Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 64


__ADS_3

“Itu Sahil sama istrinya, kamu mau keluar gitu aja?” kata Fahad dengan serius. “Mana hijab kamu?” suaranya sudah kembali melunak begitu tubuhnya sudah berdiri tepat di depan sang istri.


“Lupa.” Nayla menyengir kaku. Ia masuk ke kamar untuk mengganti bajunya dengan baju lengan panjang lalu memakai hijab.


Fahad membuka pintu dan mempersilahkan kedua sahabatnya untuk masuk. Ia permisi ke kamar, memanggil Nayla. Menggandeng tangan istrinya untuk keluar kamar, Fahad mengenalkan dengan bangga sosok Nayla di depan kedua sahabatnya tersebut.


“Hai, Nayla, aku Sanjeeda ... tapi kamu bisa panggil Sanju saja, sama seperti yang lainnya.” Sanju menjabat tangan Nayla, lalu disusul oleh Sahil.


Karakter Sahil dan Sanju yang mudah akrab kepada siapapun, membuat Nayla merasa nyaman berada di tengah sahabat suaminya. Tak lama, Nayla permisi ke dapur. Ia membuat kopi dan teh sachet untuk tamunya. Tak lupa ia juga menyiapkan cupcake yang sudah ia buat sejak siang tadi.


“Fahad, istrimu mendapat musibah dengan menikah denganmu.” Sahil berujar.


“Maksudmu?!” Fahad bertanya dengan nada yang tak ramah.


“Sepertinya, istrimu itu termasuk wanita yang pendiam dan tidak banyak menuntut. Tidak seperti—”


“Aku?!” seru Sanju begitu ia mendapati Sahil meliriknya dengan tajam.


Fahad tertawa, “kalian ini kenapa selalu bertengkar? Nggak di rumah, nggak di luar rumah.”


Tidak serius, Fahad tau ... sepasang suami istri di hadapannya ini memang seperti itu. Berselisih paham akan hal kecil. Tapi selebihnya, Sanju dan Sahil tidak akan berlanjut mempermasalahkannya. Pasangan yang lucu memang.


“Tapi, benar, kan?” Sahil kembali bertanya.


Fahad mengangguk, ingatannya kembali dipenuhi dengan wajah sang istri yang selalu menolak jika ia akan memberikan sesuatu. “Dulu, pertama kali aku ke Indonesia, aku tinggalin kartu kredit di tasnya sebelum balik ke India. Tapi dia nggak ambil sedikitpun uang dari kartu kredit itu.” Ada jeda sesaat sebelum Fahad melanjutkan ucapannya. “Baru di sini, di India ini, dia mau pakai kartu kredit dari aku. Itupun juga buat beli keperluan dapur dan rumah. Dia nggak suka shopping, selagi masih ada baju atau barang lainnya, dia nggak bakal beli kalau nggak butuh-butuh banget.”


Sanju tersenyum simpul, “panjang, ya, jawabannya.”


Fahad tertawa kecil, entahlah ... ia tidak sadar sudah mengatakan hal yang panjang lebar.


“Aku ikut senang, kamu sudah kembali seperti dulu,” lanjut Sanju. “Aku juga senang bisa kenal Nayla, dia ramah.”


“Tapi jangan kamu ajak dia ke mall tiap hari, nanti ketularan.” Sahil menyahut. Seketika ia mendapat sorotan tajam dari sang istri.


Nayla datang, ia menyuguhkan minuman dan kue. Fahad mengatakan bahwa kue itu adalah buatan istrinya sendiri ... yang sontak membuat Sahil dan Sanju bersemangat untuk mencobanya.


“Nayla, maaf, apa kamu masih punya kue lagi di dalam?” Sanju bertanya.

__ADS_1


“Iya, apa kamu mau bawa pulang?”


Sanju mengangguk dengan cepat, “maulah, masa sama kue enak gini nggak mau.”


Nayla mengajak Sanju ke dapur untuk mengambil kue. Ia menatanya di box makanan transparan. “Lain kali kalau ada waktu, kita bisa buat kue bareng, Sanju. Kamu mau?”


“Mau, Nayla. Kapan-kapan aku ke sini buat belajar bikin kue sama kamu.”


***


“Sayang, aku udah nyiapin buat pemotretan. Nanti malam kita ke butik, kita bicarakan sama desainernya dulu, kamu mau dress yang kayak gimana.”


Nayla menaruh sandwich di piring suaminya. Mereka berdua kini sedang sarapan bersama. “Pemotretan buat apa?” tanyanya sembari mendudukkan tubuhnya di kursi samping Fahad.


“Kita belum pernah foto pakai baju India, Sayang. Mau, kan?”


Diam sesaat, lalu Nayla mengangguk. Memang seharusnya seperti itu, bukan? Suaminya adalah warga negara India. Sudah pasti, segala hal yang berbau India tidak mungkin ditinggalkan.


“Kamu berani naik taksi, nggak?” tanya Fahad seusai menghabiskan sarapannya.


“Naik taksi ke mana?”


“Aku naik taksi? Ke kantor kamu?” Nayla bertanya dengan mata yang membulat penuh. “Enggak, ah? Nggak mau.”


“Kenapa?”


“Aku malu. Kamu aja yang pulang.”


Menepuk lembut kepala bagian belakang istrinya, Fahad tersenyum simpul mendengar alasan sang istri yang menolak datang ke kantornya. Sejujurnya, ia sudah bisa menebak bahwa Nayla tidak akan mau datang ke kantor. Istrinya itu masih takut, takut harus berada di samping suaminya sendiri.


Fahad tidak ingin memaksa, biarlah waktu yang membawa Nayla untuk datang ke kantor. Berhadapan dengan kehidupan yang sebenarnya dari seorang Fahad Malik Khan. “Iya, nanti siang aku pulang jemput kamu.”


Mendekap tubuh Nayla, mendaratkan sebuah ciuman di keningnya, Fahad pun berpamitan pergi ke kantor. Tangannya melambai, senyuman sang istri seakan menghentikan langkahnya untuk pergi. “Udah sana berangkat.” Nayla mendorong tubuh suaminya untuk segera masuk pergi. Meyakinkan Fahad, bahwa ia akan baik-baik saja.


Nayla menutup pintu lalu menguncinya. Ia membereskan meja makan, namun suarane pintu menghentikan aktifitasnya. “Kenapa balik lagi?” gumamnya sembari berjalan ke arah pintu.


“Kakak ipar!” Yasmin berseru bahagia. Ia memeluk tubuh kakak iparnya dengan erat. “Akhirnya kita ketemu lagi.”

__ADS_1


Nayla membalas pelukan Yasmin, ia merasa benar-benar diterima di keluarga suaminya. “Yasmin, aku nggak bisa napas.” Nayla menepuk bahu adik iparnya.


Mendengar hal itu, Yasmin segera mengurai pelukannya. Ia tersenyum lebar, “maaf, Kak.”


Mengajak Yasmin untuk masuk, ia membuatkan minuman untuk adik iparnya yang sudah seperti adik kandungnya sendiri. “Fahad tadi baru aja berangkat, kamu nggak ketemu di bawah?”


Menerima gelas jus jeruk yang diberikan kakak iparnya, “ketemu, Kak, aku disuruh ke kantor. Tapi aku nggak mau, besok aja ke kantornya. Hari ini aku mau di sini, berduaan sama, Kakak ipar.” Mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan lalu meneguk jus tersebut hingga tersisa setengah gelas.


Nayla tersenyum simpul, adik iparnya ini terlihat sangat menggemaskan. Menghabiskan waktu bersama, keduanya langsung akrab.Tak terlihat ada sekat antara kakak dan adik ipar. Seperti teman. Ya, seperti itulah Yasmin dan Nayla.


“Kak, kapan kalian ke Kashmir? Ammi sama Yumna nanyain terus.”


Nayla menoleh, ia meletakkan ponselnya di pangkuan. “Fahad masih sibuk, Yasmin, InsyaAllah secepatnya kita ke Kashmir.”


Yasmin mengangguk paham, “iya, Kak Fahad sekarang memang lebih sibuk sejak perusahaannya berkembang. Saffron aja kadang nggak keurus sama Kak Fahad.”


“Tapi aku suka kesibukan Kak Fahad sekarang ini dari pada yang dulu. Sekarang dia bekerja memang untuk keluarganya, apalagi sekarang ada, Kakak ipar,” tersenyum simpul melihat wajah Nayla yang duduk di sebelahnya. “Kesibukan Kak Fahad jadi berkah, nggak terbuang sia-sia karena rasa kecewa.”


Nayla menyentuh bahu Yasmin, menepuknya lembut. “Semua ada waktunya, Yasmin, semua yang terluka ... suatu saat nanti pasti bisa sembuh meskipun bekas dari luka yang ditinggalkan nggak bisa hilang sepenuhnya.”


***


Fahad menepati janjinya untuk pulang disaat jam makan siang. Yasminlah yang membukakan pintu untuknya. Sementara Nayla, ia di kamar dan sibuk melipat baju.


“Sayang,” panggil Fahad yang membuka pintu kamar lalu berjalan mendekati Nayla. “Ayo, kita makan siang di luar, habis itu langsung ke butik.”


Menaruh beberapa baju yang sudah selesai ia lipat ke dalam lemari, “iya, ngajak Yasmin, kan?” ia bertanya.


“Enggak!” menjawab dengan cepat. “Dia nanti pasti bikin repot,” kedua tangannya berada di pinggang.


Nayla meraih lengan suaminya, menuntunnya untuk duduk di sofa kamar mereka. “Bikin repot gimana, sih?” tanyanya sembari melepas sepatu Fahad. “Kita cuma makan siang, habis itu ke butik, kan? Kasihan dia sendirian.” Menaruh sepatu di pinggir lalu ia ikut mendudukkan tubuhnya di samping Fahad.


“Kapan-kapan aja kita ajak Yasmin, aku cuma mau pergi sama kamu.” Membelai lembut rambut Nayla. “Sayang, aku boleh nanya sesuatu?”


“Tanya apa?”


“Setiap aku pulang kerja, kenapa kamu selalu lepas sepatu aku? Aku nolak, tapi kamu tetap maksa. Kenapa?”

__ADS_1


***


__ADS_2