Cinta Dari Facebook

Cinta Dari Facebook
Bab 109


__ADS_3

“Gimana sama lukanya Andi?” Fahad bertanya. Ia menerima cangkir teh yang diberikan Nayla.


Menaruh nampan di meja sofa, Nayla kembali menghampiri Fahad di atas tempat tidur. “Sudah aku perban. Maafin Andi, Fahad.”


Fahad menggeleng. Ia menaruh cangkir teh di nakas setelah menyeruputnya sedikit. “Dia nggak salah, aku memang pantas dapat ini.”


Fahad mengatakan apa yang membuatnya bisa bersama Benazir di restaurant. Gadis itu datang ke New Delhi dan menghubunginya. Fahad merasa tidak tega jika Benazir berada di New Delhi seorang diri. Usia Benazir masih 20 tahun. Sebagai saudara, Fahad merasa mempunyai tanggungjawab kepada Benazir. Tidak ada pilihan, Fahad harus menjemput Benazir di bandara. Meskipun di dalam hati ia tak henti mengumpat kesal pada Benazir. Gadis itu sangat nekat. Fahad sudah mencoba memberi pengertian, bahwa tidak akan ada pernikahan. Fahad memang menyayangi Benazir, namun rasa sayang itu tidak lebih antara kakak dan adik. Jarang bertemu, saudara jauh ... tapi tetap saja saudara. Fahad tidak bisa melewati batasan itu.


“Kamu benar, kok. Jangan biarkan dia sendirian di kota ini. Aku nggak marah, kamu juga harus mencoba lebih dekat lagi sama dia. Supaya kamu—”


“Nayla!” tukas Fahad. “Sudah, jangan dilanjutkan kalimatnya. Sampai kapanpun aku nggak mau nikah sama dia atau sama siapapun itu.”


Itu nggak mungkin, Fahad, kamu pasti nikah sama dia. Nayla menunduk. Ia menguatkan hatinya sendiri, agar bisa sabar menunggu satu bulan lagi. Setelah itu, semuanya akan berakhir. Cerita diantara dirinya dan Fahad akan selesai.


“Sayang, aku mau cerita sama kamu. Ini tentang Mahira.”


***


“Bu, tunggu, saya beritahu Pak Fahad dulu kalau—”


Mahira tidak memedulikan Alina, yang ia inginkan hanyalah menemui Fahad. Mantan suaminya. Membuka pintu dengan sangat keras, matanya menatap tajam ke arah Fahad yang terkejut atas kedatangannya.


“Pak, maaf, saya sudah mencoba menghentikannya. Tapi ...”

__ADS_1


Fahad mengangguk, ia meminta Alina untuk keluar dan menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat. Ia berdiri, menghampiri Mahira yang berdiri sembari mengepalkan tangan itu. “Ada perlu apa?” tanya Fahad.


Tidak menjawab, Mahira melayangkan sebuah tamparan di pipi kiri Fahad.


“Mahira!” Fahad berseru.


“Apa, hah?!” sungut Mahira. “Lelaki pecundang! Lemah!” menunjuk wajah Fahad. “Dasar bodoh! Kenapa kamu diam saja, hah?! Sekian lama kamu buat Nayla menangis. Menikah dengan Benazir? Kamu gila!” suara Mahira memenuhi ruangan tersebut. Ia tidak tahan setelah mengetahui apa yang terjadi. Ia masih berhubungan baik dengan Bibi Farida. Dari wanita itu, Mahira mendapatkan kabar mengejutkan yang tentu saja membuatnya marah. Menelepon, berpura-pura menanyakan kabar jkeuarag Fahad, Mahira dengan mudahnya mendapatkan informasi mengenai pernikahan tersebut. Bahkan, Bibi Farida juga mengundangnya.


“Itu urusan keluargaku, kamu nggak berhak ikut campur.” Fahad tidak marah. Sekalipun Mahira akan menamparnya lagi, atau apapun itu. Sekali lagi, ia merasa berhak mendapatkannya. Karena istrinya sendiri tidak pernah melakukan apapun—jangankan menampar, marah saja tidak. Hal itu justru menyakiti Fahad. Ia berharap Nayla marah, melampiaskan semua amarah kepadanya. Namun, nyatanya tidak. Nayla diam dan tersenyum. Senyuman penuh luka yang juga menyakiti hatinya.


“Dia wanita baik, Fahad, dia sedang hamil. Kenapa kamu diam saja?!” lagi, Mahira berteriak. “Kalau akhirnya seperti ini, kenapa kamu menikahi Nayla?!”


Fahad menghela napas, ia memaksa Mahira untuk duduk di sofa. “Dengar dulu, aku ceritakan semuanya sama kamu.” Fahad memberikan segelas air putih kepada Mahira. Namun, wanita itu menolak dengan kasar.


“Kamu tau, kan? Kalau Nayla pernah keguguran?” tanya Fahad yang dijawab anggukan kepala oleh Mahira. “Nayla mengambil janjiku, dia minta aku nggak cerita soal itu ke Ammi. Nayla nggak mau Ammi sedih. Aku mau cerita semua itu ke Ammi, tapi Nayla tetap melarangku. Aku nggak bisa berbuat apa-apa.”


“Sekarang apa yang mau kamu lakukan?” tanya Mahira. Ia melihat sorot mata penuh ketulusan dari Fahad. Ia tau, Fahad bukan pria yang dengan mudahnya mempermainkan perasaan wanita. Saat masih bersama, Fahad bisa menghormatinya sebagai seorang wanita dan seorang istri. Perjodohan itu membuat keduanya membutuhkan waktu untuk saling mengenal dan menyesuaikan. Fahad tidak menyentuhnya sebelum ia mengijinkan.


“Aku mencintai Nayla, aku nggak mau pisah darinya. Aku, Yasmin dan Yumna tetap berusaha meyakinkan dan memberi pengertian ke Ammi, kalau cuma Nayla yang terbaik untukku dan anak-anakku, juga untuk keluarga.” Fahad berujar. Ada helaan napas lelah darinya, namun ... mengingat setiap momennya bersama Nayla, bersama anak yang masih di dalam kandungan istrinya yang selalu ia ajak berbicara ... Fahad tidak akan menyerah begitu saja. Ia bertekad akan berjuang untuk rumah tangganya. “Aku dan Nayla memang berbeda negara yang sudah pasti ada perbedaan budaya dan cara berpikir. Tapi aku yakin, kami pasti bisa melewati perbedaan itu. Aku dan Nayla bisa.”


Menepuk punggung tangan Fahad, Mahira memberi semangat agar pria itu terus memperjuangkan cintanya tanda ada kata rasa lelah. “Aku sedang berusaha yakin, mencoba percaya sama kamu. Semoga tidak ada pernikahan lagi, cukup kamu dan Nayla. Aku pasti akan membantumu.” Mahira berujar penuh keyakinan.


***

__ADS_1


“Kamu nggak marah, kan? Aku cerita semuanya sama Mahira.”


Nayla menggeleng, “yang penting kamu nggak cerita apapun sama Ammi. Aku masih pegang janji kamu soal itu.”


Fahad mengangguk paham. Tangannya menyentuh perut Nayla, ia berbicara ... menanyakan kabar anaknya di dalam sana. “Maafin papa, Jaanu, seharian ini kamu harus dengar pertengkaran dan tangisan. Maafin papa.”


“Aku kuat, kok, Pa, jangan khawatir.” Nayla berucap, menirukan suara anak kecil.


Fahad menarik tubuh Nayla kedalam pelukannya. Istrinya adalah kelemahan sekaligus kekuatan. Saat Fahad merasa lelah akan kerasnya hidup, saat ia merasa tidak ada satu orang pun yang bisa memahami dan mengerti apa yang ia butuhkan tanpa berbicara ... Nayla selalu bisa menjadi penyemangat sekaligus obat lelahnya. Senyuman yang menyambutnya saat pulang bekerja, kata-kata yang selalu menenangkan dari Nayla, Fahad kuat. Ia bisa bangkit juga karena Nayla.


Di samping penyemangat, Nayla juga menjadi kelemahannya. Setiap tetes air mata itu menancap dalam di hatinya. Wanita yang menjadi penyembuhnya itu ia sakiti. Bahkan lebih sakit dari apa yang ia rasakan. Tempat itu membelenggu Fahad. Ketika ia ingin pergi jauh bersama Nayla, menulis ceritanya sendiri, tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga menghentikan langkah kakinya. Setelah Abba meninggal, dirinyalah yang harus mengambil alih tanggung jawab itu. Menjaga Ammi, Yasmin dan Yumna. Ia tidak bisa dengan mudahnya pergi meninggalkan mereka. Nayla ... ia tidak bisa, untuk tidak egois mempertahankan wanita itu. Sampai kapanpun, Fahad tidak akan pernah mau memberi Nayla sebuah perpisahan. Nayla harus tetap di sisinya.


“Aku bikinin susu dulu, ya.” Fahad keluar kamar, ia menuju ke dapur. Ada Andi di sana. “Andi, aku—”


“Diam. Aku menahan diri cuma demi Mbak Nayla, jangan memaksaku berbuat lebih lagi.” Andi memeringatkan. Ia meneguk segelas air putih. Menaruh gelas yang sudah kosong itu di sink bowl dengan kasar, menimbulkan suara yang cukup keras.


“Aku pastikan, nggak ada pernikahan lagi. Tolong sekali lagi percaya sama aku.” Suara Fahad terdengar penuh harap. Ia tau, Andi bisa saja menjauhkannya dari Nayla. Tak peduli apapun, adik iparnya itu pasti siap melakukan apapun demi Nayla.


“Aku mau percaya sama kamu, tapi sayangnya nggak bisa. Satu bulan lagi, aku bawa Mbak Nayla jauh dari kamu. Dan kalau selama satu bulan ini kamu membuat air mata itu jatuh, aku pastikan kamu nggak akan lihat dunia ini lagi.” Andi bersungguh-sungguh. Tidak ada keraguan sedikitpun dari ucapannya.


Fahad mengangguk. “Lakukan apapun yang kamu mau, aku menerimanya.”


***

__ADS_1


__ADS_2