
Malam itu, menjelang tidur ... Fahad dan Nayla berdebat cukup hebat. Perdebatan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Nayla bahkan menangis, ia menyuruh Fahad untuk segera pergi ke Kashmir. Nayla mendorong tubuh Fahad, memukul dada bidang suaminya. “Pergi, Fahad, pergi!” Nayla berteriak. “Besok kamu nikah, Fahad, pergi sekarang!”
“Nayla!” suara Fahad menggelegar. Tangannya berada di kedua lengan Nayla, memandang wajah istrinya yang penuh rasa kecewa itu. “Aku mohon, hentikan semua ini. Aku nggak bisa lihat kamu—”
“Pergi, Fahad, pergi.” Nayla meminta dengan suara terendahnya, ia benar-benar memohon. Suaminya harus segera pergi ke Kashmir. Harus! “Jangan buat Ammi kecewa, jangan buat Ammi sedih. Kamu harus menikah lagi, Fahad.”
“Nayla! Berhenti mengatakan hal bodoh!” Fahad semakin marah. Ia meninggalkan Nayla, membanting pintu apartemen dengan sangat keras. Sampai matipun Fahad tidak akan pernah mau menikah lagi. Tidak akan pernah!
Nayla terduduk lemas, air matanya tidak mengering barang sedikitpun. Dengan cara apa lagi agar suaminya itu pergi ke kahnur dan menikah lagi. “Maafin Nayla, Ammi. Maaf.” Tangisan pilu itu semakin menyayat hati. Ammi, mertuanya tidak akan pernah memberi maaf jika Fahad tidak menikah lagi.
“Mbak, sudah.” Andi mendekati Nayla, ia hapus air mata yang masih mengalir deras itu. “Fahad nggak mau pergi, jangan paksa dia lagi, Mbak. Jangan.” Selama beberapa hari Andi selalu mengawasi setiap apa yang ia lihat dan apa yang sudah ia pelajari. Bahwa Fahad memang benar-benar mencintai kakaknya, dan pria itu rela melakukan apapun demi sang istri. “Biar Fahad di sini, biar Fahad memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami, Mbak. Jangan suruh dia pergi.”
Nayla menggeleng keras. “Iya, Fahad memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi, karena itu ... Fahad tidak memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak. Kasihan Ammi, dia berhak atas Fahad.”
“Mbak, Fahad sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak, kakak, dan suami. Fahad sudah melakukan yang terbaik. Jangan paksa dia lagi, Mbak, jangan.” Menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya. Andi tak kuasa melihat air mata yang terus saja mengalir itu. Kakaknya terlalu keras kepala. Nayla memberikan kebahagiaan untuk mertuanya—namun rasa sakit yang harus ia telan seorang diri. Tidak adil. Sangat tidak adil.
Nayla melakukan semua itu bukan untuk memperbaiki namanya sendiri. Ia berpikir, sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah menemukan kebahagiaan. Maka dari itu, Nayla memutuskan untuk mundur. Fahad akan memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak. Selama ini, Fahad sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Nanti, setelah perceraian ... Nayla juga tidak akan menghalangi Fahad untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah. Ia akan memberikan izin jika Fahad ingin bertemu dengan anak mereka, nanti
“Sudah, Mbak, jangan memaksa menyakiti diri sendiri. Aku tau, Mbak, juga sakit nyuruh Fahad pergi. Jadi, stop, jangan menyuruhnya melakukan apapun lagi.” Andi berujar. Ia mengurai pelukannya, mengantar Nayla masuk ke kamar. Ia membantu kakaknya untuk berbaring. Menarik selimut hingga menutupi separuh tubuh Nayla. “Mbak,” menyentuh lembut puncak kepala Nayla. “Sudah malam, jangan berpikir tentang apapun.”
Mematikan lampu utama kamar, Andi menutup pintu dengan perlahan. Matanya bertemu dengan Fahad yang baru saja masuk. Keduanya menuju sofa, duduk bersama. Helaan napas lelah terdengar dari Fahad dan Andi. Dua pria yang sangat menyayangi Nayla itu mendesah kesal, bingung, takut ... semuanya menjadi satu. Hati siapa yang tidak akan sakit melihat kegigihan seorang wanita hamil yang menyuruh suaminya untuk pergi dan menikah lagi. Andi sudah yakin, bahwa Fahad akan mempertahankan Nayla. Kakak iparnya itu memberikan segalanya. Segala perhatian dan juga cinta selalu menjadi pemandangannya setiap hari.
“Untuk sementara, jangan menemui Mbak Nayla dulu.” Andi membuka suara. “Dia pasti menyuruhmu pergi lagi,” imbuhnya.
“Aku tetap di sini, Andi, aku tetap bersama Nayla.” Fahad bersungguh-sungguh.
Nayla mencoba memejamkan matanya, tubuhnya sangat lelah, ia ingin segera tidur. Air matanya sudah tidak lagi mengalir, namun berbagai pikiran berkecamuk—berlarian di benaknya. Dadanya terasa sangat sesak setelah mendapat telpon dari seseorang. Nayla sangat takut, bagaimana jika itu benar terjadi? Bagiamana ia bisa hidup dengan baik? Jika ia masih hidup, jika tidak?
***
__ADS_1
“Fahad.” Nayla menggoyangkan bahu suaminya. “Bangun, salat subuh dulu.”
Fahad menggeliat, tubuhnya terasa sakit sebab tidur di sofa ruang tv. Matanya mengerjap, menyesuaikan akan bias cahaya. Panggilan dari istrinya kembali terdengar, Fahad memaksakan matanya untuk terbuka. “Sayang, wajah kamu pucat banget.” Berdiri, tangan Fahad menyusuri setiap inci wajah istrinya. Keringat dingin menetes dari pelipis.
“Kamu salat dulu, habis itu berangkat ke Kashmir.” Nayla berucap, ia meringis kesakitan. “Aku—”
“Kamu mau melahirkan?” panik Fahad. Tanpa menunggu jawab Nayla, Fahad segera membangunkan Andi. Meminta adik iparnya itu untuk menunaikan salat subuh terlebih dahulu, baru kemudian mereka akan pergi ke rumah sakit.
Nayla sudah salat, ia mengganti bajunya dengan daster lengan panjang lalu memakai jilbab. Kakinya terasa lemas, perutnya semakin sakit. Mengeluarkan satu tas dari dalam lemari—yang didalamnya terdapat baju gantinya dan juga beberapa perlengkapan bayi. Nayla sudah menyiapkan semuanya sesuai saran Mbak Indah, agar menyiapkan semua keperluan melahirkan dalam satu tas. Nayla membuka pintu kamar, sudah ada Andi di depan kamarnya. “Andi, ayo antar mbak ke rumah sakit.”
“Mbak, tapi Fahad—”
“Fahad mau ke Kashmir, Andi, nanti jam satu dia akad nikah.” Nayla menukas. Perutnya semakin sakit, tangannya mencengkeram kuat lengan adiknya. “Ayo.” Ajaknya.
“Ayo.” Fahad keluar kamar, ia membantu Nayla berjalan. “Jangan bicara lagi!” tukasnya saat melihat Nayla akan berbicara. Fahad tau, Nayla pasti menyuruhnya pergi ke Kashmir.
Sesampainya di rumah sakit, Nayla memaksa untuk berjalan menuju ruang persalinan. Mengikuti saran dari dokter dan juga kakak iparnya, agar lebih banyak berjalan untuk memperlancar proses melahirkan. Tanpa Nayla sadari, energinya semakin menipis. Semalaman ia tidak tidur, dan sekarang ia harus melahirkan dengan kondisi tubuh yang lemah.
Keringat dingin semakin deras, rasa sakit itu semakin bertambah. Fahad meminta agar Nayla melakukan operasi
caesar, namun istrinya itu menolak—mengatakan bahwa ia pasti bisa melahirkan normal. Dering ponsel Fahad terdengar, nama Yasmin tertera di sana.
“Angkat, Fahad, dan cepat pergi ke Ammi. Sekarang, ya? Pergi.” Nayla berujar sembari meringis kesakitan. Perutnya semakin sakit. Sangat sakit.
“Sayang, jangan pikirin apapun lagi. Jangan ngomong apa-apa lagi. Aku di sini, sama kalian.” Fahad mendaratkan sebuah ciuman singkat di kening sang istri.
“Fahad, tolong sampaikan permintaan maafku ke Ammi. Maaf, aku nggak bisa jadi menantu yang baik. Sampaikan ke Ammi, Fahad.
Fahad dan Andi menghela napas, mereka benar-benar tidak habis pikir tentang apa yang sedang dipikirkan Nayla. Dengan semua rasa sakit yang menjadi satu, wanita itu masih sempat memikirkan orang lain—memohon maaf atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Nayla menantu yang baik, kakak ipar yang baik, juga istri yang sangat baik. Fahad menjadi saksi atas semua kebaikan istrinya.
__ADS_1
Dokter mengatakan, pembukaan sudah sempurna. Andi diminta untuk keluar, hanya Fahad yang diperbolehkan untuk berada di samping Nayla.Tangannya dan Fahad saling menggenggam kuat, Nayla kerahkan semua kekuatan agar putri mungil itu bisa lahir dengan selamat. Segala doa Nayla panjatkan, berharap putrinya menjadi pribadi yang baik, selalu ingat akan kewajiban dan menjauhi apa yang dilarang oleh agama.
“Dorong yang kuat, Bu.” Dokter mengarahkan. Tak lama, suara tangis bayi memenuhi ruang bersalin itu. “Selamat, Bu, bayinya sehat dan cantik.” Dokter memberikan bayi mungil itu kepada suster, agar dibersihkan dan dipakaikan baju.
Fahad mendekati tubuh lemah Nayla, ia berikan ciuman yang cukup lama. Ucapan terima kasih ia sematkan diantara airmata yang menetes. Dada Fahad bergemuruh tatkala bayi mungil itu berada digendongannya. Cantik, sangat mirip dengannya. Mata itu, mata sang ibu—mata Nayla. Fahad mengadzani sang putri, senyum serta tangis bahagia memenuhi ruang bersalin tersebut.
Nayla tersenyum. Semua rasa sakitnya hilang, bahkan sudah tak terasa lagi. Melihat Fahad menggendong putri mereka—rasa syukur tak henti Nayla ucapkan. Betapa berharganya putri dan juga suaminya. Tidak. Nayla segera menyadarkan dirinya sendiri. Semua sudah selesai, senyuman itu pudar. Tidak akan ada cerita diantara dirinya dan juga Fahad. Semua sudah berada di penghujung jalan. Selesai.
“Dok, Ibu Nayla pendarahan!” seru salah satu suster.
Panik. Fahad memanggil nama sang istri, namun tidak ada sahutan. Bayi itu diambil alih oleh suster lain, membawanya ke ruang perawatan khusus bayi. Dokter mengusir Fahad, pria itu didorong agar keluar. “Pak, Ibu Nayla mengalami pendarahan hebat. Jadi, tolong tunggu diuar!”
“Nayla!” Fahad mengeratkan giginya. Ada apa ini? Ada apa dengan Nayla? Fahad bertanya pada diri sendiri. Air mata bahagia itu kini tergantikan oleh airmata ketakutan. Sungguh, Fahad sangat takut.
“Fahad, ada apa sama Mbak Nayla?!” Andi meminta penjelasan. Tadi, ia mendengar tangisan bayi, tapi kini ... kenapa tangisan Fahad yang menyambutnya di depan ruang bersalin setelah suster membawa bayi Nayla dengan tergesa-gesa
Fahad yang terduduk lemas di lantai itu memberanikan mendongak, menatap wajah adik iparnya. “Nayla pendarahan, dia nggak sadar." Suara Fahad terdengar pilu.
“Mbak Nayla?” tubuh Andi terasa lemas. Kakaknya, Naylanya ... kenapa harus Nayla?
Dua pria itu tertunduk, ketakutan menyergap hati mereka. Menyalahkan diri masing-masing yang merasa tidak sanggup menjaga dan membahagiakan seorang Nayla. Wanita yang selalu ada untuk mereka kini tengah berjuang untuk hidup.
Lagi. Yasmin menelpon. Gadis itu menelpon atas perintah Ammi. Dengan emosi yang memuncak, Fahad menerima panggilan itu. “Yasmin, katakan pada Ammi. Kakak nggak akan menikah dengan siapapun lagi. Istriku sedang berjuang untuk hidup, jadi tolong jangan memaksa kakak untuk menikah!” Fahad berteriak.
“Maksud, Kakak?" suara Yasmin bergetar.
“Kakak iparmu baru saja melahirkan, Yasmin, dan sekarang kondisinya sedang tidak baik-baik saja.” Suara Fahad sudah melunak. “Nggak akan ada pernikahan lagi.” Fahad memutus sambungan telepon.
***
__ADS_1