
Andi tengah bermain bersama Sazhia. Sementara Nayla, ia menyiapkan makan malam untuk adik dan putrinya. Suara tawa Sazhia terdengar hingga ke dapur, Andi memang pandai membuat keponakannya tertawa dengan segala tingkah jenakanya.
Andi sudah sadar seratus persen. Dia berniat mengajak bicara Nayla sejak Mas Arif dan Mbak Indah pulang sore tadi. Tetapi, Sazhia terus saja mengajak bermain, memaksanya mengurungkan niat berbicara kepada Nayla.
Ponsel Nayla berdering, Fahad rupanya. Ia menggeser icon hijau lalu menyandarkan ponselnya pada gelas yang berada di atas meja.
“Eh, loh, kok cakep!” seru Nayla yang melihat sang suami sudah rapi memakai jas berwarna hitam yang di padukan dengan kaos berwarna putih serta celana jeans. Pria itu terlihat sangat tampan dan mempesona.
“Eh, kok cantik? Nggak boleh cantik kamu!” Fahad membalas ucapan sang istri.
Nayla tertawa. “Sudah mau berangkat?” tanyanya.
“Hmm,” gumam Fahad.
“Masya Allah, suamiku baru saja cukur brewok, ya. Level cakepnya jadi nambah, dong.” Nayla menggoda. Ah, sayang sekali suaminya itu berada jauh darinya. Jika dekat, sudah pasti sebuah cubitan gemas di kedua pipi sang suami sudah ia berikan sejak tadi.
Fahad terkekeh mendengarnya. Mata istrinya ini memang selalu jeli jika menyangkut penampilannya. "Tambah cakep, kan?"
Nayla kembali mengingatkan pesannya saat berbicara di telepon kemarin. Perihal jangan lagi menyentuh minuman beralkohol, jangan tebar pesona, jangan ganteng, dan ... jangan aneh-aneh. Sebenarnya Nayla sangat keberatan suaminya harus masuk ke tempat seperti itu. Bagaimana pun suaminya mencoba meyakinkannya, namun tetap saja di hati kecil itu ada rasa khawatir.
“Aku nanti cuma sebentar, kok, kalau sudah ketemu yang ngundang dan basa-basi dikit ... aku langsung pulang.” Fahad meyakinkan.
Nayla duduk, berhadapan dengan ponsel sejak tadi ia biarkan begitu saja di atas meja. Fahad merasa kesusahan melihat wajah wanita yang ia rindukan sebab istrinya itu berjalan ke sana ke mari, dan hanya suara saja yang menemaninya. Rasa lega menjalar memenuhi hati Fahad setelah melihat wajah Nayla dengan leluasa. Kedua matanya diisi oleh senyuman hangat dari sang istri.
Pekerjaan benar-benar menahannya untuk bertemu dengan anak dan istrinya. Meskipun Nayla mengerti dengan semua pekerjaannya, Fahad tetap merasa kurang memperhatikan keluarga kecilnya jika kesibukan sudah menyita waktu yang berharga. Menghabiskan malam di ruang tv, bercanda dengan Shazia, serta saling bertukar cerita bersama Naylaperihal apa saja yang sudah seharian ini dilakukan.
Sekarang, istrinya itu juga sudah mulai disibukkan dengan butik, besok adalah hari pembukaan butik tersebut. Meksipun tidak bisa hadir di hari yang membahagiakan itu, tentunya Fahad sudah menyiapkan kejutan untuk sang istri. Selain memadu-padankan busana, Nayla juga sangat mahir dalam hal memilih kain untuk bahan membuat baju—mana yang nyaman dipakai wanita karir dan juga wanita pada umumnya—modis, namun tetap menjaga lekuk tubuh wanita dibalik balutan baju kekinian. Ada satu hal lagi, Nayla merencanakan semua itu dengan sangat baik. Istrinya kini bisa menggambar desain baju, sangat rapi dan juga indah. Fahad sangat bangga.
“Semangat buat besok, aku percaya ... kamu pasti jadi salah satu perancang busana muslim terbaik.”
Nayla tersenyum, ia bersyukur ... semua orang mendukung apapun yang ia lakukan. Tidak muluk-muluk, Nayla hanya ingin membagikan apa yang ada dipikirannya tentang baju wanita muslimah yang kekinian, nyaman dipakai, dan juga tetap menjaga tubuh. Menjadi perancang busana terbaik? entahlah ... Nayla tidak mempunyai mimpi tersebut. Melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan baik dan niat tulus. Semua pasti ada hasilnya.
***
Nayla menidurkan Shazia, satu tangannya mengelus puncak kepala sang putri, membuatnya nyaman agar segera tidur. Setelah putri mungilnya itu benar-benar tidur, Nayla beranjak keluar kamar. Ia kembali ke dapur untuk mencuci piring kotor bekas makan malam.
“Mbak?” Andi menghampiri Nayla.
“Iya? Kamu perlu sesuatu?”
Andi menggeleng. “Aku—”
“Kamu tunggu di depan dulu, mbak buatin kamu teh madu, ya.”
Tak lama, selesai mencuci piring dan berjalan menghampiri Andi dengan secangkir teh madu di tangannya. Nayla menaruh teh tersebut di meja, tepat di depan Andi. “Habis ini tidur, jangan begadang. Kan, besok kamu harus ke studio, kasihan Reza, dia pasti repot sendiri,” ucap Nayla.
Andi meraih pergelangan tangan kakaknya, menuntunnya untuk duduk di sampingnya. Ucapan maaf tulus keluar dari bibirnya. Sorot mata itu memohon agar kakaknya tidak kecewa atas apa yang sudah ia perbuat. Ya, Andi sadar ... sudah pasti Nayla kecewa, tapi Andi ingin menjelaskan dan menegaskan bahwa setelah ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Andi menunduk. “Aku nggak bisa mikir apa-apa waktu itu, Mbak. Aku—”
“Dewi ngomong apa?” tukas Nayla.
__ADS_1
Andi mengangkat wajahnya, kembali menatap Nayla. “Dewi nggak ngomong apa-apa, Mbak. Kemarin aku disuruh ke rumahnya buat ketemu orang tuanya.” Andi memberi jeda sejenak, rasanya sesak sekali menyebut nama seseorang yang terpaksa ia keluarkan dari dalam hatinya.
“Mereka tetap minta mas kawin itu. Bukannya nggak baik, diawal rencana pernikahan kalau sudah seperti gitu? Kata, Mbak, mas kawin harus atas kerelaan kedua belah pihak antara aku dan Dewi.”
Nayla mengangguk mendengar penjelasan Andi.
“Niat baik aku dipersulit sama orang tua Dewi, aku nggak bisa, Mbak. Mereka tetap mikir harta,” sambung Andi.
“Kamu cinta kan sama Dewi?” tanya Nayla.
“Aku cinta, Mbak. Tapi, apa aku bisa nikah sama dia kalau orang tuanya nggak setuju? Nggak kan, Mbak?”
Nayla dapat melihat kekecewaan dari sorot mata Andi. Mata Andi sudah mulai memerah, menandakan pria itu tengah menahan air matanya.
Semuanya. Andi mengatakan semuanya kepada Nayla. Tidak ada satu hal pun yang ia tutupi. Karena hanya Nayla yang mengerti semua rasa kecewa di dalam hatinya.
Nayla merengkuh tubuh Andi kedalam pelukannya. Menyalurkan ketenangan untuk sang adik. “Kamu jangan minum lagi, mbak nggak bisa lihat kamu kayak gitu.” Benar, laki-laki akan lemah jika sudah berurusan dengan perasaan dan cinta.
Andi mengangguk, ia juga membalas pelukan Nayla. Ketenangan sudah mulai menyelimuti hatinya setelah berbicara pada Nayla. “Maaf, Mbak. Andi janji nggak bakal minum lagi. Itu yang pertama dan terakhir,” ucap Andi, serius.
Nayla mengurai pelukannya. “Benar yang pertama?” tanya Nayla.
“Iya, Mbak, tanya saja sama Reza."
“Kamu sudah memutuskan gimana nasib hubungan kamu sama Dewi, itu berarti kamu juga harus bisa bertanggungjawab sama hati kamu. Mbak tau, semuanya nggak akan mudah, tapi semuanya harus kamu lewati. Bismillah ... mbak yakin kamu pasti bisa lewatin ini semua. Kamu masih muda, Andi. jangan ngerusak diri kamu sendiri,” tutur Nayla lembut.
Andi lega, sangat-sangat lega. Luka di dalam hatinya sudah sedikit terobati. Kakaknya ini bisa menjadi seorang teman, sahabat, orangtua, yang selalu bisa mengerti bagaimana harus bersikap.
***
“Ayo, turun, Mbul.” Andi mengambil Shazia dari pangkuan Nayla. Mereka baru saja sampai di butik yang sebentar lagi akan mereka buka. Ada Tia di sana, berdiri di depan pintu yang masih tertutup rapi itu.
“Kamu datang jam berapa, Tia?” tanya Nayla.
Tia tersenyum, “sepuluh menit yang lalu, Mbak. Akhirnya, setelah beberapa bulan, kita bisa buka butik ini secara resmi.”
Andi sudah membuka pintu, mengajak kedua wanita itu untuk masuk. Tak lama, karyawan yang lain juga datang. Mereka mulai membersihkan butik, menyiapkan semua hal yang diperlukan untuk tamu undangan. Tidak banyak, Nayla hanya mengundang teman-teman dekatnya saja.
“Andi, di studio lagi nggak sibuk?” Nayla bertanya.
Andi mendudukkan Shazia di sofa ruang tunggu pribadi Nayla. “Kebetulan hari ini nggak ada jadwal pemotretan, Mbak, semua kerjaan juga sudah beres. Sebentar lagi Reza datang, nanti biar aku lagi yang jadi fotografer butik ini. Dan, Mbak, yang jadi modelnya.”
“Kok, aku? Kan, kemarin Tia sudah jadi modelnya, semua fotonya juga sudah diupload di sosial media.”
Andi berdecak kesal. Sesuai dengan tebakannya, kakaknya ini pasti tidak mau menjadi model butiknya sendiri. “Ya, orang-orang biar tau, Mbak, siapa yang punya butik ini.”
“Iya, tapi—”
“Mbak Nayla?” Tia mengetuk pintu. Ia mengatakan kepada Nayla, bahwa ada beberapa temannya yang datang.
Nayla meninggalkan Shazia bersama Andi, ia pergi ke depan untuk menyambut teman-temannya. Ada Sari dan Doni, dan juga .... Ryan? Oh, tunggu! Nayla merasa tidak mengatakan apapun kepada Ryan, tapi bagaimana lelaki itu bisa tau?
__ADS_1
“Maaf, Nay, aku keceplosan.” Sari berbisik di telinga Nayla.
Nayla tidak mengundang Ryan untuk menghargai sang suami. Meskipun Fahad sedang tidak ada di sampingnya, Nayla tetap tidak bisa mengabaikan kehormatan dan perasaan sang suami di depan semua orang. Akan tetapi, lelaki yang sangat dicemburui suami itu sudah terlanjur datang, akan sangat tidak sopan jika menyuruhnya untuk kembali pulang.
Semua orang sudah datang, pun dengan Mbak Indah dan juga Mbak Dewi. Kakak Nayla yang lain berhalangan hadir, namun mereka semua tetap mendukung dan juga memberi ucapan selamat untuk Nayla.
***
Toko sudah resmi dibuka. Butik itu dilengkapi dengan ruang istirahat dan juga dapur agar karyawan merasa lebih nyaman. Nayla, Andi dan juga Reza berada di sebuah studio mini yang dikhususkan Andi untuk pemotretan model busana terbaru. Setelah beberapa kali memaksa, akhirnya Andi berhasil membuat Nayla berdiri sebagai model dari brand butiknya sendiri.
Andi dan Reza sangat puas dengan hasil jepretan mereka. Tak hanya kualitas foto yang bagus, namun Nayla juga berhasil membuat foto tersebut tampak hidup dengan sorot mata penuh arti dari wanita tersebut.
“Mbak Nayla, minum dulu.” Tia datang, membawa satu botol minuman dingin.
“Shazia rewel, nggak?” tanya Nayla.
Tia menggeleng. “Shazia tenang banget, Mbak, dia asik main sama omnya.”
“Om?” tanya Nayla dan Andi bersamaan.
“Aku ada di sini, terus om siapa yang main sama Zia?” tanya Andi.
Tia mengangguk. Om yang dimaksud olehnya ialah teman Nayla, Ryan.
Ah, Nayla lupa. Putrinya itu sangat menyukai Ryan. Menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, Nayla merasa bingung ... ia tidak ingin ada kesalahpahaman diantara dirinya dan juga sang suami. Disaat Nayla merasa bingung dan pusing, Ryan justru tertawa. Menertawakan kakaknya yang terlihat sangat kebingungan.
“Cuma anak kecil, Mbak, nggak mungkin dinikahin sama Ryan, kan?”
Gelak tawa kembali terdengar dari Tia dan juga Reza.
“Nggak gitu, Andi, tapi—”
“Nay, ada paket buat kamu.” Mbak Indah datang.
Masih dengan setelan baju yang ia pakai untuk pemotretan, Nayla ke depan, matanya dibuat terpana oleh puluhan bucket bunga mawar putih yang sedang dimasukkan ke tokonya.
Bunga-bunga tersebut sudah tertata di meja dan lantai butik, seorang kurir menghampiri Nayla dengan bucket bunga yang jauh lebih besar, ada kartu yang terselip di bunga tersebut.
“Istriku ... ibu dari anak-anakku ... maaf, suamimu ini tidak bisa hadir di acara yang paling penting di hidupmu. Selamat atas pembukaan butikmu. Tunggu aku, sebentar lagi aku datang. Aku mencintaimu. Dari suamimu, Fahad.”
“Suamimu romantis banget, Nay, ngirim bunga sebanyak ini. Kenapa nggak sekalian sama kebunnya, ya.” Ucapan Sari membuat semua orang tertawa. Namun tidak dengan Ryan, lelaki itu menangkap kekecewaan dari sorot mata Nayla. Senyuman yang ditepiskan Nayla tidak bisa menutupi sorot mata kecewa itu.
“Besok aku minta bunga sama kebunnya, Sar, kalau perlu sekalian sama petaninya.” Nayla berujar.
“Mama.” Shazia meminta turun dari gendongan Ryan, ia berjalan menghampiri Nayla. “Mama,” gadis mungil itu mengalungkan kedua tangannya di leher Nayla, masuk ke dalam pelukan sang mama.
“Andi, pemotretannya sudah dulu, ya? Kita lanjut besok atau kapan saja.”
Andi mengiyani ucapan kakaknya, ia mengajak Reza kembali ke studio mini untuk mengedit foto dan mulai mengunggahnya ke media sosial.
***
__ADS_1