah, menghampiri Nayla yang berada di kamar. Kakaknya itu tengah berdiri di samping tempat tidur, wajahnya pucat serta pandangan matanya yang terlihat ketakutan.


"Mbak," Andi mendekat, ia memeluk tubuh kakaknya itu. Andi dapat merasakan ketakutan pada diri Nayla, tubuh kakaknya itu bergetar hebat. “Mbak, tenang ... aku sudah pulang.” Andi membelai lembut rambut kakaknya itu.


“Jangan biarin dia datang kesini. Mbak nggak mau liat dia lagi.”

__ADS_1


***


 


__ADS_2