
Hari ini adalah hari di mana Nayla dan Fahad akan berangkat ke India. Mereka akan berangkat pada malam hari. Oleh sebab itu, Nayla memilih tetap masuk bekerja seperti biasa. Kemarin ia sudah menata baju dan barang-barang yang ia perlukan selama di India.
Fahad sudah melarang Nayla, takut jika kekasihnya itu terlalu lelah. Namun Nayla bersikeras, ia memaksa tetap masuk bekerja.
Pak manager yang baru datang, melihat Nayla lalu iapun menghampirinya. “Nay, katanya cuti? Kok, masih kerja?” tanya Pak manager.
“Iya, Pak, masih nanti malam berangkatnya,” jawab Nayla.
Pak manager menggelengkan kepalanya, ia merasa heran dengan sifat pekerja keras yang dimiliki Nayla. Karyawannya itu cukup jarang ijin tidak masuk bekerja. Pak manager berniat melanjutkan langkahnya untuk masuk ke ruang kerjanya. Namun, panggilan Nayla mengurungkan niatnya.
“Pak?”
“Iya, Nay?”
Nayla melihat sekeliling sebelum mengucapkan kalimat yang ia ingin ungkapkan. “Saya boleh minta tolong, Pak?”
Pak manager mengangguk, “asal jangan minta kalau kamu mau resign.”
“Enggak, Pak.” Nayla tersenyum. “Tolong jangan kasih tahu teman yang lain kalau saya ijin cuti karena pergi ke India, Pak.” Sambung Nayla.
“Iya. Tenang aja, Nay.”
***
Di hotel sesudah mengantar Nayla bekerja, Fahad membereskan semua pakaiannya. Ia juga tak lupa mengabari Ammi-nya jika nanti malam ia akan kembali ke India bersama Nayla.
Sang ibu sangat bahagia, ia menyuruh semua pekerja di rumahnya bersiap untuk menyambut Nayla, tidak lupa ia juga menyiapkan sebuah kamar untuk Nayla. Ibu Fahad sangat bahagia seakan ia menyambut Nayla sebagai menantu, bukan sebagai kekasih dari putranya.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, Fahad terlihat sudah menunggu Nayla pulang bekerja—ia mendudukkan separuh tubuhnya pada badan motor.
Nayla mendekat, sama seperti Fahad, ia juga melempar senyum manisnya.
“Sayang, kita ke hotel dulu, ya?”
“Ngapain ke hotel?” tanya Nayla.
“Jangan bertanya!” seru Fahad seraya menyentuh bibir Nayla dengan satu jarinya. Terkejut, tubuh Nayla mematung seraya matanya berkedip berkali-kali.
***
Fahad melajukan motornya. Nayla masih memikirkan tentang Fahad yang menyentuh bibirnya. Selama ini, memang Fahad selalu menggandeng tangannya, menyentuh kepala dan pipinya. Namun, untuk bibir, Fahad tidak pernah melakukan itu. Bibir adalah bagian sensitif untuk Nayla.
Keduanya kini berada di dalam lift. Fahad tidak pernah melepas genggaman tangannya pada Nayla sejak mereka sampai di area parkir hotel.
Fahad menutup pintu kamarnya, tak lupa ia juga menguncinya. Nayla yang berdiri di belakang tubuh Fahad, hanya bisa terdiam. Ia merasa heran kenapa pria itu mengunci pintu, tidak seperti biasanya dimana Fahad hanya akan menutup pintunya dengan tidak rapat.
__ADS_1
“Kamu kenapa?” tanya Fahad yang melihat wajah gugup Nayla serta keringat yang menetes dari pelipis gadis itu.
Nayla menggelengkan kepalanya. Fahad menggandeng tangan Nayla untuk mengajaknya duduk di sofa. Sementara Nayla duduk, Fahad pergi mengambil minuman dingin.
Fahad menaruh satu kaleng minuman dingin di meja untuk Nayla, pun ia juga duduk disampingnya. Namun, Nayla justru menggeser duduknya, Fahad yang sudah menyadari Nayla ketakutan akhirnya memilih untuk mengerjainya. Fahad ikut bergeser dan mendekati Nayla.
Nayla kembali menggeser duduknya, namun kali ini Fahad menarik lengan Nayla sehingga membuat tubuh gadis itu semakin dekat dengannya.
“Fahad, lepas,” kata Nayla dengan lirih.
Fahad menyeringai, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Nayla. Kini hanya tersisa beberapa centi diantara mereka.
Nayla melihat kedua manik mata Fahad bergantian. Keningnya berkerut, ia menelan salivanya, merasa takut.
“Fahad, aku mau teriak!” Nayla mendorong dada Fahad.
Fahad kembali meraih lengan Nayla. “Masih mau, kan? Belum teriak.”
“Fahad!” seru Nayla.
Fahad masih menatap lekat wajah Nayla, hingga tawa yang sudah ia tahan dengan susah payah pun akhirnya lolos. Ia melepas cengkeraman tangannya pada lengan Nayla.
“Fahad!” Nayla kembali berseru.
Nayla mengangguk perlahan. Matanya tak lepas menatap kedua manik mata Fahad.
Satu tangan Fahad mengarah menyentuh ujung kepala Nayla, dengan lembut ia berucap, “aku cinta dan sayang sama kamu, aku nggak mungkin melakukan hal itu. Cuma pria yang bodoh dan nggak cinta sama wanitanya, yang melakukan hal menjijikkan seperti itu.”
Fahad melanjutkan ucapannya. “Aku nggak mau kamu kecewa, aku nggak mau kamu hancur. Wanita diciptakan bukan untuk pemuas napsu. Wanita itu special, mereka hebat, mereka harus dihormati. Dan seorang pria tidak berhak merebut kesucian wanitanya sebelum adanya pernikahan diantara mereka. Dan aku, nggak mau merebut itu semua dari kamu. Karena aku cinta sama kamu.”
Nayla tersenyum. Penuturan Fahad membuat ia semakin menaruh kepercayaan yang lebih terhadap pria itu. Memang benar apa yang diucapkan Fahad—hanya pria bodoh dan tidak mencintai wanitanya, yang akan melakukan hal menjijikkan seperti itu.
“Kalau wanitanya mau, gimana?” tanya Nayla.
“Mereka juga bodoh, jika menyerahkan sesuatu yang sangat berharga itu. Tapi, itu semua karena ketulusan cinta mereka yang justru dipermainkan oleh pria bodoh,” tutur Fahad.
“Kalau dipaksa sama cowoknya, itu gimana? Padahal si ceweknya nggak mau. Tapi, cowoknya merampas itu semua.” Nayla kembali bertanya.
Fahad mengambil napas panjangnya, lalu mengembuskannya dengan kasar. “Itu beda ceritanya, Sayang.” Fahad memberi penekanan pada kata sayang.
“Kalau misal—”
Fahad memotong ucapan Nayla. “Apalagi? Kamu semakin kemana-mana bahasnya.”
“Apa? Aku cuma mau bilang, kalau misal kita pulang sekarang aja, gimana?” tanya Nayla.
__ADS_1
“Alasan!”
“Enggak. Ayo, pulang sekarang.” Ajak Nayla.
Fahad mengangguk, “sebentar.” Fahad beranjak berdiri, ia berjalan ke arah laci yang terdapat di meja nakas. Ia mengambil sesuatu di sana.
“Aku nggak mau tahu, kamu nggak boleh nolak ini.” Fahad kembali duduk di sebelah Nayla. Ia membuka sebuah kotak kecil, di mana terdapat sebuah cincin sederhana di dalamnya.
Fahad meraih tangan Nayla, namun Nayla dengan segera menarik tangannya, menyembunyikan di balik tubuhnya. Fahad tahu, bahwa Nayla sudah pasti akan menolaknya. Kekasihnya itu tidak menyukai perhiasan. Terlebih, itu pemberiannya, pria yang belum menjadi suaminya.
“Aku udah pesan cincin ini buat kamu, aku tahu kamu suka cincin sederhana seperti ini. Aku mohon, terima dan pakai ini di jari kamu.”
Nayla menggelengkan kepalanya, “aku nggak bisa terima cincin itu. Nanti aja kalau kita udah nikah, aku pakai. Sekarang kamu simpan dulu.”
Fahad berdiri, ia berkacak pinggang. Menatap Nayla dengan sorot mata tajamnya. “Aku nggak minta kamu aneh-aneh, Nayla! Aku cuma minta kamu terima dan pakai cincin ini. Sebenarnya aku ini siapa kamu, hah?! Kamu anti banget nerima apapun dari aku.”
Nayla menunduk. Air matanya memaksa keluar, namun sekuat tenaga ia menahannya.
“Aku tahu, kamu nggak suka kemewahan, kamu nggak suka barang-barang mahal. Tapi ini cuma cincin kecil, Nayla!” suara Fahad lebih meninggi. “Apa susahnya, tinggal nerima, terus kamu pakai. Aku nggak ngasih sat set perhiasan India yang nggak sesuai sama tipe kamu. Ini satu cincin, Nayla, cincin kecil!”
Bulir bening tak mampu Nayla tahan. Iya, memang benar bahwa ia tidak menyukai barang-barang mahal dan kemewahan. Nayla tidak pernah membeli barang jika ia tidak membutuhkannya. Ia bukan tipe wanita yang suka menghambur-hamburkan uang. Ia juga tidak suka menerima barang pemberian dari pria yang bukan siapa-siapanya—belum menjadi suaminya. Buktinya, ia tidak pernah mengambil uang sepeserpun dari kartu kredit yang diberikan oleh Fahad.
“Aku mau, semua orang tahu kalau kamu itu punya aku. Kamu punya aku, Nayla!” bentak Fahad.
Nayla menghapus air matanya, ia mengangkat wajahnya perlahan. “Maaf,” lirihnya. Fahad yang melihat Nayla menangis pun dibuat luluh, ia sadar, ia salah sudah membentak Nayla.
Fahad berjongkok tepat di hadapan Nayla. Diraihnya jari jemari sang kekasih. “Maaf, aku nggak bermaksud nyakitin kamu,” ucapnya dengan lembut. Air mata Nayla kembali menetes, dengan sigap Fahad menghapus air mata itu dengan satu ibu jarinya. “Maaf, Sayang, aku cuma mau kamu terima cincin ini. Aku mau semua orang tahu, kalau kamu itu punya aku. Orang biar lihat, kalau kamu itu sudah tunangan. Biar nggak ada yang deketin kamu.”
Kedua mata Nayla masih basah, pun dengan hidungnya yang masih memerah. “Emang siapa yang mau deketin aku? Nggak ada,” kata Nayla.
Fahad tersenyum, “jadi sekarang kamu mau nerima cincin ini apa enggak?” tanyanya yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla. “Nah, gitu, dong. Masa nunggu aku marah dulu baru mau nerima.” Fahad memakaikan cincin itu di jari manis tangan kiri Nayla. “Maaf, Sayang, aku udah marah dan ngebentak kamu.”
“Aku juga minta maaf, udah sok cantik di depan kamu. Dengan nggak nerima cincin ini.” Nayla mengangkat tangan kirinya, menatap cincin yang sudah terpasang di jarinya.
“Enggak, kok. Kamu nggak sok cantik. Itu emang karakter kamu, yang nggak suka nerima barang dari siapapun. Termasuk aku yang jelas-jelas mau nikahin kamu.” Fahad tersenyum. “Dan aku suka karakter kamu itu.” Sambungnya.
“Ayo, pulang, udah sore.” Ajak Nayla.
Fahad beranjak berdiri, ia menarik tangan Nayla untuk ikut berdiri. “Cuci muka dulu, baru pulang. Ingus kemana-mana, nih.” Fahad tertawa kecil, ia menyentuh hidung Nayla.
“Kan, kamu yang udah buat aku nangis.” Seru Nayla.
“Iya, maaf ....”
***
__ADS_1