Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 36 S2


__ADS_3

“Jangan diulangi lagi. Sekarang, ayo kita kembali turun. Nggak enak sama keluarga Adnan,” ajak Nayla dan Yumna pun mengangguk.


Sebelum turun, Nayla menghampiri Shazia yang berada di kamar bermain bersama Hannah. Ia pun turun dengan Shazia yang berada digendongannya. Yumna mengikuti Nayla dari belakang.


Nayla menghampiri suaminya yang sedang bersama Yasmin Fahad mengambil alih putrinya dari gendongan sang istri. Gadis mungil dengan bola mata yang bening itu menepiskan senyuman kepada papanya.


“Adnan, maafkan aku. Karena aku, acara kalian sedikit terganggu. Tidak sedikit, mungkin banyak. Aku minta maaf untuk itu,” ucap Nayla tulus.


Yumna merasa bersalah melihat Nayla yang meminta maaf pada keluarga Adnan. “Kakak ipar,” lirih Yumna. Nayla menggenggam jari jemari Yumna, menepiskan senyum pada adik ipar bungsunya itu.


“Tidak, Kakak ipar. Tidak perlu membuat kita sungkan dengan meminta maaf seperti ini. Kakak ipar tidak bersalah, Yumna pun sama. Tidak ada yang salah. Hanya kesalahanpahaman saja. Kak Fahad tadi juga sudah meluruskan semuanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” tutur Adnan.


Nayla melihat ke arah Fahad, suaminya itu tengah tersenyum padanya. “Sudah, nggak usah dipikirkan lagi,” kata Fahad sembari menyentuh lembut pipi sang istri.


***


Acara pertunangan sudah selesai. Seluruh tamu undangan serta keluarga Adnan sudah pulang. Begitupun dengan Sahil dan Sanju yang harus segera kembali ke Delhi. Setelah menidurkan Shazia, Nayla membantu Hannah di dapur.


“Sayang.” Fahad menghampiri Nayla. Istrinya yang tengah mencuci piring itupun menoleh.


“Iya?”


“Bisa minta tolong sebentar?” Fahad bertanya.


Nayla tetap fokus dengan cucian piringnya. “Apa?”


Fahad mendekat, “Apa aku harus mengatakannya di depan Hannah?”


Hannah yang menata piring dan gelas itu menoleh, tersenyum pada sepasang suami istri yang selalu mesra di manapun mereka berada. “Nyonya, biar saya saja yang melanjutkannya.”


“Terima kasih, Hannah. Kamu memang selalu mengerti kami,” kata Fahad. Diapun menggandeng tangan Nayla untuk ke atas, ke kamar mereka.


“Ada apa?” tanya Nayla sesudah menutup pintu kamar.


“Sini.” Fahad menepuk sofa agar Nayla duduk di sampingnya.


“Kamu mau minta tolong apa?” Nayla kembali bertanya.


“Aku mau minta maaf,” ucap Fahad. Kedua alis Nayla menyatu, memandang sang suami penuh heran. “Maaf. Bibi sudah bikin kamu malu di depan semua orang. Harusnya aku bisa jaga kamu.”


“Kamu kenapa, sih? Nggak ada yang perlu minta maaf. Aku nggak apa, kok. Bibi juga nggak salah,” tutur Nayla. Lebih tepatnya lagi, bohong. Ya, Nayla berbohong. Masih ada rasa kecewa tentunya.


“Peluk mau, kan?” tanya Fahad. Nayla tak menjawab, ia jutrsu memeluk suaminya lebih dulu. “Aku takut," ucap Fahad sembari mendekap tubuh mungil sang istri.


“Takut apa?” Nayla sedikit mendongakkan wajahnya, menatap sang suami yang juga menatapnya.


“Aku takut, suatu saat sabar kamu habis. Dan kamu—”


“Ngomong apa sih kamu?” tukas Nayla. “Semua manusia memang punya batas kesabaran. Aku pun sama. Makanya aku minta, tolong bantu aku tetap sabar dengan selalu berada di samping aku. Jadi papa terbaik buat Zia, jadi suami terbaik buat aku. Jadi anak yang selalu berbakti sama ammi dan jadi kakak yang paling hebat buat Yasmin dan Yumna.”


“Fahad.” Nayla merenggangkan pelukannya. “Aku tuh pengin banget ke makamnya Aadil, tapi ...,” wajah Nayla sendu. Sejak dulu ia ingin sekali berziarah ke makam putra pertama Fahad. Namun, tradisi dan perbedaan mahzab membuat ia harus bisa menghormati perbedaan itu. Di India, wanita dilarang masuk ke pemakaman. Batas wanita hanya sampai di depan pagar area pemakaman. Mereka tidak diperkenankan mendoakan keluarga yang sudah meninggal di makam itu sendiri. Tidak seperti di Indonesia, wanita bisa berziarah ke makam sanak saudara.


Bagaimanapun Nayla sangat menginginkannya, ia tetap tidak bisa mengindahkan niat baiknya itu. Dia akan tetap menghormati perbedaan dan tradisi dari negara suaminya.


Fahad tersenyum, dia tau, Nayla sedang mencoba mengalihkan pembicaraan. Menyentuh lembut satu sisi wajah sang istri. “Aku tau, Sayang. Tapi, kamu tau sendiri, kan? Di sini wanita nggak boleh masuk ke makam.”


Nayla mengangguk. “Kamu bisa doain Aadil di manapun kamu berada. Aku yakin, Aadil pasti juga tahu kamu sayang sama dia. Dan dia ...,” Fahad mengambil satu tangan Nayla, meletakkannya di dada. “Dia juga ada di hati aku dan hati kita semua. Andai dia masih ada.” Tenggorokan Afsal seakan tercekat, ingin sekali ia mengatakan andai Aadil masih ada, dia pasti akan bahagia mempunyai ibu sebaik dan sesabar Nayla, serta adik yang sangat pintar dan menggemaskan seperti Shazia.


Nayla berhambur ke pelukan Fahad. “Dia masih hidup, Fahad. Aadil hidup di hati kita semua. Dia masih ada sama kita. Maaf, kamu jadi sedih.”


Afsal mencium puncak kepala Nayla, “Enggak, Sayang,” ungkapnya.


“Dua hari lagi kita balik ke Delhi,” sambung Fahad.


“Koo, cepat?” kata Nayla yang masih berada dalam pelukan sang suami.

__ADS_1


“Aku harus balik kerja, istriku. Selama dua hari itu aku juga harus ke kebun saffron dan rumah produksi.” Fahad berujar.


“Hemm.” Nayla mengerti. Memang ada banyak hal yang harus diurus oleh suaminya ini. Nayla akan selalu mendukung suaminya dalam segala hal yang baik. Jika Fahad salah langkah, Nayla tak pernah bosan untuk mengingatkannya.


Segala larangan yang diberikan Fahad Nayla anggap sebuah bentuk rasa cinta suaminya itu kepadanya. Nayla yakin, Fahad tidak akan egois dengan mementingkan dirinya sendiri di balik kata cinta. Fahad melarang dan memarahinya semata karena ia tidak ingin ada hal buruk yang terjadi pada istrinya. Nayla cukup memahaminya.


“Sayang aku juga bisa jadi papa yang baik buat Farhan,” ucap Fahad sembari menepiskan senyum penuh maksud pada Nayla.


“Kamu pengen punya anak lagi?”


Fahad mengangguk, “Aku nggak maksa, Sayang. Kalau kamu memang belum siap punya anak lagi, aku nggak apa. Farhan bisa kita proses terus.”


Nayla mencubit perut Suaminya. “Ngomong apa sih kamu ini. Ada-ada saja.”


Fahad memang sangat menginginkan hadirnya anak lagi di tengah-tengah mereka. Farhan—ialah nama yang sudah dia siapkan untuk anak ketiganya nanti. Fahad tidak ingin egois dengan memaksa Nayla agar hamil lagi. Ingatan saat Nayla yang sempat koma seusai melahirkan Shazia dulu masih membuatnya ketakutan. Takut kehilangan wanita yang amat sangat dia cintai tersebut.


Seolah dunianya gelap, untuk menghirup napas pun Fahad merasa kesulitan. Wanita yang dia cintai, yang berjuang memberinya seorang putri, harus terbaring koma di ranjang rumah sakit dua tahun lalu. Rasa takut itu masih bersemayam di sudut hatinya sampai sekarang.


 ***


Selama berada di Kashmir, Nayla selalu melakukan tugas dan segala kewajibannya sebagai menantu di rumah itu. Kesibukan Fahad yang harus ke kebun saffron dan tempat produksi membuatnya sangat jarang bisa bermain dengan putrinya. Begitu pulang dari kebun, Fahad harus kembali bekerja dengan komputer lipatnya. Membaca semua laporan perusahaan dan hasil kerjasama yang di krim oleh Alina—sekertarisnya.


Bibi Farida sudah di ajak pulang oleh anaknya—Naseer. Naseer sudah cukup melihat ibunya yang selalu memarahi Nayla disetiap kesempatan. Naseer juga meminta maaf pada Nayla atas sikap kurang menyenangkan dari ibunya.


Tentu Nayla akan seperti biasanya. Berkata dengan tutur kata yang lembut bahwa tidak ada yang perlu meminta maaf. Bibi Farida tetaplah orang tuanya. Entah seperti apa rasa kecewa kita kepada orang tua, mereka tetap orang tua kita. Kita tidak berhak marah ataupun melawan ucapan orang tua. Kita adalah anak, dan kita juga tetap harus sadar bahwa selamanya anak tidak akan pernah bisa membalas apa yang sudah orang tua berikan pada kita. Jika tidak bisa memberikan kebahagian, setidaknya jangan pernah berkata kasar kepada orang tua. Bukan harta, ucapan dan tutur kata yang lembut itu saja sudah cukup membuat orang tua kita bahagia. Jangan membuat mereka menangis jika kita tidak bisa membuat mereka tersenyum.


“Kakak ipar!” teriak Yumna yang baru pulang. Nayla yang berada di kamar ammi bersama Shazia pun keluar dan menghampiri Yumna.


“Ada apa, Yumna?” panik Nayla yang melihat Yumna datang dengan deraian air mata di wajahnya. Ammi yang menggendong cucunya pun ikut panik.


“Kak Fahad, dia,” Yumna sesenggukan.


“Ada apa? Kenapa dengan Fahad?” Nayla meminta penjelasan.


“Dia tadi menamparku.”


“Tapi kenapa?” tanya Ammi.


“Tante, nangis!” celoteh Zia. Nayla memanggil Hannah, memintanya untuk membawa putrinya itu ke lantai atas.


“Duduklah dulu.” Nayla menuntun Yumna untuk duduk di sofa ruang tamu. Dia mengambilkan segelas air putih untuk adik iparnya tersebut.


“Hannah, ada apa?” tanya Yasmin yang melihat Hannah membawa Shazia dengan terburu-buru untuk masuk ke kamar bermain. “Nona Yumna sedang menangis,” jawab Hannah.


“Kenapa dia menangis?” tanya Yasmin lagi.


“Tadi saya mendengar, sepertinya Tuan Fahad menamparnya.”


“Hah?” terkejut Yasmin, dia pun segera berlari menuruni anak tangga menghampiri Yumna.


Nayla duduk di samping Yumna, begitupun dengan ammi yang duduk mengapit putri bungsunya itu. Nayla membantu Yumna untuk meminum air putih yang baru saja dia bawa.


“Sekarang katakan, kenapa Fahad bisa menamparmu?” tanya Nayla lembut.


Yumna menghapus air matanya, menatap ammi dan kakak iparnya bergantian. “Tadi kakak—”


“Karena dia berani pergi satu mobil bersama seorang pria!” suara Fahad menggelegar memenuhi ruang tamu tersebut. Lelaki itu masuk dengan tatapan marahnya pada Yumna.


Ammi terkejut, dia memandang wajah Yumna dengan tatapan marahnya. “Bagaimana bisa kamu pergi satu mobil dengan seorang pria, Yumna?”


Gadis cantik berambut lurus itu menggeser tubuhnya semakin mendekat pada Nayla. Yasmin mendekat pada ammi, dia berdiri di samping wanita paruh baya itu.


Afsal dengan marahnya menunjuk Yumna. “Aku pergi ke kampus untuk menjemputnya. Berkali-kali aku mencoba menelponnya, tapi ponselnya tetap saja mati. Aku masuk dan mencarinya. Tapi apa yang ku dapat? Dia bolos kuliah!” teriak Fahad.


Ammi semakin terkejut, putri bungsunya itu berani berbohong. Fahad hendak melanjutkan kemarahannya, namun dengan isyarat mata, Nayla meminta suaminya untuk berhenti berbicara karena anmi pasti akan lebih terkejut. Itu tidak baik untuk kesehatan ammi yang sudah berusia lanjut.

__ADS_1


Fahad mengerti, ia pun menyuruh Yasmin untuk membawa Ammi masuk ke kamar. “Yasmin, bawa masuk ammi ke kamar.”


Yasmin mengangguk.


“Fahad, tapi Yumna—”


“Ammi,” satu tangan Fahad berada di pundak Ammi. “Jangan khawatir, Yumna hanya merasa bosan di kelas hari ini. Wajar kan jika dia bolos kelas untuk hari ini saja? Aku dulu juga pernah seperti itu.”


“Tapi dia pergi bersama seorang pria, Fahad.” Ammi sangat khawatir.


“Nanti Fahad jelaskan, sekarang lebih baik, Ammi, masuk ke kamar dulu.”


Ammi mengangguk, dia kembali ke kamar bersama Yasmin.


Setelah ammi masuk ke kamar. Fahad memerintahkan Yumna untuk masuk ke kamarnya. “Kakak ipar.” Yumna memohon. Nayla mengangguk, dia berjalan beriringan bersama Yumna untuk masuk ke kamarnya.


“Katakan, kenapa kamu bolos kelas hari ini?” selidik Fahad.


Yumna yang duduk bersama Nayla di tepi tempat tidur itu menunduk ketakutan. Baru kali ini lelaki itu marah hingga menamparnya. Yumna tahu, kesalahannya memang sudah fatal. Dia sudah berani duduk berdua bersama seorang pria di dalam mobil.


“Jawab!” bentak Fahad. Nayla ikut ketakutan melihat kemarahan suaminya, suara pria itu seakan menusuk gendang telinganya.


“Kakak ipar.” Yumna menatap Nayla, meminta bantuan agar kakak iparnya ini mau mengajak bicara suaminya yang sekaligus kakaknya—Fahad


“Cukup, Yumna! Kakak sedang bicara sama kamu. Jangan lari dari masalah. Jangan selalu bersembunyi dibalik kakak iparmu. Kamu udah dewasa, Yumna, jangan seperti itu!” Fahad semakin geram. “Kamu juga! Kamu selalu belain Yasmin dan Yumna. Lihat dia sekarang! Dia ngelunjak!” Kali ini Nayla juga tak luput dari kemarahan sang suami.


“Kakak. Jangan menyalahkan kakak ipar,” kata Yumna.


“Diam!” bentak Fahad.


Nayla menunduk takut. Mungkin benar yang di katakan Fahad, bahwa dia terlalu memanjakan kedua adik iparnya. Namun, Nayla melakukan semua itu bukan karena tanpa alasan.


Selain dia memang menyayangi kedua adik iparnya, Nayla juga tidak terlalu berani memarahi kedua adik Fahad secara terang-terangan. Dia tidak ingin orang lain menyebutnya seorang kakak ipar yang suka mengatur.


Nayla masih tau batasan. Dia tidak akan membela adiknya tanpa tau permasalahan yang sesungguhnya. Nayla akan selalu menimbang baik dan buruknya terlebih dulu.


Dan Fahad tentu tahu akan hal itu. Tapi, kemarahannya membuatnya lupa bagaimana sifat sang istri yang tidak akan mendahulukan emosi dan selalu berpikir dengan jernih.


“Katakan, Yumna!”


“Dia, Afidz. Aku mengenalnya dari sosial media,” ucap Yumna, suaranya terdengar gemetar. Tentu dia merasa ketakutan pada Fahad.


“Lalu, kenapa kamu bolos kelas hari ini? Apa kamu sedang menjalin hubungan dengan pria itu, hah!”


Yumna menggeleng namun ia sama sekali tidak mau mengangkat wajahnya untuk menatap wajah sang kakak. Ia tetap menunduk sama seperti Nayla.


“Tapi kenapa kamu harus bolos kelas, Yumna? Kamu masih bisa bertemu dengan temanmu setelah jam pelajaran, bukan?” keluh Fahad. Dia masih berdiri di depan adik serta istrinya. Sorot matanya memancarkan kemarahan yang amat sangat, terutama pada Yumna.


“Lalu kenapa kamu berada di dalam mobil berdua dengan pria itu? Apa yang sedang kamu lakukan di sana?


“Tidak ada, Kak. Aku tidak melakukan apapun dengan Afidz.”


“Benarkah? Tapi kenapa kamu diam saja saat kakak bertanya padamu di depan pria itu?”


Tentu aku merasa sangat ketakutan di sana.


“Apa kamu juga mau segera menikah? Katakan kalau kamu mau menikah. Kakak akan mencarikan suami untukmu. Tapi tolong, jaga nama baikmu sendiri, Yumna.” Fahad benar-benar kesal dengan Yumna.


“Apa selama kakak di Delhi, kamu juga selalu seperti ini?”


Yumna mengangkat wajahnya. Menggeleng cepat seraya menatap wajah Fahad. “Tidak, Kak. Aku tidak pernah pergi berdua dengan seorang pria.”


Nayla masih diam menunduk, ia tidak berani berkata ataupun sekedar mengangkat wajahnya untuk saling bersitatap dengan mata sang suami. Nayla tidak berani menatap sorot mata tajam dalam kemarahan itu.


***

__ADS_1


 


__ADS_2