
Malam sebelum hari H, terlihat ada kesibukan dan keramaian di rumah Nayla. Ada semua keluarga dan tentu semua keponakannya datang untuk ikut merayakan kebahagiaan karena adik dan juga bibi mereka akan segera menjadi seorang istri.
Jangan lupakan Andi, ia pun turut bahagia ... juga ada rasa sedih di sudut hatinya. Melepas kakaknya untuk menikah, di mana tanggung jawabnya dan semua kakaknya berpindah ke tangan Fahad. Andi sangat menyayangi Nayla—bahkan bisa dikatakan ia lebih menyayangi Nayla daripada menyayangi kakaknya yang lain.
Sedari tadi kedua manik matanya tak henti menyorot ke arah Nayla yang sedang duduk di lantai ... bermain dengan semua keponakannya.
Mbak, Andi nggak pernah bilang kalau Andi itu sayang dan cinta sama, Mbak. Maaf, Andi bukan cowok yang bisa dengan mudah bilang sayang, Andi nggak bisa seromantis itu.
Andi sayang, cinta, dan nggak ada yang bisa seperti, Mbak Nayla, yang selalu ada buat Andi. Yang selalu bisa ngerti Andi. Sebentar lagi, Mbak, pergi jauh ikut suami. Berat, Andi nggak bisa jauh dan nggak bisa lepasin, Mbak, gitu aja. Tapi, Andi nggak bisa egois, itu kewajiban, Mbak Nayla, harus ikut sama suami. Maaf, kalau selama ini Andi nggak bisa jadi adik yang baik. Andi cuma bisa ngerepotin, Mbak, aja.
Andi berucap dalam hati, ia belum tahu bahwa Nayla tidak akan ikut bersama Fahad ke India untuk sekarang ini. Ya, Nayla belum membicarakan perihal ia yang menunda kepergiannya karena alasan masih belum siap harus berada di dunia Fahad—juga dirinya yang menjadi alasan Nayla untuk ikut ke India.
Telaga bening di pelupuk mata Andi bersiap untuk membasahi pipi. Rasanya, kali ini ia benar-benar lemah, ia ingin sekali menangis di pangkuan Nayla—menumpahkan semua rasa sayang yang ia punya.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan, Andi merogoh saku celananya, mengambil benda pipih yang bernama ponsel itu. Nama Fahad tertera di sana.
“Andi?” sahut Fahad dengan nada suara yang sedikit terdengar kesal.
“Iya, ada apa Fahad?”
“Tolong kasih handphone kamu ke Nayla, aku telpon dia daritadi nggak diangkat-angkat.”
Andi mengiyani permintaan Fahad, ia memberikan ponselnya kepada Nayla, dan kakaknya itu beranjak masuk ke kamar.
Terdengar suara bentakan dari Fahad, “kamu kemana?! Aku telpon nggak diangkat!”
Nayla sedikit menjauhkan ponsel dari daun telinganya. Bukan takut, ia hanya sedikit terkejut mendengar suara Fahad. “Maaf, aku lagi di luar sama anak-anak. Aku nggak dengar kalau ada telpon.”
“Nanti ada yang datang buat hias tangan kamu pakai mehendi. Nggak boleh nolak! Dia udah dalam perjalanan.”
Membantah, menolak, tapi Fahad sudah pada keputusannya sendiri. Percuma saja. Nayla pun mengiyani semua perintah Fahad. Bagaimanapun juga ia harus bisa menghormati adat dari pernikahan India. Dimana sudah biasa tangan dan kaki mempelai wanita dihias oleh henna.
Mengakhiri panggilan, Nayla keluar kamar dengan wajah cemberut serta bibir yang tak henti menggerutu. Ia merasa sangat kesal kepada Fahad, “suka banget maksa-maksa orang!”
“Kamu juga suka kan, Nay?” ledek Mas Irfan.
Nayla tersenyum malu menanggapi ledekan Mas Irfan. Ia kembali duduk bersama semua keluarga. Dan tak lama terdengar ketukan pintu. Andi beranjak membukakan pintu untuk tamu tersebut.
Tamu tersebut ialah wanita yang diminta Fahad untuk menghias tangan Nayla. Wanita berparas India tersebut bernama Naina, ia disambut ramah oleh Nayla dan semua keluarga. Naina segera menghias tangan dan kaki Nayla, dengan bahasa Indonesia yang lancar ... keduanya pun akrab dalam waktu sekejap.
__ADS_1
“Jadi kamu udah lama di Indonesia?” tanya Nayla.
Naina mengangguk, menjawab pertanyaan Nayla dengan tangan yang tetap sibuk menghias. “Iya, saya sudah 10 tahun di Indonesia. Lebih tepatnya pulang pergi, tapi saya lebih sering di Indonesia karena pekerjaan saya ini.”
Sebelumnya, ada sedikit penolakan dari Nayla sebelum Naina melakukan pekerjaannya. Dengan bersemangat ia memilih design mehendi yang ia inginkan, namun ternyata Fahad sudah lebih dulu memilihkan design yang pria itu inginkan.
Design mehendi penuh di tangan dan kaki menjadi pilihan Fahad. Kesal? Sudah pasti. Nayla tidak ingin orang lain menaruh kecurigaan setelah melihat mehendi di tangannya. Ia tidak mengatakan kepada siapapun bahwa ia akan menikah, tak terkecuali Sari.
“Salah sendiri jatuh cinta sama orang India,” ledek Andi. “Ya, harus terima kalau mehendinya kayak begitu.”
Nayla semakin kesal dibuatnya. Tapi, ya ... ia tidak bisa lagi memilih design mehendi yang lain. Ia tetap harus memakai design mehendi yang penuh, seperti keinginan Fahad.
Dua jam lebih mehendi itu akhirnya selesai digarap oleh Naina. Sudah pasti Nayla merasa puas setelah melihat hasilnya.
“Ini nanti harus tunggu berapa jam lagi buat dicuci?” tanya Nayla kepada Naina yang sibuk merapikan peralatannya.
“Anda bisa mencucinya setelah semuanya kering dengan benar. Dicuci dua atau tiga jam lagi, atau bisa juga besok pagi, warnanya akan terlihat lebih gelap dan cantik.” Jawab Naina.
Setelah Naina pulang, Nayla memanggil Andi untuk lebih mendekat kepadanya.
“Apa?” tanya Andi dengan ketusnya.
Andi mendesah kesal. Bukan ia bermaksud kasar kepada kakaknya tersebut, ia sedang sibuk dengan ponselnya saat Nayla memanggil. Kegiatannya sedikit terganggu, dan entah kegiatan apa yang ia lakukan bersama ponselnya.
“Maaf. Mbak, butuh sesuatu?” tanya Andi dengan lembut.
“Mbak lapar, tadi belum makan," jawabnya dengan sorot mata memohon.
Mbak Indah hendak beranjak berdiri, mengambilkan makannya untuk Nayla. Dan setelah ia kembali, Andi mengambil alih piring makan dari tangan Mbak Indah.
“Biar aku yang suapin Mbak Nayla.” Andi duduk di samping Nayla lalu menyuapinya. Keduanya makan bersama dari piring dan sendok yang sama.
Semua orang melihatnya dengan hati yang penuh keharuan, kedua kakak adik tersebut sangat dekat satu sama lain ... pun juga saling menyayangi.
“Mbak, nanti kalau udah nikah dan ikut suami, jangan marah, ya? Kalau aku sering gangguin, Mbak Nayla, lewat telepon,” ucap Andi setelah selesai menyuapi Nayla.
Kesedihan menyelimuti hati Nayla, sungguh ia tak kuasa mendengar kalimat itu dari bibir Andi. Hatinya serasa hancur, adik yang selama ini menjadi tempatnya berbagi suka dan duka ... adik yang selalu melindunginya, yang tak pernah membiarkan air mata jatuh di pipinya—adik yang amat sangat ia sayangi.
“Mbak nggak pergi kemanapun, Andi. Mbak di sini sama kamu.”
__ADS_1
Jawaban Nayla membuat semua orang terkejut, terutama Andi. “Maksudnya?” tanya Mas Arif.
Nayla menjelaskan bahwa ia sudah membicarakan hal tersebut kepada Fahad. Dan calon suaminya itu menyetujuinya. Juga tentang dirinya yang akan tetap bekerja sebagai pelayan restaurant.
Tak ada yang marah akan keputusan yang Nayla ambil. Mereka percaya, apapun yang Nayla lakukan adalah yang terbaik untuk dirinya sendiri. Mereka mengenal betul bagaimana sifat dan karakter Nayla yang akan berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Juga Nayla yang selalu mendahulukan hati sebelum ia bertindak.
Mas Arif menanyakan tentang keberadaan keluarga Fahad yang tak satupun dari mereka datang ke Indonesia untuk memberi restu dan juga menemani Fahad. Dengan perlahan, Nayla menjelaskan bahwa Ammi tidak bisa datang, mengingat usianya yang tak lagi muda, juga alasan kesehatan yang membuat calon ibu mertuanya itu tidak bisa datang.
Yasmin dan Yumna pun sama, kedua adik Fahad itu tak mungkin meninggalkan Ammi seorang diri. Ya ... walaupun ada asisten rumah tangga, tetapi mereka tetap tidak bisa datang. Nayla mengerti dan itu tidak masalah baginya. Yang terpenting ialah ia bisa menikah secara sah di mata agama dan kedua negara. Itu cukup menandakan bahwa Fahad benar-benar serius.
Fahad tidak menikahinya secara siri ... dan jika Fahad mengajaknya menikah siri, tentu ia akan menolak. Nayla ingin semuanya jelas, tidak ada pihak manapun yang akan dirugikan suatu hari nanti. Menikah siri bukan sebuah aib atau hal terlarang, semua kembali pada pribadi setiap orang bagaimana menilai sebuah pernikahan siri.
Tentu saja Andi merasa senang mendengar Nayla yang masih akan tetap berada di Indonesia. Tapi, ia dapat melihat sesuatu dari balik sorot mata kakaknya tersebut. Ya, sudah pasti ada yang disembunyikan oleh Nayla ... entah apapun itu, Andi berniat menanyakan hal tersebut kepada Nayla, nanti.
Pukul satu malam, mehendi sudah mengering dengan sempurna, Andi mengambil foto tangan dan kaki Nayla sebelum kakaknya itu mencucinya. Ia mengirimkan foto tersebut kepada Fahad, karena memang calon kakak iparnya tadi sudah meminta untuk dikirimi foto hasil mehendi tangan Nayla.
***
Pagi ini Nayla berangkat ke masjid bersama keluarga. Di sana sudah ada Andi dan Mas Arif yang menemani Fahad sejak pagi. Nayla memakai gaun putih sederhana dengan hijab yang menutupi dada serta mahkota kecil di kepalanya. Fahad sendiri yang memilihkan gaun beserta mahkotanya.
Fahad juga terlihat tampan dengan setelan jas berwarna navy. Senyumnya menyambut Nayla saat wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya tersebut turun dari mobil sampai duduk di sampingnya.
Mas Arif-lah yang menikahkan mereka. Ada imam masjid, penghulu dan juga ketua RT tempat Nayla tinggal beserta istrinya. Mas Irfan dan Om Hendra, adik dari almarhum bapak yang akan menjadi saksi. Suasana hening tercipta saat khutbah pernikahan. Nayla menunduk mengingat wajah kedua orang tuanya. Tak terasa bulir bening keluar dari ujung mata Nayla. Andi yang melihat Nayla menangis beranjak duduk di sampingnya, ia memberikan tisu lalu menggenggam tangan kakaknya tersebut.
Nayla merasa sangat gugup, meskipun bukan ia yang mengucapkan ijab qobul, tapi jantungnya berdebar-debar saat Mas Arif sudah menjabat tangan Fahad. Di lihatnya tangan Fahad yang sedikit bergetar. Nayla melirik wajahnya, keringatnya lumayan deras mengalir. Semua pintu masjid terbuka, tidak mungkin pria itu berkeringat karena merasa gerah. Sudah pasti ia juga merasa gugup.
Meskipun ini bukan pernikahan pertamanya, tapi ijab qobul yang harus diucapkan kali ini membuat Fahad gugup. Karena ijab qobul di India cukup dengan satu kata yaitu; QUBOOL HAI. Dan sekarang ia harus mengucapkan ijab qobul dalam bahasa Indonesia dan lumayan panjang.
Fahad sempat menawar kepada Nayla ingin memakai bahasa Inggris, tentu saja Nayla menolak dan juga ... menertawakannya.
“SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA NAYLA ANJANI BINTI AHMAD SETIAWAN ALMARHUM DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI.”
Dengan satu tarikan nafas, lantang serta lancar, Fahad mengucap ijab qobul. “SAH.” Ucap para saksi lalu diiringi kata alhamdulillah dari semua orang yang hadir.
Fahad menunduk, ia menitihkan air mata. Ia merasa bahagia bisa menikah dan beribadah bersama Nayla, wanita yang ia perjuangkan hati dan cintanya selama ini. Begitupun dengan Andi dan semua kakak-kakak Nayla yang merasa bahagia, bulir bening air mata tak sanggup mereka tahan.
Fahad memasangkan cincin di jari Nayla. Sebelumnya, Nayla sudah melepas cincin pemberian Fahad yang pertama dan menyimpannya.
__ADS_1
***