Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 113


__ADS_3

“Nayla, berhenti, kembalilah.”


“Fahad?” Andi membangunkan Fahad. Pria itu tertidur di kursi, di samping Nayla. “Ada apa? Kamu mimpi?”


Fahad mengerjapkan matanya, ia duduk dengan tegak setelah menyadari apa yang baru saja terjadi. Mimpi. Itu hanya mimpi. Ia masih mendapati Nayla yang tidur di hadapannya. Tetapi, entah mengapa semua terasa begitu nyata. Andi menyuruh Fahad mengambil air wudhu lalu menunaikan salat subuh. Kini Andi yang menggantikan Fahad menemani Nayla—duduk di sampingnya.


Seusai salat subuh, Fahad mengatakan kepada Andi bahwa ia ingin meliha putrinya. Mengendongnya, bayi itu tetap tidur walaupun Fahad menciumnya bertubi-tubi. “Jaanu, kamu belum digendong sama mama, kan? Kamu mau ketemu mama, kan?” Fahad memaksa suster jaga agar mengizinkannya membawa putrinya menemui Nayla. Awalnya, suster melarang, karena tidak baik untuk bayi masuk ke dalam ruangan pasien kritis. Dokter datang, ia mengizinkan. Sebab dokter baru saja memeriksa Nayla, dan ia melihat detak jantung lewat bedside monitor—jantung Nayla semakin melemah.


“Mungkin ini untuk yang pertama dan terakhir, bayi itu menemui ibunya.” Dokter bergumam lirih sembari menatap punggung Fahad yang semakin jauh—menuju ruangan Nayla.


Fahad mendekat pada Nayla, ia baringkan bayi itu di sisi kiri istrinya. Fahad tersenyum, bahkan saat tidur pun ... bayi itu mirip sekali dengan ibunya. “Sayang, ini putri kita. Bangun, ya, dia minta digendong sama kamu.” Fahad berujar. Andi melihat dengan pilu. Detak jantung Nayla semakin melemah, hanya Allah yang tau bagaimana akhir dari kisah Nayla. “Sayang, bangun. Lihatlah, putri kita sangat cantik. Aku nggak bisa rawat dia seorang diri, aku butuh kamu. Putri kita butuh kamu. Andi juga butuh kamu. Bangun, aku mohon bangun.” Air mata itu kembali menetes. Fahad mendengar bunyi detak jantung Nayla yang semakin lama semakin melambat. “Mimpi itu nggak akan jadi kenyataan. Nggak akan!” Fahad meyakinkan dirinya sendiri.


Bayi mungil itu menangis, Fahad menggendongnya. Mencoba menenangkannya. “Sayang, dia nggak mau berhenti menangis. Bangun, gendong dia, tenangkan dia, buat dia berhenti menangis. Aku mohon.” Fahad mengiba. Suster meminta bayi itu, namun Fahad tidak mau memberikannya. Andi bersandar di tembok, ia pasrah. Apapun yang terjadi pada Nayla, pasti itu yang terbaik. “Sayang, bangun, jangan lakukan ini lagi. Bangunlah!” Fahad berteriak.


Dokter masuk, denyut nadi dan juga detak jantung Nayla tidak bekerja dengan normal. “Pak, tolong keluar sebentar, saya akan memeriksa Ibu Nayla.”


Masih mengendong putrinya, Fahad tidak berpindah dari tempatnya. Ia tetap memaksa Nayla untuk bangun. Namun semua itu sia-sia, Nayla tetap tidak membuka matanya. Suster merebut paksa bayi itu dari tangan Fahad. Andi mendekati kakak iparnya, mengajaknya untuk keluar agar dokter bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.


“Fahad.” Ammi datang, bersama kedua adiknya dan juga Mahira.


“Ammi?” Fahad mendekati Ammi, mengajaknya untuk duduk di kursi panjang yang berada di deoan ruangan Nayla. Fahad menghapus air matanya, mencoba memberikan senyuman untuk sang ibu. Fahad mengingat pesan Nayla, untuk Tidka menunjukkan kesedihanmya di depan Ammi. Hanya kebahagiaan yang boleh ditunjukkan kepada Ammi, jika kesedihan ... Ammi juga pasti akan merasa sedih saat melihat putranya bersedih.


Andi yang berdiri di Simalungun pintu ruang itu merasa geram melihat kedatangan ibu mertua dari kakaknya tersebut. Jika saja ia tidak ingat sopan santun, sudah pasti Andi akan memaki wanita paruh baya itu. Karena wanita itu kakaknya menangis, karena wanita itu kakaknya harus menanggung semua kesedihan dan kekecewaan yang dalam hingga membuat Nayla tak kunjung bangun hingga saat ini.


“Bagaimana Nayla?” Ammi bertanya kepada Fahad.


“Dia sudah melahirkan, Ammi, tapi dia masih harus berjuang untuk hidupnya. Sejak kemarin, dia kritis.”


Ammi menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya. Kemarin malam, saat Yasmin mengajaknya untuk pergi ke New Delhi, putrinya itu tidak memberitau apa yang sedang terjadi. Yasmin hanya mengatakan bahwa Nayla sudah melahirkan. Ya, Yasmin tidak mengatakan bagaimana kondisi Nayla sebab Mahira yang memintanya untuk itu. Mahiralah yang menjemput mereka di bandara lalu menginap d apartemen miliknya, sebelum pagi ini ia mengantar keluarga Fahad ke rumah sakit.


Seorang suster masuk ke ruangan Nayla masuk dengan tergesa-gesa, membuat semua orang di sana khawatir. Fahad berdiri, ia hendak masuk, namun suster mencegahnya untuk masuk. “Maaf, Pak, kami sedang mencoba yang terbaik. Jadi mohon tunggu di luar.”

__ADS_1


“Nayla,” satu tangannya berada di pintu, Fahad mengingat mimpinya tadi malam. Menggeleng keras, Fahad kembali meyakinkan dirinya. Bahwa itu hanya sebuah mimpi, hanya bunga tidur.


“Kakak.” Yumna mendekati Fahad, ia menyentuh bahu Fahad.


Fahad berbalik, ia mendapati Yumna yang tengah menangis dan menanyakan apa yang sedang terjadi, menanyakan apakah Nayla akan baik-baik saja. Fahad mengangguk, ia menyelipkan beberapa anak rambut Yumna ke belakang telinga. “Kakak iparmu baik-baik saja.”


Yumna masuk ke pelukan Fahad. Ia menangis tersedu. “Dia kakak iparku, dia milikku. Kak Nayla nggak pergi ke mana-mana, kan?” tanyanya.


“Dia nggak pergi ke mana-mana, dia akan tetap di sini.” Fahad mendekap erat tubuh adiknya yang gemetar. Lihat, Nayla, banyak yang menyayangimu. Aku mohon jangan pergi, tetap di sini bersama kami. Batin Fahad sangat perih. Banyak yang menangis untuk Nayla, tapi air mata ini tidak sebanding dengan air mata Nayla selama ini.


“Fahad.”


Fahad melepas pelukannya dari Yumna. Ia menghampiri Ammi dan duduk di sampingnya “Ammi, Nayla adalah istri yang baik. Dia juga membantu yang baik, yang selalu menyuruhku untuk pergi dan menikah lagi.” Fahad tak mampu menahan lagi. Bagaimanapun, Ammi salah menyuruhnya untuk menikah lagi. “Dia yang menyiapkan semua keperluanku untuk ke Kashmir, dia yang nggak pernah capek nyuruh aku menikah lagi, dia yang mengatakan bahwa aku harus menuruti Ammi, dia yang selalu mengingatkanku ... jangan pernah membuat Ammi sedih dan kecewa.”


Ammi menunduk, ia menangis. Menyadari kesalahannya selama ini.


“Kemarin, sebelum melahirkan, dia masih sempat memintaku pergi. Dia juga meminta maaf pada, Ammi.” Imbuh Fahad.


Fahad menatap Ammi penuh tanda tanya. “Maksud Ammi? Ammi ngomong apa sama Nayla?”


***


Dering ponsel itu memaksa Nayla untuk bangun dari tempat tidurnya. Mengambil ponselnya yang masih tergeletak diatas meja sofa. Nama Hannah tertera di sana. Nayla bertanya-tanya, ada pada Hannah menelponnya malam-malam?


“Assalamu'alaikum.” Bukan suara Hannah yang menjawab salamnya. Melainkan Ammi.


Ammi marah. Ia memarahi Nayla yang ia rasa sudah membuat Fahad melupakan kewajibannya sebagai seorang anak. Ammi menuduh Nayla yang sudah menahan Fahad agar tidak datang ke Kashmir dan menikah lagi.


“Ammi, Fahad pasti datang ke Kashmir. Fahad pasti menikah lagi. Besok pagi Fahad pasti pergi ke Kashmir.” Nayla meyakinkan Ammi. Walaupun sebenarnya ia tidak yakin, jika Fahad akan pergi dan menikah lagi. Tak mengapa, ia akan tetap berusaha memaksa suaminya.


“Kalau Fahad tidak datang dan menikah lagi, Ammi nggak akan memaafkan kamu, Nayla. Ammi nggak akan memaafkanmu. Kamu sudah merebut putraku, kamu sudah menjauhkannya dariku.”

__ADS_1


***


Ya Tuhan ....


Fahad tidak habis pikir. Kenapa Ammi bisa mengatakan hal seperti itu. “Ammi, Nayla nggak pernah menahan ataupun merebutju dari, Ammi. Dia bahkan memilih mundur dan membiarkan aku menikah lagi. Apa, Ammi, masih berpikir bahwa Nayla merebutku? Nayla menjauhkanku dari, Ammi?”


Ammi menunduk, ia semakin tersedu. “Maafkan Ammi, Fahad. Ammi memang bersalah.”


Fahad mencoba menahan diri. Rasanya ia ingin sekali marah, namun ucapan istrinya masih terus terngiang di telinganya. “Sudahlah, jangan meminta maaf. Ammi, nggak salah.” Fahad memeluk Ammi dari samping.


Ammi menggeleng. Ia mengakui kesalahannya. “Sebagai orang tua, harusnya Ammi bisa lebih bijak. Harusnya Ammi lebih mengerti kamu dan Nayla. Ammi salah, Ammi mengaku salah.”


Mencium puncak kepala sang ibu, Fahad tidak mungkin menyalahkan Ammi dengan ucapannya lagi. Sebagai seorang anak, ia harus bisa lebih mengerti suasana hati dan juga pemikiran Ammi. Sekarang, yang terpenting adalah Ammi sudah menyadari kesalahan atas rencana pernikahan itu—juga pemikiran bahwa Nayla bukanlah menantu yang baik. Fahad bersyukur untuk itu. Tetapi, semua itu belum selesai. Nayla masih ditangani oleh dokter.


“Sayang, aku mohon bertahanlah. Aku mohon. Jangan biarkan mimpi itu menjadi nyata.”


Andi masih berdiri di samping pintu ruang ICU. Ia tidak mempedulikan perbincangan Fahad dan juga Ammi—ia tidak mengerti bahasa Kashmiri. Dokter keluar, dengan wajah kecewa dan sedih, ia menyampaikan bahwa tubuh Nayla kini hanya bergantung pada alat bantu. Pendarahan yang hebat itu sungguh menguras semua yang ada di dalam tubuh Nayla. Termasuk, rasa semangat untuk hidup. Tetap tidak ada respon, hanya alat yang membantu Nayla tetap bernapas. Dokter menyerahkan semua keputusan kepada Fahad. Melepas, atau tetap memasang alat bantu.


Tidak menjawab dokter, Fahad menerobos masuk ruang ICU. Ia menghampiri Nayla, memarahi istrinya yang tak kunjung membuka mata. “Kamu egois, berapa lama lagi kamu egois seperti ini?! Kamu mau ninggalin aku? Kamu nggak bisa memutuskan semua ini sendiri.”


Andi ikut masuk, ia berdiri memperhatikan Fahad yang mencoba membangunkan Nayla.


“Kamu nggak kasihan sama anak kita? Dia butuh kamu, Nayla. Kamu nggak bisa pergi seenaknya sendiri. Aku nggak kasih izin kamu untuk pergi. Kamu nggak boleh pergi. Ayo, bangun, bangun ...” Fahad terduduk lemas, air mata itu tak mampu lagi ia tahan. Sakit sekali. Ia tidak mampu mengambil keputusan untuk tetap memasang atau melepas semua alat bantu itu. “Bangun, Sayang, tepati janji kamu untuk terus terus berjalan sama aku. Tepati semua janji kamu.”


Andi mendekati Fahad, ia hendak mengajak kakak iparnya tersebut untuk keluar. Ia tau, Fahad sangat terluka ... pun dengan dirinya yang juga terluka. Tetapi semua ini sudah takdir, semua sudah tertulis. Tidak ada yang tau, kapan seseorang akan dilamar oleh kematian. Meskipun sakit, Andi mencoba mengikhlaskan semuanya ... pasti ada sesuatu yang baik dan indah dibalik semua ini.


“Andi, bangunkan kakakmu, bangunkan dia. Bagaiamana dia bisa pergi tanpa izinku? Bagaimana dia bisa meninggalkan kita semua? Aku nggak kasih izin dia pergi, dia harus membuka matanya. Harus!”


“Fahad, tenanglah. Mungkin ini memang sudah saatnya, biarkan Mbak Nayla pergi. Izinkan dia pergi.”


***

__ADS_1


__ADS_2