Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 107


__ADS_3

“Fahad, kamu nggak mau kasih kado ke aku?” Nayla bertanya. Duduk di sofa kamar, keduanya tengah menghabiskan waktu bersama seusai makan malam. “Jangan bilang kamu mau kasih kado kue tart, ya!” memperingatkan.


Sangat menggemaskan. Fahad mengapit kedua sisi wajah sang istri, lalu mencium bibirnya singkat. “Nggak apa, kan? Aku kasih kado kue tart. Itu juga bagian dari ulang tahun.”


Mendengus kesal. Bukan kue atau barang mewah yang Nayla inginkan. “Aku boleh minta sesuatu?” tanyanya. Wajah kesalnya kini sudah berubah penuh harap.


“Apa?”


“Aku pengin jalan-jalan ke India selatan. Kita liburan ke sana.” Nayla mengungkapkan. Ia sangat ingin menikmati suasana India selatan yang masih hijau. Tempat itu sama seperti Indonesia, banyak sungai dan tanaman hijau. Sangat sejuk.


“Kamu mau camping di hutan sana? Masih banyak gajah, loh, Sayang.”


Berdecak kesal. Ingin liburan di sana juga bukan berarti harus camping di hutan. “Iya. Jadi nanti bisa tidur berduaan sama gajah, sama harimau juga!”


Fahad terkekeh. Ia tidak tahan jika tidak menggigit pipi sang istri. “Ibu hamil satu ini lagi berada nggak hamil apa? Perut sebesar ini masih mau liburan. Nanti, ya, kalau anak kita sudah lahir ... umurnya udah cukup buat diajak naik pesawat, kita liburan. Kemanapun kamu mau.” Menarik tubuh Nayla untuk masuk ke pelukannya. Fahad membenamkan ciuman di kening sang istri.


Habis lahiran kita pisah, Fahad, kamu lupa itu?


Ada rasa sesak di dada Nayla. Iya, ia juga ingin seperti itu. Seperti apa yang direncanakan suaminya. Tetapi, perpisahan itu pasti nyata. Tidak akan ada liburan. Tidak akan ada rencana indah itu. Menghela napas panjangnya, ia mendongakkan wajahnya ... menatap wajah sang suami. “Terima kasih, kamu sudah bawa Andi ke sini.”


Menyelipkan sebagian rambut Nayla ke belakang telinga, Fahad mengatakan bahwa bukan ia yang membawa Andi ke India. “Dia ke sini pakai uang gajinya sendiri, Sayang, berkali-kali aku bilang mau beli tiket buat dia. Tapi Andi nolak, dia masih nunggu uangnya cukup. Juga, Andi minta aku stop kirim uang ke dia. Katanya, gajinya sudah cukup untuk semua keperluannya. Tapi, aku tetap kirim ke dia. Entah di pakai atau enggak, yang penting aku kirim ke dia dengan jumlah yang sama seperti aku kirim ke Yasmin dan Yumna.”


Nayla mengangguk. “Biar sesukanya dia saja, Fahad. Andi pasti tau mana yang terbaik buat dirinya sendiri. Dia, kan, adikku.”


***


“Sayang, bisa minta tolong sebentar?” teriak Fahad dari dalam kamar.


“Bayi besar, Mbak, teriak-teriak, tuh! Sana pergi.” Andi mengambil alih mangkuk dari tangan Nayla lalu menatanya di meja makan.


Fahad meminta tolong kepada Nayla untuk memasangkan kancing kemejanya. Dan, tanpa Nayla sadari ... Fahad mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya. “Ini kado dariku.” Mengaitkan kalung itu, Fahad tersenyum simpul melihat Nayla yang juga tersenyum kepadanya.


“Kok, nama kamu. Bukan namaku?” tanya Nayla.


“Kalung dipakai di leher, leher dekat sama hati. Jadi aku mau kamu selalu ingat, kalau aku ini punya kamu. Sampai kapanpun aku milikmu. Kamu suka kalungnya?”

__ADS_1


Nayla mengangguk. Itu bukan kalung India, namun kalung kecil sederhana yang sudah pasti sangat ia sukai. “Terima kasih. Kamu peluk setiap hari aja itu juga kado buat aku.”


“Ya, udah. Sini aku peluk.”


Bahagia. Sangat bahagia. Tapi, itu tidak akan bertahan lama lagi. Tinggal satu bulan lagi, semuanya akan berakhir. Pelukan itu, ciuman itu, perhatian itu, semuanya. Semuanya akan berakhir.


***


Jum'at


Nayla meminta kepada Andi untuk mengantarnya pergi menemui anak-anak seperti biasa. Seusai sarapan dan setelah suaminya berangkat ke kantor, Nayla kini sudah berada di mobil untuk pergi ke salah satu toko pakaian. Sebelumnya, Nayla sudah membuat janji datang pagi-pagi sekali untuk mengambil beberapa baju dan juga selimut untuk anak-anak. Jika menunggu toko buka, akan memakan waktu lebih lama lagi.


“Sudah, Mbak. Habis ini kita ke mana lagi?” tanya Andi sesudah memasukkan satu kardus besar di bagasi mobil.


“Ke kedai, ambil makanan.”


Andi memrotes kesal, kepalanya terasa pusing. Ia dihadapkan dengan ramainya kendaraan dan juga suara klakson yang saling bersahutan. Sudah seperti tahun baru saja. “Dulu, mbak juga sering marah-marah. Sekarang, telinga ini tebal sama suara klakson. Sudah terbiasa.” Nayla menertawakan Andi.


“Mbak, nggak usah ngeledek, ya! Mau aku turunin? Ngeselin banget, sih!” sungut Andi.


Nayla semakin tertawa dibuatnya. “Turunin aja. Mbak masih bisa pulang. Nah, kamu? ditangkap polisi pasti. Turis asing hilang, nyetir mobil lagi.”


“Itu harus, dong. Setiap rejeki yang kita dapat, itu juga ada hak mereka. Allah cuma menitipkan ke kita-kita ini, jadi kita juga harus berbagi.”


Tidak perlu menunggu waktu lama. Sebab makanan itu sudah selesai dikemas dan Andi hanya perlu untuk memasukkan ke mobil. Selesai membayar dan mengucapkan terima kasih kepada pemilik kedai langganan yang selalu siap dan tepat waktu mengemas makanan yang ia pesan, Nayla dan Andi kini menuju tempat biasa anak-anak belajar bersama Akruti.


Teriakan anak-anak yang memanggil nama Nayla saking bersahutan. Lambaian tangan Nayla menyapa mereka. ndi me urunkan kardus berisi baju dan selimut—dibantu Akruti yang menurunkan makanan dan minuman dari kursi belakang.


“Akruti, ini adikku.”


Akruti dan Andi bersalaman, memperkenalkan nama masing-masing. Sesaat, Andi terkesima oleh wajah manis dan rambut panjang Akruti yang digerai, tubuhnya tinggi semampai. “Kok, nggak kayak orang India? Tapi kayak blasteran.” Andi bergumam.


“Memang blasteran!” Nayla menepuk pundak Andi dengan sangat keras. Membuat adiknya itu memrotes kesal.


***

__ADS_1


Menaiki eskalator, Nayla mengajak Andi untuk makan siang di sebuah mall yang terdapat di tengah kota. Sebelumnya, Andi menunaikan salat jum'at di Jama masjid New Delhi. Awalnya, Nayla ingin membeli keperluan untuk bayinya sekalian. Namun, waktu yang ada tidak memungkinkan untuk berbelanja. Sudah pasti akan memakan waktu yang lama untuk mencari baju-baju dan segala keperluan bayi. Besok, ia akan membeli bersama Fahad.


Menunggu pesanan, Nayla dikejutkan dengan kedatangan Mahira. “Andi?” tanya Mahira. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Nayla.


“Iya.” Andi menyambut uluran tangan Mahira. “Siapa, Mbak?” tanya Andi pada Nayla.


Nayla menjawab dengan bahasa Indonesia bahwa wanita di sampingnya ini adalah mantan istri Fahad. Kedua bola mata Andi membulat sempurna, baru kali ini ia melihat istri dan mantan istri duduk bersama tanpa ada rasa cemburu. “Gila, ya! Temenan sama mantan istri suami.” Andi bergumam.


Nayla tertawa, ia menyampaikan pada Mahira apa yang baru saja dikatakan oleh Andi. “Tenang Andi, kita memang seperti itu.” Mahira tertawa. “Dia mengerti bahasa inggris, kan?” tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.


Energi positif yang ada pada diri Nayla terkadang membingungkan Andi. Kakaknya itu selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain, dan terkadang sampai lupa pada diri sendiri. Lupa pada kebahagiaan diri sendiri. “Mbak Nayla, beneran nggak apa-apa?” tanya Andi.


Nayla mengangguk, tersenyum. “Andi, dia yang nolongin mbak waktu pingsan di supermarket. Setelah tau mbak ini istri Fahad, dia justru lebih baik lagi. Dia teman yang baik. Nggak pernah sekalipun bahas masa lalu pernikahan mereka.”


Mahira diam, ia tidak marah. Selain tidak mengerti bahasa Indonesia, ia juga tidak ingin menganggu privasi antara Andi dan juga Nayla. Telinganya memang mendengarkan apa yang Andi dan Nayla bicarakan, tetapi matanya mendapati seorang pria yang sangat ia kenal. Ada seorang perempuan di samping pria itu. Tangannya mengepal, wajahnya memerah menahan marah. Mahira sangat emosi, ia memukul meja lalu beranjak berdiri. “Nayla, ikut aku!” Menggandeng tangan Nayla dengan paksa. Mahira mengajak Nayla menghampiri pria yang ia lihat tadi.


“Mahira, ke mana?” tanya Nayla. Andi mengekor di belakang, meski bingung ... ia tetap mengikuti, khawatir pada Nayla.


Tangan Mahira mengambil segelas minuman di meja pria tersebut, menyiramnya tepat di atas kepala gadis yang sejak tadi terus saja berusaha menyentuh tangan Fahad. Ya. Fahad.


Mata Nayla membelalak sempurna. Selain karena ada Fahad di sana, Mahira dengan secepat kilat menarik rambut gadis itu. Nayla kebingungan, yang mana dulu—yang harus membuatnya lebih terkejut lagi. Keberadaan Fahad di sana, atau Mahira yang tiba-tiba saja mengamuk.


“Dasar kamu, ya!” sungut Mahira. “Aku sudah ngomong baik-baik, tapi kamu malah ngelunjak!” imbuhnya. Tak peduli gadis itu meringis kesakitan dan meminta tolong kepada Fahad.


“Mahira, stop! Dia kesakitan.” Nayla mencoba menghentikan. Namun, Mahira sama sekali tidak mau melepas tangannya dari rambut gadis itu. “Semua orang melihat kita, Mahira. Dengar dulu penjelasan mereka.”


“Nggak ada penjelasan, Nayla!” kata Mahira.


Andi. Dia lebih bingung lagi melihat Fahad yang santai saja. Kakak iparnya itu tetap duduk sembari menepiskan senyumnya. Berulang kali ia mengatakan kepada Fahad agar melerai Mahira dan gadis itu, tapi ya ... Fahad tidak peduli. Pihak keamanan mall yang datang pun tidak bisa menghentikan Mahira.


“Berani kamu ganggu Fahad dan Nayla lagi, aku pastikan kamu menyesal, Benazir!” sembur Mahira.


“Kak Mahira, lepas, Kak, sakit!” pekik Benazir.


Nayla menurunkan tangannya dari lengan Mahira. Jadi, ini yang namanya Benazir? tanyanya pada diri sendiri. Kakinya terasa lemas. Nayla meraih pergelangan tangan Andi, mengajak adiknya pulang. Panggilan dari Fahad sama sekali tidak ia hiraukan.

__ADS_1


“Mbak, ada apa ini?” tanya Andi. Langkah kakinya tetap mengikuti Nayla.


***


__ADS_2