Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 100


__ADS_3

Menyelesaikan semua pekerjaan rumah, Nayla kini duduk di kursi meja makan, memakan roti isi selai coklat serta segelas susu hangat. Nayla menggeser layar ponselnya, mencari nama Andi di sana.


“Hai, Mbak!”


Andi menyapa, ia sedang menikmati bubur ayam kesukaannya.


“Nggak kuliah kamu?” tanya Nayla.


“Kuliah. Jam kedua, jam satu kosong. Dosennya ijin nggak masuk.” Andi menjawab.


Tanpa menunggu lagi, Nayla pun memberitahu Andi bahwa ia sedang hamil. Mendapat reaksi yang biasa saja dari adiknya, tentu Nayla merasa sedikit kesal. Awalnya, ia mengira Andi akan bersorak heboh atau entah seperti apa, tapi nyatanya adiknya itu biasa saja setelah mendengarnya.


“Eh, tunggu! Mbak, bilang kalau lagi hamil? Mbak, hamil? Serius?”


Nayla mengangguk, “kamu nggak dengar? Mbak tadi, kan, udah ngomong.”


Andi menyengir kaku, ia terlalu fokus pada mangkuk bubur ayamnya, sehingga telinganya tidak menangkap terlalu jelas apa yang dikatakan kakaknya tersebut. Sudah pasti Andi merasa sangat bahagia, ia mengatakan kepada Nayla agar lebih berhati-hati dan selalu mengabarinya setiap perkembangan dari calon keponakannya tersebut. Kali ini, Fahad yang menjaga Nayla, Andi berharap ... musibah beberapa waktu lalu tidak lagi menimpa Nayla. Ia masih merasa bersalah akan hal itu.


Sepertinya, akan membutuhkan waktu yang lama untuk ia bisa kembali berjumpa dengan Nayla. Andi sangat rindu. Lelaki itu lebih sering tidur di kamar kakaknya saat kerinduan datang menghampiri. Nayla sedang hamil, tidak memungkinkan untuk kakaknya itu bepergian jauh. Kalaupun dokter mengizinkan, belum tentu Fahad juga memberi izin. Apapun itu, Andi selalu berdoa yang terbaik untuk kakaknya. Jika nanti, uangnya sudah terkumpul dan waktu kuliahnya sudah libur ... ia pasti akan menyusul ke India, menemui Nayla.


“Mbak, bahagia, kan?” tanya Andi tiba-tiba.


Nayla mengangguk pasti. Ia tidak berbohong. Memang ada rasa bahagia di hatinya, akan tetapi saat ia mengingat pernikahan kedua Fahad yang tetap akan dilaksanakan ... sudut hatinya kembali merasa sakit. Nayla tidak bisa melupakannya begitu saja. “Kenapa nanya gitu?”


Andi menggeleng, ia menepiskan sebuah senyuman. “Tanya aja. Mbak, jaga kesehatan, ya, jangan terlalu capek. Andi kangen, Mbak Nayla. Kalau, Mbak, belum bisa ke sini, nanti Andi yang ke sana.”

__ADS_1


***


Matahari semakin meninggi. Duduk di atas tempat tidur, berselonjor ... kakinya ia buat senyaman mungkin. Menyalakan layar komputer lipat yang ia pangku, membuka aplikasi drama Asia, Nayla mencari drama yang menurutnya menarik. Drama berlatar belakang sejarah menjadi pilihannya. The Great Quenn Seondeok. Drama tersebut tayang di tahun 2009, Lee Yo-Won didapuk sebagai pemeran utamanya. Drama yang mengusung sejarah kerajaan Silla—pada tahun 632 sampai 647. Seondeok, adalah penguasa ke 27 kerajaan Silla. Dia juga ratu pertama di kerajaan Korea.


Nayla sudah pernah menontonnya, menurutnya ... drama tersebut sangat apik. Semua orang berhasil dibawa ke jaman kerajaan Korea begitu menyaksikan adegan yang dibalut sangat rapi dan indah tersebut.


Satu episode selesai ia tonton, Nayla hendak melanjutkan di episode kedua, namun suara bel pintu memaksanya beranjak turun dari tempat tidur. Sejenak, Nayla berhenti. Ia tidak mempunyai janji temu dengan siapapun. Juga, tidak ada yang mengabarinya akan berkunjung ke apartemen. Memakai hijab, Nayla melangkah mendekat ke pintu utama apartemen. Memutar kunci, Nayla tarik knop pintu itu dengan perlahan. “Fahad?” terkejut. Suaminya sudah berdiri dihadapannya, menerobos masuk lalu mendekap tubuhnya. “Kok, di sini?” tanyanya setelah Fahad mengurai pelukannya.


“Nggak boleh?” tanya Fahad. Menutup pintu, mengajak istrinya untuk duduk di sofa.


“Kamu, kan, baru dua hari di sana. Ngapain balik ke sini?”


Fahad menghela napas, ia mencubit gemas pipi istrinya. Melepas jaket dan tas ransel yang masih melekat ditubuhnya, Fahad bersandar di punggung sofa. Ia menatap kedua mata Nayla dalam-dalam. Fahad mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan keadaan istri dan juga anak mereka. Menyentuh perut Nayla, Fahad tersenyum bahagia. Airmatanya memaksa ingin tumpah, namun ia masih bisa menahannya.


Fahad ingin menikmati waktunya bersama Nayla. Tidak ingin ada pembahasan lain kecuali mengenai kehamilan istrinya. Baru saja meneguk segelas air dingin yang disuguhkan Nayla, Fahad harus segera ke kantor karena mendapat panggilan dari Sahil. Menyiapkan baju kerja suaminya yang sedang berada di kamar mandi, Nayla ingin melayangkan protesnya sebab Fahad baru saja datang—namun, justru harus pergi lagi.


“Aku ikut boleh, nggak?” Nayla bertanya. Tangannya sibuk memasangkan kancing kemeja suaminya.


“Kapan-kapan, ya? Aku lagi buru-buru. Aku pulang cepat, kok.”


Nayla memberengut kesal. Tetapi, sedetik kemudian ... senyumnya mengembang penuh. Tangannya menepuk dada Fahad dengan lembut, “sudah selesai, jangan pulang terlambat, ya? Nanti aku masakin makanan India.”


Keduanya berjalan menuju pintu utama. “Sudah di sini saja, kamu nggak pakai hijab.” Fahad berujar sebelum membuka pintu. “Jangan capek-capek, aku nggak mau kamu sakit.” Tak lupa, Fahad juga mencium perut rata Nayla. “Papa berangkat kerja, baik-baik sama mama, ya? Papa sayang kamu.”


Nayla terenyuh, ini benar-benar menyayat hatinya. Semalam, Nayla sudah memikirkan. Ia akan pulang ke Indonesia dan mengurus perceraian setelah anaknya lahir nanti. Akan tetapi, apa yang baru saja ia lihat ... membuat hatinya terasa dicabik-cabik. Perceraian juga berarti anaknya akan jauh dari Fahad. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah suaminya seolah meruntuhkan dinding egois yang sedikit demi sedikit sudah semakin tinggi. Apakah ini adalah saatnya untuk ia lebih egois lagi? Bukan egois ingin mundur, namun egois mempertahankan suami dan rumah tangganya.

__ADS_1


“Aku cinta kamu, Istriku.” Fahad mendaratkan ciuman di kening Nayla lalu memeluknya, cukup lama. Hingga Nayla yang mengakhiri pelukan itu terlebih dahulu.


***


Nayla dengan cekatan menyiapkan makan malam untuk suaminya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, Fahad tak kunjung pulang. Membuatnya sedikit khawatir. Pasalnya, sejak berangkat tadi, Fahad tidak menghubunginya lagi. Jangankan menelpon, mengirim pesan pun tidak. Ponsel Nayla berbunyi, ada sebuah pesan.


“Sayang, aku pulang. Buka pintunya.”


Bibir Nayla melengkung membentuk sebuah senyuman, yang ia rindukan sudah pulang. Berjalan dengan cepat, Nayla membuka pintu, “kok, lama?”


Fahad tersenyum simpul, ia melangkah masuk, menyentuh puncak kepala istrinya. “Maaf, kamu nungguin lama, ya?”


Nayla mengangguk cepat. Masuk ke kamar, seperti biasa, Nayla melepas sepatu suaminya. Kali ini ia tidak diperbolehkan berjongkok oleh Fahad, suaminya itu memintanya untuk duduk di sofa tunggal. Barulah Fahad mengangkat satu persatu kakinya di pangkuan Nayla agar istrinya itu lebih mudah melepas sepatunya.


Fahad membiarkan Nayla mengerjakan apa yang biasa wanita itu kerjakan. Istrinya selalu berbakti, apapun yang terjadi. Tidak ada alasan yang mengharuskan ia menjatuhkan talak, tidak akan ia biarkan kata itu keluar dari bibirnya. Entah seperti apa Ammi dan bibi berusaha membuatnya menikah lagi, Fahad bersumpah tidak akan pernah menikah lagi. Cukup Nayla. Hanya Nayla yang menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.


Seusai membersihkan diri, Fahad dan Nayla duduk bersama. Menikmati makan malam. Sepiring berdua, Nayla yang meminta seperti itu. Sejak di Kashmir, keduanya sangat jarang makan dari piring yang sama. Sunnah yang satu itu bukan dengan sengaja mereka tinggalkan. Keadaan yang memaksa keduanya seperti itu.


“Aku kangen makan daging sapi.” Nayla berujar setelah menghabiskan makanannya.


Menaruh gelas ke meja setelah meneguk setengahnya. “Mau aku belikan daging?” tanyanya.


“Daging kambing, ya?” Nayla balik bertanya dan dijawab anggukan kepala oleh suaminya. “Enggak usah, Fahad, aku nggak terlalu suka kambing. Beli daging sapi di mana, ya?”


“Di pasar ada, Sayang, cuma kalau daging sapi memang sedikit jarang. Kamu tau sendiri, kan? Di sini, sapi itu dihormati, hewan suci. Cuma sapi kecil yang boleh disembelih. Tapi, ya, itu, jarang banget ada daging sapi.”

__ADS_1


Nayla harus rela mengubur keinginannya untuk memakan daging sapi. Bagaimanapun juga, ia harus menghormati kepercayaan yang sudah ada. Di India, sapi adalah hewan suci. Juga, wanita muslim tidak diizinkan untuk masuk ke area pemakaman. Pun juga tidak diperbolehkan melaksanakan salat di masjid. Mahzab yang dianut muslim India Utara berbeda dengan mahzab yang dianut oleh muslim Indonesia. Akan tetapi, di India selatan, mahzab yang mereka anut sama seperti mahzab yang dianut warga Indonesia. Bukan hanya di India, di berbagai negara sudah pasti mahzab yang dianut seorang muslim tidaklah sama. Umat muslim pasti bisa hidup berdampingan dengan baik dan damai, perbedaan mahzab tidak akan menjadi penghalang mereka untuk berteman dan bersilaturahmi.


***


__ADS_2