Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 23 S2


__ADS_3

“Kalau Zia digendong Andi, aku gendong kamu saja.” Fahad mendekatkan wajahnya kepada Nayla hingga hanya tersisa beberapa centi saja. Bibir tipis Nayla menariknya untuk lebih mendekat lagi, dan lagi. Satu tangannya meraih tengkuk Nayla. Namun, sebuah cubitan mengarah tepat di perutnya.


“Kita masih di butik, Fahad. Jangan macam-macam!” Nayla memperingatkan.


Fahad tersenyum. Iya, dia tau sekarang bukan waktu yang tepat. “Bercanda, Sayang. Kamu serius banget.” Menarik gemas hidung mungil sang istri lalu memberikan ciuman singkat di pipinya.


“Kamu lagi kerja?” Nayla bertanya saat Fahad kembali mengambil laptop lalu memangkunya.


Fahad mengangguk. “Bulan depan sudah diwali, dan sebelum itu ada meeting tentang kerjasama sama salah satu perusahaan yang ada di India juga. Jadi, sebelum meeting kita harus kembali ke India.”


“Siap, Bos!” ucap Nayla penuh semangat, namun dengan suara yang tertahan sebab Shazia masih tidur. Nayla tidak ingin menganggunya.


Kan, istrinya mulai bertingkah menggemaskan lagi. “Sini, lebih dekat sama aku.” Fahad menarik lengan Nayla, membuatnya semakin dekat. “Aku cinta sama kamu,” ucapnya dengan lembut sembari memeluk tubuh Nayla dari samping.


“Iya, aku tau. Dan kamu sudah tau, kalau aku juga cinta sama kamu. Terima kasih, kamu selalu jaga kepercayaanku.”


“Sama-sama, Sayang. Kepercayaan ternyata memang hal yang paling mahal. Aku hampir kehilangan itu saat kamu hamil Shazia. Maafin aku.” Fahad teringat bulan-bulan yang penuh kesedihan itu.


Nayla berdecak, tubuhnya sedikit menjaga jarak dari Fahad. “Kamu kenapa masih membahas itu, sih? Saat itu, aku sakit, kamu juga sakit. Jadi, kita harus saling menyembuhkan, jangan membuka luka itu lagi.”


“Iya, sini aku sembuhin.” Fahad mencium singkat bibir tipis Nayla, senyuman sang istri pun menyudahi percakapan mereka tentang masa-masa sulit itu.


Sesudah shalat magrib, Nayla dan Fahad segera pergi ke mall. Tujuan pertama mereka adalah mampir ke sebuah restauran Turki. Nayla ingin sekali memakan kebab turki. Salah satu efek karena Nayla suka menonton drama Turki. Duduk berhadapan dengan Fahad, dan Shazia yang berada di sampingnya. Nayla sibuk merapikan sebagian anak rambut putrinya yang menutupi kening.


Nayla memberikan satu potong roti untuk Shazia. Gadis mungil itu juga sangat menyukai keju. Terutama jika dicampur dengan telur dan juga tomat. Putrinya akan makan dengan lahap, tak bersisa.


“Zia ini anak orang India apa anak orang turki, sih? Suka banget sama keju.” Fahad keheranan. “Suka banget sama keju. Aku juga suka, tapi nggak sebegitunya,” imbuhnya.


“Ya, anak kamu, Fahad!” ucap Nayla penuh penekanan.


Fahad tertawa. “Nih, dimakan.” Satu suap keju dia berikan kepada Nayla.


Dari kejauhan, seorang wanita tampak datang menghampiri Nayla dan juga suaminya. Wanita itu sangat senang saat melihat Nayla. Sari. Dia menyapa Nayla dan duduk di sampingnya. “Pak Fahad, saya pinjam istrinya sebentar, ya?” Sari merasa sungkan.


“Untuk apa? Aku nggak menyewakan istri.” Fahad berujar jemawa.


“Fahad ...,” Nayla bersuara. “Dia bercanda, Sari. Kamu dari mana?” tanyanya.


Sari tersenyum, “aku mau beli kemeja buat Doni. Oh, iya, kamu ke mana saja, Nay? Nomor kamu kenapa susah dihubungi?”

__ADS_1


Belum sempat menjawab, Nayla dikejutkan dengan teriakan Sari yang memanggil suaminya, Doni. Tidak sendiri, ada pria lain yang bersamanya. Wajah Fahad sudah berubah, terlihat kemarahan dari sorot matanya. “Sari, aku pulang dulu, ya. Nanti aku chat kamu.”


“Kenapa buru-buru, Nay?” Sari meraih pergelangan tangan Nayla. “Kita ngobrol-ngobrol—”


Suara pukulan terdengar sangat keras. Seperti dugaan Nayla, Fahad tidak akan bisa menahan diri jika bertemu Ryan. Ya, pria itu datang bersama Doni. Nayla meminta Sari membawa Shazia keluar dari restauran.


Pukulan demi pukulan Fahad layangkan ke wajah Ryan. Awalnya, Ryan tidak ingin membalas, namun saat melihat Nayla mencoba menarik Fahad, emosi di dalam hatinya pun terpancing. Membela diri, sekaligus melampiaskan rasa kecewanya.


“Stop, Ryan!” Doni mencoba melerai. Namun, keduanya tak bisa dipisahkan dengan mudah. Pihak keamanan juga kewalahan.


“Fahad, kamu berhenti atau aku yang pergi!” Nayla mengancam. Berhasil, Fahad mundur, menghampirinya.


Jari telunjuk Fahad mengarah ke wajah Ryan. “Kamu nggak akan pernah bisa mendapatkan Nayla!” Fahad meraih pergelangan tangan sang istri lalu mengajaknya untuk pulang.


Selesai sudah tontonan live action di restauran tersebut. Doni mencoba menenangkan Ryan. Dia tau, temannya itu masih mencintai Nayla, namun sebab apa yang membuat Fahad dengan tiba-tiba melayangkan pukulan—masih menjadi tanda tanya besar di benak Doni.


Nayla mengambil Shazia dari gendongan Sari. “Terima masih, Sar, aku pulang duluan, ya?”


Sari mengangguk cepat.


***


“Kita ke rumah sakit dulu, ya, Yan, kita obati luka kamu.” Doni memberi saran, namun Ryan menolak dan meminta untuk diantarkan pulang saja.


Di dalam mobil, Ryan membersihkan darah yang masih mengalir dari bibirnya dengan tisu yang diberikan Sari. Pertanyaan dari Doni dan Sari belum dijawab oleh Ryan. Sebab apa yang membuat Fahad langsung memukulnya, tidak mungkin tanpa alasan, bukan?


Sari terus mendesak, rasa penasarannya sudah memuncak. “Jawab, Ryan!” serunya.


“Aku nembak Nayla, aku bilang cinta sama dia. Aku minta dia pergi sama aku.”


“Dasar gila!” Sari tidak bisa menahan rasa terkejutnya. “Kapan? Nekat banget kamu.”


Baiklah. Tidak ada yang salah dengan sebuah cinta. Cinta tidak mengenal waktu dan tempat. Cinta datang sesuka hatinya, menancapkan panah penuh rasa itu ke hati siapapun. Akan tetapi, untuk kisah cinta Ryan ini memang sudah benar-benar berakhir. Memang, tidak ada awal dari cinta itu, tapi untuk sekarang yang ada hanyalah akhirnya saja. Bahkan harus. Harus diakhiri.


“Yan, nggak ada yang bisa disesali.” Doni bersuara dengan pandangan yang tetap fokus akan kemudinya. “Kamu juga nggak bisa maksa Nayla. Dari awal dia sudah punya pilihannya. Kamu tau betul, bagiamana sifat Nayla. Jangan memaksakan diri kalau nyatanya kamu sendiri sudah tau jawabannya apa.


Sialan!


Hanya itu yang bisa Ryan lakukan. Ingin sekali berteriak, melampiaskan semua rasa kecewa di hatinya. Ya, dia tau apa jawaban dari rasa cintanya selama ini. Tapi, entah mengapa hatinya selalu memaksa untuk kembali datang kepada Nayla. Cinta satu pihak memang sangat menyakitkan. Jika cinta dalam diam, mungkin Ryan bisa lebih ikhlas. Dia sudah mengungkapkannya, tidak mungkin bisa melupakannya dengan mudah.

__ADS_1


***


Nayla menidurkan Shazia dengan perlahan. Tangannya membelai lembut puncak kepala sang putri. Nayla beranjak keluar kamar lalu mengambil kotak P3K di dalam laci yang terdapat di meja tv. Menuangkan cairan anti septik ke dalam baskom yang sudah terlebih dahulu dia isi dengan air. Fahad meringis kesakitan saat kapas yang sedikit basah karena antiseptik itu menyentuh kulit wajahnya.


“Sakit?” Nayla bertanya.


“Enggak.” Fahad menggeleng. Dia menuntun tangan Nayla untuk menyentuh dadanya. “Di sini yang sakit,” imbuhnya kemudian.


Sorot mata keduanya saling terkunci. Tak lama, Nayla menarik tubuh Fahad ke dalam pelukannya. “Maafin aku, Fahad, maaf.” Tanpa permisi, bulir bening itu meluncur dengan sendirinya.


“Jangan pergi, jangan pergi.” Fahad bergumam. Dia takut, istrinya tersebut akan pergi karena takut melihat apa yang baru saja dia lakukan.


“Nggak ada yang pergi, Fahad. Aku di sini, kamu juga harus di sini.”


Nayla tau, ini semua salahnya. Jika saja dia lebih dan lebih tegas lagi kepada Ryan, semua ini tidak akan terjadi. Ryan tidak akan mengungkapkan rasa cinta kepadanya lagi, Fahad juga tidak akan kehilangan kendali seperti tadi. Nayla tidak ingin semua ini berlarut lebih lama lagi dan membuat suaminya berada di dalam masalah. Sudah cukup. Semuanya harus berakhir.


“Aku juga minta maaf, Fahad, aku yang bertanggungjawab atas semua ini.” Nayla mengurai pelukannya. Kedua tangannya berada di pipi sang suami. “Sudah, jangan dibahas lagi. Aku siapin baju ganti, kamu mandi saja dulu.”


***


“Ma, om nakal!” teriak Shazia yang diiringi dengan tangisannya.


Suasana sarapan pagi itu menjadi ribut karena Andi terus saja menjahili keponakannya tersebut. Fahad keluar kamar lalu duduk di salah satu kursi meja makan. Tangannya mengambil secangkir chai lalu meminumnya. Bibirnya mendesis tatkala minuman panas itu menyentuh bibirnya.


“Wajah kamu kenapa?” Andi bertanya.


“Berantem sama Ryan.” Fahad menjawab sembari menepiskan senyum tipisnya. “Kalau saja kemarin Nayla nggak—”


“Kalau aku nggak bilang seperti itu, kamu bisa dalam masalah.” Nayla menyela. Duduk di sebelah sang putri, Nayla membersihkan pipi gembul Shazia yang terkena coklat dengan tisu.


“Masalah apa, sih? Paling juga dipanggil polisi, dan ditahan semalam doang.” Andi menambahkan. Dia setuju dengan apa yang dilakukan oleh kakak iparnya tersebut. “Dulu aku juga nggak peduli, mau dipenjara semalam atau beberapa tahun juga nggak masalah. Yang penting aku bisa ngasih pelajaran sama kamu.” Sorot mata Andi mengarah kepada Fahad. Ya, dia membicarakan masa-masa yang membuat Nayla menangis.


“Itu masa lalu, Andi. Jangan dibahas lagi.” Nayla mengambilkan satu potong sandwich ke piring suaminya.


“Kenapa? Mau itu masa lalu, masa sekarang, aku tetap nggak berubah. Kalau, Mbak, menangis, aku nggak akan diam saja.” Andi berucap dengan tegas.


“Tos dulu, dong!” Fahad mengangkat tangannya lalu saling beradu highfive dengan adik iparnya. Tak masalah, Fahad sangat suka sikap sayang yang diujikan Andi untuk kakaknya, Nayla. Jika dia yang menjadi Andi, mungkin hal yang sama akan dilakukan. Tidak akan membiarkan saudaranya disakiti.


***

__ADS_1


 


__ADS_2