Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 75


__ADS_3

Semua kesalahpahaman sudah diselesaikan Fahad dan Nayla malam itu juga. Bagi mereka, sebelum tidur ... memang lebih baik menyelesaikan masalah yang ada terlebih dahulu, agar tidak ada masalah yang berlarut-larut.


Semenjak hari itu, Nayla tidak pernah lagi mengatakan bahwa ia takut akan perbedaan sosial. Allah yang sudah menyatukan ia dan Fahad dalam sebuah pernikahan. Semua yang terjadi atas kehendak-NYA, tidak ada satupun manusia yang bisa menyalahi takdir seseorang.


Seminggu kemudian, Nayla dan Fahad menjalani hari-hari mereka sebagaimana mestinya. Tetap sebagai pasangan yang mesra, meksipun tak jarang terjadi perselisihan diantara keduanya. Yasmin semakin hari, semakin dekat dengan Nayla. Sosoknya yang mudah akrab, serta Nayla yang selalu memperlakukannya seperti seorang adik kandung ... membuat ia nyaman bertukar pikiran dengan kakak iparnya tersebut.


Yasmin dan Nayla lahir di tahun yang sama, mereka seumuran. Ketika Fahad memarahi Yasmin, gadis itu akan mengadukannya kepada Nayla. Layaknya seorang ibu, Nayla menegur Fahad karena tidak mau mengalah dari Yasmin.


Yasmin lebih dekat dengan Nayla, pulang dari kantor ia langsung mencari kakak iparnya—seperti mencari seorang ibu. Yasmin merasa nyaman bertukar pikiran dengan Nayla, kakak iparnya itu lebih bisa mengerti perasaan dan apa yang ia inginkan lebih baik daripada Fahad.


Nayla sangat bersyukur, mendapat adik ipar seperti Yasmin dan Yumna. Memang, sejak datang ke India, Nayla sama sekali belum bertemu dengan Yumna. Keduanya hanya saling bertukar suara melalui panggilan suara atau terkadang panggilan video. Kedua adik iparnya menerimanya dengan sangat baik, semua itu Nayla rasakan ketika Yasmin dan Yumna tak sungkan berbagi cerita dengannya.


Iya, sekarang Yasmin sama Yumna lupa, kalau punya kakak cowok. Sekarang, apapun itu, mereka pasti ngomongnya sama kamu, aku udah nggak dianggap.


Begitulah Fahad ketika Yasmin lebih memilih berbicara kepada Nayla. Fahad tidak marah, ia justru bahagia melihat kedekatan istri dan juga adik-adiknya. Sebagai pria satu-satunya di keluarga, sebagai kepala rumah tangga ... Fahad merasa sangat terbantu dengan hadirnya Nayla untuk menjaga dan mengurus adik dan juga Ammi.


Hari ini Sanju berkunjung ke apartemen Nayla, ia datang dengan membawa bahan-bahan kue. Sanju ingin membuat chocholate cupcake, dan Nayla berencana membuat kue putri salju, kue lebaran kesukaannya.


“Nanti pas jam makan siang, kita bawa kue-kue ini ke kantor, kita kasih kejutan buat Sahil dan Fahad.”


Nayla terkejut mendengar penuturan Sanju. Ia sama sekali tidak berpikir bahwa kue-kue itu akan mereka bawa ke kantor. Selama ini Nayla belum pernah pergi ke kantor milik suaminya, bukan karena takut ... Nayla hanya merasa malu. Sudah pasti ia akan menjadi pusat perhatian semua orang.


“Tapi, Sanju, aku belum minta izin Fahad buat ke kantor.” Nayla berujar.


“Kan, mau kasih kejutan, Nayla. Kalau kamu minta ijin, gimana mau jadi kejutan?”


Nayla tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kue mereka sudah matang dan dingin, Nayla masuk ke kamar untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke kantor. Memakai jumpsuit berwarna mocca tanpa lengan yang ia padukan dengan h**oodie crop dan pasmina berwarna army. Tak lupa, sepatu kets warna putih juga menjadi penunjang penampilannya.


Sanju dan Nayla kini sudah berada di dalam taksi, masing-masing dari mereka membawa paper bag yang didalamnya terdapat kue-kue yang sudah mereka buat tadi.


Sanju mengajak Nayla untuk turun karena taksi yang mereka tumpangi sudah berhenti tepat di lobby kantor. Jantung Nayla berdegup kencang, ia takut jika Fahad akan memarahinya karena keluar apartemen tanpa izin darinya. “Tenanglah, Fahad nggak marah, kok. Aku berani jamin.” Sanju tersenyum simpul kepada Nayla. “Ayo.”


Nayla melangkah beriringan dengan Sanju, ia menunduk, mengikuti kemana langkah Sanju pergi. Security menyapa Sanju, begitupun dengan beberapa karyawan yang mengenalinya. Benar saja, Nayla menjadi pusat perhatian semua orang.

__ADS_1


Dari wajah, jelas ... dapat dipastikan Nayla bukan warga negara India. Apalagi dengan style pakaiannya yang terlihat modern untuk wanita berhijab. Lift sudah berhenti di lantai delapan. Sanju lebih dulu mengantar Nayla ke ruangan Fahad. “Alina, dia istrinya Fahad. Biarkan dia masuk.”


Alina menyapa Nayla lalu mempersilahkannha untuk masuk. “Istri Pak Fahad masih muda banget. Umurnya berapa, ya, kira-kira?” gumam Alina.


Dua karyawati mendatangi Alina, mereka bertanya tentang siapa sosok wanita berhijab yang baru saja masuk ke ruangan atasan mereka. Selama ini, hanya Yasmin dan Alina yang leluasa keluar masuk ruangan Fahad.


“Dia istrinya Pak Fahad." Alina menjawab ketus.


Melongo seketika. Mereka berdua terkejut bukan main. “Istri? Sejak kapan Pak Fahad punya istri? Bukannya dia duda?”


“Kalian ini!” geram Alina. Ia tidak suka kehidupan pribadi atasannya menjadi perbincangan di kantor. Ia cukup tau dengan kehidupan rumah tangga Fahad yang dulu. Begitu ia diberitahu oleh atasannya bahwa akan segera menikah, hatinya ikut merasa bahagia. Bagi Alina, memang sudah saatnya atasannya itu menikah.


“Ada apa ini?” Anand datang menghampiri Alina dan dua temannya yang lain.


“Pak Fahad ternyata udah nikah.”


Sama seperti yang lain, Anand juga terkejut mendengarnya. “Kata siapa?” tanyanya kemudian.


“Kata Kak Alina.”


Ekor mata Fahad menuju Alina, ia bertanya ... apakah benar bahwa Pak Fahad sudah menikah, dan Alina pun menjawab iya. “Istrinya ada di dalam.” Menunjuk ke pintu ruang kerja atasannya.


***


Nayla sudah berada di ruangan Fahad, ia masih berdiri dibalik pintu masuk. Sepi, tidak ada siapapun. Ia hendak keluar, menanyakan kepada Alina di manakah keberadaan suaminya. Terdengar suara pintu yang terbuka, Nayla menoleh ke sumber suara tersebut.


“Sayang?” Fahad keluar dari toilet, ia terkejut mendapati Nayla ada di ruangannya. Ia berjalan mendekati istrinya. “Kamu di sini?”


Nayla mengangguk, “maaf, aku ke sini nggak izin dulu sama kamu.”


“Nggak apa, Sayang, kenapa kamu minta maaf?” Fahad mengajak Nayla duduk di sofa.


Tak lama, Alina mengetuk pintu, ia membawa dua gelas minuman di atas nampan.

__ADS_1


Nayla mengeluarkan kue-kue yang ia bawa, lalu menyuapkan kue tersebut untuk suaminya. “Kamu ke sini sama siapa? Naik taksi sendiri?” Fahad bertanya.


“Sama Sanju, dia datang ke apartemen, ngajak bikin kue terus aku dipaksa ke sini.”


Fahad menatap penampilan Nayla dari atas hingga bawah. Ternyata memang benar, istrinya itu terlihat seperti siswi masih duduk di bangku SMA.


“Ada yang salah sama pakaian aku?” Nayla bertanya. Ia merasa, penampilannya bagus-bagus saja, jumpsuitnya tidak terbalik, pasminanya juga terpasang dengan baik. “Kok, kamu lihat aku kayak gitu banget, aku jadi takut.”


Fahad tertawa, ia merapatkan duduknya kepada Nayla. “Enggak,” tangannya hendak membuka pasmina sang istri. “Kamu cantik aja.”


“Fahad!” memukul punggung tangan suaminya dengan cukup keras, “ini tangan bisa diam nggak, sih? Main copot pasmina seenaknya aja.” Nayla kembali membetulkan pasminanya. “Ini di kantor, Fahad.”


“Lupa, Sayang.” Fahad menikmati kue buatan sang istri dengan lahap, meskipun ia sedang ingin mengurangi makanan manis ... tidak mungkin rasanya ia menolak kue yang sudah susah payah dibuat oleh istrinya.


***


“Masuk!” perintah Fahad setelah mendengar ketukan pintu.


Anand masuk, membawa berkas yang sudah selesai ia kerjakan. Menyodorkannya di meja agar atasannya itu bisa mengoreksi pekerjaannya.


Selesai membaca isi berkas tersebut, Fahad pun menandatanginya lalu meminta Anand untuk mengantar berkas tersebut kepada Sahil. “Anand!”


“I-iya, Pak?”


“Kamu cari apa? Kamu dengar apa yang saya perintahkan tadi?” tanya Fahad dengan tidak ramah, sorot matanya penuh selidik. Sebab sedari tadi, mata Anand menelusuri setiap sudut ruangannya.


“Maaf, Pak, saya kurang fokus tadi. Bapak, memerintahkan saya untuk apa, Pak?” Anand bertanya.


“Bawa berkas ini ke Sahil.”


“Iya, Pak.” Anand menerima berkas yang disodorkan Fahad. Namun, matanya masih saja berusaha mencari seseorang. Mendengar atasannya itu sudah menikah dan istrinya bukan warga negara India, membuat Anand sangat penasaran, ia ingin melihat seperti apa istri dari Fahad.


“Kamu bisa keluar!” perintah Fahad penuh penekanan.

__ADS_1


***


__ADS_2