Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 5 S2


__ADS_3

Kesalahpahaman antara Fahad dan Nayla sudah mereda. Meski Fahad tak bisa memungkiri masih ada rasa cemburu di hatinya, tapi apa yang di katakan Nayla memanglah benar ... Mereka hanya teman. Fahad tidak punya alasan untuk tetap cemburu pada Ryan yang sudah jelas tidak pernah menghubungi istrinya sejak mereka menikah.


Nayla selalu berusaha tidak membuat suaminya itu cemburu dengan membatasi diri untuk berteman dengan lawan jenisnya. Sejauh ini hanya Doni yang tetap akrab dengannya. Fahad tidak merasa cemburu pada Doni. Doni juga termasuk pria yang tampan, sama seperti Ryan. Namun, hanya Ryan saja yang menjadi alasan kecemburuan Fahad.


Nayla dan Fahad sudah selesai memeriksa persiapan pembukaan butik yang akan dilangsungkan sekitar satu minggu lagi. Semua sudah rampung. Karyawan tetap juga sudah ada. Dengan bantuan Andi, Nayla bisa menyelesaikan semuanya lebih cepat dari perkiraan. Adik dan suaminya sangat mendukung bisnis barunya. Ide membuka butik sendiri datang dari Andi. Kata adiknya tersebut, Nayla memiliki selera bagus dalam hal fashion. Kakaknya sangat pandai memadupadankan busana untuk wanita berhijab. Tetap dalam batas wajar, namun terlihat sangat modis untuk ukuran wanita yang sudah menikah dan juga seorang muslimah.


Modal yang didapat Nayla adalah pemberian Andi. Suaminya hanya memberikan 10% dari apa yang dibutuhkan dan ia minta. Uang kontrak pertama dari hasil kerjanya, Andi berikan semuanya untuk Nayla. Andi tau, kakaknya tidak suka berpangku tangan dan hanya menerima uang bulanan dari suaminya. Andi juga tau, Nayla sangat ingin bekerja. Dan usaha butik ini memanglah yang terbaik untuk sang kakak. Semua sudah mendapat izin dari Fahad. Andi lega, kakaknya tetap bisa produktif meskipun sudah menjadi seorang istri dan juga seorang ibu. Apa yang dia berikan untuk Nayla tidaklah sebanding dengan pengorbanan sang kakak. Andi bahagia bisa selalu berada di samping Nayla.


“Kamu beneran nggak apa, kan? Aku dapat semua modal ini dari Andi? Kalau kamu keberatan, aku bisa batalin semuanya.” Nayla sedikit memiringkan tubuhnya, agar pandangnya bisa lebih leluasa meminta Fahad yang tengah fokus akan kemudinya.


Fahad menggeleng, ia menoleh sejenak kepada Nayla, menepiskan senyumnya. “Sayang, aku sebenarnya juga sudah punya rencana untuk kamu. Aku pikir, kamu mau buka restaurant juga, kan kamu sudah punya pengalaman di dunia itu. Tapi, ternyata Andi memang lebih tau kamu daripada aku. Kamu ada passion di dunia fashion. Aku bahagia, bisa lihat kamu seperti ini. Aku nggak keberatan soal modal itu, apapun yang baik untuk kamu ... aku pasti dukung.”


Di India. Warga negara asing tidak bisa dengan leluasa membuka usaha meskipun sudah menikah dengan warga India. Kepemilikan harta pun juga sudah diatur. Maka dari itu, Fahad mempunyai rencana untuk Nayla membuka usaha di Indonesia. Semuanya berjalan lebih baik dari apa yang Fahad perkirakan. Ia tidak ingin mencampuri urusan materi milk istrinya, pun dengan Nayla ... istrinya tidak pernah menanyakan harta bendanya, selalu Fahad yang mengatakan semuanya sebelum Nayla bertanya. Karena Fahad tau, istrinya tidak akan pernah bertanya apapun jika menyangkut harta.


***


Sore hari, Fahad tengah duduk di ruang tamu bersama Shazia. Sementara Nayla di dapur membuatkan kopi untuk suaminya. “Om!” teriak Shazia begitu melihat Andi datang.


“Hai, Gembul,” sapa Andi yang turun dari motornya. Shazia berlari menghampiri omnya dengan senyuman. Senyum itu menjadi mood booster Andi di kala ia pulang dalam keadaan lelah.


“Cantik banget, sih, ponakan om ini.” Mengangkat tubuh Shazia kedalam gendongannya.


“Sudah pulang kamu?” tanya Nayla sembari menyuguhkan segelas kopi untuk adiknya.


“Belum, masih di jalan!” Andi berseru.


Nayla tersenyum, pertanyaan lucu kembali ia lontarkan. Sudah tau jika adiknya pulang, namun ia masih saja bertanya. “Mau makan sekarang?” tanya Nayla.


Andi menggeleng. “Mbak, nanti malam temenku mau ke sini. Boleh, kan?” Mendudukkan tubuh Shazia diatas meja.


“Cowok apa cewek?” selidik Nayla.


Andi meminum kopi yang baru disuguhkan Nayla lalu menjawab, “ya, cowok, Mbak. Masa cewek. Kalau cewek nanti Fahad bisa lirak-lirik, kan, bahaya.” Andi dan Nayla tertawa.


“Kalau ngelirik saja nggak masalah, Andi.” Fahad menyahut. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi samping adik iparnya.


“Wah. Nyari masalah!” Mata Nayla membulat sempurna. Membuat Andi tertawa melihat keduanya. “Oke, aku juga bisa lirik-liriknya sama Ryan.”


“Sayang ...” Fahad memelas. “Jangan gitu, aku bisa khilaf, loh.” Memohon sekaligus memperingatkan.


***


Seusai makan malam, Fahad mengajak Shazia pergi ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa camilan. Nayla masih sibuk di dapur, membersihkan meja dapur dan meja makan. Nayla tidak hanya mengurus Shazia, namun juga dua bayi besarnya. Andi dengan segala permintaanya tentang makanan, dan Fahad yang sesekali meminta dimasakkan makanan India. Kedua pria itu tidak cocok jika menyangkut makanan, membuat Nayla harus memaksa dua menu berbeda jika Fahad sedang ingin makan makanan India. Suaminya termasuk jarang makan makanan berlemak, hanya sesekali ... jika merindukannya. Menjaga bentuk tubuh, dan juga menjaga kesehatan, begitulah kata Fahad.


Olahraga selalu rutin Fahad lakukan. Tidak ada perut buncit ataupun otot yang berlebih. Tubuhnya tetap terjaga dengan baik. Semua itu Fahad lakukan untuk menyeimbangi sang istri. Agar tidak ada yang mengira dia adalah sugar daddy dari Nayla.


Andi mempersilahkan temannya untuk masuk, setelah sebelumnya ia mengatakan kepada kakaknya agar memakai hijabnya lebih dulu.


“Lama banget, mampir kemana dulu tadi?” tanya Andi pada Reza yang tengah mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.


“Cuma mampir ke rumah Alfi, nganter pesanan dia.” Reza menjawab.


Andi berdecak kesal, ia sangat hafal jika Reza selalu menuruti apapun yang di minta oleh Alfi—kekasihnya. “Alfi pesan apa?” tanya Andi lagi.


“Martabak.” Reza mengeluarkan laptop, menaruhnya di meja lalu menyalakan benda berbentuk persegi itu.


Andi mengernyit heran. “Perkara martabak doang. Kenapa Alfi nggak beli sendiri?”


“Mager katanya.”


“Dia ham—”


“Eh!” tukas Reza sembari menoyor kepala Andi. “Mulutnya nggak bisa direm? Gw masih tau batasan, ya!” serunya tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Alih-alih marah, Andi malah tertawa mendengar pernyataan Reza. “Masa, sih?!”


Nayla keluar dari dapur, menyuguhkan kopi untuk Andi dan juga Reza.


“Istri lo, Ndi?” tanya Reza begitu melihat Nayla menaruh kopi di depannya.


“Sembarangan!” giliran Andi yang menoyor kepala Reza. Nayla hanya tersenyum lalu kembali ke dapur.


Reza menyentuh bagian kepalanya, "Kok kenceng noyornya? Kan, tadi cuma nanya, emang dia siapa?" tanya Reza penasaran.


“Mbak gw.” Andi mulai menyalakan laptop, mengeluarkan buku catatannya dari ransel.


“Lo punya mbak? Kok, gw nggak tau?” Reza masih menatap pintu dapur. “Kenalin, dong. Minta nomor hpnya.”


Andi mengatakan bahwa Nayla sudah menikah. Namun Reza tak serta-merta mempercayainya, ia kembali meminta Andi untuk mengenalkannya pada Nayla. “Dibilang udah nikah, masih aja nggak percaya!” Andi mulai kesal.


“Ah, bohong. Mana ada cewek sudah nikah badannya masih kayak anak SMA gitu,” kata Reza.


Lagi, Andi menoyor kepala Reza. “Suaminya dengar digampar baru tau rasa!” Andi berseru. Otak mesum temannya ini sudah dalam mode on.


“Mama!” Shazia yang baru pulang itu langsung berlari masuk mencari Mamanya. Disusul Fahad yang berjalan masuk dengan dua kantung kresek berisi camilan di tangannya.


Reza melihat Fahad yang menepiskan senyum padanya, ia pun membalas senyuman itu dengan kaku. “Itu suaminya?” menyenggol lengan Andi.


“Iya. Masih mau minta nomor telpon Mbak Nayla?”


Reza menggeleng keras dengan senyum yang ia paksakan. “Enggak! Emang siapa yang mau minta? Suaminya aja secakep itu ... nah, aku cuma remahan biskuit gini mana bisa di


sejajarin sama suaminya. Remahan biskuit, udah remuk, dikerubutin semut lagi.” Tutur Reza yang membuat Andi tergelak.


 ***


Sejak pagi, Nayla sibuk menghubungi Akruti, guru sukarela anak-anak jalanan. Tak lupa ia juga menghubungkan Anand untuk mengambil makanan dan minuman yang biasa ia pesan untuk para anak-anak itu. “Kamu lagi telpon siapa tadi?” tanya Fahad begitu ia selesai sarapan.


Kedua alis Fahadterangkat naik, ia kembali mendengar nama pria lain. Ya, itu hanya Anand. Fahad tidak cemburu, hanya saja ia harus mendengar nama pria lain di pagi hari.


Tidak ada respon dari suaminya, Nayla pun menoleh dan saling beradu pandang dengan Fahad yang tengah berdiri di tengah pintu kamar. “Cemburu?” tanya Nayla.


Fahad tersenyum. “Ini lagi mikir, cemburu apa enggak enaknya?” tanyanya seraya berjalan mendekat pada sang istri.


Ck! Nayla melempar ponselnya ke atas tempat tidur. “Gitu aja terus! Kalau perlu krangkeng aja aku sekalian. Pakai rantai yang gede!” Nayla berseru dengan geramnya.


Fahad terkekeh, ia berhambur memeluk Nayla yang berkacak pinggang itu. “Ini masih pagi, jangan ngegemesin kayak gitu,” ujar Fahad. “Aku lupa kalau hari ini jumat, telpon Anand lagi sana! Nanti aku kasih dia bonus karena udah mau disuruh istriku ini.” Fahad mengambil ponsel yang Nayla lempar tadi lalu menyodorkannya pada sang istri. Ia memilih keluar kamar, sebelum istrinya itu bertambah marah.


Nayla keluar kamar, menghampiri Fahad dan putrinya yang bermain di ruang tv. “Sayang, aku dua hari lagi harus balik. Ini aku mau pesan tiket.” kata Fahad begitu Nayla duduk di sampingnya.


“Kok, mendadak? Kamu nggak nunggu grand opening butik dulu?”


Tidak ada pilihan, Fahad tetap harus kembali ke New Delhi. Banyak pekerjaannya yang tertunda. Meeting penting itu tidak bisa digantikan oleh Sahil atau hanya bertukar kontrak kerjasama melalui email. Fahad harus datang sendiri. Menyusun serta mempelajari kontrak yang akan memperbesar perusahannya.


Shazia berdiri, ia ambruk dipangkuan mamanya. “Ma, Zia mau main sama om.” Ucapnya dengan suara lirih.


Nayla mengerutkan keningnya. Andi baru saja berangkat, tapi putrinya ini sudah merindukannya.


“Bukan Om Andi, Ma!” seru Shazia. “Om Iyan, Zia mau main sama Om Iyan ...” Rengeknya penuh harap.


Fahad yang sedang minum itu terbatuk-batuk setelah mendengar putrinya yang menyebut nama Ryan. Meletakkan gelas di meja, membawa Shazia duduk dipangkuannya. “Siapa?” tanya Fahad.


“Om Iyan.” Shazia menjawab dengan polosnya. Sementara Nayla, jari-jemarinya saling meremas, ia takut. Nama Ryan kembaki hadir ditengah-tengah mereka.


“Kenapa Om Ryan, Zia?” tanya Fahad lagi.


“Zia mau main sama Om Iyan.”

__ADS_1


Nayla beranjak, ia ingin kabur saja dari situasi itu. “Mau kemana?” Fahad meraih pergelangan Nayla sebelum istrinya itu benar-benar berdiri.


“Aku mau ke dapur,” jawabnya tanpa melihat Fahad.


“Sini, duduk.” Fahad menarik Nayla lalu menurunkan Shazia dari pangkuannya. Mau tidak mau, Nayla harus duduk menuruti perintah suaminya. “Aku nggak marah, kok. Kan, aku cuma nanya sama Shazia.” Menyentuh lembut pipi Nayla dengan punggung tangannya.


“Aku nggak akan marah lagi, aku sedang berusaha nggak cemburu. Aku tau kalian cuma temenan.” Fahad merengkuh tubuh Nayla dari samping, ia tidak ingin membuat Nayla takut.


“Ma, Zia mau ketemu Om Iyan.” Shazia kembali bersuara.


“Ryan sekarang kerja di mana?” Fahad bertanya. Nayla menatap kedua mata suaminya. Baru kali ini suaminya itu menyebut nama Ryan. “Sayang, Ryan kerja di mana? Masih di tempat yang dulu?” Fahad kembali bertanya.


Nayla menggeleng dengan cepat, “Enggak.”


“Kamu tau tempatnya?” tanya Fahad lagi.


Nayla diam, mencoba mencerna apa maksud dari pertanyaan suaminya ini. Nayla takut salah bicara hingga menimbulkan salah paham lagi diantara mereka.


Untuk sejenak pandangan mereka saling beradu, tak kunjung ada jawaban ... Fahad pun mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Lebih dekat dan dekat, sebuah ciuman ia labuhkan di bibir manis Nayla. Berusaha meyakinkan istrinya bahwa ia benar-benar tidak sedang cemburu pada Ryan lagi.


“Ada Zia, Afsal ... nggak malu apa dilihat anak?” gerutu Nayla begitu Fahad menyudahi ciumannya.


“Ya, kamu ditanya malah diam saja. Aku jadi gemes.” Fahad melihat Shazia yang masih asik dengan mainannya, tak mempedulikan mama dan papanya yang saling berciuman.


***


Sebelum kembali ke India, Fahad mengajak Nayla dan juga putrinya untuk pergi ke kebun binantang. Shazia pasti sangat senang, mengingat ini adalah kali pertama putrinya itu berwisata ke kebun binatang.


Sampailah mereka di tempat tujuan, bukan hari weekend ... kebun binantang itu tidak terlalu ramai. Namun, juga tidak terlalu sepi. Masih ada beberapa segerombolan wisatawan yang datang. “Nanti jangan lepas tangan aku, kalau hilang kan ribet,” kata Fahad sembari melepas self belt-nya.


Nayla mengerucutkan bibirnya, tanda protes. Namun, tak lama ... sebuah senyuman terbit dari bibir manisnya. Fahad menggenggam tangannya sekaligus mendorong stroller Shazia. Mereka berjalan mengelilingi kebun binatang tersebut. Shazia menunjuk setiap apa yang ia lihat, bibir mungilnya itu tak henti berteriak riang melihat berbagai binatang di sana.


“Bulung, Ma!” kata Shazia.


“Burung, Zia ... bukan bulung.” Fahad menyahut.


Nayla mencubit lengan Fahad, bukan kesakitan ... suaminya justeru terkekeh mendapat cubitan itu. “Nanti malam saja main cubit-cubitannya, masa sekarang.”


Nayla berdecak kesal. Begitulah suaminya, selalu menghubungkan satu hal dengan hal lain sesuka hatinya.


Waktu sudah menunjukkan untuk menunaikan ibadah salat Jumat. Fahad dan Nayla segera keluar area kebun binatang dan mencari masjid terdekat. Tak jauh dari kebun binatang terdapat sebuah masjid yang cukup besar. Fahad segera masuk setelah sebelumnya berpesan pada Nayla untuk mengunci pintu mobil.


Nayla keluar, ia akan pindah ke kursi belakang menemani Shazia.


“Nayla?" panggil seseorang, Nayla pun menoleh dan mendapati Ryan yang sudah berdiri di belakangnya.


Eh, duh! Ada dia di sini. Batin Nayla berteriak.


“Kok, sendirian, Nay?” tanya Ryan.


Nayla menepiskan senyumnya pada Ryan. “Fahad sudah masuk tadi.” Jawabnya.


Ryan melihat Shazia yang tertidur karena pintu mobil itu sedikit terbuka. “Tidur dia?” tanyanya.


Nayla melihat Arishfa yang masih terlelap lalu kembali menatap Ryan. “Iya, Kecapekan. Tadi dia nanyain kamu.”


Ryan tersenyum simpul mendengar Shazia menanyakannya. “Masa sih? Aku tadi juga lagi mikirin dia. Matanya itu suka bikin kangen,” tutur Ryan. Entah mata Shazia atau mata Nayla yang ia rindukan.


Ryan berpamitan untuk masuk ke masjid.


Tak henti Nayla berdoa, semoga Fahad dan Ryan tidak bertemu didalam Masjid. Suaminya memang sudah mengatakan akan mengontrol rasa cemburu, namun Nayla tetap saja merasa takut jika suaminya lepas kendali. Nayla mencoba berpikir positif, didalam terdapat banyak orang dan masjid itu juga cukup luas, kecil kemungkinan Fahad akan bertemu dengan Ryan. Ya, semoga saja.


***

__ADS_1


 


__ADS_2