
Yumna sangat takut kehilangan kakak iparnya. Baginya, Nayla adalah kakak ipar terbaik yang pernah ia miliki. Mahira ... wanita itu juga baik. Hanya saja, Yumna merasa lebih diperhatikan oleh Nayla. Semua yang ia butuhkan, apapun yang ingin ia beli, izin Fahad pun bergantung pada Nayla. Dalam arti kata, Nayla lebih mengerti daripada Fahad, kakaknya sendiri.
“Kakak ipar, kenapa nggak ikut ke Kashmir? Kalau Kak Fahad ke Kashmir, Kakak ipar ikut juga, ya?” pinta Yumna.
Nayla menanggapinya hanya dengan senyuman. Selain karena kehamilan yang membuatnya tidak bisa pergi, pun Nayla juga merasa—sedikit—enggan untuk datang ke Kashmir. Rasanya, sudah cukup apa yang ia dapatkan beberapa bulan yang lalu. Akan sangat sakit jika bertemu dan melihat Ammi yang tidak sehangat dulu. Nayla tidak siap mendengar hinaan Bibi Farida lagi. Meskipun wanita itu sekarang sudah pulang ke hyderabad, namun rumah besar itu seakan sudah dipenuhi oleh Bibi Farida. Semua ucapannya terngiang jelas di telinga Nayla.
“Kalau, Kakak ipar, ikut ke Kashmir, nenek sihir itu pasti nggak berani mendekati Kak Fahad,” kata Yumna.
“Maksudnya?”
“Iya, Kak, setiap Kak Fahad ke Kashmir, Benazir pasti juga datang. Aku heran, siapa yang kasih tau dia kalau Kak Fahad datang.”
Wajah Nayla berubah pias, ia merasa gelisah. Benazir juga ke Kashmir, tapi kenapa Fahad tidak pernah memberitahunya? Ya Tuhan, apa lagi ini? Jantung Nayla berdebar, ia sangat-sangat gelisah. “Benazir ke Kashmir?” gumamnya.
Duh! Keceplosan!
Yumna memukul mulutnya sendiri, dengan mudahnya ia mengatakan itu semua. Sejak kemarin, Yasmin sudah mewanti-wanti Yumna agar tidak memberitahu perihal kedatangan Benazir ke Kashmir. Yasmin tidak ingin kesehatan kakak iparnya terganggu. Yumna pun sepakat, ia sudah berjanji tidak akan mengatakan apapun pada Nayla. Akan tetapi, ia sudah terlanjur mengatakannya.
“Kakak ipar, maafin Yumna.”
Nayla menepuk punggung tangan Yumna, ia menepiskan senyumnya. Tidak perlu meminta maaf, pun tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Sudah wajar, Yumna, kalau Benazir datang. Fahad juga harus punya waktu sama dia, biar kenal lebih dalam lagi.” Sakit sekali, harus berpura-pura menunjukkan hatinya baik-baik saja. Tidak ada pilihan lain, Nayla tidak ingin menunjukkan rasa sakitnya kepada siapapun.
***
Malam semakin larut, hatinya semakin gelisah. Nayla tidak bisa tidur, perkataan Yumna yang mengatakan bahwa Benazir juga selalu datang ke Kashmir saat suaminya itu ada di sana, sungguh mengganggu hati dan pikirannya. Nayla ingin menelpon Fahad, namun ia urungkan sebab takut jika mengganggu pekerjaan suaminya itu. Akhirnya, kini ia duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan tak menentu, menunggu suaminya pulang.
__ADS_1
Sedang apa Benazir dan suaminya? Apakah mereka berdua selalu makan bersama? Menghabiskan waktu bersama? Fahad tidur di mana? Benazir tidur di mana? Apakah mereka selalu bermesraan? Atau bahkan mereka sudah lebih jauh lagi?
Ya Tuhan ... Nayla sangat terganggu dengan semua itu. Pikiran kotor berkecamuk, saling menuduh Fahad dan Benazir. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Jari jemarinya saling meremas. Nayla sangat takut, takut jika suaminya benar-benar menikah lagi. Sejak awal, ia sudah mencoba ikhlas menerima apapun yang Allah takdirnya untuknya. Nayla sudah memilih mundur dan memulai hidup baru bersama anaknya nanti. Sebagai seorang istri, tentu Nayla merasa cemburu mendengar Benazir dan Fahad berada di rumah yang sama. Meskipun ada Ammi dan yang lainnya, tetap saja Nayla merasa cemburu. Ia tidak tahan mendengarnya, apalagi jika melihatnya secara langsung.
“Sayang, belum tidur?” terkejut Fahad. Ia menutup pintu lalu menguncinya.
“Fahad.” Nayla tidak menyadari kedatangan suaminya, ia beranjak berdiri dengan tergesa, menghampiri suaminya. “Kamu pulang.”
Wajah Nayla terlihat sangat cemas. Fahad meraih pergelangan tangan istrinya lalu menuntunnya untuk kembali duduk di sofa. “Ada apa? Kenapa belum tidur?” tanya Fahad dengan lembut. Tidak mendapat jawaban apapun, Fahad pun membawa Nayla untuk masuk ke kamar. Hidung mungil Nayla sudah mulai memerah, wajahnya terlihat sangat cemas. Fahad tau, ada yang ingin Nayla sampaikan kepadanya.
Nayla tetap tidak menjawab. Berkali-kali Fahad bertanya, namun hanya gelengan kepala yang ia dapat dari sang istri. “Kamu kenapa, Sayang? Yumna bikin ulah? Atau kamu mau sesuatu?”
“Enggak, Yumna nggak ngapa-ngapain.” Nayla bingung, darimana ia harus memulai. “Kamu mandi aja, aku siapin baju.”
Setelah menyiapkan baju tidur suaminya, kini Nayla berada di dapur. Ia membuatkan teh hangat untuk Fahad. Pikirannya tidak bisa konsentrasi, bayangan Fahad dan Benazir berlarian di benaknya. Saat menuang air panas ke cangkir, Nayla menumpahkannya hingga cangkir itupun jatuh ke lantai. Beruntung, pecahan beling itu tidak melukai kakinya.
Fahad membantu sang istri naik ke tempat tidur. Ia meminta Nayla untuk segera tidur, sebab waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. “Tidur, ya, udah malam. Besok aku nggak lembur, aku usahakan pulang tepat waktu.” Fahad merapikan anak rambut Nayla. Ia mencium kening sang istri, cukup lama.
Nayla berusaha tidur, namun ia sulit sekali jatuh ke alam mimpi. Ia masih merasa gelisah. “Fahad, aku mau tanya.” Nayla mendudukkan tubuhnya, menghadap Fahad.
Fahad membuka matanya, “apa?”
“Kamu ...” Nayla terbata. “Fahad, apa kamu cinta sama Benazir?” sakit sekali menyebut nama itu.
Fahad yang terkejut itupun sontak mendudukkan tubuhnya dengan cepat. Ia menatap kedua manik mata sang istri dalam-dalam. “Maksudnya? Kamu kenapa nanya gitu?” tanyanya dengan lembut.
__ADS_1
“Di Kashmir ... kamu sama Benazir ngapain aja?”
Fahad mengembuskan napasnya dengan kasar, meraup wajahnya dengah kedua telapak tangannya. “Yumna yang kasih tau kamu?”
Nayla menggeleng, air matanya sudah menganak sungai. “Dia nggak ngasih tau, tapi keceplosan. Jawab aku, Fahad, kamu cinta sama dia?”
“Aku nggak cinta sama dia. Percaya sama aku. Iya, setiap aku ke Kashmir, dia pasti datang. Aku sama dia nggak ngapa-ngapain, Sayang, kita cuma ketemu di meja makan saja. Selebihnya—”
“Kamu bohong!” tukas Nayla, air matanya tidak dapat ia tahan lagi. Tumpah sudah semuanya. Rasa cemburu sudah menguasai hati dan pikirannya. “Kamu seminggu di sana, dan selama itu nggak mungkin cuma ketemu di meja makan. Kalian pasti sudah lebih dari itu. Kamu bisa nikah lagi dan kamu bisa sama wanita manapun setelah kita bercerai, Fahad. Jangan seperti ini, jangan!” Nayla menggeleng keras, bayangan suaminya bermesraan dengan wanita lain sangat menyiksa hatinya.
“Aku mohon, Fahad, jangan seperti ini. Jangan. Kalau kamu nggak bisa nunggu sampai anak ini lahir, ya, udah ... aku pulang aja ke negaraku. Aku nggak mau kayak gini, Fahad. Aku nggak bisa.”
“Sayang, dengar aku dulu.” Fahad menghapus air mata Nayla, ia duduk semakin dekat, menggenggam tangan sang istri. “Aku nggak cinta sama dia, aku cuma cinta sama kamu. Sekarang ataupun nanti setelah anak kita lahir, aku nggak akan nikah sama siapapun. Istri aku cuma kamu. Aku mohon, jangan bahas soal perceraian lagi.”
“Aku nggak bisa berbagi suami, Fahad. Aku manusia biasa, hatiku nggak cukup besar menerima kenyataan ini. Aku mau pulang, aku nggak tahan lagi, Fahad, aku nggak tahan lagi.”
Tangisan Nayla menyayat hati Fahad. Air mata sang istri bagaikan bambu runcing yang menusuk luka hatinya semakin dalam. Hanya pelukan yang bisa ia berikan, hanya ucapan maaf yang bisa ia ucapkan. “Sudah, Sayang, aku nggak tahan lihat air mata kamu. Sudah, aku mohon sudah.” Fahad memohon. Ia dekap tubuh dingin sang istri yang bergetar hebat. “Jangan bahas apapun lagi, aku mohon.”
“Nggak bisa, Fahad. Sudah cukup. Aku mau pulang ke negaraku, bebaskan aku dari semua ini, Fahad.”
“Sayang, dengar aku.” Fahad mengurai pelukan, kedua tangannya mengapit wajah sang istri. “Aku cinta sama kamu. Istriku cuma kamu, sampai kapanpun cuma kamu. Aku pastikan, Ammi membatalkan rencananya, aku pastikan nggak akan ada pernikahan lagi. Percaya sama aku, ya?”
Mata mereka saling terkunci. Setelah beberapa saat, Nayla mengangguk, mengiyani semua yang suaminya itu ucapkan. Sorot mata memohon Fahad meluluhkan hatinya. Nayla yang semula ingin pergi, seakan terpaku oleh sorot mata suaminya yang mampu merobohkan semua dinding perpisahan—yang sedang ia bangun sejak beberapa bulan yang lalu.
“Percaya sama aku, aku mohon.” Fahad menyatukan keningnya dengan kening Nayla. Isakan tangis sang istri masih memenuhi isi kamar, sungguh ... Fahad tidak tahan melihatnya. Marah. Entah kepada siapa ia harus marah. Fahad ingin sekali menghancurkan apapun yang ada dihadapannya, agar amarahnya bisa tersalurkan.
__ADS_1
***