Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 46


__ADS_3

“Nay, caranya dapat suami orang luar itu gimana, sih?” tanya Sari sat baru saja mereka masih ke kamar. Meninggalkan Andi yang masih menonton televisi.


Nayla naik ke atas tempat tidur, “ya, nikah. Kalau nggak nikah mana bisa punya suami orang luar.”


Sari tertawa mendengarnya, “maksdunya tuh gimana bisa kenalan sama orang luar.”


“Kenapa emangnya? Kamu pengin punya suami orang luar juga?” tanya Nayla yang dijawab anggukan oleh Sari. “Kalau kenalan sama orang luar itu tetap harus hati-hati, jaga nama baik diri sendiri dan nama baik negara. Kalau sekali aja ada kesalahan, pasti yang dibawa itu nama negaranya. Nama si orang itu malah ketutup sama nama negara,” tutur Nayla.


“Dan itu berimbas sama semua wanita, sama semua pria. Kayak yang kamu bilang, kalau cowok berhidung mancung dari negara India dan tetangganya itu otak mesum. Padahal kan nggak semuanya, tapi nama negara yang kebawa,” lanjut Nayla.


Sari mengangguk paham. Sungguh pemikiran yang memalukan. Menganggap semua pria dan wanita dari satu negara itu buruk—atau juga baik—kepala dan hati mereka berbeda, tentu pemikiran dan tindak tanduk mereka juga berbeda.


“Tapi suami kamu itu beneran bukan cowok mesum, kan?” Sari kembali bertanya.


“Ya, enggaklah, Sar.” Nayla tersenyum simpul, “karena dia nggak kayak gitu, makanya aku mau nikah sama dia.”


“Suami kamu punya adik cowok nggak? Kali aja kita bisa jadi saudara ipar.” Sari tergelak akan ucapannya sendiri.


“Nggak ada. Semua adiknya cewek. Kalaupun ada, aku nggak mau punya adik ipar kayak kamu.”


Nayla ikut tertawa, hingga suara keduanya terdengar oleh Andi. “Mbak, berisik!” teriak Andi yang semakin membuat dua wanita itu tergelak kencang. “Cewek kalau udah ketemu jadi bar-bar semuanya,” gumam Andi.


***


Satu bulan kemudian


Nayla dan Fahad masih menjalani hubungan jarak jauh. Mereka melakukan kesibukannya masing-masing. Tetap saling memberi kabar, juga sering sekali ada pertengkaran kecil yang terjadi diantara yang disebabkan oleh rindu tentunya.


Tubuh Nayla sedikit meriang, kepalanya selalu pusing. Terkadang di pagi hari ia merasa sakit, tapi menjelang sore keadaannya sudah sehat dan segar seperti biasanya. Dan itu sudah terjadi selama beberapa hari ini.


Sudah tak terhitung berapa kali Andi ingin mengantar Nayla untuk memeriksakannya ke dokter. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada Nayla. Tak terhitung pula kakaknya itu selalu menolak dan berkilah bahwa ia hanya masuk angin dan kelelahan saja.


Andi tengah bersiap memulai aktivitasnya, pun sama halnya dengan Nayla yang akan berangkat bekerja. Andi melihat Nayla dengan tatapan nanar, wajah kakaknya terlihat pucat. “Mbak, hari ini nggak usah masuk kerja, ya? Andi anter periksa.” Andi menawarkan diri.


Nayla menggeleng, “cuma masuk angin, nanti juga sembuh sendiri.”


Andi berdecak kesal, ia mendekat seraya menyentuh pipi Nayla yang terlihat semakin tirus. “Lihat, nih! Mbak, itu kurusan. Makan juga males-malesan gitu. Periksa dulu, ya? Aku telpon Mbak Sari biar dia izin ke Manager.”


Menepis tangan Andi, Nayla mengambil sirup herbal masuk angin di meja makan lalu menyobek bagian ujungnya. “Mbak itu nggak sakit, cuma masuk angin sama kecapekan aja.”


“Mbak, kenapa susah banget di bilangin!” kesal Andi. “Mbak, biasanya nggak kayak gini, nggak pernah ngebantah omongan Andi. Apalagi soal kesehatan. Mbak, bilang kesehatan itu yang terpenting.”


“Eh! Kok, malah ceramah. Udah sana berangkat, nanti telat.”


“Terserah! Andi capek ngomong sama, Mbak.”


Melajukan motornya dengan perasaan kesal, Andi menggerutu akan sikap kakaknya yang berubah keras kepala.


***


Tubuhnya sudah kembali segar, ia bisa bekerja seperti biasanya. “Nay, kamu pucat banget. Sakit?” tanya Ryan. “Apa hamil?” imbuhnya.


“Hah?” terkejut Nayla. “Hamil? Aku?” Nayla menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


“Ya, iya. Masa aku yang hamil.” Ryan tertawa kecil, disusul Nayla yang tersenyum lebar mendengarnya.


Nayla menggeleng, “enggak hamil, cuma masuk angin aja.”


“Oh.” Ryan mengangguk. Ia berlalu pergi setelah sebelumnya berpesan agar Nayla menjaga kesehatannya.


Jam pulang, Nayla yang berjalan ke arah parkiran untuk mengambil motor, ia sempat berpikir akan ucapan Ryan. Hamil? Masa, iya? Ah, tapi nggak dan salahnya kan juga aku periksa dulu. Nayla membatin.


Ia mampir terlebih dahulu ke sebuah apotik untuk membeli tespack. Ia memang sudah terlambat datang bulan, memeriksanya lebih awal ia rasa jauh lebih baik.


Sesampainya di rumah, ia mendapati Andi yang duduk di teras. Menatapnya dengan tajam. “Ayo, ke dokter,” ajak Andi.


“Ngapain?” Nayla melepas helmnya.


“Dugem!” ketus Andi.


Nayla tertawa, ia turun lalu ikut mendaratkan tubuhnya di kursi samping Andi. “Boleh, yuk! Bawa minuman sekalian, ya. Biar lebih seru jedag-jedugnya.”


Beranjak berdiri, Andi meraih pergelangan tangan Nayla agar ukut berdiri. “Ayo, ke dokter, Mbak. Kita periksa aja dulu. Mbak, itu sakit apa, ini udah beberapa hari kayak gini terus. Wajah pucat, tambah kurus, makan juga nggak benar,” ia berucap selembut mungkin.


“Iya, tapi besok aja. Mbak, capek banget hari ini.”


Andi mengalah, ia meminta Nayla untuk berjanji bahwa besok ia benar-benar akan pergi ke dokter.


Masuk ke rumah, belum sampai melepas tas dan hijabnya. Nayla mengatakan keinginananya memakan batagor. Ia menyuruh adiknya untuk membeli batagor di seberang bank—yang tepat berada di ujung gang rumah mereka.


Menolak. Andi sungguh merasa lelah hari ini. Mendapati sikap kakaknya yang keras kepala beberapa hari ini, membuat ia semakin lelah saja.


“Tadi kenapa nggak sekalian mampir, Mbak? Andi capek.”


Ya ampun. Kenapa kakaknya ini sangat menyebalkan. Biasanya Nayla akan sangat mandiri dalam segala hal, tapi kenapa sekarang justru sangat manja dan menyebalkan. Andi menggerutu kesal. Dengan terpaksa ia menuruti keinginan Nayla.


Mengambil kunci motor yang sempat ia taruh di meja, keluar rumah kalau mulai menyalakan motor.


“Andi, tunggu!” seru Nayla.


“Ck! Apa lagi, Mbak?” ketus Andi.


“Ikut,” pinta Nayla. Andi menolak, ia berjanji akan cepat pulang. “Mbak mau makan batagor di sana aja, kalau dibungkus tuh nggak enak.”


Eh!


“Sejak kapan batagor dibungkus nggak enak?”


“Ya, pokoknya nggak enak!” seru Nayla. “Ikut, ya?” Nayla memelas.


Andi mengiyani, dengan terpaksa tentunya. Ketika ia sudah meneuruti semua keinginan Nayla, ternyata masih ada saja kelakuan menyebalkan kakaknya tersebut.


“Kalau mau ikut naik motor ini. Kalau minta pakai motor matic ya pergi aja sendiri,” sungut Andi.


“Motor ini tinggi, Andi, naik matic aja, ya?”


“Ya ampun, Mbak! Jadi beli apa enggak? Udah buruan naik, Andi nggak mau pakai motor matic!”

__ADS_1


Nayla mencebik, tapi bagaimana lagi? Ia sudah tak bisa memaksa Andi. Daripada tidak jadi memakan batagor, lebih baik mengalah untuk saat ini.


Andi menggeleng, ia sangat kesal kepada kakaknya. Kenapa sekarang suka memaksa, menyebalkan, dan ... apa lagi? Ah, kakaknya itu sangat dan sangat menyebalkan.


Sesampainya di penjual batagor, Nayla memesan dua porsi. Satu untuknya, dan satu tentu untuk Andi. Merasa masih kesal, Andi menolak memakannya. Keduanya saling menggeser piring untuk beberapa kali.


Nayla terus saja merayu, mengatakan bahwa tidak boleh membiarkan batagor itu mubazir—itu alasan yang pertama. Alasan yang kedua karena ia memang ingin melihat adiknya itu makan batagor.


Menyiapkan satu persatu batagor menggunakan garpu, Andi menatap Nayla penuh selidik. “Mbak, lagi hamil?”


Pertanyaan Andi membuatnya terkejut, ia melotot ke arah adiknya yang duduk tepat di depannya. “Kata siapa?” tanyanya.


“Andi nanya, Mbak, kenapa malah balik nanya!”


Nayla tersenyum, ia kembali menyuapkan batagor ke mulutnya. “Hamil darimana? Mual-mual aja enggak.”


“Ya, nggak semua orang diawal kehamilan itu mual-mual, Mbak,” seloroh Andi.


Alis Nayla saling bertaut, “kok, tahu?”


“Baca artikel.”


“Kenapa kamu mikir kalau Mbak lagi hamil?” Nayla bertanya.


“Karena, Mbak, beberapa hari ini tuh nggak karuan nyebelinnya.”


Nayla tertawa, ia baru sadar—bahwa ia memang sudah sangat menyebalkan. Sering memaksa Andi, keras kepala, dan banyak maunya. Ia meminta maaf, berjanji tidak akan menyebalkan lagi.


***


Fahad menelpon Nayla lewat panggilan suara. Tadi siang, Andi mengabarinya bahwa Nayla sedang sakit—dan istrinya tidak mau pergi ke dokter. Ada kekhawatiran dari Fahad, berkali-kali pula ia menyuruh istrinya itu untuk pergi ke dokter; memeriksakan tubuhnya, beristirahat jika memang merasa kurang enak badan.


Sama seperti Andi, ia merasa bahwa istrinya itu sangat menyebalkan dengan sifat keras kepala yang tiba-tiba ada pada diri Nayla. Istrinya kini mudah sekali menangis, sungguh sensitif. Bicara dengan nada yang sedikit tinggi saja Nayla pasti akan menangis. Serba salah.


“Oke, oke, aku minta maaf. Udah jangan nangis, kita lagi jauhan, Shona ... aku nggak bisa peluk kamu.” Fahad berujar. Oh, sorry ... Fahad mengalah.


“Lagian, siapa juga yang mau dipeluk? Aku nggak minta peluk!”


Menyentuh pelipisnya, merasa bingung bagus berkata apa lagi. “Iya, nggak minta peluk. Udah, ya ... jangan nangis. Besok kata Andi kamu udah janji mah periksa ke dokter. Beneran, ya? Periksa.”


Nayla mengiyani. Tangisannya sudah berhenti. Lega sudah hati Fahad. Mengucapkan kata cinta, keduanya pun mengakhiri sambungan telepon.


Pukul delapan malam, Nayla keluar kamar. Didapatinya Andi yang masih duduk di kursi ruang tv, mengutak-utik komputer lipat miliknya.


“Udah?" tanya Andi.


Nayla mengangguk, “kamu udah makan?” tanya Nayla yang dijawab anggukan kepala oleh Andi. “Keluar, yuk? Cari makan.”


“Makan apa?” Andi bertanya.


Nayla nampak berpikir sejenak, “gimana kalau seafood? Yang di sebelah restaurant pizza itu.”


Ya ampun! Mulai kumat nyebelinnya, batin Andi.

__ADS_1


***


__ADS_2