Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 22


__ADS_3

Nayla mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tetap memandang foto anak kecil tersebut. Anak lelaki tampan, menggemaskan dan tawanya terlihat penuh dengan kebahagiaan. Tangan Nayla meraba foto tersebut, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.


Tetapi, tak lama, rasa penasaran akan siapa anak kecil tersebut kembali mengusik hatinya. Selama ini, Nayla tidak pernah bertanya tentang masa lalu Fahad sampai dalam. Ia takut jika Fahad merasa tersinggung oleh pertanyaannya. Pun dengan Fahad yang tidak pernah menceritakan masa lalunya secara detail pada Nayla. Fahad hanya mengatakan bahwa ia duda, ia bercerai dengan istrinya dua tahun yang lalu.


“Apa dia anaknya Fahad?” tanya Nayla pada dirinya sendiri. “Wajahnya memang mirip Fahad, terutama mata ini. Sangat mirip dengan Fahad. Seperti fotocopy-an.” Nayla tenggelam dalam kebingungan.


Ketukan pintu menyadarkan Nayla dari lamunan akan rasa penasarannya. Dengan cepat ia meletakkan bingkai foto anak kecil tersebut ke tempatnya semula. Terdengar suara Fahad yang memanggilnya. Nayla segera beranjak membuka pintu.


“Aku pikir kamu tidur,” kata Fahad setelah pintu itu terbuka.


“Enggak. Ada apa?” tanya Nayla. Fahad mengatakan niatnya yang ingin mengambil baju ganti miliknya yang terdapat di lemari kamarnya. Nayla mempersilahkan Fahad masuk, dengan pintu yang tetap terbuka lebar.


“Sebentar lagi kita turun untuk makan siang, nanti aku ke sini lagi.” Fahad sudah mengambil baju gantinya.


“Iya. Aku mandi dulu,” kata Nayla. Fahad melangkah hendak keluar kamar. Namun panggilan dari Nayla menghentikan langkah kakinya.


Ia berbalik dan kembali mendekat kepada Nayla. “Iya, ada apa?” tanya Fahad.


Bibir Nayla terasa kelu. Ia menatap kedua manik mata Fahad bergantian. Ia sangat ingin bertanya tentang foto anak kecil tersebut. Anak yang berusia sekitar satu tahun itu. Namun, keraguan serta Nayla yang takut Fahad merasa tersinggung, lebih memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya.


“Kamu mau ngomong apa?” tanya Fahad.


Nayla menggeleng, “nggak ada apa-apa. Aku cuma manggil aja.”


Fahad merasa gemas pada Nayla, di tariknya hidung mungil itu dengan gemasnya. “Jangan bikin aku gemas, aku takut kebablasan.” Fahad berujar.


Nayla mencebik, “jangan aneh-aneh! Udah sana keluar, aku mau mandi.” Fahad terkekeh, ia pun keluar kamar lalu menutup pintu tanpa menimbulkan suara.


***


Fahad naik kembali ke lantai atas, ia mengajak Nayla untuk turun ke ruang makan. Sebab, Ammi dan kedua adiknya sudah menunggu. Tidak ada meja makan, mereka makan di lantai bawah beralaskan karpet yang cukup tebal. Di sisi ruang makan yang lain, terdapat meja makan yang entah kenapa mereka tidak menggunakan meja kursi itu untuk makan. Nayla dibuat heran oleh hal itu.

__ADS_1


“Sekarang musim panas, kita biasa makan di bawah seperti ini. Sama kayak kamu dan Andi. Kalau musim dingin, kita baru makan di meja makan,” tutur Fahad yang sudah duduk berdampingan dengan Nayla dan Ammi.


Fahad seolah mengerti pertanyaan di benak Nayla. “Tapi kita lebih sering makan di meja makan, Ammi akan kesulitan untuk bangun kalau makan di bawah seperti ini.” Lanjut Fahad.


“Kalau gitu, kenapa nggak makan di meja makan aja?” tanya Nayla pada Fahad.


Fahad tersenyum, “Ammi mau kamu ngerasain makan seperti orang Kashmir. Karena di sini memang seperti itu. Makan lesehan.”


“Ya, udah, besok-besok makan di meja makan aja. Kasihan Ammi.” Kata Nayla.


Mereka segera memulai acara makan siang. Ini kali pertama Nayla memakan makanan khas Kashmir. Ada biryani dan beberapa makanan lainnya. Nayla memandang sajian makanan itu dengan tanda tanya besar di kepalanya. Entah ia bisa memakan makanan yang asing di lidahnya itu atau tidak. Untuk biryani, Nayla sudah tak asing dengan menu makanan tersebut. Namun, untuk menu makanan lain?


“Sayang, ini pasti cocok di lidah kamu. Di Indonesia juga ada yang seperti ini.” Fahad mengambilkan matschgand di piring Nayla. “Matchgand ini rasanya enak. Dia dari daging. Kayak bakso, kan?” Nayla mengangguk. “Kuah merah ini pedas, kamu pasti suka.” Kata Fahad.



Pict by : Blog.kesari.in


“Iya, Bi—”


“Panggil aku Ammi, sama seperti Fahad. Jangan bibi.” Tukas Ammi.


Nayla tersenyum simpul, “iya, A-Ammi.”


“Selamat makan, Kakak ipar.” Kompak Yasmin dan Yumna.


Ammi tersenyum bahagia tatkala ia bisa melihat senyuman Fahad, putranya. Sudah dua tahun sejak perceraian, putranya itu berubah menjadi pribadi yang pendiam, terkadang juga menjadi pribadi yang mudah marah. Putranya juga berubah menjadi seseorang yang ‘gila kerja’. Setiap hari putranya itu akan berangkat pagi ke kebun saffron, lalu pulang larut malam. Fahad juga tidak pernah makan bersama seperti saat ini, saat ada Nayla.


Sejak mengenal Nayla, Ammi merasa putranya sudah kembali seperti sebelumnya. Putranya yang berkepribadian hangat dan sangat menyayangi keluarga. Dulu, Fahad tidak pernah melewatkan makan bersama dan selalu ada waktu untuk keluarga. Fahad tidak akan pernah pulang larut malam. Pun jika Fahad berada di New Delhi, mengurus perusahaan yang tengah ia bangun, Fahad tidak pernah sehari saja tanpa menelpon Ammi dan kedua adiknya. Namun, semua berubah ketika perceraian itu datang.


***

__ADS_1


Sesudah makan siang, Fahad dan Nayla duduk di ruang keluarga bersama Ammi. Sementara Yasmin dan Yumna, mereka masuk ke kamar masing-masing di lantai dua.


Fahad tengah melakukan panggilan suara dengan seseorang yang Nayla tidak tahu itu siapa. Pun dengan pembicaraan apa yang sedang Fahad bahas. Nayla sama sekali tidak mengerti Bahasa Kashmiri, ia hanya sedikit tahu tentang Bahasa Hindi. Itupun hanya—satu dua kata saja.


Nayla terlihat mengupas buah jeruk lalu menyuguhkannya untuk Ammi. “Nayla, apa Ammi bisa bertanya sesuatu sama kamu?”


“Iya. Ammi mau bertanya apa?” tanya Nayla. Fahad yang mendengar, memilih mengakhiri panggilannya dan berpura-pura sibuk dengan komputer lipat yang ia pangku.


Ammi menyentuh jari jemari Nayla. “Nak, Ammi sudah tua. Kapan kalian akan menikah?”


Pertanyaan Ammi serasa menghujam jantung Nayla. Ia sungguh tak menyangka jika Ammi akan bertanya tentang pernikahan secepat ini. Kapan menikah? Nayla dan Fahad belum membicarakannya lebih lanjut. Ya, Fahad memang selalu mengatakan tentang pernikahan, tapi itu semua belum benar-benar mencapai kapan dan bagaimana pernikahan mereka akan berlangsung. Hanya sekedar ucapan semata, bagi Nayla.


“Ammi, Nayla—”


“Ammi.” Fahad meletakkan laptopnya di atas meja, ia duduk di bawah, diantara Ammi dan Nayla. “Kita akan segera menikah, tapi belum untuk waktu dekat ini. Ammi tahu sendiri, kan? Aku sangat sulit mendapatkan cinta wanita yang sedang duduk di samping Ammi ini. Apalagi untuk menikah, aku harus lebih berjuang untuknya,” tutur Fahad dengan lembut sembari menggenggam tangan Ammi.


“Fahad, Ammi sudah tua. Sebelum Ammi di panggil Allah, Ammi ingin melihat kalian menikah.”


“Ammi, jangan bicara itu lagi. Fahad nggak suka. Berapa kali Fahad bilang, Ammi akan tetap bersama kami. Sampai nanti Fahad nikah dan punya anak. Juga sampai kedua putri Ammi menikah dan punya anak. Ammi akan selalu sehat dan bersama kita.”


Penuturan Fahad membuat Nayla terdiam seribu bahasa, entah reaksi seperti apa yang harus ia tunjukkan. Terkejut, bahagia, atau justru merasa sedih. Kini Fahad juga meraih tangannya, tersenyum simpul kepadanya. “Sayang, sebelum kita berangkat ke India, kita udah berbicara tentang pernikahan, kan?” tanya Fahad yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari Nayla.


“Kita udah sepakat kalau nanti kamu udah pulang ke Indonesia, kita segera ngurus surat dan syarat-syarat pernikahan, kan?”


Hah? Kapan? Tanya Nayla dalam hati.


“Iya, kan, Sayang?” tanya Fahad lagi.


“I-iya.” Nayla mengangguk. Entah seperti apa nanti, yang jelas ia harus mengangguk untuk saat ini.


***

__ADS_1


__ADS_2