
Sesuai rencana, Nayla dan Fahad menuju supermarket untuk berbelanja bahan makanan dan ... mungkin ada sesuatu yang mereka butuhkan selama di apartemen, New Delhi.
“Sayang, nanti kita beli ayam di pasar aja. Sekalian beli yang banyak, nanti di taruh di kulkas.”
“Kenapa di pasar? Di sini nggak ada?” tanya balik Nayla.
“Supermatket ini nggak lengkap, Sayang, kita beli yang ada aja. Kalau kurang nanti kita bisa di tempat lain.”
“Sayur dan lainnya yang aku butuhin ada di sini, kok. Ayam kelihatannya emang nggak ada. Jadi nanti kita ke pasar?” tanya Nayla dengan bersemangat.
Fahad mengangguk, “iya. Tapi kamu jangan lepas dari gandengan aku, nanti hilang kan repot.” Nayla terkekeh mendengar penuturan pria berhidung mancung itu. “Nanti malam masakin aku ayam goreng, udah lama aku nggak makan masakan kamu.” Sambung Fahad dan Nayla pun mengangguk.
Fahad dan Nayla menaruh belanjaan dari supermarket ke dalam mobil—yang Nayla tahu, bahwa itu adalah mobil yang telah di sewa oleh fahad. Mereka segera menuju pasar—membeli ayam seperti yang diinginkan Fahad.
Nayla mengikuti kemana saja langkah Fahad membawanya. Ia hanya memperhatikan suasana di sekitar pasar. “Kamu mau ikan?” tanya Fahad kenapa Nayla.
“Kamu mau?”
“Kok, nanya balik. Kamu mau apa enggak?” tanya Fahad lagi. Mereka tengah menunggu ayam pesanan mereka yang sedang dipotong.
“ Enggak.” Nayla menggeleng, “kalau kamu mau, beli aja. Nanti aku masakin.”
Fahad terkekeh melihat dengar ucapan Nayla. “Ya, udah, besok masak ikan. Nanti malam masak ayam.
Sesudah membeli ayam dan ikan, mereka berdua pun kembali pulang ke apartemen. Mata Nayla tak henti menelusuri setiap sisi kota India yang ia lalui bersama Fahad. Senyuman Nayla seketika pudar tatkala mendengar bunyi klakson yang di bunyikan oleh Fahad.
Sebuah protes ia layangkan kepada Fahad. Namun Fahad membela diri dengan mengatakan bahwa tangannya sudah tak bisa ia tahan untuk tidak membunyikan klakson. Ya, sedari tadi Fahad sudah menahan diri untuk tidak membunyikan klakson. Sebab ia tahu bagaimana style orang Indonesia jika sedang berkendara. Yang sudah pasti Nayla tidak terbiasa dengan style berkendara warga India.
Tidak akan membunyikan klakson jika tidak sedang dalam keadaan darurat. Juga warganya yang lumayan patuh jika sudah mendengar suara deru motor atau mobil, mereka akan menepi dengan sendirinya.
Berbeda dengan India, darurat ataupun tidak. Mereka tetap akan membunyikan klakson—untuk hal sepele sekalipun. Contohnya, di gang kecil.
“Ini India, Sayang, bahkan di gang-gang kecil juga udah biasa bunyi klakson seperti ini. Yang jalan kaki, nggak minggir ... ya, diklakson,” tutur Fahad yang tetap fokus akan kemudi dan juga klaksonnya.
__ADS_1
“Ya, tapi kan nggak perlu sesering itu bunyiin klakson.” Nayla tetap protes.
Fahad menyentuh lembut kepala Nayla, menyalurkan ketenangan untuk kekasihnya itu. “Kamu tumben marah-marah, biasanya nggak pernah marah kayak gini.”
“Ya, siapa yang nggak marah kalau denger bunyi klakson kayak gini. Pusing, Fahad!” seru Nayla.
Fahad memilih diam, ia tak ingin menyahut jika nantinya membuat kekasihnya itu semakin emosi. Fahad berpikir, mungkin Nayla lelah.
***
Sesudah makan malam, dengan ayam goreng yang di masak oleh Nayla. Keduanya kini tengah duduk bersama di ruang tv. Fahad yang sibuk dengan komputer lipat miliknya, dan Nayla sibuk dengan Drama Korea yang ia tonton.
Fahad teringat sesuatu, bahwa ia akan mengatakan semuanya yang belum Nayla ketahui tentang hidupnya. Ia pun mematikan laptop, juga tv yang masih di tonton oleh Nayla.
Sebuah protes Nayla ucapkan kepada Fahad, “kenapa dimatiin?! Kan, aku masih nonton.”
Fahad membetulkan posisi duduknya, satu kakinya naik ke sofa lalu tubuhnya menghadap kepada Nayla. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
Fahad juga mengatakan siapa dirinya, dan pekerjaan apa yang sedang ia geluti ... bahwa ia adalah seorang pemilik dari Fahad industries. Perusahaan yang ia bangun dua tahun belakangan ini. Industri tersebut bekerja di bidang makanan dan obat-obatan.
Dalam waktu dua tahun itu, semua berkembang dengan cepat. Ia juga sudah mulai bekerja sama dengan perusahaan Asia lainnya. Dengan di bantu oleh Sahil—sahabatnya, perusahaan itu bisa bertahan dan besar hingga saat ini.
Fahad mengatakan, niat awal membangun perusahaan industri tersebut karena bertujuan ingin tetap dekat dengan istri pertamanya dulu—terkadang, istrinya akan bekerja di New Delhi. Karena itulah, sejak awal menikah Fahad sudah merencanakan semuanya, namun ketika perusahaan itu akan di bukadua tahun lalu, rumah tangganya berada dalam jurang perceraian.
Berencana menutup perusahaan, membatalkan semua yang sudah ia rancang sangat apik itu karena perceraian. Tidak. Fahad tidak melakukan itu. Walau sebenarnya ia ingin, namun ia kembali memikirkan nasib para karyawan yang sudah melamar pekerjaan. Ia tidak mungkin menghancurkan kebahagiaan mereka yang sudah diterima.
Semuanya berjalan dengan baik. Yasmin pun juga membantu di perusahaan, walaupun adik pertamanya itu juga harus pergi ke Kashmir guna mengawasi serta memeriksa kebun dan tempat produksi. Bisnis saffron milik keluarga, tidak mungkin Fahad dan keluarga mengabaikannya begitu saja.
Mendengar penuturan Fahad, Nayla cukup tahu bahwa pria di hadapannya ini bukan pria sembarangan. Fahad adalah pria berpendidikan tinggi, yang sekali lagi ... sungguh sangat tidak sepadan dengan dirinya. Nayla merasa sangat kecil di hadapan Fahad.
Bagaimana bisa aku lancang jatuh cinta sama pria seperti kamu, Fahad? Perbedaan ini ... kita sama sekali nggak pantas untuk bersama.
Mata Nayla menelusuri setiap inci wajah kekasihnya itu. Merasa tidak bisa melanjutkan cintanya, dan sudah pasti Fahad akan malu jika bersanding dengan dirinya, pikir Nayla.
__ADS_1
Tentu, rekan bisnis Fahad juga dari kalangan pebisnis, berpendidikan. Nayla tahu diri, bahwa ia tidak pantas berada di tengah-tengah orang berpendidikan dan kaya itu.
“Sayang.” Fahad menyentuh jari jemari Nayla. Membuat lamunan gadis berhijab segi empat itu buyar seketika. “Kamu kenapa diam aja?”
Nayla menggeleng perlahan, tatapan sendu itu membuat Fahad merasa ada yang mengganjal di hati kekasihnya itu.
“Kamu lagi nggak mikirin hal aneh-aneh, kan?” selidik Fahad. “Kamu nggak berniat batalin rencana pernikahan kita, kan?” Fahad sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Nayla. Sejak awal, perbedaan sosial memang menjadi alasan utama yang membuat Nayla menolak dirinya.
Nayla tetap diam, pandangan mata itu semakin menghujam jantung Fahad. Hatinya berdebar, takut bahwa Nayla benar-benar akan membatalkan pernikahan yang segera mereka rencanakan.
“Sayang, jangan diam aja. Jawab aku. Kamu nggak batalin rencana pernikahan—”
“Dari awal kita udah beda, Fahad,” tukas Nayla. “Dan perbedaan itu sekarang semakin jelas. Kamu dan aku nggak bisa bersama.”
Fahad semakin merapatkan jarak duduknya pada Nayla. “Ya, nggak bisa gitu, dong!” serunya. “Kita sama, nggak ada perbedaan yang berarti. Makanya dari awal aku nggak mau bilang siapa aku yang sebenarnya ke kamu, aku udah tahu kalau kamu bakal kayak gini. Tapi kalau aku nggak cerita semuanya, kamu pasti kecewa karena aku udah bohong.”
Fahad berucap penuh keyakinan, berharap Nayla juga mempunyai keyakinan terhadap cintanya. Cinta yang tidak mengenal perbedaan, tidak mengenal status sosial.
“Keluarga aku juga nggak mikir soal perbedaan sosial, semua orang itu sama, Sayang. Aku mohon, jangan bercanda kayak gini. Aku takut.” Fahad meyakinkan Nayla.
“Fahad, kamu itu direktur utama Fahad industries, dan aku ini siapa? Banyak yang bakal mencemooh kita, dan kamu juga pasti di hina kalau nikah sama aku. Kita berbeda Fahad, kita berbeda.”
Nayla memang mencintai Fahad. Kalaupun Fahad bukan seorang direktur utama, Nayla tetap akan mencintainya. Yang ia tahu bahwa ia mencintai pria yang bisa menghormatinya—bukan karena harta.
Perbedaan sosial itu ... sangat menyeramkan untuk Nayla. Entah sekuat atau serapuh apa hatinya jika menerima berbagai hinaan nantinya.
“Sayang, jangan gitu, aku nggak—”
“Maaf, Fahad.” Nayla beranjak berdiri, ia berjalan masuk ke kamar. Ia tak mempedulikan panggilan dan ketukan pintu dari Fahad. Di kuncinya pintu itu rapat-rapat, bersandar di balik pintu dengan hati yang kacau.
“Sayang, jangan batalin rencana pernikahan kita. Aku nggak bisa kayak gini, kamu nggak boleh mutusin sepihak. Enggak, pokoknya enggak!”
***
__ADS_1