
Seusai makan malam, Fahad kembali sibuk dengan komputer lipat miliknya. Lelaki itu terlihat sangat serius. Ia merasa beruntung, istrinya itu tidak pernah sekalipun memrotes kesibukannya. Nayla hanya akan bertanya sekedarnya saja. Sesudah bertanya, istrinya itu akan memberinya waktu berkutat dengan segala kesibukannya.
Sebuah pesan masuk di ponsel istrinya, melihat sekilas ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup ... Fahad memberanikan diri mengambil ponsel Nayla yang berada di nakas samping tempat tidur. Matanya membulat penuh, tersirat sebuah kemarahan di sana setelah membaca nama si pengirim pesan.
Pintu kamar mandi terbuka, Nayla yang baru saja selesai membersihkan wajahnya itu dibuat ketakutan saat matanya bertemu dengan mata tajam milk Fahad.
“Sini!” kata Fahad.
Nayla melangkah ragu, jari jemarinya saling meremas. “Ada apa?” suaranya tertahan, ia ketakutan.
“Kamu bertemu Mahira?!” bentak Fahad.
“A-aku, itu—”
“Nayla!” suara Fahad semakin menggelegar.
Nayla yang sudah berdiri tepat dihadapan Fahad itupun memundurkan tubuhnya dengan perlahan. Bayangan akan malam yang menakutkan itu kembali menghampiri dirinya.
“Jawab aku!”
Nayla berjengkit kaget. Sudut matanya sudah berair. “Kamu pasti gitu, nggak mau dengar dulu.”
Seketika, kemarahan Fahad pun menyurut. Tatapan mata Nayla meluluhkan hatinya. Menghela napasnya dengan panjang, Fahad menyentuh pergelangan tangan Nayla lalu menuntunnya untuk duduk di sofa. Menyibakkan sebagian anak rambut Nayla ke belakang telinga, ia kembali bertanya mengenai pesan yang dikirimkan Mahira. Fahad mendengarkan, ia mengizinkan istrinya untuk menceritakan semuanya dari awal.
Mulai dari pergi keluar apartemen, bertemu Anand saat menunggu taksi online yang ia pesan. Nayla menceritakan semuanya dengan jelas, tanpa ada sedikitpun yang ia tambah atau kurangi. “Mahira yang bawa aku ke rumah sakit, dia juga yang nganter aku pulang.” Nayla berkata, masih dengan sorot mata takut akan kemarahan suaminya.
“Kamu nggak diapa-apain, kan, sama dia?” Fahad memastikan. Ia melihat semua lekuk tubuh istrinya, mungkin ada bagian yang lecet atau bahkan terluka. Tentu saja Nayla menggeleng keras, ia merasa baik-baik saja. “Yakin? Dia baik sama kamu?”
__ADS_1
Kedua alis Nayla saling bertaut, ucapan Fahad terdengar sangat berlebihan. Iya, baiklah ... Nayla juga tau masa lalu Mahira dan juga suaminya, tetapi tidak baik jika terus saja menaruh kemarahan—dan bahkan sudah menilai orang tersebut dengan satu nilai buruk, tanpa membandingkan dengan nilai baik yang lainnya. “Mahira baik, Fahad. Kalau dia jahat, kenapa dia bawa aku ke rumah sakit, coba?”
“Dia jahat, aku bilang dia jahat!” Fahad berseru. “Jangan berteman dengan Mahira, aku nggak suka. Kamu dengar, kan?”
Nayla mengangguk, meskipun bibirnya ingin sekali memrotes akan sikap Fahad yang melarang ia berteman lebih jauh lagi dengan Mahira, Nayla berusaha mengerti posisi suaminya. Fahad masih menyimpan luka lama itu, bisa dibilang sedikit dendam. Dendam akan kecerobohan dan kepentingan pribadi mantan istrinya tersebut.
“Kalau aku nggak lihat isi pesan kamu, kamu nggak akan ngasih tau aku juga?” tanya Fahad.
“Aku tetap kasih tau, Fahad, tapi kamu baru saja pulang. Aku belum ada kesempatan. Aku nggak nyangka, kamu harus tau dengan cara seperti ini.”
Fahad menarik tubuh Nayla kedalam pelukannya, mata sendu itu meruntuhkan dinding kemarahan di hatinya. Fahad ingin sekali merubah sifatnya yang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Akan tetapi, entah mengapa sangat sulit sekali. “Sayang, bantu aku lebih baik lagi. Jangan pergi,” ujarnya.
Mengurai pelukannya, Nayla menatap kedua manik mata Fahad. “Kamu kenapa, suka banget bilang jangan pergi terus?”
“Aku sudah pernah bilang, kan, bukannya istri kalau tidak dihargai ... suatu saat ia pasti pergi, meninggalkan suami dengan semua keegoisannya.” Fahad menjelaskan, terlihat ada ketakutan di matanya ketika bibirnya mengucap kata “pergi”.
“****!” Fahad tertawa sendiri. Telinganya sangat tajam, sehingga tak ada satupun dari ucapan Nayla yang ia lewatkan. “Ayo, aku hukum kamu karena bertemu wanita itu.” Menggendong paksa tubuh Nayla naik ke atas tempat tidur, hukuman itu diberi Fahad dengan penuh kehangatan disetiap sentuhannya.
***
Semuanya baik. Kesehatan Nayla dan perkembangan janinnya berjalan dengan baik dan sehat. Memeriksakan kandungan setiap bulan, Fahad tak ingin melewatkan kesempatan itu. Tidak ada yang lebih penting daripada istri dan juga anaknya. Untuk Ammi, wanita itu juga tetap menjadi nomor satu di hatinya. Kedudukan Ammi dan Nayla tidak bisa disamakan, mereka sama-sama menjadi nomor satu dihatinya.
Menunda-nunda, mengatakan masih disibukkan dengan pekerjaan kantornya, Fahad berusaha mengundur kepulangannya ke Kashmir. Bukan tanpa sebab ia melakukan semua itu. Bukan pula karena Nayla yang memintanya tetap berada di New Delhi. Justru sang istrilah yang selalu menyuruhnya untuk segera ke Kashmir. Hampir setiap malam menjelang tidur, Nayla selalu membicarakan tentang Ammi dan Kashmir. Istrinya itu selalu berpesan agar tidak membuat Ammi sedih dan kecewa.
Hati suami mana yang tidak merasa sakit mendengar penuturan istrinya sendiri—yang menyuruhnya menuruti permintaan Ammi untuk menikah lagi. Tetap saja. Nayla akan meminta perceraian. Meskipun sekarang ini, hingga usia kehamilan sudah menginjak usia lima bulan ... istrinya itu tidak pernah membahas lagi tentang perceraian, Fahad sudah mengetahui jika Nayla tetap menginginkannya.
“Fahad, aku besok boleh ketemu Mahira, kan? Dia ada pekerjaan di sini. Boleh, kan?” Nayla meminta izin, ia naik ke tempat tidur menyusul Fahad, setelah menyiapkan keperluan suaminya untuk berangkat ke Kashmir, besok. Perlahan, Nayla memberi pengertian kepada Fahad bahwa Mahira sudah berubah. Dia wanita baik. Mahira sudah menyadari kesalahannya di masa lalu. Tidak baik jika terus saja mengungkit kesalahan dan rasa sakit itu. Di atas sana, Aadil sudah bahagia. Anak itu akan merasa sedih jika orangtuanya tetap berselisih paham.
__ADS_1
Fahad menaruh ponselnya ke nakas, ia membantu Nayla berbaring. “Sayang, kamu nggak cemburu sama dia?” berbaring di samping kiri Nayla, menatap wajah lelah istrinya.
“Dia siapa? Mahira?” tanyanya. Sebab, Fahad tetap tidak mau menyebut nama wanita itu.
“Iya, itu.”
Nayla tersenyum, ia menyentuh pipi Fahad yang sedikit bersih. Ya, suaminya itu baru saja mencukur tipis rambut lembut di sekitaran pipi dan dagu. “Nggak ada alasan yang bisa membuat aku cemburu. Selama ini, kalau aku mau ketemu sama Mahira, kamu cuma nganter dan jemput doang, kan? Kalian nggak pernah ketemu.” Ya, cukup sering Nayla dan Mahira membuat janji temu di mall. “Jadi, kenapa aku harus cemburu sama Mahira?”
Mendapat pertanyaan seperti itu, memaksa Fahad kembali berpikir. Memang tidak ada yang pantas dicemburui. Tidak ada apa-apa lagi antara dirinya dan Mahira. Pun, Mahira juga tidak pernah menunjukkan sesuatu yang sekiranya bisa membuat Nayla merasa cemburu—Fahad mendapat semua keterangan itu dari istrinya. Setiap kali bertemu, Mahira tidak pernah lagi membahas masa lalunya bersama Fahad. Hanya membahas tentang kehamilan Nayla dan seputar kesibukan Mahira.
“Besok hari jum'at, kamu pergi ke anak-anak lagi?”
Nayla terkejut, suaminya itu tau tentang aktivitasnya di hari jum'at. “Kamu tau darimana?”
Merapikan anak rambut Nayla, Fahad mendekatkan tubuhnya agar bisa memeluk sang istri. “Dari Anand, dia pernah lihat kamu.”
Nayla meminta maaf, sudah berbohong dan menyembunyikan sesuatu dari suaminya. “Aku takut kamu nggak kasih izin, makanya aku ...”
“Nggak apa, Sayang, itu pekerjaan bagus. Kamu berbagi sama anak-anak yang kurang beruntung, menyisihkan sebagian rezeki yang sudah Allah titipkan. Disetiap rezeki yang kita dapat, kan, memang ada hak mereka. Nggak ada yang salah dan kamu nggak perlu minta maaf.”
Senyuman terukir di bibir Nayla, akhirnya ... setelah sekian lama ia mencari waktu yang tepat untuk berbicara kepada suaminya, kini ia tidak perlu khawatir lagi karena Fahad ternyata sudah tau semuanya dari awal.
“Seperti biasa, besok Anand yang awasi kamu pergi ke anak-anak. Jadi ... ah!” sebuah pukulan ia dapat dari sang istri. “Kok, mukul?!” Fahad berseru kesakitan.
“Punya suami nggak mau ngawasin sendiri, malah nyuruh orang lain. Anand lagi.” Nayla hendak menjauhkan tubuhnya dari Fahad, namun ia kalah cepat dari cengkeraman tangan sang suami.
“Kamu, ya, suka benar kalau ngomong.” Mendaratkan sebuah ciuman di pipi Nayla dengan gemas. “Maaf, Sayang, kapan-kapan aku temani kamu pergi ke anak-anak. Kenapa aku nyuruh Anand, ya, karena aku percaya sama dia. Kamu juga gitu, kan? Dia karyawanku, Sayang, kalau dia berani suka sama kamu ... aku bisa pastikan dia menyesal seumur hidup.”
__ADS_1
***