Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 102


__ADS_3

“Nanti jadi ketemu sama Mahira?” Fahad bertanya, ia membuka pintu.


Nayla mengangguk. “Sebelum ketemu Mahira, aku pergi ke anak-anak dulu.”


Fahad mendekap erat tubuh Nayla, sebentar lagi ia akan pergi ke Kashmir. Ia akan berada di sana selama seminggu. Begitulah kata Ammi, putranya harus berada di Kashmir seminggu penuh. Berat sekali kakinya melangkah meninggalkan istrinya sendiri di negara asing. Meskipun sudah hampir setahun Nayla berada di India, Fahad tetap tidak tega meninggalkannya seorang diri. Ia meminta tolong kepada Sahil dan Sanju, agar sering-sering berkunjung ke apartemennya. Juga, ia memperingatkan Anand agar mengawasi istrinya hari ini—seperti biasa, saat Nayla mengunjungi anak-anak yang kurang beruntung, yang belajar bersama Akruti, salah satu sukarelawan yang dengan ikhlas mengajarkan membaca dan menulis.


“Jangan khawatir, jangan buru-buru balik ke sini, Ammi kangen sama kamu, beri dia waktu lebih lama. Aku baik-baik saja.” Nayla berujar, senyuman tak pernah pudar setiap ia mengantar suaminya hingga ke depan pintu apartemen.


Senyuman itu meneduhkan, namun juga menyayat hati Fahad. Istrinya selalu mengatakan agar mengutamakan Ammi, dan menuruti semua yang diperintahkan. Sakit. Sakit sekali. Entah sampai kapan Fahad harus menyaksikan rasa kecewa dan sakit sang istri dibalik senyum tulusnya. “Kamu jangan capek-capek. Oh, iya, jangan telat minum vitamin dan susunya, ya.” Lagi, ia membenamkan bibirnya di bibir manis sang istri, cukup lama.


Fahad sudah menghilang dibalik pintu lift, segera ia tutup pintu apartemen. Sama seperti bulan-bulan yang lalu, sesudah mengantar Fahad ... tetes demi tetes mengalir membasahi pipinya. Nayla terduduk lemas, ia harus mengalah lagi. Demi Ammi. Inilah salah satu bentuk baktinya kepada mertua, selama masih menjadi istri Fahad, Nayla akan berusaha menjadi menantu yang baik. Salah satunya, dengan mengikhlaskan Fahad menikah lagi.


Jangan nangis Nayla, jangan nangis. Kamu sudah tau, jadi jangan nangis lagi. Bertahanlah sebentar lagi, empat bulan lagi. Semuanya akan selesai dalam waktu empat bulan.


Ucapan yang selalu Nayla sematkan di dalam hatinya. Tangannya berada di perut, mengatakan kepada bayinya untuk bersabar. Nayla yakin, bayinya mendengar apapun yang ia katakan. “Maaf, Nak, maafin mama. Kamu harus dengar setiap tangisan mama. Maaf.” Satu tangannya menyentuh dada, berharap sentuhan itu bisa sedikit meredakan rasa sakit yang semakin menusuk hati.


Tidak pernah sekalipun Ammi merubah rencananya. Semua tetap berjalan sesuai apa yang wanita itu inginkan. Tidak ada lagi harapan untuk Nayla, harapan untuk keutuhan rumah tangganya, untuk merajut setiap kebahagiaannya bersama Fahad.


Andai saja, ia tidak pernah membuka hati untuk Fahad. Andai saja, saat itu ia bisa tega mengusir Fahad. Tentu semua ini tidak akan pernah terjadi. Cinta itu harus ia bayar dengan rasa sakit yang tak terkira. Tembok perbedaan sosial itu memang nyata, bahkan kini semakin tinggi. Nayla sangat kesulitan menggapai tembok besar dan tinggi itu.


Astaghfirullah ...

__ADS_1


Menyadari kesalahannya, Nayla berusaha menghilangkan rasa penyesalan itu di hati dan pikirannya. Dosa, jika ia menyesali apa yang sudah Allah berikan. Pernikahan itu memang untuknya, Fahad memang jodohnya—mungkin ia dan Fahad hanya berjodoh sampai bayinya lahir ... nanti.


Bayi itu bergerak, membuat Nayla berhenti menangis. Senyuman terukir indah di bibirnya. “Siap, Nak, mama berhenti nangis.” Mengelus perutnya, Nayla beranjak berdiri untuk membersihkan wajahnya. Matanya terlihat sedikit sembab. Tak mengapa, jadwalnya menemui anak-anak adalah jam satu siang. Setelah itu, ia akan bertemu dengan Mahira di salah satu mall. Selama itu, matanya yang sembab akan hilang dengan sendirinya.


***


Nayla sudah berada di salah satu kedai biryani langganannya. Ada sekitar 30 paket biryani lengkap dengan minuman yang sedang dimasukkan ke dalam mobil oleh dua orang pekerja kedai tersebut dan juga sopir yang mengantarnya—selama di Kashmir, Fahad menyuruh sopir kantor untuk mengantar Nayla kemanapun istrinya itu ingin pergi.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ramai ibukota India. Nayla sampai, teriakan anak-anak yang memanggil namanya terdengar sangat riuh. Membuat senyum Nayla seketika terbentuk indah. Akruti membantu menurunkan makanan dan minuman. Selain makanan, Nayla juga membawakan mereka alat tulis—dengan begitu, anak-anak akan lebih bersemangat untuk belajar.


“Kak Nayla, terimakasih sudah membantu anak-anak di sini. Mereka lebih bersemangat lagi. Lihatlah, jumlah mereka semakin banyak.” Akruti menjelaskan, hari ini ada dua anak yang datang dan bergabung untuk belajar bersama. Sekarang, total ada 15 anak. “Kakak, kenapa selalu membawa makanan sebanyak ini? Jumlah mereka hanya separuh paket nasi ini, Kak.”


“Ayo semuanya duduk!” Akruti memberi aba-aba. “Kak Nayla perutnya sudah semakin besar, jangan membuatnya kerepotan. Duduk yang rapi, semuanya pasti dapat.”


Mantra yang selalu berhasil membuat anak-anak duduk dan diam. Akruti membantu Nayla. Ia membagikan minuman, sementara Nayla membagikan makanan. Anak-anak itu duduk berdampingan di tangga bawah jembatan. Tempatnya cukup bersih, Akruti selalu membersihkannya sebelum dan sesudah jam pelajaran. Karena, Akruti sendiri tidak bisa mengajar jika tempatnya kotor, pun ia merasa sungkan jika Nayla datang sementara tempatnya mengajar masih kotor. Anak-anak juga pasti merasa nyaman jika tempat belajar mereka bersih.


Melihat anak-anak itu makan dengan lahap, membuat hati Nayla merasa bahagia. Senyum dan tawa mereka seolah membantunya melupakan masalah yang beberapa bulan ini ada di hidupnya. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tiga sore, Nayla berpamitan kepada anak-anak dan juga Akruti. Ia harus segera berangkat menemui Mahira di tempat biasa—di salah satu restaurant, di dalam mall.


“Kakak, hati-hati, ya. Jaga kesehatan, perutnya sudah semakin besar. Dia pasti gendut banget.” Akruti mengantar Nayla. “Oh, iya, sekali lagi terima kasih, Kak.”


“Sama-sama, Akruti, aku senang bisa mengenal kamu dan mengenal mereka.” Berawal dari ketidak sengajaan Akruti yang menabrak Nayla di sebuah jalan, kala itu Akruti sedang terburu-buru, ia sedikit terlambat untuk mengajar ... sementara Nayla, ia sedang berjalan sembari menundukkan wajahnya setelah mendapat telpon dari Ammi. Merasa perlu seorang teman, Nayla pun ikut bersama Akruti dan menyaksikan gadis itu ketika mengajar anak-anak yang kurang beruntung tersebut.

__ADS_1


***


Lambaian tangan dari Mahira menyambutnya. Nayla sedikit mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri wanita cantik berambut panjang itu. Saling memberi pelukan, keduanya menanyakan kabar masing-masing. Nayla duduk tepat di depan Mahira.


“Kamu naik taksi?” tanya Mahira.


Nayla menggeleng, “aku diantar sopir kantor.”


Jus alpukat yang Nayla pesan sudah berada di hadapannya. Mahira, menikmati es kopi latte kesukaannya.


Mahira memperhatikan wajah Nayla yang sedikit pucat, juga tubuh wanita hamil itu tidak terlihat berisi atau gemuk. Dari bukan kemarin, ia ingin sekali menanyakannya. Sebab, setiap bertemu dengan Nayla, istri Fahad itu terlihat pucat dan lelah. Demi menjaga privasi dan kenyamanan Nayla, ia menahan diri untuk tidak bertanya. Tetapi, kali ini ia tidak tahan lagi.


“Nayla, maaf, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?” tanya Mahira dengan lembut.


Nayla terdiam, ia menatap Mahira dengan bingung. Selama ini, ia menjaga semuanya seorang diri. Tidak ada yang tau apapun yang ia rasakan. Semua Nayla lakukan untuk Fahad, menjaga nama baik suaminya adalah tanggungjawabnya. Menggeleng pelan, Nayla mengatakan tidak ada apa-apa. Saat Mahira bertanya tentang wajahnya yang pucat, Nayla menjawab bahwa ia memang sedikit lelah saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Nayla tidak tersinggung, ia justru merasa senang ada yang memperhatikannya. Tidak mungkin ia akan membuka masalah rumah tangganya dihadapan orang lain. Nayla tidak ingin dikasihani. Cukup Allah yang tau, luka hatinya pasti akan sembuh—nanti setelah ia berpisah dari Fahad.


Mahira tidak bisa memaksa, meskipun sebenarnya ia masih sangat penasaran. Nanti saja, sesampainya di hotel ... ia akan menelpon Bibi Farida untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah Fahad. Perjodohan Mahira dan Fahad merupakan usulan dari Bibi Farida, wanita paruh baya itu menilai, Mahira adalah istri yang cocok untuk keponakannya. Sebaik-baik rencana manusia ... rencana Allah adalah yang terbaik untuk hamba-NYA. Semua sudah diatur sedemikian rupa, mana yang terbaik untuk Fahad, Mahira dan Nayla.


***

__ADS_1


__ADS_2