
Matahari sudah tenggelam. Digantikan dengan keindahan rembulan yang menyinari Srinagar. Nayla berdiri dibalik jendela kamar Fahad. Menikmati udara malam Srinagar, memandang keindahan ciptaan Allah yang sungguh luar biasa. Kaca jendela itu ia buka. Hembusan angin membuat Nayla merasakan kantuk yang amat sangat.
Ia berjalan ke arah sofa dengan membiarkan jendela itu tetap terbuka. Ia berbaring, tetap dengan pasmina yang masih ia kenakan. Perlahan, matanya mulai menutup. Nayla pun tidur tanpa bantal yang menyangga kepalanya.
Melihat pintu kamarnya yang sedikit terbuka, Fahad memutuskan untuk masuk. Terlihat Nayla yang sedang tertidur pulas. Ia mendekat, duduk di lantai, memandangi wajah teduh wanita yang ia cintai itu.
“Dia pasti sangat lelah.” Gumam Fahad dengan lirih.
Fahad masih memandangi wajah itu. Sebuah senyuman terukir tatkala mengingat pertemuan pertama mereka. Nayla yang marah, Nayla yang menyuruhnya untuk segera kembali ke India. Juga Nayla yang dulu menolaknya dengan alasan perbedaan sosial.
Perlahan, ia berhasil meraih hati dan cinta Nayla. Dengan kegigihan dan ketulusannya, Fahad berhasil membuat ruang untuk dirinya sendiri di hati Nayla. Ruang hati yang akan ia tutup rapat, dan hanya dirinya seoranglah yang kini tinggal di sana. Tak akan ia memberi kesempatan untuk pria lain membuka pintu hati Nayla. Ia bertekad, bahwa ia akan membuat Nayla selalu jatuh cinta, selalu memberi Nayla kebahagian di sepanjang hidup wanita itu.
Perceraian yang menyisakan goresan di hatinya, kini memudar dan sembuh setelah kehadiran Nayla dalam hidupnya. Kembali mengenal cinta, kembali mengenal kasih sayang, dan kembali merasakan kehidupan yang sungguh-sungguh nyata. Fahad sudah cukup bersedih dan membenci cinta setelah perceraiannya. Kini, cinta kembali memenuhi relung hatinya. Nayla hadir di setiap ruang hatinya.
Nayla mengerjap. Matanya masih menyesuaikan akan bias cahaya yang menyilaukan. Sebuah senyuman hangat menyambutnya. Senyuman itu seolah menular. Ia tersenyum setelah matanya berada pada satu garis lurus dengan Fahad.
“Kenapa tidur di sofa?” tanya Fahad.
Nayla mendudukkan tubuhnya dengan sempurna. Di susul Fahad yang berdiri dan duduk di samping wanita itu. “Ya, pengen di sofa aja. Kamu ngapain di sini?” tanya Nayla.
“Aku mau tidur, ini kamarku.”
“Terus, aku tidur di mana?” tanya Nayla lagi.
Fahad menjawab, “di sini juga.”
“Fahad, jangan ngaco, ah! Aku nggak suka.” Nayla mencebik kesal.
“Kenapa? Kita, kan, nanti juga nikah. Jadi nggak masalah kalau kita tidur sekamar,” dengan entengnya Fahad mengatakan hal itu.
Rasa takut menyergap Nayla, terbersit pikiran bahwa Fahad akan melakukan hal yang lebih. Mengingat itu adalah kamar dan rumahnya.
__ADS_1
“Ya, udah aku keluar.” Nayla beranjak berdiri. Namun dengan cepat Fahad menarik pergelangan tangan Nayla dan menuntunnya agar duduk kembali.
Menggemaskan. Fahad selalu dibuat gemas oleh sikap Nayla ketika merajuk. Tidak banyak bicara, Nayla akan memilih untuk mengalah dan diam. Sungguh, sifat dan sikap itulah yang membuat Fahad gemas dan ingin mencubit bibir serta hidung mungil Nayla.
“Aku bercanda, aku nanti tidur di kamar tamu,” tutur Fahad dengan lembut.
“Kamu gitu, sih! Kan, aku jadi—”
“Kamu takut?” tanya Fahad yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla. “Ck! Aku, kan, udah pernah bilang. Aku cinta sama kamu, mana mungkin aku mau ngerusak wanita yang aku cintai? Itu nggak mungkin, Sayang.”
“Namanya juga kucing. Ada ikan besar, ya, pasti diterkam,” bibir Nayla mencebik.
“Aku kucing baik, Sayang.” Fahad mencubit gemas hidung Nayla. “Kamu suka Kashmir, nggak?”
Nayla mengangguk. Ia memang sudah jatuh cinta dengan Srinagar, Kashmir. “Aku suka suasana, sungai, udara, dan semuanya.”
“Kalau gitu, nggak usah pulang.”
“Nyonya Nayla Fahad Khan.” Tukas Fahad yang disusul tawa kecilnya dan juga Nayla.
Nayla hendak menanyakan tentang foto anak kecil yang masih terpajang rapi di meja nakas, di samping fotonya, kepada Fahad. Namun, hatinya merasa ragu. Takut jika Fahad akan tersinggung. Nayla cukup mengerti, mungkin Fahad belum ingin menceritakan tentang siapa sosok anak itu.
Ia akan menunggu Fahad sendiri yang menceritakan semua masa lalunya. Tentang kehidupan rumah tangganya yang terdahulu.
***
Suara adzan subuh membangunkan Nayla. Disingkapnya selimut yang membalut tubuhnya lalu ia berjalan masuk ke kamar mandi.
Selesai menunaikan ibadah, Nayla masih diam di kamar. Ia ingin keluar, namun ia merasa takut dan sungkan sebab Fahad tak kunjung datang kepadanya.
Apa Fahad masih tidur? Apa aku telpon dia saja, ya? tanya Nayla pada dirinya sendiri. Berkali-kali ia melihat jam dinding, hari sudah semakin terang. Matahari pun sudah mulai menampakkan sinarnya. Fahad, aku takut mau turun sendiri.
__ADS_1
Tak berselang lama, suara ketukan pintu membuat Nayla menoleh lalu beranjak untuk membukakan pintu setelah mendengar Fahad memangilnya. “Kamu kenapa kama banget, sih?! Aku nggak bisa turun.” Cerca Nayla.
Bukan kesal karena paginya sudah mendapat amarah dari Nayla, Fahad justru tersenyum simpul mendapat amarah itu. “Maaf. Aku lupa kalau ada kamu—”
“Maksudnya?” tukas Nayla sembari memandang Fahad dengan tajam.
“Gini, Sayang ....” Fahad menuntun Nayla untuk duduk di sofa. “Aku tadi masih ngecek pekerjaan yang dikirim sana sekertarisku, aku udah lama nggak ke kantor. Banyak pekerjaan numpuk.”
Penjelasan Fahad seketika membuat Nayla menundukkan pandangannya ke sembarang arah. Ia merasa begitu egois, sebab tak memikirkan tentang pekerjaan pria itu. “Maaf, aku juga lupa kalau kamu udah lama nggak masuk kerja gara-gara aku.” Ucapnya dengan lirih.
“Bukan gara-gara kamu, emang aku aja yang meremehkan tanggung jawab.” Fahad memberi pengertian. “Ayo, kita turun.” Ajak Fahad. Pria itu menggandeng tangan Nayla menuju lantai bawah.
Nayla menyampaikan niatnya yang ingin membantu menyiapkan sarapan, maka dari itu ... Fahad mengantar Nayla ke area dapur, lalu ia duduk di living room agar tetap bisa mengawasi Nayla.
Kali ini Hannah tidak sendiri, ada Ibu Fatimah juga di sana. Sama seperti Hannah, Ibu Fatimah juga seorang asisten rumah tangga di keluarga Fahad. Hannah dan Ibu Fatimah sempat menolak di bantu Nayla. Mereka berdua menyarankan Nayla untuk duduk bersama Fahad. Namun Nayla tetap memaksa membantu.
Fahad melihat Nayla yang cekatan membangun kedua asisten rumahnya. Fahad tahu, Nayla tidak akan bisa berdiam diri. Itu bukan kebiasaan kekasihnya.
“Kak Fahad, lagi lihat apa?” Yumna datang lalu duduk di samping kakaknya tersebut.
“Lagi lihatin—”
“Lagi lihat nyonya, ya?” tukas Yumna. Fahad tergelak mendengar ucapan Yumna. Tangannya mengacak-acak rambut panjang sang adik dengan gemasnya, membuat Yumna memberengut kesal.
Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan. Nayla membantu Hannah melayani semua anggota keluarga. Sedikit canggung, sebab Ammi tak melepaskan pandangan kepadanya. Wanita paruh baya itu menaruh kekaguman setelah melihat Nayla. Wanita yang dicintai putranya.
Bukan ... bukan Nayla sedang mencari muka. Toh, dia juga sudah mempunyainya. Untuk apa mencari muka jika muka satu saja sudah cukup menguras dompet untuk membeli skincare.
Semua yang Nayla lakukan sungguh tulus dari lubuk hatinya. Ia selalu menerapkan, melakukan apapun dengan sepenuh hati. Entah itu menolong orang, melakukan pekerjaan, pun jika ketika ia mendapati hal atau sesuatu yang tak mengenakkan hatinya ... ia akan berusaha tetap membawa keikhlasan dan kesabaran di dalam hatinya. Nayla percaya, apapun yang dibarengi dengan keikhlasan dan kesabaran, pasti akan mendapatkan kebaikan. Allah tidak akan ingkar pada umat-NYA yang bersabar.
***
__ADS_1