Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 14 S2


__ADS_3

Sesudah menemani Shazia bermain sebentar, Nayla kini memilih menyibukkan diri dengan membantu karyawannya. Ponsel ia biarkan didalam tas, tanpa mengaktifkannya. Sebelum keluar ruangannya, Nayla lebih dulu menyingkirkan benda-benda yang sekiranya berbahaya jika sampai tersentuh oleh sang putri. Karpet tebal dan halus sudah ia persiapkan agar Shazia lebih nyaman bermain, dan ... Nayla menyediakan sofa yang juga bisa dialih-fungsikan menjadi tempat tidur.


Nayla melihat sosial media butik, penjualan online juga membuahkan hasil. Ada beberapa pesanan dari luar kota. Nayla memberikan harga dalam beberapa pilihan yang ramah bagi pelajar, mahasiswa, dan juga wanita karir serta ibu rumah tangga. Dengan begitu, karya miliknya bisa diterima oleh semua kalangan.


Berada di tempat yang cukup ramai, nyatanya tidak bisa membuat Nayla lupa akan suara wanita yang menjawab panggilannya. Seolah, suara itu terus saja mengetuk pintu hatinya dan memaksa masuk. Ragu? Entahlah ... rasanya,semua cinta dan kasih sayang Fahad sudah cukup terbukti selama menjalani rumah tangga bersamanya. Namun, semakin Nayla menepisnya, justru keraguanlah yang semakin nyata.


“Mbak Nayla?” Tia menghampiri Nayla di meja kasir.


“Ya?” kedua tangan Nayla mengambil alih Shazia dari gendongan Tia. Rupanya, putrinya itu meminta dibuatkan susu. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Nayla pun membereskan tas yang berisi barang bawaan milik Shazia. “Aku lupa, tadi susunya Zia habis. Aku pulang duluan, ya, mau sekalian mampir ke minimarket. Kalian sudah makan?” tanyanya.


“Sudah, Mbak,” jawab Tia dan yang lainnya.


“Tutup jam sembilan pas, ya. Oh, iya, Tia, tolong kamu kirim pesan ke Andi, bilang kalau aku sudah pulang duluan, biar dia nggak perlu jemput.” Nayla berpesan.


***


Bukan hanya susu, ada beberapa kebutuhan yang diperlukan Nayla di rumah. Dengan Shazia yang sedikit rewel, Nayla merasa kesulitan membawa dua kantung belanjaan yang berada di tangannya. Nayla memilih duduk di kursi teras minimarket, ia mengaktifkan ponselnya untuk memesan taksi online. Sebab tadi saat di butik, Tia yang sudah memesankan taksi untuknya.


“Sabar, Jaanu, mama pesan taksi dulu.” Di tempat terbuka, tidak mungkin bagi Nayla untuk menyusui sang putri.


“Mama ...” Shazia terus saja menangis. Ponsel sudah menyala dengan sempurna, dengan satu tangan yang ditarik-tarik oleh Zia, Nayla mencoba membuka aplikasi taksi online. Namun seseorang menyita perhatiannya saat tubuh Sazhia diangkat oleh ... Ryan.


“Ryan?” sontak Nayla pun berdiri.


Senyuman terukir indah dari bibir Ryan, lelaki itu memeluk serta menepuk punggung Shazia agar balita cantik itu tenang. Ya, benar saja. Shazia berhenti menangis. “Kamu sendirian?” tanyanya dengan lembut.


“Kamu kenapa ada di sini?”


“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku, Nay.”


“Hah? Oh, iya, maaf.” Nayla tersenyum. “Iya, aku sendiri. Andi masih sibuk di studionya, jadi aku mau naik taksi.”


Ryan kembali menawarkan tumpangan. Bukan tanpa alasan dia berada di minimarket, bukan karena ada Nayla. Melainkan memang ada sesuatu yang akan dibeli olehnya. “Sebentar, Nay, ada sesuatu yang mau aku beli. Tunggu, ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Nayla, Ryan berjalan masuk ke minimarket dengan Shazia yang tetap berada digendongannya.


Nayla melihat pesan-pesan dari Fahad. Suaminya itu menanyakan keberadaan dan juga keadaannya yang sejak pagi tadi tidak bisa dihubungi. Baru beberapa saat membaca pesan, Nayla dikejutkan dengan sebuah panggilan masuk dari suaminya. Alih-alih menggeser ikon panggil hijau, Nayla justru menggeser ikon panggil merah lalu menonaktifkan ponselnya lagi. Rasanya masih sakit, sakit sekali. Nayla belum siap mendengarkan penjelasan Fahad, yang mungkin saja akan membuat isi di dalam hatinya hancur tak bersisa.

__ADS_1


“Ayo, Nay?” ajak Ryan.


“Tapi, Yan—”


Langkah kaki Ryan berhenti. Ia memutar tubuhnya lalu menatap kedua manik mata Nayla dalam-dalam. Helaan napas panjang ia hembuskan. “Nay,” berjalan mendekat. “Aku nggak ada maksud apa-apa, aku cuma mau mengantar kamu pulang. Aku tau kenapa Zia rewel, dia ngantuk, kamu juga nggak bisa ...” Ryan berhenti sejenak, bibirnya sangat kelu untuk mengatakan kata menyusui. “Aku nggak bisa melanjutkan ucapanku, aku rasa kamu sudah mengerti apa maksudku. Jadi, aku boleh antar kamu pulang?”


Cukup lama, akhirnya Nayla pun mengangguk, menerima tawaran Ryan. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Jalanan ibukota malam itu cukup ramai. Shazia yang awalnya berada di pangkuan Ryan, kini sudah diambil oleh Nayla. Baru beberapa saat, putri kecilnya itu tertidur dengan sendirinya. Tangan lembutnya membelai lembut puncak kepala Shazia.


“Tidur juga.” Nayla bergumam.


Ryan menoleh sejenak, wajah polos Shazia membuat senyumannya terukir dengan sempurna. Sungguh menggemaskan. “Kamu masih lama di Indonesia?” Ryan membuka percakapan.


Nayla mengangguk, “sepertinya iya, sebentar lagi Sari dan Doni menikah, aku juga mau jadi bagian dari kebahagiaan mereka.”


Ah, sial! Senyuman serta tatapan mata Nayla selalu berhasil memikat hati. Ternyata, perasaan itu belum terkubur sepenuhnya. Sudah sekian tahun, tetapi setiap bertemu Nayla ... Ryan selalu saja tidak bisa membantah ataupun melawan berbagai perasaan yang muncul di hatinya. Sadar. Ryan sadar, siapa Nayla yang sesungguhnya. Tetapi entah mengapa, rasa itu benar-benar kuat. Rasa cinta itu sungguh menyiksanya. Semakin dia ingin menjauh, semakin besar pula rasa ingin bersama Nayla. Memandang senyuman serta tatapan mata wanita itu.


“Ryan, makasih, ya. Sehari ini aku ngerepotin kamu.” Nayla menghampiri Ryan di teras setelah ia menidurinya Shazia ke dalam kamar.


Ryan berdiri, menyerahkan kantung belanjaan milik Nayla. “Cuma kebetulan. Aku pulang, Nay, nggak enak dilihat orang.”


***


Andi baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Reza juga sudah pulang. Mengambil ponsel yang sejak siang tadi ia taruh di laci meja kerja, sepuluh panggilan dari Fahad tertera di sana. Tanpa pikir panjang, Andi segera menghubungi nomor kakak iparnya tersebut. Kebingunganlah yang Andi terima. Fahad menanyakan keberadaan istrinya yang tak lain ialah kakaknya, Nayla.


“Mbak Nayla mungkin sekarang sudah di rumah. Tadi Tia kirim pesan, katanya aku nggak perlu jemput ke butik, Mbak Nayla sudah pulang duluan. Kalian bertengkar?” Andi bertanya.


“Enggak, kita baik-baik saja. Aku juga bingung, kenapa Nayla tidak bisa dihubungi. Andi, tolong telpon aku kalau kamu sudah di rumah.”


Andi mengiyani, ia segera pulang setelah mengakhiri panggilannya dengan Fahad. Tidak biasanya Nayla menonaktifkan ponselnya. Dan, ya, benar saja kata Fahad, Andi juga tidak bisa menghubungi nomor telepon kakaknya tersebut.


Pukul sembilan malam, Andi sampai di rumah. Ia mendapati kakaknya yang duduk di lantai dengan laptop dipangkuannya. “Mbak, tadi Fa—”


“Kamu mau teh?” tukas Nayla.


Andi mengangguk. Sementara Nayla di dapur, Andi menghubungi Fahad, tak perlu waktu lama ... ia panggilannya pun diterima kakak iparnya tersebut. “Mbak, ini Fahad.” Andi menyodorkan ponselnya di hadapan Nayla. Namun, kakaknya tersebut justru diam mematung. “Mbak?” menggoyang-goyangkan ponsel. “Ini Fahad mau bicara.”

__ADS_1


Dengan terpaksa, Nayla mengambil ponsel tersebut dan mendekatkan ke telinganya. “Iya. Ada apa?” tanyanya dengan nada suara yang dingin.


“Ada apa gimana, sih? Kamu ke mana? Kenapa ponsel kamu nggak bisa dihubungi?”


“Kamu yang ke mana?” Nayla bertanya.


Fahad tidak sabar, ia mengalihkan panggilan suara ke panggilan video. Wajah cemberut sang istri menyambutnya. “Kenapa jadi kamu yang nanya, gitu?” herannya.


Terjadi perselisihan kecil diantara mereka. Oh, bukan. Bukan kecil lagi. Nayla dengan kemarahannya, dan Fahad dengan kebingungannya. Nayla tak henti menanyakan keberadaan suaminya, dan Fahad pun sama.


“Kamu kemarin pagi lagi sama perempuan lain, kan?!” Nayla tidak bisa lagi menahan pertanyaan itu.


Bukannya menjawab, Fahad justru tertawa mendengar pertanyaan dari istrinya tersebut. Sungguh konyol. Perempuan mana, dan siapa? Seingatnya, kemarin pagi dia masih di rumah Sahil dan Sanju. “Maksud kamu Sanju?” tanya Fahad.


“Bukan. Kalau suara Sanju aku juga hapal. Itu bukan suara Sanju.”


“Tunggu. Aku telpon Sanju.” Fahad menambahkan Sanju dalam panggilan video mereka. “Sanju, kemarin aku menginap di rumahmu, kan? Apa aku membawa seorang perempuan?”


“Perempuan?” Sanju juga merasa bingung. “Maksudmu apa, Fahad? Tolong jelaskan, ada apa dengan kalian?”


Fahad mengatakan tuduhan Nayla. Tuduhan bahwa dirinya sedang bersama perempuan lain, bahkan tidur dengan perempuan itu.


“Oh, pagi itu.” Sanju mengingat sesuatu. “ Jas Fahad masih di sofa ruang tamu, pagi itu ponsel Fahad berdering, jadi aku menyuruh bibi yang menerima panggilan itu. Fahad tidak sedang bersama perempuan lain. Tenang Nayla, kalau sampai itu terjadi, aku yang akan lebih dulu memberi pelajaran kepada Fahad.”


“Oke, bye!” Fahad menutup panggilan Sanju dengan sepihak. Sekarang saatnya untuk menggoda sang istri yang sudah mencurigainya. Ya, Fahad cukup tau diri. Ketampanan dirinya sudah pasti menjadi incaran perempuam lain. Akan tetapi, semua ruang dihatinya sudah diisi dengan wanita-wanita yang dicintainya. Ammi, kedua saudaranya, dan juga anak serta istrinya. Fahad juga meminta maaf, sebab di hari yang sangat bersejarah untuk Nayla, ia tidak menghubunginya sama sekali.


Bukan tanpa sebab Fahad melakukan itu semua. Ia tau, istrinya akan lebih sibuk dengan butik dan juga para pelanggan. Fahad tidak ingin mengganggunya. Di sisi lain, pekerjaan kantornya juga sangat menyita waktu.


“Kamu yang mulai duluan!” Nayla membela diri.


“Eh? Aku?” Fahad menunjuk dirinya sendiri. “Sebentar lagi aku ke Indonesia, aku habisin kamu, ya!”


Selesai. Kesalahpahaman keduanya sudah hilang. Jarak memang menjadi salah satu masalah, terlebih ... jika komunikasi diantara mereka sedikit renggang. Bukan hanya Fahad dan Nayla, semua pasang juga pasti mengalami pasang surut hubungan jarak jauh. Bagaimanapun, komunikasi harus tetap terjaga. Sekedar bertanya apa yang sedang dilakukan, pasti semuanya akan baik-baik saja. Kepercayaan tumbuh dengan sendirinya, tetapi jika sekali saja kepercayaan itu rusak ... maka jangan harap sebuah kepercayaan bisa didapatkan kembali.


***

__ADS_1


__ADS_2