
Fahad menolak, ia tetap akan kembali ke New Delhi bersama Nayla. Sebanyak dan sekeras apapun Nayla memintanya untuk tetap di Kashmir, ia tidak akan mengatakan “iya” jika harus membiarkan istrinya pergi seorang diri. Keras kepala Fahad akhirnya membuat Nayla menyerah, ia tidak lagi mengatakan apapun. Segera bersiap diri, Nayla dan Fahad kini berada di kamar, merapikan lagi baju dan barang bawaan mereka.
Fahad cukup lama memeluk Ammi, ia tau ... ibunya tengah kecewa terhadapnya. Ia hujani ciuman di kening Ammi. Tak lupa, ia juga berpesan kepada Yumna agar selalu menjaga Ammi sekaligus memberinya peringatan agar tidak pergi keluar tanpa ijin dari Ammi.
Mobil sudah meninggalkan halaman rumah, kali ini mereka diantar oleh Paman Abdul. Nayla diam, ia mengalihkan wajahnya memandang hamparan salju yang mulai menipis. Musim dingin hampir berlalu. Ia merindukan bapak dan ibu, juga Andi. Nayla sangat merindukan adiknya. Jika saja Fahad tidak ikut kembali ke New Delhi, Nayla akan melanjutkan penerbangan ke Indonesia seorang diri. Akan tetapi, lagi-lagi kakinya tidak bisa melangkah tanpa ijin dari seorang suami. Nayla harus tetap berada di New Delhi.
Keduanya sudah duduk di kursi tunggu, Nayla mengunci bibirnya rapat-rapat. Kepalanya terasa pusing, pun dengan tubuhnya yang terasa kedinginan. Fahad kembali dari toilet, ia mendapati wajah istrinya yang pucat. “Sayang, kamu sakit?” tanya Fahad sembari mendudukkan tubuhnya di samping Nayla.
Nayla menggeleng lemah, “cuma pusing dikit, kok.”
Punggung tangan Fahad menyentuh kening Nayla, tubuh istrinya panas. Bukan hanya pusing saja, Nayla sudah pasti sakit. “Tahan sebentar, ya, Sayang ... kalau sudah sampai di Delhi kita ke dokter.” Fahad berujar, ia tidak ingin membawa Nayla kembali ke rumah. Dipeluknya tubuh Nayla dari samping seraya mendaratkan ciuman di kening istrinya tersebut.
***
New Delhi menyambut Nayla, udara dingin masih menusuk hingga ke tulang. Wajahnya semakin pucat, membuat Fahad khawatir dan memaksanya untuk pergi ke dokter. “Aku cuma capek, Fahad, aku tidur aja.” Nayla menolak.
Fahad tak bisa lagi memaksa, ia membantu Nayla melepas hijabnya lalu berbaring di ranjang. Ia permisi ke dapur, membuatkan minuman hangat untuk istrinya. Fahad mengirim pesan kepada Sahil bahwa ia sudah kembali ke Delhi, dan besok ia akan kembali bekerja. Pekerjaannya banyak yang terbengkalai, meskipun ada Sahil dan Yasmin ... ia tidak ingin berpangku tangan dan menerima hasil tanpa mengeluarkan keringat. Fahad juga sudah mengirim pesan kepada Yumna agar menyampaikan kepada Ammi bahwa ia dan Nayla sudah sampai di New Delhi dengan selamat.
Mematikan api kompor, Fahad menuang air panas tersebut ke dalam cangkir. Istrinya itu mempunyai simpanan teh khas Indonesia. Fahad mengerti, Nayla tidak terlalu suka teh yang dicampur dengan susu serta rempah lainnya yang biasa diminum oleh orang India pada umumnya. Hanya sesekali istrinya itu meminum teh India.
__ADS_1
Fahad menaruh cangkir teh di nakas, ia membantu Nayla untuk duduk. “Kamu mau makan apa?” tanya Fahad.
Nayla menggeleng, ia tidak ingin memakan apapun. Nayla hanya ingin tidur, tidur, dan tidur. Mengistirahatkan pikiran dan hatinya yang sejak satu bulan yang lalu terus dipaksa menahan semua rasa sakit. Dan, pagi ini benar-benar puncak dari semuanya. Bibi Farida menampar wajahnya dengan sangat keras. Nayla masih ingat betul bagaimana pipinya terasa panas ketika bibi melayangkan tamparan itu.
Fahad dengan lembut meniup lalu menyuapi teh tersebut kepada Nayla. Matanya menangkap semburat merah di pipi kiri Nayla. Menaruh cangkir teh ke nakas, Fahad menyentuh pipi Nayla, menanyakan sebab apa sehingga pipi istrinya itu sangat merah. “Ini, bekas tamparan, kan?” terkejut Fahad. Semburat merah di pipi Nayla memang menunjukkan bekas jari tangan yang cukup jelas. “Aku baru sadar kalau pipi kamu merah gini.”
Nayla berkilah, ia menjauhkan tangan Fahad dari wajahnya, ia mengaku terlalu lama tidur dengan posisi miring ke kiri, sehingga membuat pipinya terlihat memerah. “Fahad, aku mau tidur, boleh?” Nayla mengalihkan pembicaraan.
Fahad merasa ragu, ingin menanyakannya lebih lanjut. Namun, kesehatan istrinya jauh lebih penting. Ia mengangguk lalu keluar kamar. Ia melihat isi kulkas, mungkin ada yang bisa dimasak. Ada dada ayam, roti tawar, dan telur. Fahad pun memutuskan untuk memanggang dada ayam dan membuat telur ceplok. Tak lupa, ia juga mengeluarkan saos sambal Indonesia dari dalam kulkas. Istrinya tidak bisa makan tanpa rasa pedas, sekalipun masakan India juga banyak yang pedas ... Nayla lebih menyukai saos sambal dan sambal terasi botol dari Indonesia.
Diatas piring sudah ada tiga lembar roti tawar. Juga makanan pendamping lainnya seperti selai coklat, telur ceplok, serta ayam panggang yang ia buat tadi. Fahad membawa nampan tersebut ke dalam kamar, ia melihat Nayla yang masih berbaring. Meskipun pucat, Fahad merasa teduh begitu ia melihat wajah wanita yang membuatnya harus berjuang keras untuk mendapatkan cinta. Fahad tertawa sendiri, mengingat dulu pertama kali saat bertemu dengan Nayla.
Nayla mendudukkan tubuhnya, kepalanya terasa sangat berat. Namun, melihat suaminya yang sudah bekerja keras membuatkannya makanan, ia harus memaksa mulut dan perutnya untuk menerima apa yang sudah disiapkan suaminya. “Kamu masak ayam panggang ini?” tanya Nayla.
Fahad mengangguk, ia menusuk daging ayam dengan garpu lalu memotongnya menggunakan pisau. “Aku belah ayamnya biar sedikit tipis, habis itu aku kasih garam, perasan jeruk nipis, sama merica doang. Aku harap rasanya enak.” Menyuapkan daging tersebut, Fahad tersenyum melihat Nayla menerima suapannya. “Enak nggak?” tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla. Setelahnya, Fahad menaruh telur ceplok diatas roti dan memberinya saus pedas. “Mau mayonaise?”
Nayla menggeleng. “Ini aja udah enak, kok.”
Bunyi pesan masuk dari ponsel Fahad, diambilnya benda pipih itu yang tergeletak diatas nakas. Tertera nama Yumna di sana. Kedua alis Fahad menyatu, matanya menyorot tajam isi pesan yang disampaikan Yumna.
__ADS_1
Kak, tadi pagi pas kakak ipar bantu Hannah masak, ternyata bibi nampar kakak ipar. Hannah baru aja cerita. Bibi juga memaki kakak ipar. Apa kakak ipar baik-baik saja?
Fahad melihat pipi Nayla, benar dugaannya ... semburat merah itu akibat sebuah tamparan. “Sayang, kamu tadi pagi ditampar bibi?”
Nayla menunduk, ia berpura-pura sibuk dengan makanannya. Hingga tangan Fahad merebut garpu dari tangannya dengan kasar. “Fahad, garpu—”
“Kamu ditampar bibi, kan?”
Nayla menghela napas, ia menaruh piring roti di nampan. Menatap kedua mata suaminya dalam-dalam. “Iya,” jawabnya, lirih.
Tangan Fahad menyentuh pipi Nayla, bekas tamparan itu memang sudah sedikit pudar, tapi rasa sakit di hati istrinya itu masih ada sampai sekarang. Bahkan sampai kapanpun, Fahad yakin itu. “Kenapa kamu nggak cerita sama aku?”
“Nggak ada yang perlu diceritakan, Fahad, itu cuma kesalahpahaman saja. Aku nggak kenapa-kenapa, kok. Sudah, ya, nggak usah dibahas lagi.”
Rasa sakit itu menjalar disetiap sudut hatinya. Fahad merasa gagal melindungi istrinya. Nayla disakiti, tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Hanya permintaan maaf yang bisa Fahad ucapkan.
“Jangan telpon bibi, jangan marah sama bibi. Dia orangtua, Fahad. Kalau kamu marahin bibi, Ammi pasti juga kecewa. Jangan buat Ammi sedih.”
Bukan Ammi yang kecewa, Nayla sendiri yang kecewa akan semua yang ia ucapkan. Mengalah, ia harus mengalah demi Ammi. Nayla tidak ingin Ammi benar-benar mengira bahwa ia menjauhkan Fahad dari keluarganya. Sekarang, orangtua yang Nayla miliki hanyalah Ammi seorang, sebisa mungkin ia ingin berbakti kepada wanita yang kini juga sudah menjadi ibunya. Diterima sebagai menantu atau tidak, Ammi tetaplah seorang ibu baginya. Ia juga harus membantu Fahad untuk tetap berada di samping Ammi, meskipun nanti ia harus pergi dikemudian hari. Mundur adalah jalan terbaik, karena bertahan hanya akan membuatnya semakin sakit dan kecewa.
__ADS_1
***