Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 11


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Nayla hanya diam saja. Ingin rasanya ia mengatakan jangan pergi, tapi ia urungkan niatnya itu. Nayla terus saja melihat ke arah kiri, ia menyembunyikan wajahnya agar Fahad tidak melihatnya yang sedang menangis.


Fahad harus segera kembali ke negaranya, ada sebuah pertemuan penting mengenai perusahaan yang baru ia bangun dan tidak bisa di wakilkan oleh siapapun.


“Sayang?” Fahad mencoba memecah keheningan.


Nayla menghapus air matanya, “iya?” sahutnya tanpa menoleh pada Fahad.


“Penerbanganku besok jam tujuh malam, aku akan segera kembali kesini,” ucap Fahad yang tidak mendapat jawaban apapun dari Nayla.


Nayla berpikir, Fahad sudah mempermainkan hatinya. Pria itu datang, mengatakan cinta dan tanpa rasa lelah, pria itu terus saja mencoba meraih hati dan juga cintanya. Namun, kini setelah ia mulai memiliki rasa cinta yang sama kuatnya, Fahad justru meninggalkannya ... kembali ke India tanpa ada kejelasan hubungan di antara mereka berdua.


Saat mobil sudah sampai di depan rumah, Nayla mengucapkan terima kasih dan segera turun tanpa melihat ke arah Fahad.


Fahad turun, ia memanggil-manggil Nayla. Namun wanita itu mengabaikannya dan terus berjalan masuk ke rumah.


Nayla ambruk di kasur, menangis—menahan suara isaknya. Tidak rela rasanya jika Fahad harus pergi.


“Kenapa kamu harus pergi setelah semua yang kamu lakukan? Kamu membuatku jatuh cinta, kamu membuat dua minggu ini penuh dengan kenangan manis yang nggak mungkin pernah aku lupain seumur hidupku. Tapi sekarang, kamu akan pergi. Seharusnya aku nggak jatuh cinta sama kamu. Kamu nggak salah, ini salahku. Seharusnya aku nggak jatuh cinta sama kamu, Fahad.”


Nayla meremas bantalnya, ia menangis—meratapi hatinya sendiri yang sudah ia tautkan di hati Fahad.


“Ibu, Nayla belum pernah jatuh cinta. Tapi, sekali Nayla jatuh cinta, kenapa pria yang Nayla cintai justru pergi, Bu? Kenapa?” gumam Nayla sembari menatap foto almarhumah sang ibu yang terpajang rapi di meja nakasnya.


Setelah lama Nayla menangis, ia pun beranjak bangun untuk pergi ke kamar mandi, membasuh wajahnya. Sebelum kembali ke kamar, ia terlebih dulu berjalan ke arah kamar Andi, di lihatnya adiknya itu sudah tidur dengan nyenyaknya


***


Pagi itu cuaca cukup cerah, sejak pagi Nayla sudah mengatakan pada Andi bahwa ia akan pergi ke taman. Andi merasakan tubuhnya demam, sehingga membuat ia terpaksa tidak masuk kuliah.


“Andi, nanti kalau Fahad kesini jangan bilang kalau Mbak lagi di taman, ya?”


“Mbak, ini pergi ke taman sendirian aja?”


“Iya.”


“Kenapa nggak sama Fahad? Mbak, ada masalah sama dia?” selidik Andi.


“Nggak ada masalah. Biasanya Mbak kan juga pergi ke taman sendiri.”

__ADS_1


“Iya, tapi—”


“Nggak ada apa-apa, Andi. Mbak cuma lagi pengen sendiri aja,” tukas Nayla.


Andi tak lagi bertanya, ia menghargai niat kakaknya itu untuk ingin sendiri. (Untuk sementara waktu)


“Mbak, hati-hati. Jangan lama-lama di sana,” kata Andi.


“Iya. Obat kamu udah Mbak taruh di meja, jangan lupa di minum.”


Andi mengangguk, mengiyani pesan kakaknya.


***


Pukul 11.00 WIB ...


Sejak pagi Fahad sudah mengirim pesan dan mencoba menelpon Nayla. Namun tak satupun pesannya terkirim dan sambungan teleponnya tidak tersambung sama sekali. Fahad mulai gusar, ia memutuskan untuk datang ke rumah Nayla.


Fahad mengetuk pintu rumah Nayla, tak lama Andi membukakan pintu tersebut. “Fahad?”


“Iya. Andi, di mana Nayla?” tanya Fahad.


“Hah? Mbak Nayla?”


“Nayla nggak bisa aku hubungi sejak pagi, Andi. Kalau dia cuma ke rumah kakaknya, kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi. Nayla ke mana?” sekali lagi, Fahad mencoba bertanya.


“Aku nggak tahu, Fahad. Mbak Nayla nggak ngomong apapun.”


Bahu Fahad merosot lemas, ia mengusap kasar wajahnya. Bingung harus bagaimana lagi menghubungi Nayla. “Aku balik ke hotel, Andi,” pamit Fahad.


Andi mengangguk, ia kembali masuk lalu menutup pintu. Andi masih berdiri di balik jendela, di singkapnya tirai jendela itu dan melihat Fahad yang tengah sibuk dengan ponselnya—terlihat sedang menghubungi seseorang.


“Nayla, kamu di mana?” Fahad menendang ban mobil, ia sungguh gusar memikirkan Nayla yang tidak bisa ia hubungi sejak pagi.


Andi masih memandang Fahad, ia memutuskan untuk keluar dan mengatakan keberadaan Nayla. “Fahad?” panggil Andi. “Mbak Nayla ada di taman. Maaf, Mbak Nayla larang aku buat kasih tahu kamu.”


Fahad yang mendengar ucapan Andi, terlihat mengulas senyumannya. Ia bergegas menyusul Nayla setelah sebelumnya ia berterima kasih pada Andi karena sudah keberadaan Nayla dan memberitahu lokasi taman lewat aplikasi GPS.


***

__ADS_1


Mendung datang, satu persatu para pengunjung bergegas untuk kembali pulang. Berbeda dengan Nayla, ia tetap duduk di salah satu kursi taman yang terbuat dari besi itu seorang diri. Tak peduli langit mulai gelap dan air hujan bersiap untuk membasahi bumi. Tatapan Nayla lurus ke depan, pandangan matanya kosong. Entah apa yang ada di pikirannya, yang Nayla tahu ... ia hanya ingin sendiri.


Fahad menyusuri setiap sisi taman, mencari sosok wanita yang sangat ia khawatirkan sejak pagi. Mata Fahad tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi seorang diri. “Nayla ....” Lega Fahad begitu ia tahu bahwa Nayla-lah yang duduk seorang diri itu.


Fahad berlari, ia menghampiri Nayla dan duduk di sebelahnya. “Sayang, aku khawatir sama kamu.”


Nayla menoleh, terkejut pasti. Tapi sebisa mungkin ia menahan air matanya yang sudah menggenang agar tak menetes barang sedikitpun.


“Sayang, ayo kita pulang.” Fahad hendak meraih tangan Nayla, namun tangannya di tepis kasar oleh Nayla.


“Kenapa kamu masih di sini? Kamu mau pergi, kan? Pergi sekarang! Jangan ke sini lagi!” seru Nayla. Terlihat jelas sorot mata penuh amarah dan kekecewaan.


“Sayang, aku—”


“Apa?!” Nayla beranjak berdiri, ia berteriak pada Fahad. “Jangan balik ke sini lagi!” Nayla berbalik, ia hendak berlari menjauhi Fahad.


“Sayang.” Fahad menahan tangan Nayla. “Aku cuma sebentar, aku pasti kembali,” tutur Afsal lembut, berusaha memberi pengertian pada Nayla.


Hujan mulai turun dengan derasnya. Di bawah guyuran hujan itu mereka bertengkar layaknya seorang sepasang kekasih. Tapi entahlah, nyatanya belum ada status yang jelas di antara mereka.


Ucapan Fahad justru membuat Nayla semakin marah. “Kamu mau apa lagi, Fahad? Apa?” Nayla menangis, air matanya sudah tak terbendung.


“Kamu datang, kamu bawa cinta. Dan sekarang, setelah aku juga mulai jatuh cinta, kamu mau pergi dengan seenaknya! Harusnya dari awal aku nggak biarin hati aku kamu ambil, harusnya aku nggak jatuh cinta, harusnya aku bisa lebih sadar diri kalau aku ini emang nggak pantas untuk jatuh cinta sama kamu!” Nayla berteriak. Di dorongnya tubuh Fahad, dan ia pun berlari menjauhinya.


Fahad menyusul Nayla, langkah kakinya yang lebar itu mampu meraih tangan wanita itu.


“Sayang, dengar aku.” Fahad menangkup kedua sisi wajah Nayla. “Aku nggak pergi kemanapun, aku di sini, sama kamu. Ada pekerjaan penting tentang perusahaan dan itu nggak bisa di wakilkan oleh siapapun. Aku harus datang sendiri.”


Nayla menatap kedua manik mata Fahad, mencari keseriusan dari sorot mata pria berkulit putih itu.


“Aku cinta sama kamu, aku nggak pernah main-main sama perasaanku. Aku serius. Secepatnya aku bakal balik ke sini dan nikah sama kamu. Aku nggak bakal bilang soal janji, tapi aku bakal buktiin kalau aku benar-benar serius dan aku cinta sama kamu.”


“Jangan, jangan kayak gini. Jangan buat aku semakin cinta sama kamu, jangan ....” Ucap Nayla lemah, ia menunduk dan masih menangis.


“Aku cinta sama kamu, aku nggak bakal bikin kamu menyesal menaruh hati kamu di hati aku.” Fahad berucap penuh penekanan.


“Ayo, pulang. Nanti malam aku jemput,” ajak Fahad dan Nayla pun menurut. Fahad menggandeng tangan Nayla dan membawanya untuk masuk ke mobil.


Di dalam mobil, sesekali Fahad mengusap lembut kepala Nayla yang basah, tidak tega ia melihat Nayla seperti ini. Ingin rasanya ia memeluk, memberi ketenangan padanya. Tapi ia tahu, Nayla tidak akan suka hal itu, ia sangat mengenal bagaimana Nayla.

__ADS_1


Wanita yang ia cintai itu tidak akan suka jika di peluk oleh pria yang belum menjadi apa-apanya.


***


__ADS_2