
Srinagar, Kashmir.
Hangatnya sinar mentari pagi, kicau burung yang saling bersahutan, membuat suasana hati Nayla sangat tenang. Pemandangan indah selalu memanjakan mata. Hamparan lembah hijau, serta sungai yang jernih ... sudah pasti mata Nayla akan berlama-lama memandanginya.
Apa hari ini dia pergi ke kebun lagi?
Batin Nayla bertanya. Dipandanginya angka jam yang tertera di layar ponselnya ... juga tak kunjung ada ketukan pintu serta suara Fahad yang memanggilnya. Ia semakin gelisah menunggu. Memutuskan untuk turun sendiri dan membantu Hannah mungkin lebih baik, pikir Nayla.
Tangannya mengarah, membuka daun pintu. Sebuah senyuman hangat menyambutnya setelah pintu itu terbuka dengan sempurna.
“Fahad?” wajah Nayla berbinar bahagia. Seulas senyuman ia selipkan di bibirnya.
“Assalamu'alaikum,” ucap Fahad.
“Wa'alaikumsalam.” Jawab Nayla.
Keduanya masih saling memandang—senyuman tak pudar dari keduanya. “Nungguin, ya?” tanya Fahad yang dijawab gelengan kepala oleh Nayla—masih dengan senyuman. “Masa, sih? Kenapa begitu lihat aku, kamu seneng banget kayak gitu?”
Nayla mencebik, “udah tahu, kan? Kenapa masih nanya, sih!” seru Nayla.
Fahad terkekeh, mencubit gemas hidung mungil Nayla. Ia melangkah masuk—menuju ke ruang ganti, mengambil baju. Nayla masih berdiri di posisi semula, menunggu Fahad selesai memakai baju.
“Maaf,” kata Nayla sesudah Fahad selesai memakai kaos berwarna hitam dengan lengan panjang. Keduanya duduk di sofa, saling memandang dengan sorot mata penuh kebahagiaan.
“Maaf karena aku harus bolak balik ambil baju di sini?” tanya Fahad dan Nayla pun mengangguk. “Berlebihan. Aku aja nggak apa. Ya, kalau mau aku nggak bolak balik juga nggak apa-apa, aku stay di sini aja terus. Siang malam.”
Cubitan mendarat di lengan Fahad, dari Nayla tentunya. “Ngaco!” serunya.
Fahad mengatakan bahwa ia tidak akan pergi ke kebun ataupun ke tempat produksi, ia ingin mengajak Nayla berkeliling Srinagar, Kashmir, menikmati keindahan yang tak berujung itu.
“Nanti kita ke Dal lake, di sana kita bisa naik perahu.” Kata Fahad.
Saat keduanya beranjak berdiri untuk keluar kamar, sebuah nada notifikasi messenger terdengar dari ponsel Nayla. Ponsel yang tergeletak di atas ranjang itu segera di ambil Fahad.
Nayla hanya diam, mengamati Fahad yang menggeser-geser layar ponsel itu—sembari sesekali pandangan mata Fahad mengarah kepada Nayla dengan sorot mata tajam.
Pesan dari siapa? Kenapa wajahnya kayak marah gitu?
__ADS_1
Nayla membatin. Ia mendekat, lalu bertanya siapakah si pengirim pesan itu. Tak ada jawaban apapun yang keluar dari bibir pria itu, ia masih asik membaca isi pesan.
“Dia siapa?” tanya Fahad dengan sorot mata tajam yang menghujam Nayla.
“Siapa?” tanya balik Nayla. Tangannya ingin mengambil alih ponsel miliknya dari tangan Fahad, namun pria itu justru menjauhkannya. “Siapa, Fahad? Kalau kamu nggak kasih tunjuk, gimana aku bisa jawab itu siapa.”
Fahad pun memberikan ponsel itu kepada Nayla, “dia siapa?” tanyanya lagi.
Kedua alis Nayla saling bertaut, “aku nggak kenal.”
Fahad merebut kembali ponsel tersebut. “Kalau nggak kenal, kenapa dia ngirim pesan sama kamu? Dan bukan cuma satu orang, banyak yang ngirim pesan sama kamu. Semuanya dari India, Pakistan, dan Nepal.” Fahad marah. Matanya semakin tajam menatap Nayla.
“Ya, namanya aja Facebook, pasti banyak yang kirim pesan. Kamu juga pasti gitu, kan? Banyak cewek yang kirim pesan.” Nayla membela diri. Sebab ia memang tidak merasa melakukan sesuatu di luar batas. Memang banyak yang mengirim pesan, tapi ia mengabaikannya lalu memblokir akun pria yang mengirim pesan yang tak sopan kepadanya.
“Ini lagi. Siapa Naseer? Kenapa dia tahu kalau kamu lagi di India?” tanya Fahad.
“Aku nggak kenal, Fahad, mungkin dia tahu dari story aku waktu di bandara kemarin. Aku tag lokasi, kan.”
Pagi yang tenang itu berubah dengan sedikit perdebatan di antara mereka. Perdebatan tentang si pengirim pesan. Fahad dengan rasa cemburu yang dibalut amarah itu bertanya semua hal kepada Nayla. Mulai sejak kapan kekasihnya itu berteman dengan pria tersebut. Apakah Nayla mengenal pria itu lebih lama daripada mengenal dirinya.
Pertanyaan bodoh. Baiklah, itu bukan pertanyaan bodoh menurut Fahad, tapi itu semua sangat memuakkan bagi Nayla. Pertanyaan yang sungguh tidak penting.
“Bisa aja kamu udah hapus pesan balasannya. Biar aku nggak tahu. Aku blokir semua teman Facebook kamu yang cowok.”
“Ya ampun, Fahad! Terserah apapun pemikiran dan apapun yang kamu lakukan. Terserah!”
Nayla meninggalkan Fahad, ia keluar kamar dengan emosi yang sudah menyulut hati dan pikirannya. Ia berjalan cepat, menuruni anak tangga lalu menuju ke dapur—membantu Hannah.
Nayla tak henti menggerutu akan sikap Fahad. Ia mencoba memahami kecemburuan pria itu, tapi apapun yang ia jelaskan tak pernah di dengarkan oleh Fahad. Kekasihnya itu sudah menyimpulkan semuanya sendiri. Berpikiran negatif.
Sampai di dapur, ia tak memperlihatkan apa yang baru saja terjadi di hadapan Hannah. Ia memilih diam, lalu membantu asisten rumah tangga di rumah Fahad itu. Ia melihat Ammi yang tengah berjalan lagi di halaman bersama Ibu Fatimah. Sementara Yasmin dan Yumna, kedua gadis itu belum keluar dari kamar.
Derap kaki dari sandal Fahad terdengar, Nayla melirik sekilas saat pria itu berjalan ke arahnya. Segera Nayla mengambil cangkir teh yang sudah terisi itu lalu membawanya kepada Fahad.
“Sini, duduk.” Nayla menarik pergelangan tangan Fahad lalu menuntunnya untuk duduk di kursi meja makan. “Diam dan minum tehmu,” ketus Nayla. Ia meletakkan cangkir teh itu di meja.
“Kamu marah?” tanya Fahad sebelum Nayla memutar tubuhnya untuk kembali ke dapur.
__ADS_1
Nayla tersenyum, terlihat sekali bahwa senyuman itu di paksakan olehnya. “Enggak. Buruan di minum tehnya.”
Sebuah senyuman terukir di bibir Fahad, kemarahan Nayla sungguh menggemaskan baginya.
***
Fahad meminta ijin kepada Ammi bahwa ia akan mengajak Nayla keluar, menikmati keindahan Srinagar. Ya, tentu Ammi mengijinkan.
Nayla menolak, bukan di depan Ammi tentunya. Ia kini berada di kamar, duduk di pinggir ranjang, menghadap ke jendela. Ia sudah sangat kesal akan sikap Fahad, oleh sebab itu ia menolak untuk pergi. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin menikmati keindahan Srinagar, Kashmir.
Bujukan serta rayuan Fahad berhasil membuat Nayla mengiyani ajakan pria itu. Rayuan tentang keindahan Danau Dal yang sangat terkenal di Srinagar. Kawasan yang juga di sebut sebagai Heaven on Earth itu menyuguhkan pemandangan danau yang akan memanjakan mata. Di sana juga terdapat penginapan—yang terbuat dari kayu—di atas air dengan harga yang ramah di kantong para backpacker. Soal harga juga masih bisa di negosiasikan.
Sama halnya dengan harga untuk menaiki perahu sikhara—perahu dayung yang akan membawa berkeliling danau. Para wisatawan selalu menaiki perahu beratapkan kain serta bangku yang beralaskan bantal itu untuk memuaskan keinginan mereka.
Sesampainya di sana, Fahad mengajak Nayla menaiki perahu. Seakan lupa oleh marahnya, Nayla tak henti menebar senyum melihat Danau Dal yang sudah mampu membuatnya jatuh cinta dalam pandangan pertama. Perahu dayung itu membawa mereka mengelilingi danau, hamparan air luas serta pemandangan pegunungan dan rumah-rumah penginapan sungguh memanjakan mata Nayla.
“Pagi-pagi di sini juga ada pasar apung, Sayang, para penjual bawa dagangan mereka di atas perahu. Bukan cuma pembeli dari daerah sini aja, bahkan wisatawan juga rela nyewa perahu pagi-pagi buta. Padahal jam segitu belum ada yang nyewain. Tapi kalau sesuai perjanjian, pasti di antar.” Fahad menjelaskan.
Ya, pasar apung itu sama seperti pasar apung di Kalimantan, Indonesia. Para penjual di pasar apung, Kashmir, terkadang juga melakukan barter untuk masing-masing dagangan mereka.
Nayla merogoh saku jaketnya—berniat mengambil foto. Bibirnya mencebik kesal tatkala mengingat ponsel yang membuatnya bertengkar dengan Fahad pagi tadi. Nayla mendadak diam, ia yang semula mengajak Fahad berbicara, kini memilih mengabaikan pria itu. Pandangannya ia buang ke sembarang arah.
“Sayang.” panggil Fahad namun tak ada sahutan apapun dari kekasihnya itu. “Sayang,” panggil Fahad lagi.
Fahad meraih jari jemari Nayla, menggenggamnya dengan erat. “Kamu masih mau diam aja, apa kita ambil foto sekarang? Mumpung shikaranya belum sampai di darat.”
“Gimana mau ambil foto? Aku aja nggak bawa handphone!” ketus Nayla.
“Oh.” Fahad mengangguk, ia mengerti sebab apa yang membuat Nayla mendadak diam dan mengacuhkannya. “Masih marah soal tadi pagi.” Fahad merogoh saku celana jeans-nya, mengambil ponsel miliknya lalu menyerahkannya kepada Nayla. “Ini, pakai handphoneku aja. Nanti aku kirim ke kamu.”
Keduanya mengambil foto bersama dengan bantuan si pemilik perahu. “Kamu senyum atau aku dorong ke danau?!” gertak Fahad.
Nayla mendengkus kesal. “Iya, senyum, nih!” katanya sembari memasang senyum yang membuat wajahnya semakin cantik di mata Fahad.
***
__ADS_1