Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 31 S2


__ADS_3

Seusai makan malam, Fahad, Nayla, Yasmin, serta Shazia berkumpul di ruang keluarga. Mereka bercengkerama, mengobrol santai, saling bertanya apa yang di lakukan hari ini. Fahad juga kembali membahas pertunangan Yasmin dan Adnan.


“Yasmin,” panggil Fahad


Yasmin yang duduk di di sofa tunggal dan sibuk bermain dengan ponselnya itupun menoleh pada kakaknya. “Apa?”


“Maaf, Kakak, kemarin sudah marah-marah sama kamu. Kakak khawatir, Yas, kamu nggak biasa pulang jam segitu,” ucapnya tulus. Nayla memperhatikan kedua adik kakak itu bergantian.


“Nggak apa, sudah biasa,” cuek Yasmin.


“Maksudnya?” Fahad mengerutkan keningnya.


“Ya, sudah biasa, Sama seperti kakak ipar yang sudah biasa kamu marahin tanpa mau denger penjelasannya dulu. Kita sudah nggak kaget.”


Fahad menoleh pada Nayla yang duduk di sampingnya yang tengah merapikan rambut Shazia yang sedikit berantakan.


Nayla yang merasa diperhatikan Fahad pun kini menoleh, membuat pandangan mereka berada pada satu garis lurus. “Kenapa?” tanya Nayla.


Fahad hanya menggeleng lemah dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


“Jadi, kamu nggak maafin kakak?” Fahad kembali bertanya pada Yasmin.


“Sebenrnya nggak mau, sih, tapi kata kakak ipar ... kita harus bisa berdamai dengan hati dengan cara saling memaafkan. Jadi ya sudah, aku maafin.”


“Mau kakak peluk nggak?”


Yasmin terlihat berpikir akan pertanyaan Kakaknya tersebut.


“Pakai mikir lagi, sengaja banget!” Fahad beranjak lalu memeluk Yasmin dengan erat.


Yasmin tersenyum, ia juga membalas pelukan Fahad. “Aku kangen, tapi pulang-pulang malah marahin aku, kan sebel!” gerutunya


“Iya, maaf.” Fahad berucap lalu mencium puncak kepala adiknya.


“Papa,” rengek Shazia, ia mendekat, tangan mungilnya berusaha memisah papa dan tantenya yang saling berpelukan. “Papa, peluk Zia,” katanya.


Fahad melepas pelukannya pada Yasmin, meraih tubuh sang puti lalu mendudukkan dia di pangkuannya. “Zia, mau dipeluk papa?” tanyanya. Si pipi gembul itu mengangguk dengan sorot mata bening menggemaskan. Fahad tersenyum, lalu memeluk tubuh gembul sang putri dan juga mencium pipinya.


“Masih kecil sudah cemburu saja dia,” celetuk Yasmin yang diiringi tawa Nayla dan Fahad.


Malam semakin larut, Yasmin sudah masuk ke kamarnya. Begitupun dengan Fahad serta anak dan istrinya. Nayla tengah menidurkan Shazia, ia menepuk-nepuk punggung gadis mungil itu. Hingga mata bulat itu perlahan terpejam karena sentuhan nyaman sang mama.


Fahad keluar kamar mandi seusai mengganti kaosnya dengan kaos putih tipis hingga menunjukan lekukan tubuhnya yang sedikit berotot itu. Ia ikut berbaring di samping sang istri. Mengintip dari balik tubuh istrinya, apakah putrinya itu sudah tidur. Ya, Shazia sudah hanyut dalam alam tidurnya.

__ADS_1


“Sayang, kamu ngomong apa sama Yasmin?” bisik Fahad.


Nayla menoleh, “ngomong apa gimana maksudnya?”


“Itu,” Fahad merengkuh tubuh Nayla kedalam pelukannya.“Kamu bujuk dia gimana, dia bisa sampe nurut dan mau kenal Adnan lebih dekat.”


Nayla menyerukkan wajahnya pada dada Fahad, semakin erat pelukan keduanya. “Aku nggak ngomong apa-apa, dia memang mau kenal Adnan lebih dekat saja,’ jawabnya.


“Tapi, Adnan itu benar anak baik, kan? Dia pasti bisa cinta dan jagain Yasmin, kan?” Nayla memastikan, ia tidak ingin adik iparnya merasa bahwa sebuah perjodohan juga sebuah kesalahan. Hancurnya pernikahan pertama Fahad masih teringat jelas di memori Yasmin dan Yumna, mereka seakan ikut trauma atas apa yang menimpa rumah tangga Fahad dan Mahira.


“Aku yakin, Adnan bisa cinta sama Yasmin. Dia sering banget nanyain Yasmin ke aku, karena Yasmin nggak pernah bales chat dia,” tutur Fahad.


Nayla diam sejenak, ia berharap apa yang dikatakan suaminya adalah benar. Adnan adalah pria tepat untuk Yasmin, pria yang bisa membimbing Yasmin, yang mampu menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab dan tentu bisa menghormati serta mencintai Yasmin.


“Sayang, aku boleh nanya?”


“Apa?” Nayla mendongakkan wajahnya agar pandangannya bisa menjangkau Fahad.


“Apa kamu nggak bahagia nikah sama aku?”


Pertanyaan tersebut membuat Nayla menautkan kedua alisnya, ia menatap heran pada sang suami. “Kamu kenapa nanya gitu?” tanyanya kemudian.


“Ya, karena aku ini orangnya suka emosi duluan, seperti yang Yasmin bilang tadi, kalau aku suka marah sebelum dengar penjelasannya dulu. Apa kamu tersiksa sama sifat aku itu?”


Nayla menangkup kedua sisi wajah Fahad, mencium bibirnya singkat. “Kalau aku nggak bahagia, aku sudah pergi dari dulu. Sudah, jangan terlalu dipikir ucapan Yasmin. Aku bahagia, kok, sama kamu,” tutur Nayla dengan lembut.


Nayla menghela napas. “Fahad, yang namanya sifat itu nggak bakal bisa dirubah. Itu sudah porsinya dari Allah. Kalau kamu mau lebih sabar dan berpikir dengan kepala dingin, kamu pasti bisa mengendalikan emosi kamu,” ucapnya. Ya, Nayla juga merasa sedikit tersiksa dengan emosi Fahad yang suka marah tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sedikit, hanya sedikit.


Bagaimanapun Nayla berusaha merubah sifat Fahad, itu sama saja seperti berperang dengan dirinya sendiri. Karena, kebanyakan pria, jika diingatkan akan sifat jeleknya, dia pasti akan marah dan merasa tidak dihargai. Itu sudah menjadi kodrat seorang pria. Insan dengan emosi yang lebih besar daripada perempuan.


“Aku bahagia sama kamu,” sambung Nayla.


“Maaf, Sayang, aku selalu nyakitin kamu, selalu buat kamu nangis.”


“Enggak, kamu nggak nyakitin aku. Tapi—”


“Tapi apa?” tukas Fahad. Dadanya sudah merasa sesak, seakan istrinya itu akan mengatakan hal buruk tentang cinta mereka.


“Selama ini aku nggak merasa disakiti sama kamu. Tapi, kalau kamu benar-benar nyakitin aku dan Shazia lahir batin, aku bakal bawa dia pergi ninggalin kamu.” Tegas Nayla.


Seketika tubuh Fahad melemas, bayangan hidup tanpa anak dan istrinya sudah terlintas di kepalanya. Kehancuran itu sudah terlihat jelas, mana mungkin dia sanggup hidup tanpa anak dan istrinya.


“Sayang, jangan ngomong gitu, aku mana bisa tanpa kalian.” Fahad berucap dengan melasnya.

__ADS_1


“Aku serius, Fahad, kalau kamu nyakitin aku dan nggak ngehormatin aku, aku bakal pergi.”


“Sayang ...,”


“Masih mau dibahas apa tidur?” tanya Nayla dengan nada tegasnya.


“Tidur.” Fahad memeluk Nayla, begitupun sebaliknya.


Nayla sudah hanyut dalam pulau mimpinya. Sementara Fahad, ia menatap langit-langit kamarnya. Ucapan Nayla yang akan meninggalkannya membuat dia benar-benar merasa ketakutan. Bagaimana bisa dia hidup tanpa anak dan istrinya?


Ya, selama ini Nayla memang tidak pernah mengatakan bahwa dia tersakiti dengan semua sifat dan sikapnya yang mudah emosi ... Namun, kembali pada ucapan Nayla yang akan meninggalkannya jika ia menyakitinya.


Menyakiti seperti apa yang Nayla maksud?


Jangan pergi. Aku janji nggak akan nyakitin aku sama Zia, aku janji.


Fahad mencium kening Nayla, matanya sangat susah untuk terpejam. Ucapan Nayla masih terngiang jelas di telinga hingga entah pukul berapa, akhirnya dia terpejam dengan sendirinya.


***


Nayla bangun di pagi hari, segera dia menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Nayla sudah berusaha membangunkan Suaminya untuk sholat berjamaah, namun Fahad tak kunjung bangun meskipun Nayla sudah membangunkannya berkali-kali.


Nayla melipat mukena dan sajadah miliknya lalu menaruhnya ke tempat dimana dia biasa menyimpannya. Nayla duduk di tepi tempat tidur, kembali membangunkan sang suami.


“Fahad, bangun, sholat dulu. Sudah mau habis waktu subuhnya,” lembut Nayla, ia menyentuh satu sisi wajah sang suami, memberi sentuhan lembut padanya.


“Fahad.”


Fahad membuka matanya perlahan, menyesuaikan akan bias cahaya yang masuk ke matanya.


“Bangun, sholat dulu,” kata Nayla. Fahad duduk, lalu meneguk air putih dari gelas yang Nayla berikan. “Tumben banget kamu susah dibangunin?” Nayla kembali meletakkan gelas ke meja nakas.


“Aku nggak bisa tidur semalam,” suara serak Fahad terdengar.


“Kenapa?”


“Aku kepikiran ucapan kamu, aku takut.”


Nayla tersenyum, ia mengelus lembut lengan Fahad. “Kalau kamu kepikiran, aku minta, kamu jaga kepercayaan yang sudah aku kasih dan jaga cinta kamu buat aku, aku cinta sama kamu,” ucap Nayla.


“Aku janji, aku pasti jaga kepercayaan yang sudah kamu kasih, aku juga bisa jaga cinta aku ke kamu. Aku janji, Sayang.” Fahad bersungguh-sungguh.


“Iya, sudah sana sholat dulu,” perintah Nayla. Fahad pun segera turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Nayla menaikkan selimut Shazia, mencium keningnya lalu segera keluar kamar. Nayla harus menyiapkan sarapan untuk suami dan adik iparnya.


***


__ADS_2