Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 21


__ADS_3

Pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat di bandara Srinagar. Perjalanan dari bandara New Delhi ke Srinagar hanya memakan waktu satu setengah jam. Nayla melihat Fahad menghampirinya setelah mengambil koper.


“Udah ngirim pesan ke Andi?” tanya Fahad yang di jawab anggukan kepala oleh Nayla.


Fahad segera mengajak Nayla ke area parkir, menuju mobilnya. Digenggamnya tangan Nayla dengan erat, seolah takut jika wanitanya itu akan hilang di tengah keramaian bandara.


“Bisa tolong lepasin nggak?” Nayla mengangkat genggaman tangan itu. Fahad tak menghiraukan Nayla, ia tetap berjalan dengan santainya. “Fahad?”


“Apa, Sayang?”


“Lepasin tangan aku. Aku bisa jalan sendiri,” kata Nayla lagi.


“Sebentar lagi sampai di area parkir, nanti aku lepas di sana.”


Nayla mengalah. Ia merasa malu ketika beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Entah persepsi seperti apa ketika orang-orang itu melihatnya bersama Fahad. Nayla berusaha tidak terlalu memikirkannya.


Fahad memasukkan koper ke dalam bagasi mobilnya yang sengaja ia tinggalkan di bandara. Nayla berdiri di samping mobil, jari jemarinya saling meremas satu sama lain, pun dengan keringat yang sudah membasahi sela-sela jarinya. Ada rasa takut di sudut hatinya. Sorot mata takut itu terlihat jelas dimata Fahad.


Ia menghampiri Nayla, meraih tangannya, “kamu takut?” tanya Fahad yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla. “Ada aku, jangan takut. Aku selalu sama kamu.” Fahad berkata dengan lembut, pun dengan sorot matanya yang menyalurkan ketenangan di hati Nayla.


“Nanti jangan tinggalin aku sendiri,” kata Nayla.


“Pasti, Sayang.”


***


Srinagar, Kashmir. Atau juga disebut Jannat-E-Kashmir itu menyambut Nayla dengan keindahannya. Di musim panas ini, keindahan Kashmir tak pernah luput dari tahun ke tahun. Pepohonan hijau, sungai yang jernih, pun dengan hijaunya lembah pegunungan serta sejuknya udara, menjadi magnet tersendiri untuk kawasan yang mayoritas berpenduduk muslim itu.


Nayla membuka kaca jendela mobil, wajahnya memancarkan kebahagiaan serta senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya. “MasyaAllah, indahnya,” kata Nayla.


Fahad menoleh pada Nayla sejenak lalu ia kembali fokus pada kemudinya. “Kamu suka?” tanya Fahad.


“Iya. Sungainya jernih banget, jadi pengen nyuci baju dan mandi di sana. Ala-ala Dewi Nawang Wulan sama Jaka Tarub.”


“Siapa mereka?” tanya Fahad tanpa mengalihkan fokusnya akan kemudi.

__ADS_1


Nayla melihat Fahad, “kembaran aku.” Jawabnya yang diiringi tawa.


Sejenak, Nayla terlupakan akan rasa takutnya ketika nanti jika ia sudah sampai di rumah Fahad. Bertemu dengan ibu dan kedua adik pria itu. Mata Nayla masih tersihir akan keindahan Kashmir. Baru sesaat, namun ia sudah jatuh cinta dengan tempat itu.


Kenapa Nayla takut? Sudah tentu ia merasa takut. Bukan rahasia lagi jika seorang pria India menikah dengan wanita dari negara lain, mereka akan mendapat tentangan dari keluarga. Love marriage sangat jarang terjadi di India, dan tradisi arrange marriage masih kental di sana. Nayla tahu itu.


Nayla tidak dapat memastikan bagaimana akhir kisah cintanya nanti. Melihat video ibu dan kedua adik Fahad yang dengan jelas mengatakan mereka menunggu kedatangannya, sedikit membuat Nayla merasa bahwa cintanya dengan Fahad tidak akan mendapat tentangan yang berarti.


“Fahad?” panggil Nayla.


“Iya?”


“Bagaimana kalau ibu sama adik kamu nggak suka sama aku?” Nayla bertanya dengan lirih.


Fahad menepikan mobilnya, ia berhenti sejenak. “Sayang.” Fahad meraih tangan Nayla, “jangan berpikir seperti itu. Ammi dan kedua adikku menyukaimu. Kalau enggak, untuk apa Ammi mengijinkan aku pergi ke Indonesia dan menemuimu?” ucap Fahad dengan lembut. “Kalaupun nanti setelah Ammi lihat kamu, dan Ammi nggak suka, aku minta kamu jangan mundur. Aku mau kita berjuang sama-sama, aku tetap akan berjuang untuk kamu.”


“Tapi—”


Fahad memotong ucapan Nayla. “Kamu ragu sama aku?”


Nayla tersenyum, “aku juga cinta sama kamu.”


“Oh, hei, Madam. Kamu membalas ucapan cintaku!” Fahad berseru bahagia. Untuk pertama kalinya, Nayla membalas ucapan cintanya. “Katakan sekali lagi.”


Nayla menggeleng keras, “nggak ada tayangan ulang.” Ia tersenyum simpul. Pun dengan Fahad yang juga ikut tersenyum. Fahad kembali melajukan mobilnya.


Rasa rindu terhadap ibu dan kedua adiknya sudah sangat menggebu. Ingin segera ia memeluk dan mencium wanita paruh baya itu, wanita yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya.


Mobil memasuki sebuah rumah yang berhalaman cukup luas itu setelah seorang pria membukakan pintu gerbang. Sebuah rumah berarsitektur modern dengan cat berwarna putih itu terlihat cukup mewah. Fahad turun setelah mobilnya berhenti dengan sempurna. Pria yang membukakan gerbang tadi menghampiri Fahad, menanyakan kabar tuannya itu. Fahad memintanya untuk membawa masuk koper milik Nayla.


Nayla tak kunjung turun, ia masih termangu di dalam mobil. Rasa takutnya kembali menyergap setelah melihat rumah Fahad yang menurutnya—Fahad adalah orang kaya—yang sudah pasti tidak sepadan dengannya. Pikir Nayla.


Fahad membuka pintu.Tangannya menengadah, bermaksud mengajak Nayla untuk turun. Namun Nayla hanya memandang tangan Fahad, tubuhnya tak bergerak sedikitpun. “Sayang, ayo turun.” Ajak Fahad.


Nayla mendongakkan kepalanya, matanya berada pada satu garis lurus dengan Fahad. “Fahad, aku—”

__ADS_1


Fahad tersenyum simpul, “jangan takut, ada aku.” Dengan sedikit ragu, Nayla menyambut uluran tangan itu. Ia memejamkan matanya, dengan mengucap bismillah, Nayla turun dari mobil. Fahad dengan setia menggandeng tangan wanita yang ia cintai itu untuk masuk ke rumah.


Ia mengetuk pintu, tak lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Senyuman hangat dari wanita itu menyambut kedatangan Fahad dan Nayla. “Putraku,” ucap wanita itu.


Fahad mengucap salam lalu memeluk dan mencium kening Amminya. “Aku merindukanmu, Ammi.”


Terlihat dua gadis datang dan berteriak memanggil nama Fahad. “Kakak, sudah pulang?” tanya Yasmin, adik pertama Fahad.


Fahad merenggangkan tangannya, memeluk tubuh adiknya tersebut. “Iya. Aku sudah pulang. Bagaimana kabarmu?” tanya Fahad.


Nayla tersenyum kaku ketika matanya bersitatap dengan Ammi. Bukan Ammi tidak melempar senyum terhadapnya, Ammi tersenyum hangat lalu mendekat kepada Nayla. Namun, rasa takut, bingung, dan ia juga merasa sangat tidak tepat berdiri di dalam keluarga Fahad.


“Kamu, Nayla?” tanya Ammi yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.


“Fahad, ajak Nayla untuk masuk.” Perintah Ammi. Fahad pun meraih tangan Nayla, mengajak wanita yang sangat tampak gugup itu untuk masuk ke dalam rumah.


Ammi beserta kedua adik Fahad, berbincang-bincang dengan hangat bersama Nayla. Hingga kemudian, Ammi memerintahkan Hannah, asisten rumah tangga mereka untuk mengantar Nayla ke kamar tamu.


“Ammi, biar Nayla tidur di kamarku.” Fahad berucap setelah sesaat Nayla beranjak dari tempat duduknya. Nayla memandang Fahad, matanya menyiratkan sebuah protes tatkala mendengar penuturan pria itu. “Aku yang akan tidur di kamar tamu, Sayang. Jangan khawatir.” Sambung Fahad.


“Kakak, hampir saja Kakak iparku ini ketakutan.” Yumna berucap.


“Memangnya apa yang mau aku lakukan? Kamu pikir, aku akan sekamar dengan Nayla?”


“Ya, mungkin saja—”


“Sudah. Aneh-aneh saja.” Tukas Fahad.


Ammi menyetujui keinginan Fahad, agar Nayla tidur di kamarnya saja. Hannah mengantar Nayla ke lantai atas, menuju kamar Fahad. Setelah mempersilakan Nayla untuk masuk, Hannah permisi kembali ke dapur. ia juga mengatakan akan mengambilkan koper Nayla yang ternyata sudah diletakkan di kamar tamu.


Nayla masih berdiri di belakang pintu, matanya menjelajahi setiap sudut kamar Fahad. Kamar yang menurutnya cukup besar, lengkap dengan tv,ruang ganti baju, serta kamar mandi di sana. Mata Nayla tertuju pada sebuah meja nakas yang terdapat sebuah foto seorang wanita. Nayla berjalan mendekat, tangannya mengambil bingkai foto itu. Ia tersenyum begitu mengetahui bahwa itu adalah foto dirinya sendiri.


“Kapan aku foto kayak gini?” Nayla tidak merasa bahwa ia pernah mengambil foto dengan gaya candid seperti yang nampak di foto yang terbingkai indah itu.


Mata Nayla kembali terfokuskan pada foto seorang anak kecil yang sangat menggemaskan terpajang di tempat yang sama seperti fotonya. Ya, di meja nakas. Nayla mengambil foto tersebut, senyum anak itu, mata yang bulat dan pipi itu tampak sangat menggemaskan. “Tampan,” kata Nayla. “Tapi, dia siapa?” Nayla dibuat penasaran oleh sosok anak kecil tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2