Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 28 S2


__ADS_3

“Andi, jangan telat makan, jaga kesehatan. Kalau merasa kesepian, telpon saja. Mbak pasti angkat kok,” pesan Nayla sebelum berangkat ke India.


Lagi-lagi Nayla dan Andi harus berpisah. Kedekatan kedua adik kakak tersebut sangat membuat iri semua orang. Sekali lagi, tak jarang, orang-orang mengira mereka adalah sepasang kekasih karena perbedaan usia mereka yang tidak terlalu jauh. Mereka terlihat sebaya. Entah Nayla yang terlihat masih muda atau justru Andi yang terlihat tua.


“Fahad, kamu nggak cemburu sama Andi?” tanya Mas Arif.


Fahad tersenyum simpul, menatap Andi dan Nayla yang duduk berdampingan di kursi tunggu bandara—yang tak jauh darinya. “Ya, enggaklah mas, nggak masuk akalkalau aku cemburu. Aku sama kedua adik perempuanku juga sama seperti Nayla dan Andi gini. Tapi, sejak ada Nayla, Yasmin dan Yumna nggak pernah merengek meminta sesuatu atau apapun sama aku, mereka akan mengatakan semuanya pada Nayla,” tuturnya.


“Aku terbuang,” imbuhnya yang mendapat gelak tawa dari saudara Nayla.


“Fahad cemburunya cuma sama satu pria,” celetuk Andi yang mendengar percakapan Fahad dan Mas Arif.


“Siapa?” Mas Arif penasaran.


“Sydah nggak usah dibahas!” Nayla mencubit lengan Andi. Adiknya itu meringis kesakitan sembari menyentuh lengannya yang memerah.


“Ini lagi ngomongin siapa, sih?” Mbak Indah baru datang dari toilet.


“Nggak ngomongin siapa-siapa. Sudah, nggak usah dibahas! Aku mau balik ke India ini,” tegas Nayla yang tidak suka ada pembahasan tentang Ryan. Nayla menghormati Fahad dengan tidak akan pernah membahas tentang Ryan lagi.


Tiba saatnya mereka saling memeluk dan berpamitan. Tetap, Andi yang paling lama Nayla peluk. “Jangan sedih lagi, lupakan semuanya. Kamu pasti akan dapat yang lebih baik lagi.” Nayla menasihati.


Andi mengangguk “Mbak, jangan sampai sakit. Kalau Fahad bikin nangis lagi, bilang Andi,” ucapnya penuh penekanan.


“Hati-hati, Nay, kabari kita kalau kalian sudah sampai di india,” ucap Mbak Indah yang memeluk Nayla.


“Hai, Gembul!” Andi mengbioshazia dari gendongan Fahad. “Om pasti kangen banget, nih, sama kamu. Nanti om sering-sering telpon, ya.” Andi mencium kedua pipi keponakannya tersebut.


Fahad Nayla, serta Shazia melambaikan tangan pada Mas Arif, Mbak Indah dan Andi. Sudah tidak ada tangisan ketika Nayla harus kembali ke India. Mereka berpisah dengan senyum bahagia melihat Nayla—adik serta kakak mereka bahagia dengan pernikahannya.


Walau sebenarnya di hati mereka ada kesedihan, akan tetapi, semua itu tak sebanding dengan rasa bahagia mereka untuk Nayla.


Shazia tersenyum bahagia begitu ia sudah masuk ke dalam pesawat dan duduk di kursi VIPnya.


***

__ADS_1


WELCOME TO INDIA


Nayla menghirup udara India yang sangat ia rindukan. Negara keduanya ini juga sudah ikut terpatri di dalam hatinya semenjak menjadi Nyonya Fahad Malik Khan. Dia berjalan keluar bandara dengan Arishfa yang tertidur dalam dekapannya. Sementara Fahad, dia membawa dua koper besar serta stroller sang putri.


“Kita ke Kashmir nanti-nanti saja, ya? Aku masih capek,” ucap Fahad sesaat setelah ia duduk di kursi penumpang. Ia dan Nayla memutuskan menggunakan jasa taksi online untuk mengantar mereka pulang ke rumah.


“Aku bisa kesana duluan sama Zia. Kamu bisa nyu—”


“Enggak! Pokoknya harus sama aku. Nggak boleh sendiri!” tukas Fahad. Dia tidak pernah mengijinkan Nayla untuk ke Kashmir seorang diri, lagi. Pengalaman pertama Nayla mengunjungi Kashmir masih jelas di ingatannya. Kesan dan perlakuan buruklah yang didapat istrinya tersebut.


Fahad tidak akan membiarkan istrinya pergi ke Kashmir sendiri. Tidak akan pernah.


Fahad turun dari taksi, ia membuka pagar rumahnya agar mobil bisa masuk ke halaman rumah. Rumah dengan halaman sederhana itu terlihat sangat bersih. Ya, Fahad meminta bantuan asisten rumah tangga Sahid untuk membersihkan rumahnya seminggu sekali ketika sang istri berada di Indonesia.


Sesampainya di rumah, Nayla segera memandikan putrinya yang sudah bangun saat mereka masih dalam setengah perjalanan tadi. “Yasmin belum pulang? Ini sudah jamnya dia pulang kantor,” tanya Nayla.


Fahad ang berdiri di depan pintu kamar mandi itu pun melihat jam dinding di kamar. Ya, memang sudah waktunya Yasmin pulang kantor. “Aku telpon dulu.” Fahad merogoh kantong celananya, mengambil ponsel miliknya lalu menelpon Yasmin.


Shazia sudah selesai memakai baju, rambutnya diluncurkan jagung oleh Nayla. “Masya Allah, cantik sekali anak mama.” Ciuman gemas mendarat di kedua pipi Shazia.


Nayla menoleh pada Fahad yang duduk di sofa kamar mereka. “Coba telpon Sahil,” saran Nayla.


Fahad pun mengikuti saran Nayla, dia segera memanggil sahabat sekaligus partner kerjanya tersebut. Nayla menggendong Shazia keluar kamar, berjalan menuju ke dapur untuk membuatkan suaminya teh dan susu untuk putrinya.


“Sayang.” Fahad menyusul Nayla. “Kata Sahil, Yasmin sudah pulang naik taksi. Sahil masih ada pekerjaan jadi dia nggak bisa mengantar Yasmin pulang,” ucapnya.


”Tenang dulu, mungkin Yasmin masih di jalan.”


Nayla tahu, Fahad sangat mengkhawatirkan adiknya. Memang tidak biasanya Yasmin pulang terlambat seperti ini. “Kamu mandi saja dulu, aku masakin makanan,” saran Nayla. Fahad mengangguk, dia pun kembali ke kamar dan Nayla segera memasak dengan bahan makanan yang tersedia di lemari pendingin.


Shazia bermain di atas karpet yang Nayla gelar tak jauh dari tempatnya, dia menaruh beberapa boneka serta buku cerita yang terdapat gambar-gambar hewan dan princess untuk sang putri.


Makanan sudah tersaji di meja makan. Raut wajah Fahad masih menunjukkan rasa khawatir. Berkali² matanya melirik ponsel, berharap ada kabar dari Yasmin.


Nayla mengambilkan makanan untuk Fahad. “Makan dulu, Fahad, dari tadi kamu belum makan apapun. Habis ini kamu bisa cari Yasmin. Mungkin dia di rumah temannya.” Mencoba menenangkan, walau hatinya juga merasa sangat khawatir.

__ADS_1


 ***


Fahad berdiri di teras rumah, berjalan kesana kemari menunggu adiknya yang tak kunjung pulang. Dia masih terus berusaha menghubungi nomor ponsel Yasmin, namun tetap saja, operator-lah yang menjawab panggilannya.


“Yasmin!” Fahad mengeratkan giginya, merasa kesal, sabarnya sudah habis.


“Fahad.” Nayla menyentuh bahu suaminya.


Fahad berbalik, menatap tajam pada sang istri.


“Fahad,” kedua telapak tangan Nayla dia letakkan pada dada sang suami.


Suara lembut Nayla masuk, Fahad menutup matanya sekejap lalu menatap sang istri dengan lembut. “Maaf, Sayang,” tangannya menyelipkan anak rambut sang istri ke belakang telinga. “Maaf, aku sudah nggak bisa sabar. Aku nggak bilang sama dia kalau kita pulang hari ini, dia pasti pergi main.”


memejamkan matanya sekejap, lalu membukanya dan menatap wajah teduh sang istri. “Maaf,” Afsal menyelipkan rambut Nayla ke belakang telinga.


Nayla tersenyum, “kenapa minta maaf? Kamu nggak salah, aku tahu kamu khawatir sama Yasmin. Apa kamu cari dia saja? Aku nggak apa di rumah sama Zia, yang penting kamu cari Yasmin dulu,” tuturnya.


Sejenak, Fahad diam, menimbang ucapan istrinya. “Tunggu! Kamu kok keluar rumah nggak pakai hijab begini? Ayo masuk!” perintah Fahad sekaligus menggandeng Nayla untuk masuk ke rumah lalu menutup pintu.


“Maaf, aku nggak sadar.” Nayla menjelaskan.


“Tapi, jangan—”


Nayla berhambur ke pelukan Fahad. Meminta maaf, sadar akan kesalahannya. “Iya,” ucap Nayla lembut. “Jadi cari Yasmin, nggak?” tanyanya kemudian.


“Terus kamu sama Zia bagaimana? Ini sudah malam, aku nggak mungkin tinggalin kalian sendirian di rumah.” Kekhawatiran Fahad kini bertambah.


Nayla meyakinkan, bahwa dirinya dan Zia akan baik-baik saja di rumah. Mengunci semua pintu, jendela, pagar lalu menunggu suami dan adik iparnya pulang.


Waktu semakin berlalu, Yasmin tak kunjung pulang. Fahad pun memutuskan untuk pergi dan mencari Yasmin di rumah teman-temannya. Beruntung, Fahad mengenal beberapa teman adiknya tersebut. “Kamu hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa telpon aku, ya?” Fahad mencium kening sang istri.


“Iya, kamu juga hati-hati.”


***

__ADS_1


 


__ADS_2