Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 32 S2


__ADS_3

“Fahad, apa aku boleh keluar hari ini? Aku ingin ke supermarket,” tanya Nayla saat ia mengambilkan sarapan untuk suaminya.


Fahad menyeruput teh hangatnya, “iya, aku akan mengantarmu.”


Nayla sesekali menyuapi Shazia yang sudah bangun di tengah-tengah aktifitas memasaknya tadi. Nayla sudah mengajarkan sang putri untuk makan sendiri, namun sesekali dia tetap menyuapinya. Dia juga sudah memandikan putri kecilnya itu. Nayla selalu cekatan dalam segala hal. Semuanya dia kerjakan sendiri, terutama mengurus putri dan suaminya yang sangat bergantung padanya.


“Tapi, kan kamu kerja, aku naik taksi saja, ya?”


“Sini, duduk!” perintah Fahad. Dia menyuapkan sepotong roti pada Nayla, “nanti jam makan siang aku pulang, aku antar kamu ke supermarket. Aku kerja setengah hari, aku mau bantuin kamu, kan nanti ada tamu agung yang datang.” Fahad melirik pada Yasmin yang baru datang dan mendudukkan tubuhnya di kursi tepat di hadapannya.


“Berlebihan!” gerutu Yasmin yang sudah memakai setelan celana panjang serta blazer yang berwarna merah maroon itu.


“Sudah bilang sama Adnan?” Fahad bertanya yang dijawab anggukan kepala oleh Yasmin.


“Iya, nanti malam dia ke sini.” Yasmin mengambil sepotong roti paratha.


***


Sesuai janjinya pagi tadi, Fahaf kini tengah melajukan mobilnya untuk mengantar Nayla ke supermarket. “Sayang, mau belajar nyetir nggak?”


Nayla menoleh, “nyetir apa?” tanyanya.


“Nyetir mobil,” jawab Fahad yang tetap fokus pada kemudinya.


Nayla tersenyum, “memangnya boleh?”


Fahad menoleh sejenak, lalu kembali fokus menatap jalan yang ia lalui. “Boleh, tapi aku masih takut. Di sini orang bawa mobil dan motor ya seperti ini, Sayang, kalau kamu yang bawa, kamu pasti kalah sama mereka. Secara kamu pasti nyetirnya pelan, sabar, nggak bakal klakson terus-terusan juga.


Nayla memukul lengan Fahad perlahan, “kamu tuh mau kasih ijin apa ngatain aku, sih!”


Fahad terkekeh, “bukan ngatain, Sayang, tapi memang benr kan yang aku bilang? Kamu bakal bawa mobil pelan tanpa mau nyalain klakson kalau nggak penting-penting banget.”


Bukan bermaksud melarang ruang gerak istrinya, Fahad hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Nayla. Sebisa mungkin dia akan selalu menjaga dan mengantar kemanapun istrinya itu ingin pergi. Style mengendara warga India memang berbeda dengan warga Indonesia yang bisa lebih teratur dan sabar ... Ya, seperti istrinya ini, meksipun sudah dua tahun lebih tinggal di India, Nayla akan tetap cerewet jika Fahad menyalakan klakson terus menerus hanya karena sedikit saja ada mobil atau motor yang menghalangi laju kendaraannya.


“Kenapa kamu nyuruh aku belajar nyetir?” Nayla sedikit menggeser tubuhnya untuk miring, menghadap suaminya “Kamu sudah capek nganter aku kemana-kemana?” tanyanya.


Fahad berdecak, “enggak, Sayang. Ah, ya sudahlah kalau nggak mau belajar nyetir, aku cuma nggak mau kamu ngerasa kalau aku ngekang kamu. Selama ini aku kan selalu ngelarang kamu kalau kamu mau ke Kashmir sendiri, nyetir mobil juga. Apalagi masalah kamu keluar rumah, misal belanja seperti ini atau kemana gitu, kita pasti berdebat dulu baru aku kasih ijin kamu. Aku takut kamu ngerasa tersakiti dan ...,” Fahad menghentikan ucapannya, rasa sesak di dadanya akan ucapan Nayla semalam masih jelas teringat di memori otaknya.


“Fahad,” panggil Nayla dengan lembut, namun suaminya itu diam saja.


Mobil berhenti, mereka sudah sampai di supermarket, mengambil Shazia dari gendongan Nayla lalu mendudukkan tubuh putrinya itu ke strollernya, mereka berjalan beriringan masuk.


“Fahad, maaf,” ucapan Nayla membuat Fahad menghentikan langkahnya, Nayla pun ikut berhenti.


“Kenapa kamu minta maaf?” tanya Fahad. Nayla menatap kedua manik mata suaminya dalam-dalam, “Maaf, aku sudah bikin kamu kepikiran soal semalam,” lirihnya.


Fahad tersenyum, ia mendekat lalu mencium kening Nayla lama, “Sekarang jadi kamu yang kepikiran. Aku tahu kok, wanita akan pergi kalau dia sudah terlalu disakiti dan nggak dihargai. Aku senang, kamu ngomong ke aku masalah itu. Coba kalau enggak, aku bisa aja tanpa sadar nyakitin kamu dan nggak ngehargain kamu. Kalau kamu ngomong kan itu semacam nasehat dan pengingat buat aku,” tutur Fahad.


Nayla tersenyum.


“Sudah, ayo masuk. Keburu telat, mana sempat, nant.” Ajak Fahad, dia hendak mencium Nayla lagi, namun segera ditahan oleh istrinya itu. “Kita lagi di tempat umum, Fahad, malu di lihat orang.”


“Nah, tadi aku sudah cium kamu. Biar romantis seperti aktor Bollywood, gitu.”


“Mereka artis, itu tuntutan kerja mereka buat ciuman di depan umum. Nah, kamu?” Nayla menyunggingkan senyumnya lalu berjalan mendahului Fahad serta putrinya.


“Ya Allah, istriku ini.” Fahad menyusul.


Setelah satu jam membeli kebutuhan di supermarket, mereka segera pulang untuk memasak makan makan malam untuk tamu mereka—Adnan, calon suami Yasmin.


Fahad membantu Nayla dengan menjaga Shazia, sesekali ia menghampiri sang istri dan menawari bantuan. Namun dengan halus Nayla menolak dan tetap menyuruh suaminya untuk menjaga putri mereka.


“Fahad,” panggil Nayla sebelum suaminya itu berlalu pergi dari dapur.


Fahad berbalik, “iya?”


“Gimana kalau kita pesan makanan saja? Aku takut masakan aku nggak enak, masakan aku nggak seenak masakan Hannah, Fahad.”

__ADS_1


“Kata siapa? Masakan kamu itu yang terlezat, sejak kamu bisa masak makanan India, mana pernah aku sama Yasmin beli makanan di luar, nggak, kan? Kita cuma beli makanan diluar kalau kamu lagi sakit atau lagi capek, selebihnya kita makan di rumah, makan masakan kamu.” Fahad memberi pengertian.


“Kamu bilang gitu kan karena kamu suami aku, nah Adnan? Apa dia bisa makan masakan aku?”


Fahad mendekat pada Nayla yang berdiri di sebelah meja kompor lengkap dengan apron yang melekat di tubuh mungil istrinya.


“Iya, aku suami kamu, dan aku nggak bohong.” Fahad lagi-lagi mendaratkan sebuah ciuman di pipi Nayla, memberi semangat pada istrinya. “Tenang saja, nanti kalau Adnan bilang masakan kamu nggak enak, aku batalin tunangannya.”


“Ngaco, ih! Sudah sana, jaga Zia.” Nayla tersenyum mendengar gurauan sang suami.


***


Fahad membukakan pintu untuk Adnan, dia mempersilahkan calon adik iparnya itu untuk masuk. Tak lama, Nayla keluar dengan dua cangkir teh untuk Fahad dan Adnan.


“Adnan, kenalkan, ini istriku,” ucap Fahad., Adnan pun berdiri lalu saling berjabat tangan dengan Nayla.


“Adnan.”


“Nayla.”


Keduanya saling melempar senyum, Adnan kembali duduk. “Mama, Tante nakal!” Shazia berlari menghampiri Nayla, ia menyentuh tangan mamanya. Mata bulat itu memberi isyarat bahwa ia ingin digendong.


Nayla mengangkat Shazia lalu duduk di sofa double di samping sofa yang di duduki Suaminya dan juga Adnan, “Diapain lagi sama Tante?” tanya Nayla.


“Tante, cubit pipi Zia. Seperti ini, Ma.” Shazia menirukan Yasmin saat mencubit pipi gembulnya, dia menirukannya pada pipi mamanya.


“Jaanu, ini namanya kamu cubit mama,” kata Nayla.


“Adnan, kamu bingung?" Tanya Fahad yang melihat Adnan sedari tadi memperhatikan Nayla dan Shazia. Pandangan Nayla beralih pada Adnan.


Adnan tersenyum malu. Pria dengan kemeja putih itu memang bingung akan percakapan Nayla dan putrinya. Dari wajah, ia cukup tahu bahwa Nayla bukan wanita India, hanya saja, dia bingung kenapa mereka tidak hanya menggunakan bahasa Inggris untuk bahasa sehari-hari pada putri mereka.


“Ya, aku sedikit bingung, kenapa kalian mengunakan tiga bahasa pada ...?”


“Shazia,” ucap Nayla.


“Kami lebih sering menggunakan bahasa Indonesia, tapi dia juga mengerti jika ada yang berbicara bahasa Inggris. Yasmin menggunakan bahasa Inggris pada Arishfa,” jawab Nayla.


Tak lama, Yasmin keluar lalu duduk di sebelah Nayla ... Ia terlihat cantik dengan celana jeans serta atasan kurti berwarna hijau daun serta rambutnya yang di gerai membuat dia semakin terlihat menawan.


“Ehhemm!” deheman Fahad membuyarkan lamunan Adnan yang sejak tadi terus memandangi Yasmin. Membuat pria yang ditumbuhi bulu halus di sekitaran dagunya itu salah tingkah.


“Jangan kelamaan saling pandang, dosa! Belum sah,” celetuk Fahad.


“Sudah, Fahad, mereka malu.” Nayla berucap.


“Iya, ih! Kak Fahad memang suka gitu, masa saling pandang aja nggak boleh,” timpal Yasmin.


Nayla, Fahad dan Adnan memandang Yasmin bersamaan. “Kenapa? Aku salah ngomong?” Yasmin memandang ketiga orang di depannya bergantian.


“Enggak. Kemarin saja bilangnya takut ketemu Adnan, tapi sekarang minta saling pandang, kan aneh. Sudah pengen cepet-cepet tunangan kamu?” Fahad kembali menggoda.


“Kakak!” seru Yasmin.


“Sudah-sudah. Fahad kamu suka banget godain Yasmin. Lihat, tuh, Adnan mukanya sudah merah gitu,” sontak semua orang melihat ke arah Adnan yang tersenyum malu.


“Yang digoda siapa, yang mukanya merah siapa.” Fahad menertawakan adik dan calon adik iparnya.


“Duh, kompak banget kalian,” timpal Nayla.


Yasmin dan Adnan semakin salah tingkah. Nayla pun mengakhiri acara saling meledek itu lalu mengajak semua orang untuk makan malam. Seperti biasa, Nayla akan mengambilkan makanan untuk suami dan juga putrinya terlebih dahulu. Nayla memberi kode pada Yasmin dengan anggukan kepalanya agar adik iparnya itu mengambilkan makanan untuk Adnan.


Yasmin pun mengikuti isyarat dari kakak iparnya, dia mengambilkan makanan untuk Adnan. “Syukriya,” ucap Adnan yang dibalas senyuman oleh Yasmin.


Yasmin mulai belajar dari Nayla, tentang bagaimana melayani seorang suami. Nayla menjadi panutan untuk kedua adik iparnya, istri kedua Fahad itu mampu mengobati luka hati pria tersebut di masa lalu. Yasmin dan Yumna dapat melihat kehidupan dan cinta di mata Fahad setiap kali melihat Nayla. Rasa sejuk dan teduh datang menyelimuti hati siapapun yang melihat kemesraan keduanya.


Adnan yang baru bertemu dengan Nayla pun bisa melihat kepedulian dan rasa sayangnya pada Yasmin—calon istrinya. Mengingat Nayla berasal dari negara yang berbeda, namun semua itu tidak membuat Adnan berpikir negatif tentang wanita dari negara lain. Dia sudah melihat bagaimana sifat dan sikap Nayla yang ditunjukkan untuk anak, suami, serta adik iparnya.

__ADS_1


“Yasmin, aku bisa bertanya sesuatu?" Tanya Adnan. Mereka kini tengah duduk di ruang keluarga bersama Shazia. Sementara Fahad dan Nayla, mereka masih berada di dapur.


“Tanya apa?”


“Apa kamu mau jadi ibu dari anak-anakku?” tanya Adnan. Yasmin terkejut, dia tidak menyangka Adnan akan menanyakan hal seperti itu. Yasmin sama sekali tidak berpikir akan secepat ini. Ya, meskipun sebenarnya tanggal pertunangan mereka sudah ditentukan, tapi untuk mengutarakan perasaan itu sepertinya terlalu cepat, bagi Yasmin.


“Yas, aku serius,” kata Adnan.


“A-aku ...,”


“Aku tahu, kamu pasti bilang mau. Terima kasih, Yas,” sahut Adnan.


Yasmin membulatkan bibir dan matanya dengan sempurna, “Aku belum jawab, Adnan!” protes Yasmin.


“Tapi aku tahu, kamu pasti bilang, iya.”


Yasmin memutar bola matanya, namun tak lama, mereka berdua tertawa bersama dengan pandangan yang berada pada satu garis lurus.


“Tante, berisik!” celoteh Shazia sembari menutup mulut Yasmin dengan satu telapak tangannya.


“English, Arish, jauhkan tanganmu dari tante.”


“Tante, don't laugh! Tante, ugly!” kata Shazia


Yasmin melotot ke arah keponakannya tersebut, dia meraih tubuh gendut itu lalu memangkunya, “Awas kamu, ya, tante ini pretty-lah, not ugly!” Shazia tertawa geli begitu Yasmin menciumnya tanpa ampun.


“Dia sangat menggemaskan,” kata Adnan sembari menyentuh pipi gembul balita gembul tersebut.


“Haan, dia menggemaskan tapi juga menjengkelkan!” ujar Yasmin.


“Om, handsome,” cetus Zia yang melihat ke arah Adnan.


“Hei, dasar genit!” Yasmin kembali menciumi pipinya.


“Tante dan Om itu apa?” tanya Adnan pada Yasmin.


“Tante is auntie, and om is uncle,” jawab Yumna.


“Oh.” Adnan membulatkan bibirnya sembari manggut-manggut.


Di dapur.


“Kamu kenapa ngelarang aku buat ke depan, sih? Kan aku jadi nggak bisa ngawasin mereka, nanti kalau mereka ngapa-ngapain gimana? Mereka sama-sama sudah dewasa, Sayang," protes Fahad pada Nayla yang masih sibuk mencuci piring.


Nayla mencuci tangannya lalu mengeringkannya dengan handuk lap yang tersedia di sebelah tempat piring.


Dia berbalik menatap Fahad yang berdiri menyandarkan tubuhnya di meja dapur. “Kalau kamu di sana, mereka nggak bisa ngobrol bebas. Biarin mereka lebih dekat.” Kata Nayla.


“Tapi mereka cuma berdua, Sayang.”


“Nah, itu Zia kamu anggap apa?”


“Bukan gitu, tapi—”


“Fahad.” Nayla mendekat. “Sama seperti yang kamu bilang tadi, mereka sudah dewasa, mereka pasti tahu batasannya, kamu harus percaya sama Yasmin, lagipula ini di rumah, mereka nggak bakal ngapa-ngapain,” tutur Nayla lembut, dia merapikan kerah kemeja suaminya.


Fahad mengulas senyum simpulnya, diraihnya pinggang sang istri agar lebih dekat dengannya.


“Boleh cium nggak?”


“Tumben nanya, biasanya langsung,”


“Oh, jadi mau langsung, nih? Oke.” Fahad mendekatkan wajahnya, namun secepat kilat Nayla melepas pelukan Fahad lalu memundurkan tubuhnya.


“Kita lagi di dapur, jangan macam-macam!”


***

__ADS_1


__ADS_2