Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 77


__ADS_3

“MasyaAllah, gandeng tangan istri itu memang nikmat banget.” Fahad berujar jemawa. Membuat Nayla tertawa dan semakin merapatkan gandengan tangan mereka. “Berkahnya banyak banget, ya, Sayang?” tanyanya yang dijawab senyuman dan anggukan kepala oleh Nayla.


Keduanya mengelilingi mall dengan senyuman yang selalu mengembang sempurna. Fahad selalu bercanda dengan sesekali menutup mata sang istri agar pria lain tidak bisa menatapnya. Mata Nayla yang kecil nan cantik itu memang menjadi pemikat Fahad. Ia pun yakin, siapapun pasti akan jatuh cinta dengan mata indah istrinya.


Sampailah disebuah restaurant cepat saji. Mereka makan dengan sesekali saling menyuapi, tidak ada keromantisan selain romantisnya berumah tangga. Apapun yang dilakukan bernilai ibadah, sekecil apapun. Contohnya, saling melempar senyum saja bernilai ibadah. Saling bergandengan tangan, yang mana dosa-dosa akan berguguran melalui celah jari jemari pasangan suami istri. Tentu saja, apapun yang dilakukan haruslah dibarengi dengan hati yang ikhlas.


Seusai makan, Nayla beranjak berdiri, ia mengatakan ingin pergi ke toilet sebentar kepada suaminya. Lima menit, sepuluh menit ... Nayla kembali.


“Fahad, bisa kita mampir ke—”


“Ayo, pulang.” Fahad beranjak berdiri. Ia berjalan mendahului Nayla.


“Fahad?” Nayla memandang tubuh Fahad yang semakin jauh darinya. Nayla mematung, ia melihat telapak tangannya. “Dia nggak gandeng tangan ini lagi.”


Heran. Sudah pasti Nayla merasa heran, gerangan apakah yang membuat suaminya yang tiba-tiba berubah dingin. Di mobil, Fahad tidak mengajaknya berbicara, berbagai pertanyaan berlarian memenuhi pikirannya. Ada apa? Apa suaminya ini hanya sedang mengerjainya?


Mobil sudah berhenti tepat di parkiran apartemen. Nayla mencoba meraih tangan suaminya, namun Fahad mempercepat langkahnya meninggalkan ia seorang diri.


Yasmin membuka pintu, “Kakak? Di mana kakak ipar?”


Fahad masuk ke kamar, ia tidak.menjawab pertanyaan Yasmin. Tidak lama, Nayla pun datang. Adik iparnya juga bertanya, ada apa dengan Fahad. Nayla menjawab bahwa Fahad hanya sedang lelah saja. Tidak mungkin untuk Nayla mengatakan yang sebenarnya kepada Yasmin. Urusan rumah tangga, biarlah Allah, Fahad dan juga dirinya yang tau. Tidak baik mengumbar urusan rumah tangga.


“Kamu udah makan?” Nayla bertanya kepada Yasmin. Keduanya kini sedang berada di dapur, Yasmin mengikuti kakak iparnya yang sedang mengambilkan air minum di dalam botol untuk Fahad.


“Udah, Kak, tadi aku mampir beli makanan dulu sebelum pulang.”


Nayla berpamitan kepada Yasmin, ia akan masuk ke kamar ... menyusul suaminya. Dengan satu botol air minum, Nayla membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Lampu utama kamar sudah dimatikan, suaminya terlihat sudah berada di atas tempat tidur.


“Fahad, kamu udah tidur?” Nayla memastikan. Benar saja, suaminya sudah tidur.


Tidak. Fahad tidak tidur. Ia masih bisa merasakan sentuhan tangan istrinya yang membelai lembut pipinya. Akan tetapi, rasa kecewa memaksanya untuk tidak membuka mata.

__ADS_1


Nayla meletakkan botol minuman di meja nakas, di samping suaminya. Ia beranjak untuk membersihkan tubuh agar bisa segera istirahat.


***


Alarm berbunyi, tubuhnya menggeliat, merapatkan selimut yang membalut tubuhnya. Nayla merasa sangat lelah, suara alarm yang berbunyi itu ia abaikan untuk beberapa saat.


Nayla menyerah, ia meraih ponselnya di meja nakas lalu mematikan alarm. “Fahad, udah subuh.” Nayla membuka matanya perlahan, sontak ia beranjak duduk begitu melihat Fahad tidak ada di sampingnya.


Selimut ia singkap, Nayla mencari Fahad di kamar mandi yang ternyata ruangan itu kosong. Ia keluar kamar, barangkali Fahad ada di dapur, pikirnya. Namun, tetap saja tidak ada. Rasa khawatir menyergapnya, masih terlalu pagi jika suaminya itu pergi ke kantor. “Enggak. Fahad pasti pamit kalau pergi ke kantor. Tapi, dia sekarang di mana? Ya Allah ....” Nayla mendesah bingung. Ia sudah mencoba menghubungi nomor ponsel suaminya, tapi tidak ada jawaban apapun dari Fahad. Pesannya pun tidak dibalas.


Setelah menunaikan salat subuh, Nayla duduk sesaat di tepi tempat tidur, ia kembali mengirim pesan kepada Fahad. Mencoba menelponnya pun sama saja, tetap tidak ada jawaban. Ia beranjak ke dapur, tangannya sibuk menyiapkan sarapan untuk Yasmin ... namun hati dan pikirannya selalu tertuju kepada Fahad. Dimana dan kenapa suaminya berubah dalam hitungan detik. Kemarin, sepulang dari mall, Fahad tidak menggandeng tangannya. Padahal sebelumnya suaminya itu berkata bahwa sungguh nikmat bisa menggandeng tangan istri setiap saat.


“Selamat pagi, Kakak ipar.” Yasmin menyapa sembari mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Setelah meminum teh buatan kakak iparnya, Yasmin menanyakan keberadaan Fahad yang tidak terlihat sejak ia keluar kamar dan menghabiskan dua lembar roti panggang.


Nayla tidak ingin mengatakan apa yang sedang terjadi diantara dirinya dan Fahad, namun ia juga ingin mengetahui apa suaminya itu ada di kantor atau tidak dari Yasmin. Karena hanya kepada adik iparnyalah ia bisa bertanya.


“Yasmin, nanti kalau udah sampai kantor, tolong lihat apa Fahad ada di ruangannya atau tidak. Sejak aku bangun, Fahad udah nggak ada.” Nayla mengutarakan maksud hatinya.


Ruang kerja Fahad menjadi tujuan pertama Yasmin begitu ia turun dari taksi. Dengan tergesa-gesa, tanpa mengetuk pintu ataupun menyapa Alina, ia menerobos masuk dan melihat kakaknya yang berbaring di atas sofa. “Kakak!”


Fahad membuka mata sejenak lalu kembali memejamkannya.


Yasmin mendekat, ia duduk di sofa tunggal. “Kakak, kenapa berangkat tanpa pamit sama kakak ipar? Dia khawatir, Kak.”


“Kakak ada pekerjaan, dan kakak iparmu masih tidur,” sahut Fahad.


“Tapi, Kak—”


“Pergi ke ruanganmu!” bentak Fahad dengan kasar.


“Aku cuma nanya, Kak, kenapa harus marah?!” kesal Yasmin. Ia beranjak berdiri lalu keluar meninggalkan Fahad yang tak berpindah sedikitpun dari posisinya.

__ADS_1


Yasmin segera menelpon Nayla, mengabari bahwa kakaknya memang ada di kantor. Ia tidak menceritakan kepada kakak iparnya bahwa Fahad sudah membentaknya. Ia tidak ingin memperkeruh suasana.


***


Yasmin bersiap pulang, seharian ini ia tidak bertemu dengan kakaknya. Di kantin, saat jam makan siang, ia juga tidak melihat kakaknya. Sore hari, ia menghampiri Fahad, mengajaknya pulang bersama. Namun, kakaknya itu mengatakan pekerjaannya belum selesai dan akan pulang terlambat.


“Tapi, Kak—”


Meletakkan penanya dengan kasar, hingga menimbulkan suara dari mejanya. Fahad menyorot Yasmin dengan tajam. “Kakak bilang masih ada pekerjaan, pulanglah naik taksi, atau minta tolong Sahil mengantarmu pulang!”


Tubuh Yasmin menegang, ia ketakutan mendapat tatapan tajam dari Fahad. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, Yasmin pergi dengan perasaan kesal.


Sesampainya di rumah, Yasmin sudah menduga akan mendapat pertanyaan dari kakak iparnya.


“Kok, kamu pulang sendirian?” begitulah pertanyaan yang terlontar dari bibir Nayla. Matanya sibuk mencari keberadaan Fahad yang mungkin saja berjalan sedikit jauh dari Yasmin.


“Kak Fahad masih ada pekerjaan, Kak, dia pulang terlambat.” Yasmin menjawab seadanya. Karena memang itu yang dikatakan oleh kakaknya, Fahad.


“Oh.” Nayla membulatkan bibirnya, setelah itu ... senyuman terukir indah di wajahnya. Nayla menyuruh Yasmin untuk segera membersihkan diri, sementara ia akan menyiapkan makan malam. Meskipun tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, apa yang membuat kakak dan kakak iparnya berada di situasi yang seperti ini ... satu hal yang Yasmin tau, kakak iparnya sedang berusaha menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.


“Kakak ipar, lebih baik masuk ke kamar. Kak Fahad, kan, bawa kunci sendiri. Mungkin sebentar lagi dia pulang.”


Yasmin mencoba membujuk Nayla. Sebab sejak selesai makan malam dan membersihkan dapur, kakak iparnya itu masih saja berada di living room, menunggu suaminya pulang.


“Kakak belum ngantuk, Yasmin, kamu tidur duluan aja.”


Yasmin tau Nayla sedang berbohong. Kedua mata kakak iparnya sudah sangat merah, menandakan ia sudah sangat mengantuk. “Kakak ipar, ayolah ... masuk ke kamar. Jangan menyiksa diri, Kakak, sendiri. Kak Fahad memang seperti itu kalau menyangkut pekerjaan. Kakak ipar, tidur saja duluan.” Yasmin kembali membujuk. Kali ini dengan sedikit memaksa. Ia tau, kakak iparnya sangat lelah.


Nayla tidak dapat berkutik, ia mengiyani ucapan adik iparnya untuk masuk ke kamar.


***

__ADS_1


__ADS_2