Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 27


__ADS_3

Siapapun, pasti ingin melupakan setiap hal buruk. Memaafkan siapa saja yang menggores luka. Berdamai dengan hati agar di setiap langkah kaki membawa, selalu bertabur kebaikan yang tak terhingga.


Dering ponsel yang nyaring membuyarkan lamunan Nayla. Ia mengambil benda pipih miliknya itu yang tergeletak di atas meja nakas. Tertera nama Andi di sana. Di gesernya icon panggil hijau itu lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.


“Mbak, kok, nggak telpon Andi? Udah lupa sama adik sendiri?”


Seruan Andi menyambut Nayla, membuat seulas senyuman terukir di bibir wanita itu. “Kok, nggak salam dulu?”


“Lupa. Assalamualaikum.”


“Wa'alaikumsalam. Apa kabar?” tanya Nayla.


“Tadinya nggak baik, tapi sekarang udah denger suara Mbak Nayla. Jadi baik, deh,” lega Andi setelah bisa mendengar suara kakaknya.


Perbincangan kakak adik itu berlanjut melalui sambungan video call. Kerinduan Andi pada Nayla sedikit terobati tatkala bisa melihat wajah kakaknya tersebut.


Layaknya anak yang sedang mengadu kepada ibunya, Andi menceritakan apa saja kepada Nayla. Juga ia yang merasa kesepian berada di rumah seorang diri. Sejak Nayla tidak ada di rumah, ia selalu tidur di kamar kakaknya. Dengan begitu, ia merasa bahwa Nayla berada di sampingnya. Selalu bersamanya.


“Tapi maaf, Mbak, bantalnya kemarin kena iler,” kata Andi sembari tertawa.


“Jorok!” seru Nayla. “Pokoknya nanti kalau Mbak udah pulang, beliin bantal yang baru.”


“Nggak punya duit!”


Mata Andi menangkap sebuah bingkai foto Aadil di meja nakas saat Nayla sedikit menggeser duduknya. Pertanyaan pun ia lontarkan akan siapa sosok anak kecil di dalam bingkai foto itu.


Nayla mengatakan bahwa anak kecil tersebut adalah putra dari Fahad, dan sudah meninggal. Sisanya, Nayla berjanji akan menceritakan nanti sesudah ia pulang ke Indonesia.


Tidak. Andi pun tidak merasa kecewa tentang sosok Fahad yang rupanya sudah mempunyai seorang anak. Hanya saja, Andi berpikir akan lebih baik berbicara semuanya dari awal. Bukankah seharusnya tidak ada kebohongan di setiap hubungan? Pikir Andi.


“Fahad nggak bohong, Andi, mungkin dia belum siap cerita soal masa lalunya. Mbak ngerti, kok, dia punya luka di masa lalu yang cuma dia aja yang ngerti rasanya seperti apa. Itu privasi Fahad. Meskipun nanti sudah berkeluarga, ada kalanya pasangan itu pengen punya privasi sendiri. Mbak nggak masalah soal itu.”


Penuturan Nayla membuat Andi diam seribu bahasa. Ya, memang benar. Setiap orang ingin mempunyai privasi, dan tidak semuanya harus di ceritakan. Terlebih jika itu sudah menyangkut luka hati. Entah seperti apa sulitnya seseorang itu menyembuhkan hatinya sendiri dari sebuah luka. Hanya dia yang terluka, yang mengerti kesulitan tersebut.


Satu jam sudah keduanya saling bertukar kabar dan cerita. Andi berniat panggilan video, sebab ia akan pergi ke rumah Mas Arif.


“Mbak Indah nyuruh ke sana. Nggak tahu mau di masakin apa.” Kata Andi.


“Ya, udah, hati-hati. Salam buat semuanya, ya.” Sambungan video call sudah terputus setelah ucapan salam.

__ADS_1


***


Senja semakin menampakkan keindahannya. Belum terlihat tanda-tanda kedatangan Fahad. Tak ada satu pesan ataupun panggilan dari pria itu. Nayla sudah lelah memeriksa ponselnya—yang mungkin saja ada pesan dari Fahad.


Merasa bosan, Nayla memilih turun ke dapur, membantu Hannah dan Ibu Fatimah. Ammi terlihat menghampiri calon menantunya.


“Nayla, kalau kamu nggak cocok sama makanannya, kamu boleh masak apa saja sesuai keinginan kamu.” Ammi tersenyum simpul. Ucapannya pun penuh dengan kelembutan.


“Iya. Aku bisa makan apapun, Ammi.”


Ammi terlihat sangat menyukai dan bisa menerima Nayla di tengah-tengah keluarga mereka. Nayla pun bisa merasakan itu. Bukan rahasia umum lagi, bahwa sangat sulit mendapat restu seorang pria India menikah dengan wanita asing. Pun sebaliknya.


Keluarga Fahad tidak seperti itu, mereka cukup open minded. Mereka bisa menyesuaikan perkembangan jaman, tidak terkungkung pada sebuah tradisi.


Setelah apa yang terjadi pada nasib rumah tangga Fahad, Ammi tak ingin lagu menjodohkan putranya dengan siapapun. Banyak yang menunjukkan foto wanita yang sepadan dengan keluarga mereka, namun Ammi menolak. Ia tak ingin membuat putranya kembali terluka.


Bukan perjodohan yang salah. Hanya saja, Ammi memilih memberi pilihan sendiri kepada putranya. Fahad sudah dewasa, sudah pasti ia bisa memilih mana yang baik dan buruk untuk dirinya sendiri.


Sedikit demi sedikit Nayla bisa menyesuaikan dengan kebiasaan keluarga Fahad. Perbedaan budaya, adat, dan tentu perbedaan cara berpikir sebuah keluarga sudah tak dapat di pungkiri, itu pasti ada. Sejauh ini, Ammi dan Nayla bisa memahami akan hal itu.


Tak mengapa, mereka berusaha menyatukan perbedaaan itu menjadi sebuah keunikan tersendiri. Sangat menyenangkan berbagi kebiasaan pada masing-masing negara. Entah dari makanan, cara memasak, cara berpakaian dan lain sebagainya. Pembicaraan tentang perbedaan budaya itu sangat menyenangkan.


“Wa'alaikumsalam, Nak,” jawab Ammi. Ia mencium pipi putri bungsunya.


Yumna menyapa Nayla, “hai, Kakak ipar.”


“Hai, Yumna. Bagaimana kuliahmu?”


“Membosankan!” seru Yumna yang mendapat tawa dari semua orang. Ia berpamitan masuk ke ajang setelah sebelumnya ia mengambil sebotol air dingin dari kulkas.


“Ammi, Nayla permisi sebentar.” Nayla meletakkan pisau yang ia gunakan memotong sayur. Ia segera berlalu dari dapur setelah Ammi mengiyakan ucapannya.


Di ketuknya pintu berwarna putih itu dengan perlahan lalu memanggil nama Yumna. Senyuman manis menyambut Nayla tatkala Yumna membuka pintu. Ia mempersilahkan calon kakak iparnya tersebut untuk masuk.


“Kakak, apa Kak Fahad memarahimu semalam?” tanya Yumna.


Nayla menggeleng, “aku justru mau minta maaf sama kamu. Fahad udah ngebentak kamu, dan semua itu gara-gara aku.”


“Enggak, Kak. Aku nggak apa, kan, emang aku yang salah.” Yumna menggenggam tangan Nayla. Sorot mata itu menyiratkan sebuah kejujuran, bahwa ia tidak menyalahkan Nayla atas kemarahan Fahad kepadanya semalam.

__ADS_1


Yumna berkata; ia sudah terbiasa dengan amarah kakaknya yang tiba-tiba. Ia cukup memahami luka hati yang selama ini Fahad rasakan.


“Benar, kamu nggak apa?” Nayla memastikan.


Yumna mengangguk, tersenyum tulus sepenuh hati. “Nanti aku minta maaf kalau Kak Fahad udah pulang.”


***


Cahaya rembulan serta dinginnya malam menyambut Nayla. Kekasihnya tak kunjung pulang. Rasa rindu itu menusuk relung hati Nayla. Sesudah makan malam dan membantu Hannah membersihkan semua peralatan makan, Fahad tak kunjung pulang ataupun hanya sekedar mengirim pesan bahwa ia akan pulang terlambat.


Nayla merasa sungkan jika ia yang harus mengirim pesan lebih dulu, menanyakan kapan kekasihnya itu pulang. Ia takut menganggu pekerjaan Fahad yang sudah terbengkalai karena urusan bagi mereka yang terpisah jarak.


Masih dengan memakai hijabnya, Nayla duduk di lantai kamar, ia bersandar pada tempat tidur. Memeluk lututnya serta merasakan angin yang menerpa wajahnya dari jendela yang sengaja ia buka.


Kenapa belum pulang? Ini udah malam. Mau pulang jam berapa?


Hati Nayla terus bertanya-tanya. Ia memejamkan mata, lebih merasakan angin, agar kerinduannya ikut tersapu angin. Berharap angin yang membawa rindu itu sampai pada tujuannya, Fahad.


“Angin rindunya yang sepoi-sepoi aja, jangan ngamuk. Kasihan yang nggak rindu jadi ikut ke sapu rindu,” gumam Nayla yang membuat ia tertawa geli sendiri dengan mata yang masih terpejam.


Sebuah sentuhan lembut mendarat di pipi. Keterkejutannya memaksa matanya untuk terbuka. Wajah yang ia rindukan sudah berada tepat di depan matanya.


“Kamu udah pulang?”


Fahad mengangguk, “iya, Sayang. Ini aku udah di depan kamu. Kangen, ya?” Fahad menyentil hidung Nayla.


Sebuah pukulan Nayla layangkan, tepat mengenai lengan Fahad. “Jahat, ih! Katanya pulang cepat, tahunya sampai malam.” Nayla memberengut kesal.


“Katanya kangen.” Fahad mengaduh. “Kok, di pukul? Di mana-mana, orang kangen itu di cium.”


Satu pukulan kembali di terima Fahad di tempat yang sama. “Ngaco, ih!”


“Iya, iya, maaf. Aku sibuk banget, sampai lupa ngabarin kamu.” Fahad menyentuh lembut kepala Nayla. “Kamu udah makan?” tanyanya yang di jawab anggukan kepala oleh Nayla.


“Kamu udah?” tanya Nayla balik.


Fahad juga mengangguk, “aku mandi dulu, kamu tunggu di sini aja. Nanti kita turun bareng-bareng.”


Nayla mengiyani perintah Fahad, ia tetap berada di kamar dengan pintu yang terbuka lebar. Agar tak ada kesalahpahaman jika seseorang mendapati mereka bersama.

__ADS_1


***


__ADS_2