
Setelah puas bertukar suara, Nayla pun mengakhiri sambungan telpon karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Menaruh ponselnya di meja nakas, Nayla memusatkan pandangannya kepada Fahad yang juga memandangnya.
“Yang lagi bahagia, bisa telponan sama andi.” Fahad mengejek. Tangannya menarik gemas hidung mungil Nayla. “Kalian udah kayak orang pacaran, malam-malam telponan,” suara tawa Fahad menyusul kemudian.
Nayla meminta maaf jika suaminya itu merasa terganggu. Ia mengatakan, tidak akan menelpon Andi diwaktu malam lagi. “Besok aku nggak telpon malam lagi, deh. Maaf, ya?”
Fahad mendudukkan tubuhnya tepat dihadapan istrinya, “aku nggak bilang kamu salah, kenapa minta maaf? Sayang, kamu tau nggak?” tanyanya.
Nayla menjawab, “kamu aja belum kasih tau, gimana aku mau tau?”
Nayla sangat menggemaskan. Istrinya itu selalu berhasil membuatnya tertawa. Fahad berharap ia pun juga bisa membuat Nayla selalu tertawa dan bahagia bersamanya. Menyelipkan beberapa helai rambut Nayla ke belakang telinga, Fahad mengusap lembut pipi wanita yang menjadi penyejuk hatinya tersebut. “Sayang, dari kamu ... aku banyak belajar tentang kata maaf dan terima kasih. Sebelumnya, aku jarang banget bilang maaf dan terima kasih. Apalagi kata tolong, kayaknya hampir nggak pernah aku ngomong kata itu.” Fahad menjelaskan. “Kamu selalu bilang tiga kata itu ‘maaf, tolong, terima kasih’, rasanya ada kepuasan tersendiri kalau kita mengutarakan dan mendapat kata-kata itu,” Imbuhnya kemudian.
“Tiga kata itu adalah kata ajaib, Fahad, sesama manusia kita diharuskan seperti itu. Dalam kata lain, kalau kita mau dihormati ... kita juga harus menghormati orang lain terlebih dahulu. Kalaupun dia tetap nggak bisa menghargai orang lain, berarti ada yang salah sama otaknya. Kurang sesendok gitulah.” Ungkap Nayla dengan jemawa.
Benar, bukan? istrinya itu sangat menggemaskan. Fahad tak tahan lagi untuk menggigit pipi Nayla. Setelah mendengar istrinya mengaduh kesakitan, Fahad meminta maaf lalu mengajaknya untuk berbaring dan tidur, sebelum Nayla membalas gigitannya.
Nayla sudah hampir tertidur, namun Fahad masih terjaga. Ia memiringkan tubuhnya, matanya menyusuri setiap inci wajah cantik Nayla. Jari telunjuknya menari-nari di pipi sang istri, hingga membuat Nayla kembali membuka matanya. “Kenapa belum tidur?” tanya Nayla.
“Aku lagi mikirin Ammi, kenapa aku jadi ngerasa bersalah banget, ya, sama Ammi. Biasanya, aku nggak pernah nolak apapun yang Ammi perintahkan, tapi sekarang aku malah ...,”
Nayla meraih tangannya, menggenggam erat tangan suami yang selalu memberikan semua cinta dan kasih sayang kepadanya. “Apa gini aja, aku yang pergi ke sana duluan, habis itu kamu bisa nyusul. Tapi, usahain secepatnya.” Nayla memberi usul.
Setelah beberapa saat membicarakannya, Fahad pun setuju. Sepertinya ini memang yang terbaik, ia yakin bahwa Nayla pasti bisa memberi pengertian kepada Ammi. Pun ia juga akan berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. “Kamu berangkat lusa, ya?” tanya Fahad, Nayla pun mengiyani.
__ADS_1
***
Menjelang malam, Fahad memaksakan diri untuk pulang. Ia meninggalkan perkenalannya karena ingin mengajak Nayla pergi berbelanja karena besok istrinya itu berangkat ke Srinagar. Sebelumnya, ia pergi ke meja kerja Yasmin, mengajak adiknya pulang bersama. Sepanjang perjalanan, Fahad memberikan nasihat agar Yasmin tetap berhati-hati terhadap siapapun. Kemarin, Fahad masih bisa mentolerir kesalahan Yasmin, tapi jika adiknya itu tidak mematuhinya lagi ... maka tanpa berpikir panjang, Fahad akan memulangkan Yasmin ke Srinagar lalu menikahkannya. Menurutnya, itulah yang terbaik.
Fahad meminggirkan mobilnya, ia menerima sebuah panggilan masuk. Seseorang di seberang sana mengatakan sedang berada di jalan untuk mengirim hasil pemotretannya dengan Nayla beberapa hari yang lalu. “Iya, saya juga sedang berada di jalan. Tunggu saya di parkiran, nanti saya akan menemui Anda.” Fahad mengakhiri sambungan telepon tersebut. Dengan kecepatan maksimal, ia kembali membelah jalanan ibukota agar bisa sampai di apartemen.
Sampai di parkiran, Fahad mengirim pesan kepada Nayla bahwa ia sebentar lagi akan naik ke atas. Ia memerintahkan istrinya itu agar memakai hijab sebelum membuka pintu. Tanpa bertanya, Nayla pun mematuhinya. Ia segera memakai hijab sederhana seperti keinginan suaminya.
Melihat apa yang dibawa dua pria dibelakang Fahad, Nayla sudah bisa menebak bahwa fotonya dan Fahad sudah jadi. Dengan bersemangat ia dan Yasmin membuka bungkusan kertas tersebut untuk melihat hasil foto setalah pengantarnya berpamitan pulang.
Kedua mata Nayla membulat penuh, hasilnya sungguh cantik. Tangannya meraba gambar tersebut dengan rasa bahagia. Suaminya terlihat sangat tampan.
“Kakak ipar, dia siapa?” Yasmin menunjukkan sebuah bingkai foto ukuran 20R kepada Nayla.
“Dia adikku, Yasmin. Namanya Andi.” Nayla menjawab, ia melihat ke arah Fahad yang berdiri tidak jauh darinya lalu mengucapkan terima kasih kepada suaminya tersebut. “Seingatku, Andi nggak pernah foto pakai jas kayak gini.”
“Aku yang minta Andi foto, terus dia kirim filenya ke aku. Ya, udah ... aku cetak. Biar kamu bisa lihat Andi setiap hari.” Fahad berjalan mendekat pada Nayla, ia mengambil bingkai foto yang terdapat Andi di dalamnya. “Mau dipasang di mana?” tanyanya sembari mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang tepat untuk menggantung foto tersebut.
Nayla meminta untuk menggantungnya di living room agar ia bisa melihatnya sepanjang hari. Fahad juga menggantung fotonya bersama Nayla di tembok yang sama dengan foto Andi. Ia memberi jarak beberapa centi lebih tinggi dari foto adik iparnya tersebut.
Sedangkan fotonya bersama Nayla di dalam bingkai yang berukuran paling besar ... yang memakai lehenga berwarna merah, ia menggantungnya di dalam kamar. Tepat di atas kepala tempat tidur.
Selesai dengan acara menggantung foto, kini Fahad dan Nayla bersiap untuk pergi ke salah satu mall. Mereka mengajak Yasmin, namun gadis itu menolak karena merasa sangat lelah. Ia hanya ingin berada di kamar. Menikmati waktunya seorang diri. Lagi juga, ia tidak ingin mengganggu kakak dan kakak iparnya menghabiskan waktu berdua, karena besok pagi Nayla akan berangkat ke Srinagar.
__ADS_1
Fahad berencana membelikan istrinya itu beberapa pakaian hangat, sama seperti New Delhi yang sudah memasuki musim dingin ... di Srinagar pun salju sudah mulai turun. Memasuki satu persatu toko, Fahad mencarikan baju hangat yang cocok untuk istrinya. Ia menyuruh istrinya itu untuk diam dan menuruti semua ucapannya. Fahad sudah tau betul bagaimana style berpakaian Nayla yang sederhana.
Semua sudah ditangan, mulai dari mantel hangat, kaus kaki, sarung tangan, topi kupluk hangat, serta syal rajut. Kini, Fahad dan Nayla duduk di sebuah restaurant untuk menikmati makan malam.
Sembari menunggu pesanan datang, Fahad berpesan kepada Nayla agar selalu di rumah, tidak boleh pergi kemanapun ataupun bermain salju jika ia belum datang. Fahad yakin betul, jika Nayla berjalan-jalan dan bermain salju seorang diri ... akan ada pria yang datang dan mencoba berkenalan dengan istrinya.
“Kalau sama Yumna, tetep nggak boleh?” tanya Nayla.
“Boleh, di halaman belakang rumah. Kalau keluar rumah tetep nggak boleh,” jawab Fahad. “Ammi baik, kok, jangan khawatir. Dia sayang sama kamu. Tadi di kantor aku udah telpon Ammi kalau besok kamu berangkat ke sana. Sama seperti dulu, Yumna dan Ammi heboh banget buat nyambut kamu.”
Nayla mengangguk. Ia tau, Ammi memang orang yang baik. Dulu, saat pertama kali ia datang ke Srinagar, Kashmir, Ammi menyambutnya dengan baik. Pun, dengan kedua adik Fahad yang sampai saat ini menyayanginya seperti kakak kandung sendiri.
***
Seusai menghabiskan makan malam, Fahad dan Nayla masih terlihat duduk di restaurant tersebut. Hingga seorang balita menghampiri Nayla dan menepuk lengannya. Nayla menyapa balita tersebut, “hai, Jaanu, MasyaAllah ... cantiknya.” Nayla mengangkat lalu mendudukkan balita tersebut dipangkuannya.
Tak lama, ibu dari balita itu datang. Nayla dan Fahad mempersilahkan ia untuk duduk. Balita itu sangat menyukai Nayla, tangannya terus saja menyentuh pipinya sembari tersenyum manis kepadanya.
“Maaf, kalian suami istri?” tanya ibu balita.
“Iya, kami baru menikah enam bulan yang lalu.” Fahad menjawab.
Setelah beberapa saat bermain bersama Nayla, balita tersebut diambil alih sang ibu ke dalam gendongannya. “Kalian sangat serasi, semoga Tuhan segera menganugerahi kalian anak-anak yang pintar dan lucu.” Ibu tersebut pun pergi setelah berpamitan kepada Fahad dan Nayla.
__ADS_1
***