
Sanjeeda menanyakan sebab apa yang membuat Nayla tidak ikut ke India. Dengan jujur Fahad pun menjawab alasan Nayla yang masih merasa takut akan perbedaan status sosial mereka.
“Dia dulu nolak aku dengan alasan itu, dan aku nggak mau maksa dia buat ikut ke sini. Aku nggak mau dia semakin merasa minder atau apa, aku udah coba semangatin dia ... kasih pengertian kalau nggak ada yang perlu dia takutin, nggak ada yang berbeda dari dia dan aku. Tapi, ya ... dia tetap takut, takut kalau aku ngerasa malu jalan sama dia,” tutur Fahad.
Sahil tertawa, “ternyata ada cewek yang nolak kamu. Aku pikir kalau dia itu yang—”
“Nayla nggak kayak gitu!” tukas Fahad. “Aku yang ngejar dia, bukan dia yang ngejar aku.”
Sahil meminta maaf, “maksud aku bukan gitu, Fahad, aku pikir dia yang pertama ngenalin dirinya ke kamu. Ngajak chat duluan, ngajak ketemuan duluan, dan—”
“Bukan gitu gimana?” kali ini Sanjeeda yang memotong ucapannya. “Itu sama aja kamu bilang kalau Nayla yang ngejar Fahad duluan.” Sanjeeda dengan geram mengucapkan hal itu.
Fahad menggeleng, “aku kenal dia setelah bercerai, bahkan pas aku datang ke Indonesia, dia marah dan langsung nyuruh aku balik ke India. Dia nolak aku, dia takut, aku bisa lihat itu dari sorot matanya. Dia udah tahu gimana adat negara kita, tapi untuk sekarang ini ... dia belum siap buat ikut ke sini, dia masih pengin kerja.”
Penuturan Fahad akan bagaimana sosok Nayla, membuat Sanjeeda tak sabar untuk bertemu dengan istri sahabatnya tersebut. Nayla pasti orang yang berbeda, entah apa yang dimiliki wanita itu ... yang bisa membuat Fahad kembali hidup, kembali merasakan apa itu cinta dan sebuah hubungan.
“Kalian akan tahu kalau udah ketemu sama dia, dia berbeda.”
Sahil menepuk bahu Fahad, “kami yakin pilihan kamu pasti yang terbaik dari semua yang baik. Kami mendukungmu, beri dia semangat supaya dia nggak minder dan takut lagi.”
Sudah cukup malam, Sahil dan istrinya berpamitan pulang. Mereka mewanti-wanti agar cepat membawa Nayla ke India—tak sabar rasanya untuk bertemu dengan sosok gadis yang bisa terpikat dengan duda seperti Fahad.
Fahad masuk ke kamar, ia mengambil benda pipih miliknya yang tergeletak di meja nakas. Senyumnya melebar begitu membasahi isi pesan Nayla.
“Fahad.”
Hanya itu isi pesan istrinya, tapi rasanya bahagia sekali. Kini ada yang menunggunya, ya ... walaupun bukan menunggu di rumah, tapi setidaknya ada yang menunggu untuk ia hubungi.
Tidak membalas, ia lebih memilih untuk menghubunginya melalui panggilan video. Satu, dua, tiga kali tak ada jawaban. Menutup panggilan dengan lesu, “mungkin udah tidur, besok aja aku telpon lagi.”
Ia berbaring, mengambil foto pernikahannya di meja nakas. “Kenapa aku kangen banget sama kamu, seharian ini sibuk banget. Nggak sempat kirim pesan, sekalinya kamu kirim pesan, malah aku yang nggak balas. Maaf, Sayang, besok pagi aku telpon kamu.”
***
Waktu berlalu begitu cepat, hubungan Fahad dan Nayla baik-baik saja. Jarak yang cukup jauh, sudah pasti membuat keduanya harus saling menahan diri ketika rindu itu menyiksa. Ribut, sudah pasti tak dapat terelakkan. Tapi sejauh ini mereka bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Nayla berada di tempat parkir, ia hendak pulang. Panggilan dari Sari mengurungkannya yang akan menyalakan mesin motor. “Ada apa, Sar?” tanya Nayla.
__ADS_1
“Aku boleh nginap di rumah kamu nggak? Ibu sama Bapak lagi ke rumah saudara, aku nggak berani di rumah sendiri,” ucap Sari.
“Nginap di rumah aku aja, Sar,” timpal Doni yang baru saja datang.
Sari menggeleng keras, “bahaya, dong. Bisa dinikahin paksa.”
“Ya, bagus.” Doni tersenyum penuh maksud. “Biar nggak pakai lamar-lamaran lagi.”
“Kumat!” seru Sari. “Yuk, Nay, jalan.”
Nayla tersenyum melihat Doni dan Sari yang selalu melempar candaan mengatasnamakan rasa suka. “Aku takut kalian kualat, loh!” Nayla naik motor lalu memakai helmnya. “Kualat, terus ternyata jadi jodoh,” imbuhnya.
Sari menanggapinya dengan tertawa, Doni pun sama.
Sesampainya di rumah, Nayla memarkir motornya di teras. Mempersilahkan Sari untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Membereskan piring dan gelas kotor yang pagi tadi belum sempat ia cuci sebab terburu-buru.
“Nay, Andi belum pulang?” tanya Sari sesudah membersihkan diri dan mengganti bajunya.
“Belum. Kenapa? Mau godain Andi?”
Pukul dua siang, Andi baru sampai di rumah. Tanpa mengucap salam, ia berteriak memanggil nama kakaknya. Melangkah langsung menuju ke dapur, menghujani pertanyaan yang sama sekali tidak dimengerti oleh Nayla.
“Diam dulu apa Mbak cabein mulut kamu!” gertak Nayla yang seketika membuat Andi menutup bibirnya rapat-rapat. “Nanya pelan-pelan. Fahad kenapa?” tanyanya.
“Itu, Fahad kirim uang ke rekening Andi. Buat apa coba? Andi kirim pesan tapi nggak dibuka sama dia. Andi nggak suka, Mbak, Andi nggak mau.”
“Nanti Mbak coba tanya dia dulu, benar dia apa bukan yang kirim,” tutur Nayla. “Udah makan apa belum?” tanyanya yang dijawab gelengan kepala oleh Andi. “Mandi dulu habis itu makan bareng Mbak sama Sari juga.”
“Ada Mbak Sari? Nginep?”
“Iya. Udah sana mandi.”
***
Sesudah makan, Nayla masuk ke kamar meniggalkan Andi dan Sari yang mengobrol di ruang tv. Diambilnya benda pipih yang masih belum ia keluarkan dari dalam tas. Ada tiga panggilan dari Fahad yang tidak ia dengar. Bagaimana tidak? Ia mengaktifkan mode senyap, sudah pasti ia tidak mendengar apapun.
Sambutan kemarahan Nayla terima sesaat setelah ia menghubungi suaminya. Fahad marah sebab rindu yang tak dapat lagi ia bendung. Mengalihkan panggilan suara ke video, Fahad masih saja memarahi Nayla.
__ADS_1
“Kemana pun ponsel jangan ditinggal, jangan dikasih mode senyap,” ujar Fahad dengan kesal. Nayla sudah meminta maaf, pun sudah menjelaskan bahwa ia lupa mengganti mode ponselnya.
“Iya, tapi jangan diulang lagi,” lanjut Fahad.
Nayla diam, ia menunduk. Tak berani menatap wajah suaminya. Iya, itu memang salahnya. Ia merasa, seharusnya bisa lebih mengerti sebelum suaminya marah.
Melihat istrinya yang tertunduk—ia menyadari bahwa tak seharusnya ia marah hanya karena panggilannya tidak diterima.
“Sayang,” panggilnya dengan suara yang sudah melunak. Nayla tetap menunduk, “Sayang, lihat aku.”
Cukup lama, hingga Nayla memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Bulir bening itu mengalir dengan sendirinya. Hatinya terasa sakit mendapat kemarahan dari Fahad. “Maaf, aku salah,” ucapnya dengan serak.
Fahad terkejut panik, ia kebingungan melihat istrinya menangis. “Sayang, jangan nangis. Aku nggak bermaksud gimana-gimana. Aku cuma kangen sama kamu.”
Nayla menghapus air matanya, ia melihat menatap Fahad yang terlihat gusar. “Bukan cuma kamu yang kangen, aku juga.”
“Maaf, Shona[¹], maaf ... aku salah, harusnya aku bisa lebih ngerti kalau mungkin kamu masih sibuk. Maaf, maaf, Shona.”
Nayla berhenti menangis, namun sisa air mata itu masih terlihat menggenangi sudut mata sendunya. Setelah merasa tenang, Nayla bertanya perihal uang yang diterima Andi—melalui rekeningnya.
Fahad berujar; itu memang sudah hak Andi. Andi kini sudah menjadi adiknya. Sama seperti Yasmin dan Yumna yang segala kebutuhannya ia penuhi.
“Tapi Andi nggak suka, Fahad. Dia nggak mau.” Nayla berucap.
“Nanti aku bicara sendiri sama Andi. Dia pasti nerima, aku bakal ngerasa nggak dianggep sebagai kakak kalau dia nolak itu. Dia juga tanggung jawabku, Sayang, dia juga adikku. Aku nggak mau ada penolakan atau apapun lagi, itu udah keputusan aku.”
Baiklah. Nayla tak dapat menolak lagi. Jika itu keputusan Fahad—yang juga akan mengurus Andi sebagai adiknya, ia dan Andi akan berusaha menerima. Ia berusaha menghargai segala niat baik suaminya.
“Nggak mau ngomong sesuatu dulu sebelum telponnya ditutup?” tanya Fahad.
“Jangan lupa makan, salatnya juga jangan bolong. Udah.”
Fahad terkekeh mendengarnya. “Aku cinta sama kamu, jaga diri dan kesehatan kamu.”
***
[¹] Shona : panggilan sayang, sama halnya seperti jaanu.
__ADS_1