Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 92


__ADS_3

Fahad terus saja memaksa, bahkan ia sudah membuka koper untuk memasukkan semua pakaian istrinya. Ia muak mendengar tentang pernikahan. Sampai kapanpun Fahad tidak akan menikah lagi. Istrinya hanya Nayla ... Nayla seorang. Ia selalu menuruti semua permintaan Ammi, patuh pada wanita yang melahirkan dan membesarkannya penuh kasih sayang. Akan tetapi, untuk yang satu ini, Fahad tidak akan menurutinya. Hal yang sangat tidak masuk akal untuk ia lakukan.


“Kalau kamu nggak punya istri, kamu bisa nikah lagi.”


Fahad menoleh, ia menjatuhkan koper di tangannya lalu menghampiri Nayla yang masih duduk di sofa. “Maksudnya?”


Nayla mengambil napas panjang lu mengembuskannya dengan kasar. “Kalau kamu jadi duda, kamu nggak bakal sesulit ini menentukan pernikahan. Jadi, kamu bisa kasih talak—”


“Nayla!” Fahad berteriak, suaranya menggema memenuhi kamar. “Jangan gila! Sampai kapanpun aku nggak akan masih talak ke kamu. Aku nggak mau nikah lagi.”


Nayla menatap Fahad, mata sendunya mulai menganak sungai. “Itu nggak mungkin, Fahad, kamu pasti bakal nikah lagi. Dengan atau tanpa adanya aku.” Jatuh sudah air mata itu, ”kamu nggak pernah nolak permintaan dan perintah Ammi, aku tau itu. Aku nggak mau nyuruh kamu milih antara aku ataupun Ammi, karena kita bukan untuk dipilih, Fahad. Jadi, aku mohon ... lepas aku, jangan buat ini semakin rumit.”


“Pagal!!” Fahad marah. Ia tidak akan menceraikan Nayla. Sampai kapanpun. “Aku udah melangkah sejauh ini, aku nggak mau lepas kamu. Jangan pernah ungkit masalah perceraian lagi!” ujarnya penuh penekanan.


“Jangan egois, Fahad. Besok, aku balik ke Delhi ... habis itu aku pulang ke Indonesia. Aku yang urus perceraian, kamu tinggal tunggu suratnya keluar.” Nayla beranjak berdiri, ia masuk ke kamar mandi. Mengunci pintu, kakinya terasa lemas. Ia ambruk di lantai, menangis ... menyesali atas apa yang ia katakan. Hatinya menolak, namun entah mengapa bibirnya mengucapakan hal yang mengerikan itu—perceraian.


Fahad mengetuk pintu kamar mandi, berkali-kali ia memanggil istrinya, namun pintu itu tetap tidak terbuka. “Sayang, maafin aku. Aku mohon buka pintunya.” Fahad hampir menyerah, ia dapat mendengar isakan tangis pilu dari istrinya.


Kini Nayla menyadari, tak seharusnya ia menyiram rasa cinta yang tumbuh di hatinya. Semakin ia mencintai, semakin sakit pula yang ia rasakan. Rasa cinta itu seolah sebuah kesalahan yang harus segera diakhiri. Nayla hanya manusia biasa, ia tidak bisa berbagi suami. Sekuat apapun ia mencoba menerima keadaan, pada akhirnya ... hatinya tidak pernah bisa sabar dan ikhlas untuk berbagai suami dengan pria lain. Lebih baik untuk mundur, itulah yang sekarang Nayla pikirkan.


“Sayang, aku hitung sampai lima. Kalau kamu nggak buka, aku dobrak pintunya. Satu ... dua ... empat—”


Pintu terbuka, istrinya keluar sembari mengikat rambutnya. “Kamu lupa nomor tiga,” ucapnya, ia berjalan melewati Fahad.

__ADS_1


“Ya, emang sengaja.” Fahad mengekor. Ia menarik ikat rambut Nayla kemudian juga menarik pergelangan tangan istrinya itu agar ambruk di pelukannya. “Jangan pergi, tetap di sampingku. Kita berjuang sama-sama,” ucapnya dengan lembut.


Nayla mengangguk, hatinya berkata iya. Namun logikanya menolak. Rasanya tidak akan ada yang berubah, Ammi dan Bibi Farida tetap akan merencanakan pernikahan kedua untuk Fahad. Nayla juga tau, sampai kapanpun ... Bibi Farida tetap tidak akan menyukainya. Maka dari itu, Nayla tidak ingin membuat Bibi Farida terkesan dengan apa yang ia lakukan. Biarlah ia dibenci, daripada harus berpura-pura baik atau menunjukkan apapun agar disukai orang lain—Nayla ingin orang-orang menyukainya dengan apa adanya.


Jarinya menelusuri wajah Nayla, ia pandangi dengan penuh rasa iba. Wanita yang sangat ia cintai harus menerima semua. Sungguh, Fahad tidak berniat menyakitinya sedikitpun. Akan tetapi, Ammi memaksanya untuk menikah lagi—engan alasan bahwa Nayla tidak akan bisa mengurus keluarga karena istrinya adalah warga negara asing. Kenapa sekarang hal itu menjadi masalah? Sedangkan diawal, saat pertama kali ia mengutarakan rasa cintanya kepada gadis Indonesia ... Ammi sedikitpun tidak keberatan hingga akhirnya ia bisa mempersunting gadis yang dengan sulit ia dapatkan itu. “Aku pastiin, kamu akan tetap jadi istriku dan satu-satunya istriku.” Fahad berujar lirih.


Nayla membuka matanya, ia merenggangkan dekapan suaminya. “Kok, belum tidur?” tanyanya dengan suara serak.


Fahad menggeleng. “Aku baru bangun, Sayang,” bohongnya. Sepanjang malam Fahad tidak bisa tidur, ia memikirkan bagaimana mudahnya ia membuat istrinya itu menangis. Lagi dan lagi. Semua menjadi rumit, rencana Ammi dan Bibi Farida membuatnya tak tau harus melangkah kemana. “Baru jam tiga, tidur lagi aja,” ajak Fahad.


Nayla sedikit menarik tubuhnya agar ia lebih leluasa melihat wajah suaminya. “Kamu nggak tidur, kan?” tanyanya. Fahad lupa, Nayla pasti akan tau jika ia sedang berbohong. Feeling seorang istri memang tidak pernah salah. “Mata kamu kelihatan capek banget, wajah kamu juga.” Nayla menambahkan.


Fahad tersenyum, ia mencubit pipi Nayla lalu ia daratkan ciuman ditempat yang sama. “Aku kebanyakan minum kopi, jadi—”


Shit!!


Lagi-lagi ia ketahuan. Fahad kembali berkilah bahwa tadi saat istrinya sudah tidur lebih dulu, ia turun kebawah dan meminta Hannah membuatkannya kopi. “Kok, gelasnya nggak ada?” Nayla mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut kamar. “Ah, sakit!” serunya kemudian saat Fahad menggigit pipinya.


“Udah, ah! Jangan ribut, masih pagi juga. Sini, aku peluk ... tidur lagi.” Fahad menarik lengan Nayla, mendekapnya dengan erat. “Tangan kamu dingin banget, Sayang.” Fahad beranjak berdiri, ia mengambilkan sweater tebal untuk istrinya. “Kalau satu lapis masih dingin, lebih baik pakai dua sweater, Sayang. Dada kamu nggak apa, kan? Sakit, nggak? Sesak, nggak?” khawatir Fahad. Ia membantu istrinya untuk duduk lalu memakaikan sweater tersebut.


Nayla tersenyum, “tadi nggak dingin, kok. Kan, kamu peluk aku.”


“Ya, udah sini. Aku peluk lagi.”

__ADS_1


Berharap hanya yang terbaik di dalam rumahtangga. Fahad selalu berdoa, semoga ... kemarin, hari ini, esok, selamanya hingga ke jannah, mereka selalu bersama. Meraih mimpi-mimpi indah dengan saling bergandengan tangan. Mereka yang membenci akan sadar—betapa rasa cinta didalam naungan rumahtangganya sangatlah indah dan sempurna. Entah dari dunia belahan mana, jika Allah sudah menetapkan untuk berjodoh ... maka yang tidak mungkin pun akan menjadi mungkin, dan yang jauh akan dekat.


***


Menapaki satu persatu anak tangga, Fahad berjalan menuju ke dapur. Meninggalkan Nayla yang tengah menunaikan ibadah salat subuh. Ia mencari Hannah, hendak menanyakan sesuatu tenang istrinya. Entah mengapa, pikirannya merasa terganggu dengan makanan yang dimakan istrinya. Fahad tau betul, Nayla sangat suka memasak. Setiap hari, ada saja menu makanan Indonesia yang dimasak istrinya tersebut. Kata Nayla, dengan memasak dan memakan makanan negaranya sendiri, akan sedikit mengurangi rasa rindunya dengan tanah air.


Tidak semua makanan Indonesia cocok di lidahnya, dan ... terkadang, ia tidak memakan makanan tersebut. Meski begitu, istrinya itu tidak pernah tersinggung ataupun marah jika ia tidak memakannya. Nayla sangat penuh pengertian, Fahad bersyukur untuk itu.


“Selama di sini, Nona Nayla makan makanan khas Kashmir dan India, Tuan. Saya menawarinya untuk memasak makanan Indonesia, tapi dia menolaknya.” Hannah menjawab.


Tanpa berpikir panjang lagi, Fahad mengambil benda pilih di sakunya. Ia mengirim pesan kepada Nayla untuk segera ke dapur. Ia menunggu di kursi meja makan, dengan secangkir teh dihadapannya yang baru saja disuguhkan oleh Hannah.


“Kamu butuh sesuatu?” tanya Nayla yang sudah berdiri di samping suaminya.


Fahad mengangguk, tangannya mengikat kedua ujung hijab segi empat Nayla agar istrinya itu lebih mudah menuruti permintaannya. “Bisa minta tolong sesuatu?” tanyanya kemudian. Nayla mengangguk, sembari menepiskan senyumnya. “Aku udah lama nggak makan masakan kamu, bisa minta tolong masakin nasi goreng?”


Nayla diam sejenak, ia bingung. Menuruti perintah suaminya, atau mengikuti kata hatinya yang merasa sungkan menggunakan dapur ibu mertuanya. Selama ini, ia hanya sekedar membantu Hannah dan tidak mengambil alih tugas-tugas di dapur. “Fahad, bukannya aku nggak nurut, tapi—”


“Nggak ada tapi-tapian!” tukas Fahad. Ia beranjak berdiri, mengajak istrinya ke meja dapur. “Sekarang masakin aku nasi goreng, aku bantuin.”


Hannah dan Ibu Fatimah tersenyum simpul melihat sepasang suami istri yang penuh cinta di hadapan mereka. Sangat disayangkan, kabar bahwa Ammi menyuruh Fahad menikah lagi sudah sampai ke telinga mereka. Rasa bingung berkecamuk di pikirannya keduanya. Bagaimana mungkin, Ammi bisa menjodohkan Fahad dengan orang lain. Satu sisi, tuan mudanya sudah memiliki istri ... di sisi lain, masa lalu Fahad yang kelam tentang perjodohan sudah cukup menjadi bukti tidak bahagianya ia saat itu. Mereka hanya bisa diam dan berdoa untuk kebaikan rumah tangga Fahad dan Nayla.


***

__ADS_1


__ADS_2