
Nayla menerima pesan dari Fahad. Suaminya sudah di jalan, sebentar lagi akan sampai di mall. “Ryan, kamu masih kerja di restaurant?” Nayla bertanya. Mereka berdua kini tengah berjalan bersama, menuju halaman mall.
Ryan menggeleng. Ia sudah tidak bekerja lagi di restaurant. “Aku resign setelah kamu juga resign.”
Jawabnya Ryan seakan menyerang jantung Nayla. Ia tau, apa yang dilakukan Ryan juga pasti karena dirinya. Ada rasa bersalah di sudut hati Nayla kepada Ryan. Bukan rasa bersalah sebab sudah menikah dengan pria lain. Namun, entahlah ... Nayla sendiri bingung, kenapa ada rasa bersalah di hatinya.
Aku bukan ninggalin dia untuk nikah sama orang lain, aku nggak ninggalin dia. Karena dari awal memang nggak ada hubungan apapun. Aku dan Ryan cuma sebatas teman. Nayla mencoba menghibur dirinya sendiri.
“Aku sekarang buka cafe, Nay. Kapan-kapan ajak anak dan suami kamu mampir, ya.” Ryan bersuara. Ia mendaratkan sebuah ciuman dipuncak kepala Shazia yang masih berada digendongannya. Balita cantik itu tidak mau duduk di stroller ataupun diambil oleh mamanya.
Nayla mengangguk. “Kirim lokasinya saja, Yan. Kamu masih simpan nomorku, kan?”
“Nomor kamu masih nomor yang lama?” tanya Ryan yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.
Nayla mengedarkan pandangannya, ia mencari mobil suaminya. Mungkin saja, Fahad sudah dekat. Atau bahkan sudah sampai. Ada kekhawatiran di hati Nayla, jika Fahad melihat Ryan ada bersamanya. Kenapa aku kayak orang yang selingkuh, sih?! batin Nayla berteriak. Ia sangat takut. Suaminya itu sangat mengerikan jika sudah dikuasai rasa cemburu.
Ryan mendapat panggilan yang mengharuskannya untuk segera pergi. Dengan terpaksa ia memberikan balita mungil itu kepada mamanya. Shazia menangis, ia tidak melepaskan cengkeraman tangannya pada kemeja Ryan.
“Zia ikut, Om!” rengekannya dengan airmata yang tak henti menetes. “Om Iyan!” tangisnya semakin tak tertahan. Shazia menjerit, ia mencengkeram lengan kemeja Ryan kuat-kuat. “Zia ikut!”
“Zia, kapan-kapan kita main lagi. Jangan nangis, om harus pergi.” Ryan mencoba memberi pengertian, namun Shazia sangat keras kepala.
“Kamu sudah ditunggu, Yan, pergi saja. Nanti dia juga berhenti nangis, kok.”
Ryan menyentuh pipi Shazia sebelum ia benar-benar pergi.
Fahad turun dari mobil setelah melihat Ryan benar-benar pergi. Ia menghampiri istri dan juga putrinya. Tanpa melihat wajah Nayla, Fahad memilih melipat stroller lalu memasukkannya ke bagasi mobil. “Ayo, pulang.” Ajak Fahad dengan nada dingin.
Nayla berjalan perlahan, membuka pintu mobil tanpa bantuan suaminya. Terlebih, saat ini Shazia tengah berada digendongannya, Nayla kesulitan sebab putri kecilnya itu masih saja menangis karena kepergian Ryan. Sepanjang perjalanan, hanya suara deru mobil yang mengisi kesunyian. Fahad fokus akan kemudinya, sementara Nayla ... ia merasa heran serta bingung dengan sikap dingin suaminya.
Apa tadi dia lihat Ryan? Nayla bertanya pada dirinya sendiri. Ketakutan menyergap hatinya, tatapan tajam Fahad melintas begitu saja dibenaknya. Sangat mengerikan.
***
Nayla merasa gelisah. Ia ingin menceritakan semuanya kepada Fahad. Tentang adanya Ryan di sana, dan juga itu terjadi secara kebetulan. Baiklah. Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah diatur oleh Allah. Seperti apa rencana-NYA, tidak dapat yang tau, bukan? Begitupun Nayla dan Ryan. Mereka bertemu atas izin Allah, tidak ada kesengajaan yang mereka buat.
Nayla beranjak bangun dengan perlahan, ia tidak ingin membangunkan Shazia yang sudah susah payah ia tidurkan. Putrinya sudah tenang, sudah tidak menanyakan Ryan lagi. Nayla melihat Fahad yang tengah duduk dilantai dengan tv yang beralaskan karpet itu. Suaminya fokus pada komputer lipat yang berada dipangkuannya.
“Fahad.” Nayla mendudukkan hubungan tepat disamping suaminya. “Aku bisa bicara sebentar?” tanyanya kemudian yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Fahad. “Tadi, di mall aku nggak sengaja ketemu—”
“Ryan!” tukas Fahad.
Jari-jemari Nayla saling bertaut, ia kebingungan ... takut. Nada suara Fahad menandakan bahwa suaminya itu sedang marah. “Iya, dia tadi—”
“Kamu bohong.” Fahad kembali menukas ucapan Nayla. “Aku kasih izin kamu pergi dengan syarat nggak ada dia di sana, tapi kenapa kamu bohong?!” seru Fahad dengan suara tertahan.
Nayla menggeleng keras. Ia membela diri. Namun, semua itu terasa sia-sia sebab suaminya tidak mungkin bisa mendengar dan mengerti apa yang ia ucapkan.
“Kamu juga kasih Shazia ke dia. Zia digendong sama dia. Kamu sengaja biarin Zia akrab sama dia, kan?!” suara Fahad menggelegar. Membuat putrinya terbangun dan menangis.
“Kamu pasti gitu, nggak mau dengar dulu.”
__ADS_1
Nayla beranjak berdiri, ia masuk ke kamar. Fahad dapat melihat hidung istrinya yang mulai memerah, pertanda bahwa wanita itu akan menangis. Benar saja, Nayla menangis sembari menenangkan putrinya untuk kembali tidur. Suara Fahad benar-benar mengejutkan Shazia. Bahkan, Nayla yang tidak tidur saja dibuat berjingkat oleh suara Fahad yang sangat keras.
Fahad meraup wajahnya dengan kasar. Ia lupa, ada Shazia yang sedang tidur. Setelah beberapa saat, ia beranjak menyusul Nayla. Namun, istrinya itu ternyata sudah tidur dengan mendekap tubuh sang putri. Ia hendak mengajak Nayla untuk berbicara lebih lanjut, tetapi Fahad terpaksa menunda ... Senna ia tau, Nayla masih ketakutan. Sudut mata istrinya itu terlihat basah. Membuat Fahad menyadari kesalahannya yang sudah membentak Nayla.
Lagi-lagi, Fahad tidak bisa mengontrol emosi dan kecemburuannya jika itu sudah menyangkut Ryan. Hanya lelaki itu yang menjadi musuhnya. Oh, bukan. Ryan bukan musuh ... sebab ia dan lelaki itu tidak sedang bertanding untuk memenangkan hati Nayla. Tetapi, rasa cemburu. Rasa cemburu jika hanya mendengar nama itu. Fahad tidak terima jika ada lelaki itu didekat istrinya. Bahkan, jika itu hanyalah sebuah nama. Fahad tidak akan pernah rela.
Sore itu, Shazia sudah selesai dimandikan oleh Nayla. Putri mungilnya itu berjalan keluar kamar dengan cepat begitu mendengar suara motor omnya. “Om!” Shazia berteriak dengan lantang.
Andi yang baru turun dari motor itu berpura-pura terkejut melihat Shazia yang sangat antusias memberikan kejutan. Kedua tangannya mengangkat tubuh gemuk Shazia, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. ”Cantik, wangi lagi.” Berjalan ke arah dapur, Andi menuang air putih ke dalam gelas yang baru saja ia ambil dari lemari piring dan gelas.
“Baju kamu sudah aku siapin.” Nayla meletakkan baju ganti Fahad di tepi tempat tidur seperti biasanya. Ia menunduk, tidak berani menatap kedua mata suaminya.
Mata Nayla sembab, Fahad melihat itu. Ternyata, istrinya tidak tidur siang, tetapi menangis. “Sayang, aku—” Fahad tidak bisa melanjutkan kalimatnya, Nayla sama sekali tidak mau melihat ke arahnya. Istrinya itu justru melangkah keluar kamar.
Mengisi teko air, menaruhnya di atas kompor lalu menyalakan api. Nayla membuatkan kopi untuk Andi dan juga suaminya. “Sudah pulang?” tanyanya kepada Andi.
Andi yang sedang minum itupun sontak menoleh, menaruh gelas di meja lalu menyentuh bahu Nayla. “Mbak, nangis?” tanyanya dengan lembut. “Kenapa? Ada apa?” cercanya. Namun, Nayla hanya menggeleng dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. “Mbak, jangan bohong. Ada apa? Fahad nyakitin, Mbak, lagi? Jawab, dong!” geram Andi.
Ingatannya tentang air mata Nayla saat hamil, saat Fahad akan menikah lagi, membuat Andi tidak bisa menahan diri lagi jika melihat air mata kakaknya kembali menetes. Tapi, tidak untuk saat ini. Andi tau, saat ini ia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara Nayla dan juga Fahad. Baiklah ... ia akan mencoba menahan diri terlebih dahulu. “Kalau, Mbak, bilang baik-baik saja, aku usahain untuk mengerti. Tapi, kalau aku masih lihat air mata itu, aku nggak yakin ... untuk nggak ngapa-ngapain Fahad.” Andi berucap tegas. Ia membawa Shazia masuk ke kamarnya, agar sepasang suami istri itu bisa menyelesaikan masalahnya tanpa harus didengar oleh Shazia.
***
Duduk bersama Shazia di teras. Andi sibuk dengan gitar, menyesuaikan nada suaranya. Andi ingin melupakan masalah hatinya untuk sejenak, namun ternyata lagu cinta juga yang tetap ia nyanyikan. Biarlah, ada Shazia di sampingnya. Senyuman manis keponakannya yang juga sibuk bermain gitar mainan itu bisa menyembuhkan luka hatinya.
Aku tak tahu apa yang 'ku rasakan dalam hatiku~
Saat pertama kali lihat dirimu, melihatmu~
Seluruh tubuhku terpaku dan membisu~
Sepertinya aku tak ingin berlalu~
Berikan cintamu juga sayangmu~
Percaya padaku~
Ku 'kan menjagamu hingga akhir waktu menjemputku~
Ku berikan cintaku juga sayangku~
Percaya padaku~
Ku 'kan menjagamu hingga akhir waktu menjemputku~
Nayla sudah selesai mencuci piring bekas maknan malam. Ia menyusul Andi dan Shazia, duduk bersama di kursi teras yang terbuat dari rotan tersebut. “Anak mama ini nyanyi lagu apa?” tanya Nayla sembari merapikan anak rambut putrinya ke belakang telinga.
“Nyanyi lagu India, Mbak.” Andi menjawab. “Masa lagu Arab, papanya aja orang India.” Imbuhnga kemudian setelah melihat Fahad menyusul dan duduk di samping kursi Nayla.
Fahad meminjam gitar milik Andi, ia ingin menyanyikan sebuah lagu untuk istrinya. Namun, sebelum ia memulai ... Nayla justeru lebih dulu beranjak masuk ke dalam rumah bersama Shazia. Fahad menghela napas lelahnya. Istrinya itu sangat sulit untuk dirayu. Setiap kali Nayla marah, Fahad mencoba merayu atau melakukan apapun agar amarah istrinya itu mereda. Namun, sangat sulit sekali meluluhkan hati wanita yang sudah bersedia di sisinya hingga saat ini tersebut. Fahad tau, itu semua bukan karena istrinya memiliki sifat pendendam, tetapi karena Nayla memang wanita yang sulit untuk ditaklukkan. Sebelum melakukan sesuatu, Nayla selalu memikirkannya masak-masak. Tidak pernah gegabah dalam melangkah dan mengambil keputusan.
“Aku melakukan kesalahan yang sama.” Fahad bergumam lirih.
__ADS_1
Andi menoleh, mengamati wajah lesu kakak iparnya tersebut. “Kesalahan apa?” tanyanya yang hanya dijawab sorot mata bersalah yang ditunjukkan oleh Fahad. Andi tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. “Ryan?” sesuai tebakannya. Kakak dan kakak iparnya itu tidak pernah jauh dari seorang Ryan, jika berada di Indonesia.
“Aku sudah coba mengontrol emosi kalau menyangkut dia, tapi nggak tau kenapa ... aku nggak bisa kalau Nayla ada di dekat dia. Aku percaya sama Nayla, tapi dia ...”
Andi melihat sebuah ketakutan dari sorot mata kakak iparnya tersebut. “Fahad, apa kamu merasa kalau Ryan sedang berusaha ngrebut Mbak Nayla?” tanya Andi yang dijawab gelengan kepala oleh Fahad. “Jadi, apa yang harus dipermasalahkan? Kalau Ryan saja nggak ngapa-ngapain. Bertegur sapa itu hal yang wajar, kan? Toh, dulu mereka itu teman. Nggak baik, memutus tali silaturahim. Iya, dulu Ryan suka sama Mbak Nayla, tapi sekarang semuanya sudah berubah ... Ryan juga tau hal itu. Jadi, jangan memaksakan diri untuk mencaritahu sesuatu yang pada dasarnya memang tidak ada.” Tutur Andi.
Fahad mengangguk paham. Memang benar apa yang dikatakan adik iparnya tersebut. Mencari sesuatu yang memang tidak ada adalah hal bodoh dan gila. Karena sampai kapanpun, hanya rasa kecewalah yang didapat. Kecewa yang disebabkan oleh permainan diri sendiri.
“Andi?”
“Hemm?” Andi menoleh lagi.
“Kedengarannya, kamu ini sangat berpengalaman.” Fahad menggoda. “Sudah punya pacar?” tanyanya kemudian yang langsung disangkal oleh Andi. Fahad tertawa, ekspresi wajah adik iparnya itu menunjukkan jawaban lain.
***
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Udara semakin dingin, memaksa Andi dan juga Fahad untuk masuk ke dalam. Membuka pintu dengan perlahan, Fahad melangkah masuk lalu mendekati sang istri. Ia singkirkan sebagain anak rambut yang menutupi wajah cantik Nayla. Ia daratkan ciuman di kening istrinya tersebut.
“Sayang, kamu tidur?” tanyanya dengan perlahan. Tak ada jawaban, Fahad pun menunjuk-nunjuk salah satu pipi Nayla dengan lembut. Ia tak tahan, jika istrinya tidak mau melihatnya barang sedetikpun. “Sayang, kamu beneran sudah tidur?” Fahad mendekatkan wajahnya, “aku gigit pipi kamu, ya?” semakin dekat.
“Sudah malam.” Nayla membuka matanya. “Cepat tidur, besok tolong antar aku ke butik.” Kembali menutup mata. Namun, suaminya dengan usil tetap saja menggigit pipinya. “Fahad, kamu—”
“Ayo, kita bicarakan baik-baik.” Fahad menarik pergelangan tangan Nayla untuk duduk. “Lihat aku.” Tangannya mengarahkan wajah sang istri agar pandangan mereka bisa bertemu. Fahad mengajak Nayla untuk duduk di bawah, agar Shazia tidak terganggu dengan pembicaraan mereka. Beralaskan karpet hijau, Fahad mencoba bertanya dengan baik-baik tentang Ryan.
“Kamu yakin, nggak marah?” Nayla memastikan.
Fahad menggeleng, ia tersenyum sembari menggenggam jari-jemari sang istri.
Nayla menghela napas panjang sebelum memulai penjelasannya. “Semua ngalir gitu aja, Fahad. Ryan lihat Doni, jadi dia nyamperin dari arah belakangku. Dia nggak tau kalau ada aku di sana, bahkan dia juga minta maaf. Katanya, kalua tau ada aku, dia juga nggak akan nyamperin.”
Fahad mendengarkan dengan seksama. Ia bisa melihat kejujuran dari mata sang istri. Tidak ada yang dikurangi atau dilebihkan. “Soal Zia? Kenapa bisa digendong sama dia?”
“Itu Zia sendiri yang minta. Dari Ryan datang, Zia minta dipangku terus. Aku sampai nggak enak sama Ryan.”
“Terus?”
“Terus, kamu mau marah?” tanya Nayla, sorot matanya masih ada ketakutan.
Fahad memasukkan tubuh Nayla kedalam pelukannya. Ia cium puncak kepala sang istri, ia belai lembut rambut yang terurai itu. “Enggak, Sayang. Maaf, lagi-lagi aku mengulangi kesalahan yang sama. Maafin aku.”
Nayla membalas pelukan Fahad, aroma tubuh suaminya mampu menghilangkan rasa takut itu menjadi rasa nyaman. “Jangan gitu lagi.”
“Iya.” Fahad mengangguk. “Aku berusaha nggak cemburu sama dia, tapi nggak tau kenapa ... aku nggak suka lihat dia ada didekat kamu.”
“Kamu gitu terus!” Nayla mencubit perut Fahad. “Kamu juga dekat sama perempuan lain, apa aku cemburu? Enggak, kan? Karena aku tau, kamu cuma sebatas teman kerja, nggak lebih. Sama, kan? Aku dan Ryan juga gitu.”
Lagi. Fahad mengatakan akan berusaha mengubur rasa cemburunya yang berlebih terhadap Ryan. Menaruh kepercayaan bukan hanya kepada Nayla, tapi juga Ryan. Bahwa mereka berdua hanya teman, tidak lebih.
“Jangan pergi, aku mohon jangan pergi.” Fahad berucap tulus. Ia takut, suatu hari Nayla akan meninggalkannya bersama rasa cemburu yang tidak pernah bisa ia kendalikan. Fahad takut, Nayla pergi karena merasa tidak dihargai.
“Aku nggak pergi, asal kamu juga tetap disampingku. Selesaikan semuanya dengan cara baik dan juga tetap bergandengan tangan. Aku nggak akan lepas tangan kamu, kalau kamu juga nggak lepas tanganku.” Nayla memeluk Fahad lebih erat. Membuat suaminya itu tak kuasa menahan diri untuk tidak berbuat lebih.
__ADS_1
Ciuman hangat keduanya, perlahan namun pasti mencapai puncak kenikmatan. Tangan Fahad menggapai semua yang ia inginkan. Detak jam dinding menemani rintihan Nayla. Fahad masuk, menyentuh Nayla dengan kelembutan. Begitulah mereka, menyelesaikan kesalahpahaman selalu berakhir dengan pergumulan penuh cinta.
***