
“Hannah, di mana baju-baju Fahad yang belum digosok?” tanya Nayla. Sebab, saat dia masuk ke ruang laundry, dia tidak mendapati keranjang baju miliknya dan Fahad.
“Maaf, Nyonya. Saya sudah menggosoknya. Saya pikir, Nyonya, pasti sangat lelah, saya menaruh keranjang pakaian yang sudah digosok di kamar, Nyonya,” jawab Hannah.
“Maaf, Hannah, dan terima kasih,” ucap Nayla dengan senyumannya. Nayla naik ke lantai atas menuju kamarnya. Dia melepas hijabnya lalu menaruhnya di tepi tempat tidur. Satu persatu Nayla mulai memasukkan baju yang sudah digosok ke dalam almari dengan rapi.
Tak lama, Fahad masuk ke kamar bersama Shazia. Nayla hanya melirik pada sang suami yang menurunkan putrinya di atas tempat tidur. “Mama,” panggil Zia.
“Iya?” sahut Nayla.
Shazia kembali memanggil Nayla, “Mama, sini.”
“Iya, sebentar. Mama belum selesai.”
“Sayang, sini dulu,” kali ini Fahad yang memanggil.
“Hemm,” sahut Nayla. Seusai menata baju, Nayla segera menghampiri putri dan suaminya yang sudah memanggilnya sejak tadi. Nayla duduk di tepi tempat tidur. Memandang Shazia yang tengah bermain-main dengan hijabnya.
“Sayang, naik sini!” perintah Fahad.
Tak menjawab ataupun menatap suaminya, Nayla segera naik dan duduk di samping sang putri. Fahad masih memperhatikan Nayla yang enggan menatapnya. Dia masih berpikir bahwa Nayla marah padanya. Karena bentakannya.
“Sayang, aku—”
Nayla memotong ucapan Fahad. “Kamu mandi saja dulu. Nanti gantian. Sudah hampir malam.”
“Aku mandiin Zia, ya?” Fahad hendak mengangkat putrinya, namun Nayla lebih dulu mengambilnya untuk duduk ke dalam pangkuannya.
“Aku saja yang mandiin,” kata Nayla seraya melepas baju putrinya.
Nayla masuk ke kamar mandi, memandikan Shazia. Fahad mengusap kasar wajahnya. Biasanya, istrinya itu tidak akan marah dengan mudahnya. Jika marahpun, dia selalu bisa membuat Nayla tersenyum hanya dengan sebuah candaan kecil dan permintaan maafnya. Namun kali ini berbeda, mungkin Nayla benar-benar marah padanya.
“Zia jangan gitu! Sudahan mandinya, nanti kamu masuk angin.”
Shazia memang seperti itu, ia akan berlama-lama untuk bermain air. Mungkin bukan hanya dia, sepertinya semua anak kecil memang sangat suka bermain air. Tak heran, waktu mandi mereka juga akan semakin lama. Si pipi gembul itu masih bermain dengan asiknya. Berulang kali Nayla mencoba membujuknya dengan berbagai rayuan. Mulai dari mainan, es krim, biskuit, dan masih banyak lagi. Seakan tak mendengarnya, Shazia tetap saja bermain air di dalam bath up.
“Zia.” Fahad masuk, dia mendekat pada sang putri. Nayla menyingkir, memberikan jalan untuk suaminya. “Zia mau jalan-jalan nggak? Kita naik scootynya Bibi Hannah,” rayu Fahad.
Shazia tersenyum, kedua tangan mungil yang tadinya bermain air itu berhenti seketika. Menatap papanya yang mengulurkan tangan kepadanya. “Tapi sama mama,” pintanya. Fahad menoleh, menatap istrinya, meminta jawaban atas ajakan sang putri.
Saat tahu Fahad memutar sedikit kepalanya untuk melihatnya, Nayla segera mengalihkan pandangannya kepada Shazia lalu berkata, “iya, sama mama. Tapi, Zia, sudahan dulu mandinya. Nanti habis salat maghrib kita jalan-jalan naik scooty. Oke?”
Shazia mengangguk, dia bertepuk tangan serta menepiskan senyumnya dengan bahagia. Fahad menghela napas. Lagi-lagi, kedua manik mata istrinya itu tidak menatapnya. “Zia mau gendong, Papa!” serunya saat Nayla hendak menggendongnya.
“Mau sama papa, ya? Oke, ayo sini gendong papa. Berdiri dulu, Jaanu. Di basuh lagi badannya,” kata Fahad. Nayla menyalakan shower, mengguyur tubuh mungil putrinya dengan air hangat sebelum menggendongnya.
“Kamu mandi saa, biar aku yang pakein baju Zia.”
Nayla mengangguk akan perintah sang suami. Dia menutup pintu kamar mandi begitu anak dan suaminya keluar.
Nayla keluar kamar mandi, dengan baju handuk yang menutupi tubuhnya serta rambut yang di gulung oleh handuk lain. Dia menahan tawanya ketika melihat Fahad kesusahan memakaikan baju pada Shazia. Nayla menggaruk pelipisnya.
__ADS_1
“Zia, jangan lari-lari, nanti kamu jatuh!” kata Fahad. Putrinya itu tetap saja berlari mengelilingi kamar dengan hanya memakai kaos dan ****** *****. Dan kaos dalam itu, Fahad memakaikannya terbalik. Bagian depan justru dipakaikan di bagian belakang. “Dapat juga!” leganya. Putrinya itu tertawa lepas begitu sang papa bisa menangkapnya. Fahad memangku Shazia dan mulai memakaikan celana panjangnya. “Kamu, ya! Pakai baju saja lama banget, nanti mama keluar kamar mandi bisa marah kalau lihat kamu belum selesai pakai baju.”
“Mama!” teriak Shazia begitu Nayla mendekat.
“Sini, biar aku pakein.” Nayla mengambil baju Shazia dari tangan Fahad. Menurunkan sang putri dari pangkuan papanya lalu menyuruhnya untuk berdiri di atas sofa. “Katanya mau jalan-jalan, tapi kenapa lama banget pakai bajunya. Nanti kalau malam kita nggak jadi jalan-jalan, loh!” ucap Nayla. bibirnya tidak berhenti mengajak bicara Shazia. Itu salah satu trik Nayla agar putrinya itu bisa diam ketika dipakaikan baju.
Fahad yang duduk di samping Shazia hanya bisa memperhatikan istri dan anaknya yang sedari tadi sibuk mengobrol. Mulai dari obrolan tentang apa yang mereka lakukan hari ini, makanan apa yang putrinya itu makan, dan obrolan tentang keseruan mereka yang lain.
“Kamu nggak mandi?” tanya Nayla, tetap tanpa melihat ke arah suaminya, tetap sibuk dengan putrinya.
“Mandi.” Fahad beranjak ke kamar mandi.
“Anak mama sudah cantik. Ikut salat, ya?" Nayla menurunkan Shazia dari sofa.
***
Seusai salat maghrib, Fahad menepati janjinya kepada putrinya. Ia mengajak anak dan istrinya keluar dengan mengendarai scooty milik Hannah. Nayla memakaikan jaket pada Shazia, dia pun sama. Fahad tahu, istrinya merasa lelah serta penat mengurus persiapan pertunangan Yasmin. Dia mengajak keduanya untuk menikmati suasana malam Srinagar. Setelah beberapa saat berkeliling, Fahad berhenti di salah satu kedai makan. Dia menggendong Shazia untuk masuk, Nayla mengikuti dari belakang.
“Kamu mau makan apa, Sayang?” tanya Fahad
Nayla membuka jaket, “apa saja.”
Lagi-lagi Fahad harus menghela napasnya dengan kasar. Istrinya tetap tidak mau menatapnya. Sepanjang perjalanan pun Nayla tidak bicara sama sekali. Hanya Fahad yang menganggapi segala cotehan Shazia. Nayla sesekali akan menyahut jika putrinya itu memangilnya.
Tak tahan rasanya Fahad melihat Nayla seperti itu. Dia ingin sekali membahasnya, namun mereka tidak akan bisa bicara jika Shazia belum tidur.
“Biryani saja, ya?” tanya Fahad yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.
Mereka bertiga menikmati makan malam. Dengan Nayla yang hanya sibuk dengan putrinya. Sementara Fahad, dia tetap menikmati makannya dengan tatapan mata yang selalu tertuju pada Nayla.
***
Nayla duduk, dengan tubuh yang tegap dan pandangan lurus ke depan. Sementara Fahad, dia duduk di samping Nayla dengan satu kaki yang naik ke sofa dan tubuh yang menghadap sang istri.
“Sayang, lihat aku,” perintah Fahad.
Nayla ingin menoleh dan melihat Fahad, tapi entah kenapa rasanya matanya itu sangat enggan menatap suaminya. Ucapan dan sikap Fahad sudah membuatnya kecewa. Bukan marah, hanya kecewa.
“Sayang,” satu tangan Fahad meraih dagu Nayla, membuat wajah istrinya itu agar menoleh padanya. Kepala Nayla ikut kemana tangan Fahad mengarahkannya. Namun dia menunduk, tidak ingin bersitatap dengan manik mata sang suami.
Fahad mencium bibir manis Nayla, jarak duduknya juga semakin mendekat. Fahad menghentikan ciumannya begitu dia melihat Nayla menangis. “Sayang.” Fahad menghapus air mata Nayla dengan ibu jarinya.
“Maafkan aku.” Fahad menyatukan keningnya dengan kening Nayla. “Maafkan aku,” ucapnya lagi.
Nayla mendorong dada Fahad, menatap mata penuh penyesalan dari suaminya tersebut. “Apa kamu nggak capek minta maaf terus?” tanya Nayla dengan deraian air mata yang masih terus mengalir membasahi pipinya. “Aku capek, Fahad, dengar kamu minta maaf terus!” imbuhnya.
Fahad menunduk. Dia memang sudah keterlaluan. Berulang kali Nayla selalu mengingatkannya agar tidak mendahulukan kemarahan dalam segala hal. Namun nyatanya, dia tetap saja mendahulukan kemarahan.
Fahad mendongakkan wajahnya, menatap kedua mata Nayla bergantian. “Aku tahu kamu marah sama a—”
“Aku nggak marah, Fahad! Tapi, aku kecewa sama kamu,” tukas Nayla. “Kamu nggak pernah mau dengar penjelasan apapun. Yang kamu lakukan hanya marah dan marah. Bahkan hari ini kamu nampar Yumna.”
__ADS_1
Nayla diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Oke. Aku minta maaf kalau aku terlalu ikut campur urusan kamu dalam mendidik dua adik kamu. Mungkin kamu benar, aku terlalu memanjakan mereka berdua. Hari ini, Yumna bolos kuliah dan pergi satu mobil sama cowok lain dan kamu nyalahin aku tentang hal itu. Aku—”
Fahad memotong kalimat Nayla, “Aku nggak nyalahin kamu, Sayang, aku cuma emosi tadi pagi. Aku nggak ada maksud buat nyalahin kamu.”
Nayla diam, ia menghapus air matanya yang masih terus mengalir tanpa henti itu.
“Aku nggak akan ikut campur lagi, Fahaf. Aku akan tutup mata dan telinga aku jika ada hal apapun itu yang menyangkut Yasmin dan Yumna. Aku bakal menjauh dari mereka,” ucap Nayla.
“Maksud aku bukan gitu, Sayang, bukan gitu.” Afsal kehabisan kata-kata untuk meminta maaf dan memberi penjelasan pada sang istri.
Seketika Fahad teringat ucapan Nayla yang akan meninggalkannya jika dia merasa tersakiti dan tidak dihargai. Meraih tubuh Nayla, mendekapnya dengan erat. “Jangan pergi, jangan pergi dari aku. Hukum aku sesuka hati kamu, tapi aku mohon jangan pergi, jangan pergi!” ucapnya penuh penekanan.
Nayla semakin terisak. Bukan, bukan itu. Bahkan pikiran itu sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya. Dia tidak ingin pergi, dia hanya merasa kecewa pada sikap suaminya ini.
“Aku mohon jangan pergi, aku mohon!” mata Fahad mulai berkaca-kaca. Dia masih mendekap tubuh sang istri sampai Nayla memukul-mukul punggungnya.
“Aku nggak bisa napas, Fahad!” kata Nayla.
Fahad melepas pelukannya. Menatap Nayla dengan tatapan sendu. Dia kembali berucap, “jangan pergi.”
“Kamu beneran takut kalau aku pergi?”
Fahad mengangguk. “Kalau seandainya aku beneran pergi gimana?” tanya Nayla lagi yang sudah berhenti menangis sejak dia kesulitan bernapas dalam pelukan suaminya.
“Enggak!” seru Fahad. “Kamu nggak boleh pergi dan aku nggak akan biarin kamu punya kesempatan untuk pergi!” imbuhnya dengan tegas.
“Jangan teriak,” kata Nayla.
“Tapi jangan pergi dari aku, aku nggak bisa tanpa kamu,” ucap Fahad dengan suara terendahnya.
“Tergantung.”
“Nayla.”
“Apa?”
“Jangan pergi!”
“Tergantung.”
“Nayla!”
“Fahad!”
“Nayla!”
“Aku ngantuk!”
Nayla beranjak, ia naik ke tempat tidur. Menutupi tubuhnya dengan selimut.
***
__ADS_1
Sebentar lagi season dua ini tamat, ya. Saya mau fokus di Pelaminan dan satu cerita saya di platform lain.
Terima kasih 😊❤️